Se connecterSuasana gelap gulita yang mendadak menyergap kamar mandi itu terasa begitu mencekam.Suara derap langkah kaki berlarat berat dari lorong luar makin mendekat, memicu detak jantung Rian berdegup kencang seperti drum band mau perang.Rian refleks pasang badan, meletakkan tubuh tegapnya di depan Kirana yang masih bersimpuh lemas di lantai berselimutkan handuk."Si Bambang" yang tadi sempat tegang mendadak adem ayem gara-gara situasi mendadak siaga satu."Tenang, Nyonya... tetap di belakang saya," bisik Rian mantap, matanya menembus pekatnya kegelapan.Klek... Klek...Pintu rahasia kamar mandi terbuka pelan. Pendar cahaya dari lampu senter kecil menyilaukan mata mereka.Namun, bukannya pasukan pengawal berbaju hitam atau Tuan Bima yang muncul, justru wajah keriput Pak Sentot yang terpampang di balik pendar cahaya itu."Ssstt! Jangan berisik! Ini aku!" bisik Pak Sentot setengah panik.Rian mengembuskan napas lega yang sangat panjang. "Waduh, Gusti! Pak Sentot! Bikin jantung saya ma
Pak Sentot mendadak memegang dadanya, napasnya tersengal-sengal panik.Ia dengan gemetar memutar tombol rekaman pengawas di meja kerjanya."Kamar mandi adalah satu-satunya area blind spot yang tidak memiliki kamera CCTV bawaan rumah!" bisik Pak Sentot penuh ketegangan."Tapi... Tuan Bima menyewa detektif swasta yang mengawasi dari luar mansion! Kalau detektif itu melihat sisa cairan atau kondisi fisik Kirana yang lecet besok pagi..."Pak Sentot menatap Rian dengan tatapan tajam yang penuh keseriusan."Hidupmu dan hidup Kirana akan hancur total besok pagi, Rian!"Rian meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi gila-gilaan."Asem! Asem! Si Bambang benar-benar membawa petaka!" batin Rian merutuki kepriaannya."Kenapa tadi saya gak tahan sedikit aja sih?! Kenapa malah makin digenjot kenceng-kenceng sampai lecet begitu?!"Namun, di tengah kepanikan gila itu, Rian menatap Pak Sentot dengan keheranan baru."Tunggu dulu, Pak Sentot..." pangg
Di salah satu layar pengawas, terlihat gambar koridor luar kamar utama dan jalur kabel di plafon mansion."Aku mengetuk jendela untuk memperingatkan kalian, Rian!" tegas Pak Sentot dengan mata menajam."Kalian terlalu bodoh dan dimabuk nafsu! Kalian pikir cuma Kirana yang memasang kamera tersembunyi di rumah ini?!"Rian mengerutkan dahi, hatinya mendadak mencelos tajam. "Maksud Bapak apa?"Pak Sentot bangkit dari kursinya, berjalan mendekati salah satu monitor berukuran besar.Ia menekan beberapa tombol pada keyboard tua di mejanya, hingga layar monitor itu menampilkan rekaman frekuensi sinyal tersembunyi."Kamera tersembunyi yang terpasang di atas lampu gantung kamar utama itu... memang milik Nyonya Kirana," jelas Pak Sentot pelan."Tapi apa yang Nyonya Kirana tidak tahu adalah... Tuan Bima sudah menyadap seluruh jaringan kamera itu sejak tiga bulan lalu!"DEG!Jantung Rian serasa berhenti berdetak seketika.Darah di tubuhnya mendadak dingin membeku."A-apa?!" bisik Rian d
Di atas lantai semen yang berdebu itu, terdapat bercak air yang masih basah, seperti tetesan dari pakaian atau kain yang baru saja diperas.Dan tak jauh dari bercak air itu, ada sebuah benda kecil berwarna emas berkilat di bawah temaram lampu.Rian mengulurkan tangannya, memungut benda tersebut.Itu adalah sebuah kancing jas berbahan logam kuningan yang terlepas, dengan ukiran logo jangkar kecil di tengahnya.Rian membelalakkan matanya saat mengenali logo tersebut."Ini... ini kan kancing seragam kepala pelayan?!" bisik Rian terperangah."Kancing seragamnya Pak Sentot!"Pikiran Rian mendadak kacau.Pak Sentot? Orang tua yang tadi sore menyelamatkannya dari jebakan lemari?Pria tua yang tampak lemah lembut dan penurut itu... apakah dia selama ini bekerja sebagai mata-mata Tuan Bima untuk mengawasi setiap gerak-gerik Kirana?"Waduh, Gusti... ternyata Pak Sentot mukanya dua!" umpat Rian penuh amarah tertahan."Pantesan tadi dia pura-pura mecahin gelas wiski buat nyelametin aku
Uap hangat di kamar mandi berdinding kaca buram itu mendadak terasa dingin dan mencekam.Gemercik air shower yang tadinya terdengar sensual kini berubah menjadi suara latar yang mengintimidasi.Di balik kaca buram yang berkabut, bayangan samar sosok tinggi tegap itu perlahan memudar, menyatu dengan kegelapan lorong rahasia di luar sana.Rian membeku di tempat, mematungkan seluruh gerakan tubuhnya."Si Bambang" yang beberapa detik lalu baru saja menumpahkan benih panasnya dan masih tersisa gairah, seketika menciut layaknya kerupuk kena air hujan.Rasa panik yang luar biasa mendadak menjalar gila-gilaan dari telapak kaki hingga ke ujung kepalanya."Waduh, Gusti... mampus aku!" batin Rian histeris, otaknya mendadak blank."Itu siluman apa manusia yang ngetuk jendela?! Kelihatan jelas banget tadi dari luar! Kalau itu mata-matanya Tuan Bima, fix besok namaku cuma tinggal nama di batu nisan!""Rian... kenapa diam aja, ada yang kami pikirkan?" bisik Kirana dengan suara parau yang gem
Pintu kamar mandi ditutup rapat. Uap hangat langsung naik dari shower yang Kirana nyalakan setengah. Kaca buram di sekeliling dinding bikin ruangan itu terasa pengap, basah, dan penuh godaan.Rian masih sempat melirik ke jendela yang tadi ada ketukan. “Nyonya… tadi beneran ada yang ngetuk deh,” bisiknya sambil napas masih memburu.Kirana cuma tersenyum nakal, lalu langsung ngunci pintu. “Biarin aja. Malam ini kamu harus muasin aku, Rian.”Si Bambang di dalem celananya langsung ngegantung kaku cuma gara-gara nada suara Kirana. Wanita itu dorong dia sampe punggungnya nempel ke kaca yang udah mulai berkabut. Jari-jari lentiknya buka kancing kemeja Rian satu-satu dengan sengaja pelan, terus ditarik sampe dada bidang sama perut berototnya kebuka semua. Jari Kirana ngusap pelan dari dada turun ke perut, ngerasain setiap otot yang menegang.“Masih muda… masih polos… tapi badanmu udah sekeras gini,” gumam Kirana sambil ngusap dada Rian. Tangannya turun lebih berani, ngeremes Si Bambang da







