Inicio / Romansa / TERJERAT GODAAN OM ADRIAN / Kebutuhan Batin Yang Tidak Pernah Terpenuhi

Compartir

Kebutuhan Batin Yang Tidak Pernah Terpenuhi

Autor: SweetWater
last update Fecha de publicación: 2025-12-08 17:21:20

Sore itu Safira sengaja menghabiskan waktunya di dapur. Bukan karena diminta, melainkan karena rasa bosan yang perlahan menumpuk sejak beberapa hari terakhir ia tinggal di rumah Vivian. Di rumah sebesar ini, ia nyaris tak memiliki peran apapun. Semua pekerjaan rumah telah ditangani orang lain.

Setiap pagi para pekerja datang, menjalankan tugasnya dengan cekatan, lalu pergi begitu pekerjaan mereka sudah selesai. Rumah kembali lengang, rapi, dan terasa terlalu tenang. Tak ada yang benar-benar tinggal, selain tukang kebun dan satpam yang berjaga di gerbang depan rumah Vivian.

Safira mengaduk pelan isi mangkuk di hadapannya, mencoba menikmati kesibukan kecil itu, hingga sebuah suara memecah lamunannya.

“Safira, kamu sedang apa?”

Safira tersentak, lalu cepat menoleh. Ia langsung tersenyum ketika mendapati Vivian berdiri di ambang dapur. Seperti biasa, wanita itu tampak rapi dan anggun meski hanya mengenakan pakaian rumahan sederhana, kesan elegan yang seolah melekat alami pada dirinya.

“Aku sedang membuat kue, Tante,” jawab Safira sambil tersenyum kecil. “Nanti Tante harus mencicipinya, ya. Dulu, saat Ibu masih ada, kami sering membuat kue ini bersama. Ini kue kesukaan Ibu,” imbuhnya, suaranya merendah di akhir kalimat.

Mendengar itu, ekspresi Vivian melunak. Ia melangkah mendekat dan memeluk Safira dengan hangat, seolah memahami rindu yang diam-diam disimpan gadis itu.

“Tentu saja akan Tante cicipi,” ucap Vivian lembut. “Diana juga pernah membuatkan kue itu untukku. Rasanya sangat enak.” Senyum tipis terbit di wajahnya, membawa kenangan lama bersama mendiang sahabatnya yang masih terasa dekat.

“Aku harap kue buatanku juga bisa seenak buatan Ibu,” ujar Safira pelan.

Vivian mengangguk meyakinkan. “Pasti.”

Ia lalu melirik ke arah loyang dan peralatan di meja. “Apa sudah selesai? Kalau belum, Tante bisa membantumu.”

“Sudah, Tante. Tinggal dimasukkan ke oven saja,” jawab Safira cepat. “Nanti kalau sudah matang aku panggil Tante. Sekarang aku mau membersihkan peralatannya terlebih dahulu.”

Vivian mengibaskan tangan. “Ah, tidak usah repot-repot. Nanti juga ada yang membersihkannya.”

“Tidak apa-apa, Tante,” Safira tersenyum sungkan. “Aku sedang bosan, jadi biar aku saja yang bereskan.”

Jawaban itu justru membuat Vivian tersenyum lebih lebar. “Kalau bosan, kamu bisa mengobrol denganku saja, Safira. Jujur saja, aku juga sering bosan di rumah ini. Sudah lama aku tidak punya teman bicara.”

“Jadi kamu anggap aku ini bukan teman bicara?”

Suara itu membuat Vivian dan Safira kompak menoleh. Adrian baru saja masuk ke dapur, berjalan santai menuju kulkas untuk mengambil sebotol bir dingin.

“Bukan begitu maksudku,” Vivian terkekeh. “Yang aku maksud teman wanita. Selama ini aku hanya dikelilingi kamu dan Rafael. Sekarang ada Safira, rasanya aku tidak sendirian lagi di rumah ini, di antara dua pria menyebalkan.”

“Sekarang kamu bergantian menyebut suami dan anakmu menyebalkan?” Adrian menukas sambil membuka tutup botol birnya.

Vivian mendekat sambil tertawa kecil. “Kamu itu memang selalu tidak terima dibilang menyebalkan,” ujarnya, lalu mencubit pinggang Adrian. “Padahal sikapmu seperti ini justru paling menyebalkan.”

Adrian berpura-pura meringis. Vivian terkekeh lebih keras, lalu menyangkutkan lengannya ke lengan suaminya dengan manja.

Safira menunduk. Pemandangan itu berhasil membuatnya merasa seperti menjadi lalat pengganggu. Dari luar, siapapun akan mengira Adrian dan Vivian adalah pasangan yang hangat dan harmonis. Vivian tampak begitu mencintai suaminya dan Adrian terlihat membalasnya dengan cara yang sama.

Namun, tanpa sengaja Safira mendongak.

Ia mendapati Adrian tengah menatapnya.

Bukan tatapan biasa.

Senyum di wajah pria itu terlalu ganjil, terlalu dalam, membuat Safira tak berani menerka maknanya. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang membuat tengkuknya meremang.

Safira berdehem pelan, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Kenapa Adrian menatapnya seperti itu?

Ia masih bisa melihat Adrian meneguk bir dari botolnya, tanpa sekali pun melepaskan pandangan dari arah Safira. Tatapan itu terasa samar, nyaris tak kasatmata bagi orang lain tapi cukup jelas baginya.

Menggoda. Dan menyimpan arti yang lebih.

***

“Akh!” Safira meringis saat ujung jarinya tersayat pisau.

Ia refleks meletakkan pisau dan bergegas ke wastafel, membilas darah yang mulai mengalir. “Ah, ternyata lumayan dalam,” gumamnya pelan sambil menekan luka itu.

Safira mendesah. Ia keliru mengira pisau yang ia gunakan untuk mengiris kue itu tumpul. Saat hendak meraih kotak P3K yang tergantung di dinding, sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan dapur.

“Apa yang sedang kamu lakukan, Safira?”

Safira tersentak. Tubuhnya yang sedang berjinjit oleng, nyaris terjatuh, hingga sepasang tangan dengan sigap menangkapnya.

“S-saya ingin mengambil obat, Om,” ujarnya gugup, cepat menjauh begitu menyadari jaraknya dan Adrian terlalu dekat. “Jari saya terluka.”

Adrian menunduk, matanya tertuju pada jari Safira yang masih berdarah. “Memangnya apa yang kamu lakukan sampai bisa melukai diri sendiri?”

Safira menggaruk tengkuknya, kikuk. “Saya ingin makan sisa kue buatan sore tadi. Masih ada sisa sedikit… sayang kalau dibuang.”

Sebenarnya sore tadi Safira sudah menikmati kue itu bersama Vivian. Namun, karena Vivian harus pergi mendadak akibat pekerjaan, sebagian kue masih tersisa dan kini menjadi alasan Safira kembali ke dapur untuk menghabiskannya.

Adrian hanya berdiri diam, memperhatikan Safira melangkah menuju meja makan. Tanpa ia sadari, pandangannya tertahan di punggung Safira. Gadis itu mengenakan celana pendek tipis yang melekat di tubuhnya, dipadukan dengan kaus crop top polos. Saat Safira duduk, ujung kausnya sedikit terangkat, menyingkap kulit pinggang belakangnya yang putih dan mulus, kontras dengan cahaya lampu dapur yang temaram.

Adrian menahan napas. Pandangannya mengikuti setiap gerak Safira saat gadis itu sibuk merawat lukanya. Hingga tanpa sadar matanya turun ke celana pendek yang dikenakan Safira. Terlalu pendek, nyaris memperlihatkan seluruh pahanya. Kulit yang mulus, garis yang kencang, begitu jelas tertangkap di bawah cahaya lampu dapur. Adrian terpaku. Tenggorokannya mendadak kering, dan tanpa ia sadari, ia menelan ludah,

Pikiran-pikiran yang seharusnya tak muncul kembali mengetuk benaknya.

Adrian menggeleng pelan, berusaha menarik diri. Mungkin sebaiknya ia segera pergi sekarang.

Saat itu Safira selesai menempelkan hansaplas di jarinya. Ia merapikan kembali kotak P3K, lalu mendongak. Pandangannya bertemu dengan Adrian yang masih terdiam berdiri di tempatnya.

Ada jeda hening yang mendadak terasa berat.

“Ngomong-ngomong … Om Adrian sendiri sedang apa di sini?” Tanya Safira pelan.

Adrian berdehem singkat. “Aku melihat lampu dapur masih menyala,” jawabnya tenang. “Aku pikir sudah tidak ada orang. Ternyata kamu.”

Safira mengangguk, jemarinya saling meremas, seolah menimbang keberanian. “Apa… Om Adrian mau mencicipi kue buatan saya?” Tawarnya hati-hati. “Saya bisa memotongkannya kalau Om mau.”

Adrian tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat, perlahan namun pasti, hingga berhenti tepat di sisi Safira. Tangan kirinya bertumpu di sandaran kursi yang diduduki Safira, sementara tangan kanannya menahan tubuh di atas meja dapur.

Ruang di antara mereka seketika menyempit.

Safira menahan napas. Jantungnya berdegup terlalu keras saat menyadari dirinya seolah terkurung dalam posisi itu.

Adrian sedikit menunduk, menyamakan tinggi wajahnya dengan Safira. Bibirnya mendekat ke telinga gadis itu, suaranya turun menjadi bisikan rendah.

“Aku sedang tidak tertarik pada kue, Safira,” ucapnya pelan. “Tapi… kalau kamu menawarkan sesuatu yang lain, mungkin aku bisa berubah pikiran.”

Kalimat itu meluncur lembut, namun cukup untuk membuat tubuh Safira bergetar.

Sebelum Safira sempat membuka mulut, Adrian sudah kembali berdiri tegak. Ujung jarinya menyentuh bahu Safira sekilas. Terasa ringan, namun meninggalkan jejak panas.

“Sudah malam,” katanya datar. “Sebaiknya kamu beristirahat.”

Belum sempat Safira menjawab, Adrian sudah berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Safira yang masih duduk terpaku. Napasnya belum sepenuhnya kembali normal.

Begitu kembali ke kamar dan Adrian mendapati Vivian baru saja keluar dari kamar mandi. Rambut istrinya masih lembap, aroma sabun memenuhi ruangan.

“Dari mana?” Tanya Vivian sambil mengeringkan rambutnya.

“Dapur. Aku haus,” jawab Adrian singkat.

Ia melangkah mendekat, memeluk Vivian dari dekat. Bibirnya mengecup leher istrinya, lalu beralih ke telinga.

“Kamu wangi,” gumamnya.

“Tentu saja,” Vivian terkekeh kecil. “Aku baru selesai mandi.”

“Bagaimana kalau kita mandi lagi,” ujar Adrian rendah. “Bersama.”

Tangannya menyentuh tali jubah tidur Vivian, menariknya sedikit hingga terbuka, ia mengusap perut istrinya yang terbalut kain satin.

Namun, di sela sentuhan itu, bayangan lain menyusup ke pikirannya. Kulit putih di bawah cahaya dapur, napas tertahan, tatapan yang gugup.

Adrian menegang sesaat.

“Adrian, jangan bercanda,” ujar Vivian, mencoba menjauh.

Alih-alih menjawab, Adrian justru mengecup bibir istrinya, seolah berusaha menenggelamkan bayangan yang tak seharusnya hadir.

“Aku tidak bercanda.” Adrian mendekap erat tubuh istrinya, dan satu desahan itu muncul seiring dengan tangan kanan Adrian yang meremas dada Vivian.

Adrian menuntun tubuh Vivian mendekati ranjang, lalu mendorongnya hingga terjatuh ke atas tempat tidur. Ia segera naik, dan menyingkap gaun tidur istrinya.

Saat nafsunya sudah berada di ujung kepala, sebuah panggilan masuk ke ponsel Vivian dan membuyarkan semuanya.

Adrian melirik sekilas nama yang ada di layar ponsel istrinya. Dan seketika Vivian langsung menjauhkan diri saat itu juga.

“Siapa?” Adrian bertanya, pura-pura tidak tahu.

“Reno,” jawab Vivian terus terang. “Dia pasti ingin membahas pekerjaan sore tadi. Kebetulan masih ada yang belum selesai.”

“Lalu?” Adrian menatap Vivian yang langsung tersenyum kikuk.

“Aku harus menjawabnya, Adrian. Ini penting.” Vivian mengusap lengan Adrian, seolah apa yang ia lakukan bisa melunakkan hati suaminya.

“Dan kamu pikir kebutuhanku tidak penting?” Tukas Adrian tajam.

Vivian menegang, matanya sedikit membulat karena terkejut.

“Sayang …” Vivian mendekat, ia bersikap sedikit manja untuk membujuk suaminya. “Kita masih bisa melanjutkannya besok. Aku janji.”

Adrian sudah menduga Vivian akan mengatakan itu. Jawaban seperti itu sudah sering sekali Adrian dengar. Vivian selalu beralasan, selalu menunda, dan pada akhirnya selalu ingkar. Sebagai istri, wanita itu tak pernah benar-benar hadir memenuhi kebutuhan batinnya. Hanya meninggalkan harapan yang terus digantung tanpa kepastian.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Bayangan Yang Membuat Adrian Bergairah

    Malam itu, kamar Adrian terasa begitu sunyi. Lampu menyala temaram, hanya cahaya kuning lembut dari lampu tidur yang memantul di dinding kamar. Adrian berbaring di ranjang besar itu, memejamkan mata, tapi ia tak kunjung terlelap juga. Tiba-tiba ia terbayang wajah Safira. Senyumnya, sorot matanya, bibirnya yang terasa lembut dan kenyal, juga pada bagian tubuh gadis itu yang selalu berhasil membuat Adrian tergoda. Ia teringat jelas bagaimana pinggang itu terasa di bawah telapak tangannya. Lembut, hangat, dan terlalu pas untuk di genggam. Ingatan itu berlanjut tanpa bisa ia hentikan. Kilasan saat jemarinya sempat menyentuh lekuk tubuh Safira membuat napasnya berubah berat. Seketika tangannya mengepal di atas seprai. Tubuhnya bereaksi hanya karena bayangan itu. Ia terangsang. Hanya karena Safira. Adrian menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi justru aroma samar gadis itu seolah masih tertinggal di

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Peringatan Yang Lembut

    Rafael baru saja ingin mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Tangannya sudah meraih piring yang tersedia di atas meja ketika matanya tanpa sengaja melirik ke arah Safira.Meja di depan gadis itu masih kosong. Tidak ada piring. Bahkan sendoknya pun belum tersentuh. Hanya ada gelas berisi air putih yang hampir habis.Rafael mengernyit samar. Sepertinya Safira juga belum makan. Rafael lalu kembali menatap Safira. “Kamu belum makan?”Safira sedikit terkejut mendengar suaranya. “Belum,” jawab Safira pelan.Tanpa mengatakan apa-apa, Rafael langsung meletakkan piring kosong yang tadi ia ambil tepat di depan Safira. “Makanlah,” katanya santai.Safira berkedip bingung. “Aku bisa mengambil sendiri—”“Aku tahu,” potong Rafael. “Tapi aku sedang ingin menjadi pria baik pagi ini. Sebelum nanti kamu menganggapku menyebalkan lagi.”Nada bercandanya membuat Safira menahan senyum. Ada rasa hangat yang muncul t

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Hanya Tinggal Selangkah

    Adrian kembali mencium Safira. Kali ini tidak tergesa. Tidak agresif. Namun, lebih dalam.Bibirnya menyentuh bibir Safira perlahan, seolah memberi kesempatan gadis itu untuk menarik diri jika memang ingin. Namun, Safira justru diam dan tidak bergerak menjauh.Napas mereka bertemu.Hangat.Pelan-pelan Adrian memperdalam ciuman itu. Jemarinya di tengkuk Safira menahan dengan lembut, ibu jarinya sesekali mengusap kulit di sana, menciptakan sensasi halus yang membuat tubuh Safira merinding.Safira sempat menahan napas. Namun, ketika bibir Adrian bergerak lebih lembut dan sabar, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Tangannya mencengkeram bahu pria itu.Ia membalas. Masih ragu, tetapi nyata.Adrian jelas merasakannya.Ciuman itu berubah menjadi lebih intim. Tidak sekadar sentuhan bibir, tetapi juga permainan ritme yang lambat, hangat, dan menenangkan sekaligus memabukkan. Safira bisa merasakan kelembapan d

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Jangan Memintaku Untuk Berhenti

    Selepas kepergian Rafael, rumah tiba-tiba terasa sangat sepi. Safira sempat berniat langsung masuk ke kamar, tetapi langkahnya terhenti. Entah kenapa, ia justru ingin duduk sejenak menikmati udara malam di taman belakang.Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih cukup aman. Biasanya jika Adrian lembur, pria itu pasti pulang larut malam.Akhirnya Safira melangkah menuju taman belakang. Lampu-lampu taman menyala temaram, menerangi pepohonan dan kolam kecil di sudut halaman. Udara malam terasa hangat, sesekali angin membawa aroma bunga dari kebun kecil di sekitar.Safira duduk di bangku taman, memeluk lutut sambil melamun menatap permukaan kolam yang tenang. Ia sendiri tidak sadar sudah berapa lama berada di sana, sampai suara langkah kaki terdengar dari belakang.Safira menoleh cepat, lalu membeku.Adrian berdiri di sana dengan pakaian santai. Kaos putih lengan panjangnya tergulung hingga siku, beberapa k

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Merasa Nyaman Dengan Rafael

    Safira baru saja selesai menata makan malam di atas meja ketika Rafael masuk ke ruang makan. Alih-alih ikut duduk, ia justru berbalik seolah ingin pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Rafael menahan dengan suara santai. “Kamu tidak ingin makan malam?” Tanya Rafael, menatapnya penuh selidik. Safira tampak salah tingkah. “A-aku makan nanti saja.” “Kenapa harus nanti?” Rafael langsung menarik kursi lalu duduk. “Makan saja sekarang bersamaku. Lagipula kamu sudah menyiapkan semua ini.” “Tapi—” “Tidak ada tapi. Duduklah,” potong Rafael tegas. Safira masih berdiri, ragu. Tangannya saling meremas ujung baju, jelas sedang berpikir mencari alasan lain. Rafael mengembuskan napas pelan, lalu menatapnya lebih serius. “Safira, aku menyuruhmu duduk.” Tatapannya tetap mengunci gadis itu yang belum juga bergerak. Lalu sudut bibirnya terangkat nakal. “Atau

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Tak Ada Tempat Untuk Sembunyi

    Suara langkah kaki terdengar pelan di lorong kantor divisi keuangan yang mulai sepi. Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh sore waktu pulang. Safira berdiri sambil menenteng map laporan yang baru saja ia revisi. Ia menarik napas lega, berusaha melepaskan ketegangan yang sejak beberapa hari terakhir terasa menumpuk di pundaknya.Hari-hari ini melelahkan. Bukan hanya karena pekerjaan yang tak ada habisnya, tetapi juga karena pikirannya sendiri yang terus di penuhi hal-hal yang sulit ia abaikan, terutama tentang Adrian.Safira mengembuskan napas perlahan.Namun, belum sempat ia benar-benar menenangkan diri, suara langkah tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya.“Aku pikir, kamu sudah pulang sejak tadi.” Safira menoleh, menatap Rafael yang baru saja kembali untuk mengambil jas yang masih tertinggal di ruangannya. Suara pria itu terdengar datar, tapi dengan senyum miring yang khas.Safira me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status