LOGINSore itu Safira sengaja menghabiskan waktunya di dapur. Bukan karena diminta, melainkan karena rasa bosan yang perlahan menumpuk sejak beberapa hari terakhir ia tinggal di rumah Vivian. Di rumah sebesar ini, ia nyaris tak memiliki peran apapun. Semua pekerjaan rumah telah ditangani orang lain.
Setiap pagi para pekerja datang, menjalankan tugasnya dengan cekatan, lalu pergi begitu pekerjaan mereka sudah selesai. Rumah kembali lengang, rapi, dan terasa terlalu tenang. Tak ada yang benar-benar tinggal, selain tukang kebun dan satpam yang berjaga di gerbang depan rumah Vivian. Safira mengaduk pelan isi mangkuk di hadapannya, mencoba menikmati kesibukan kecil itu, hingga sebuah suara memecah lamunannya. “Safira, kamu sedang apa?” Safira tersentak, lalu cepat menoleh. Ia langsung tersenyum ketika mendapati Vivian berdiri di ambang dapur. Seperti biasa, wanita itu tampak rapi dan anggun meski hanya mengenakan pakaian rumahan sederhana, kesan elegan yang seolah melekat alami pada dirinya. “Aku sedang membuat kue, Tante,” jawab Safira sambil tersenyum kecil. “Nanti Tante harus mencicipinya, ya. Dulu, saat Ibu masih ada, kami sering membuat kue ini bersama. Ini kue kesukaan Ibu,” imbuhnya, suaranya merendah di akhir kalimat. Mendengar itu, ekspresi Vivian melunak. Ia melangkah mendekat dan memeluk Safira dengan hangat, seolah memahami rindu yang diam-diam disimpan gadis itu. “Tentu saja akan Tante cicipi,” ucap Vivian lembut. “Diana juga pernah membuatkan kue itu untukku. Rasanya sangat enak.” Senyum tipis terbit di wajahnya, membawa kenangan lama bersama mendiang sahabatnya yang masih terasa dekat. “Aku harap kue buatanku juga bisa seenak buatan Ibu,” ujar Safira pelan. Vivian mengangguk meyakinkan. “Pasti.” Ia lalu melirik ke arah loyang dan peralatan di meja. “Apa sudah selesai? Kalau belum, Tante bisa membantumu.” “Sudah, Tante. Tinggal dimasukkan ke oven saja,” jawab Safira cepat. “Nanti kalau sudah matang aku panggil Tante. Sekarang aku mau membersihkan peralatannya terlebih dahulu.” Vivian mengibaskan tangan. “Ah, tidak usah repot-repot. Nanti juga ada yang membersihkannya.” “Tidak apa-apa, Tante,” Safira tersenyum sungkan. “Aku sedang bosan, jadi biar aku saja yang bereskan.” Jawaban itu justru membuat Vivian tersenyum lebih lebar. “Kalau bosan, kamu bisa mengobrol denganku saja, Safira. Jujur saja, aku juga sering bosan di rumah ini. Sudah lama aku tidak punya teman bicara.” “Jadi kamu anggap aku ini bukan teman bicara?” Suara itu membuat Vivian dan Safira kompak menoleh. Adrian baru saja masuk ke dapur, berjalan santai menuju kulkas untuk mengambil sebotol bir dingin. “Bukan begitu maksudku,” Vivian terkekeh. “Yang aku maksud teman wanita. Selama ini aku hanya dikelilingi kamu dan Rafael. Sekarang ada Safira, rasanya aku tidak sendirian lagi di rumah ini, di antara dua pria menyebalkan.” “Sekarang kamu bergantian menyebut suami dan anakmu menyebalkan?” Adrian menukas sambil membuka tutup botol birnya. Vivian mendekat sambil tertawa kecil. “Kamu itu memang selalu tidak terima dibilang menyebalkan,” ujarnya, lalu mencubit pinggang Adrian. “Padahal sikapmu seperti ini justru paling menyebalkan.” Adrian berpura-pura meringis. Vivian terkekeh lebih keras, lalu menyangkutkan lengannya ke lengan suaminya dengan manja. Safira menunduk. Pemandangan itu berhasil membuatnya merasa seperti menjadi lalat pengganggu. Dari luar, siapapun akan mengira Adrian dan Vivian adalah pasangan yang hangat dan harmonis. Vivian tampak begitu mencintai suaminya dan Adrian terlihat membalasnya dengan cara yang sama. Namun, tanpa sengaja Safira mendongak. Ia mendapati Adrian tengah menatapnya. Bukan tatapan biasa. Senyum di wajah pria itu terlalu ganjil, terlalu dalam, membuat Safira tak berani menerka maknanya. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang membuat tengkuknya meremang. Safira berdehem pelan, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Kenapa Adrian menatapnya seperti itu? Ia masih bisa melihat Adrian meneguk bir dari botolnya, tanpa sekali pun melepaskan pandangan dari arah Safira. Tatapan itu terasa samar, nyaris tak kasatmata bagi orang lain tapi cukup jelas baginya. Menggoda. Dan menyimpan arti yang lebih. *** “Akh!” Safira meringis saat ujung jarinya tersayat pisau. Ia refleks meletakkan pisau dan bergegas ke wastafel, membilas darah yang mulai mengalir. “Ah, ternyata lumayan dalam,” gumamnya pelan sambil menekan luka itu. Safira mendesah. Ia keliru mengira pisau yang ia gunakan untuk mengiris kue itu tumpul. Saat hendak meraih kotak P3K yang tergantung di dinding, sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan dapur. “Apa yang sedang kamu lakukan, Safira?” Safira tersentak. Tubuhnya yang sedang berjinjit oleng, nyaris terjatuh, hingga sepasang tangan dengan sigap menangkapnya. “S-saya ingin mengambil obat, Om,” ujarnya gugup, cepat menjauh begitu menyadari jaraknya dan Adrian terlalu dekat. “Jari saya terluka.” Adrian menunduk, matanya tertuju pada jari Safira yang masih berdarah. “Memangnya apa yang kamu lakukan sampai bisa melukai diri sendiri?” Safira menggaruk tengkuknya, kikuk. “Saya ingin makan sisa kue buatan sore tadi. Masih ada sisa sedikit… sayang kalau dibuang.” Sebenarnya sore tadi Safira sudah menikmati kue itu bersama Vivian. Namun, karena Vivian harus pergi mendadak akibat pekerjaan, sebagian kue masih tersisa dan kini menjadi alasan Safira kembali ke dapur untuk menghabiskannya. Adrian hanya berdiri diam, memperhatikan Safira melangkah menuju meja makan. Tanpa ia sadari, pandangannya tertahan di punggung Safira. Gadis itu mengenakan celana pendek tipis yang melekat di tubuhnya, dipadukan dengan kaus crop top polos. Saat Safira duduk, ujung kausnya sedikit terangkat, menyingkap kulit pinggang belakangnya yang putih dan mulus, kontras dengan cahaya lampu dapur yang temaram. Adrian menahan napas. Pandangannya mengikuti setiap gerak Safira saat gadis itu sibuk merawat lukanya. Hingga tanpa sadar matanya turun ke celana pendek yang dikenakan Safira. Terlalu pendek, nyaris memperlihatkan seluruh pahanya. Kulit yang mulus, garis yang kencang, begitu jelas tertangkap di bawah cahaya lampu dapur. Adrian terpaku. Tenggorokannya mendadak kering, dan tanpa ia sadari, ia menelan ludah, Pikiran-pikiran yang seharusnya tak muncul kembali mengetuk benaknya. Adrian menggeleng pelan, berusaha menarik diri. Mungkin sebaiknya ia segera pergi sekarang. Saat itu Safira selesai menempelkan hansaplas di jarinya. Ia merapikan kembali kotak P3K, lalu mendongak. Pandangannya bertemu dengan Adrian yang masih terdiam berdiri di tempatnya. Ada jeda hening yang mendadak terasa berat. “Ngomong-ngomong … Om Adrian sendiri sedang apa di sini?” Tanya Safira pelan. Adrian berdehem singkat. “Aku melihat lampu dapur masih menyala,” jawabnya tenang. “Aku pikir sudah tidak ada orang. Ternyata kamu.” Safira mengangguk, jemarinya saling meremas, seolah menimbang keberanian. “Apa… Om Adrian mau mencicipi kue buatan saya?” Tawarnya hati-hati. “Saya bisa memotongkannya kalau Om mau.” Adrian tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat, perlahan namun pasti, hingga berhenti tepat di sisi Safira. Tangan kirinya bertumpu di sandaran kursi yang diduduki Safira, sementara tangan kanannya menahan tubuh di atas meja dapur. Ruang di antara mereka seketika menyempit. Safira menahan napas. Jantungnya berdegup terlalu keras saat menyadari dirinya seolah terkurung dalam posisi itu. Adrian sedikit menunduk, menyamakan tinggi wajahnya dengan Safira. Bibirnya mendekat ke telinga gadis itu, suaranya turun menjadi bisikan rendah. “Aku sedang tidak tertarik pada kue, Safira,” ucapnya pelan. “Tapi… kalau kamu menawarkan sesuatu yang lain, mungkin aku bisa berubah pikiran.” Kalimat itu meluncur lembut, namun cukup untuk membuat tubuh Safira bergetar. Sebelum Safira sempat membuka mulut, Adrian sudah kembali berdiri tegak. Ujung jarinya menyentuh bahu Safira sekilas. Terasa ringan, namun meninggalkan jejak panas. “Sudah malam,” katanya datar. “Sebaiknya kamu beristirahat.” Belum sempat Safira menjawab, Adrian sudah berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Safira yang masih duduk terpaku. Napasnya belum sepenuhnya kembali normal. Begitu kembali ke kamar dan Adrian mendapati Vivian baru saja keluar dari kamar mandi. Rambut istrinya masih lembap, aroma sabun memenuhi ruangan. “Dari mana?” Tanya Vivian sambil mengeringkan rambutnya. “Dapur. Aku haus,” jawab Adrian singkat. Ia melangkah mendekat, memeluk Vivian dari dekat. Bibirnya mengecup leher istrinya, lalu beralih ke telinga. “Kamu wangi,” gumamnya. “Tentu saja,” Vivian terkekeh kecil. “Aku baru selesai mandi.” “Bagaimana kalau kita mandi lagi,” ujar Adrian rendah. “Bersama.” Tangannya menyentuh tali jubah tidur Vivian, menariknya sedikit hingga terbuka, ia mengusap perut istrinya yang terbalut kain satin. Namun, di sela sentuhan itu, bayangan lain menyusup ke pikirannya. Kulit putih di bawah cahaya dapur, napas tertahan, tatapan yang gugup. Adrian menegang sesaat. “Adrian, jangan bercanda,” ujar Vivian, mencoba menjauh. Alih-alih menjawab, Adrian justru mengecup bibir istrinya, seolah berusaha menenggelamkan bayangan yang tak seharusnya hadir. “Aku tidak bercanda.” Adrian mendekap erat tubuh istrinya, dan satu desahan itu muncul seiring dengan tangan kanan Adrian yang meremas dada Vivian. Adrian menuntun tubuh Vivian mendekati ranjang, lalu mendorongnya hingga terjatuh ke atas tempat tidur. Ia segera naik, dan menyingkap gaun tidur istrinya. Saat nafsunya sudah berada di ujung kepala, sebuah panggilan masuk ke ponsel Vivian dan membuyarkan semuanya. Adrian melirik sekilas nama yang ada di layar ponsel istrinya. Dan seketika Vivian langsung menjauhkan diri saat itu juga. “Siapa?” Adrian bertanya, pura-pura tidak tahu. “Reno,” jawab Vivian terus terang. “Dia pasti ingin membahas pekerjaan sore tadi. Kebetulan masih ada yang belum selesai.” “Lalu?” Adrian menatap Vivian yang langsung tersenyum kikuk. “Aku harus menjawabnya, Adrian. Ini penting.” Vivian mengusap lengan Adrian, seolah apa yang ia lakukan bisa melunakkan hati suaminya. “Dan kamu pikir kebutuhanku tidak penting?” Tukas Adrian tajam. Vivian menegang, matanya sedikit membulat karena terkejut. “Sayang …” Vivian mendekat, ia bersikap sedikit manja untuk membujuk suaminya. “Kita masih bisa melanjutkannya besok. Aku janji.” Adrian sudah menduga Vivian akan mengatakan itu. Jawaban seperti itu sudah sering sekali Adrian dengar. Vivian selalu beralasan, selalu menunda, dan pada akhirnya selalu ingkar. Sebagai istri, wanita itu tak pernah benar-benar hadir memenuhi kebutuhan batinnya. Hanya meninggalkan harapan yang terus digantung tanpa kepastian.Adrian dan Safira melangkah masuk ke rumah hampir bersamaan. Mereka baru saja pulang bekerja. Hari pertama bekerja langsung menguras tenaga Safira. Jauh dari bayangannya tentang pekerjaan kantoran yang rapi dan ringan.Tanpa sadar ia menghela napas terlalu keras. Adrian yang berjalan lebih dulu menoleh.Pria itu menatap Safira yang berdiri di belakangnya. “Apa kamu lelah, Safira?”“Eh, i-iya, Om. Sedikit,” jawab Safira jujur, berusaha tersenyum. “Ini pertama kalinya saya benar-benar terjun ke dunia kantor.”“Wajar,” kata Adrian tenang. “Nanti juga terbiasa.”Safira hanya mengangguk, lalu memilih pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat ingin makan malam, rupanya dapur masih kosong. Tidak ada seorang pun di sana. Namun, semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan.Safira baru ingin duduk saat ia mendengar langkah kaki berat memasuki ruang makan. Ia menoleh, menatap Adrian yang baru memasuki ruang makan.“Makan, Safira.” Pria itu berujar santai. Lalu menarik kursi tempat bia
“Aku harus menjawab ini sekarang.” Vivian bangkit dari sisi ranjang, meraih ponselnya di atas nakas. “Aku akan berada di ruang kerja. Kalau mengantuk, kamu bisa tidur lebih dulu. Tidak perlu menungguku,” imbuhnya lembut, disertai senyum yang terasa sekilas, lalu pergi.Adrian tidak bereaksi. Ia hanya menatap punggung istrinya yang menjauh hingga pintu kamar tertutup pelan. Ia di tinggalkan dalam kondisi setengah terbakar, hanya demi sebuah panggilan.Panggilan yang belakangan ini terasa terlalu sering. Terlalu penting.Tapi Adrian sudah tidak heran. Ini bukan kali pertama dan mungkin juga bukan yang terakhir ia kalah oleh suara dari seberang sana.Adrian mengusap wajahnya kasar, lalu menghembuskan napas panjang sambil menatap langit-langit kamar. Menunggu Vivian kembali terasa sia-sia. Ia tahu, besar kemungkinan malam ini akan berakhir sama seperti sebelumnya. Dirinya sendirian, dengan hasrat yang kembali di pendam.***Safira menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang. Hari ini ad
Sore itu Safira sengaja menghabiskan waktunya di dapur. Bukan karena diminta, melainkan karena rasa bosan yang perlahan menumpuk sejak beberapa hari terakhir ia tinggal di rumah Vivian. Di rumah sebesar ini, ia nyaris tak memiliki peran apapun. Semua pekerjaan rumah telah ditangani orang lain.Setiap pagi para pekerja datang, menjalankan tugasnya dengan cekatan, lalu pergi begitu pekerjaan mereka sudah selesai. Rumah kembali lengang, rapi, dan terasa terlalu tenang. Tak ada yang benar-benar tinggal, selain tukang kebun dan satpam yang berjaga di gerbang depan rumah Vivian.Safira mengaduk pelan isi mangkuk di hadapannya, mencoba menikmati kesibukan kecil itu, hingga sebuah suara memecah lamunannya.“Safira, kamu sedang apa?”Safira tersentak, lalu cepat menoleh. Ia langsung tersenyum ketika mendapati Vivian berdiri di ambang dapur. Seperti biasa, wanita itu tampak rapi dan anggun meski hanya mengenakan pakaian rumahan sederhana, kesan elegan yang seolah melekat alami pada dirinya. “A
Pagi itu Safira terbangun oleh cahaya yang menyusup melalui celah tirai kamarnya. Ia mengerjap pelan, menyadari terang yang berbeda. Bukan lagi sinar lembut dari jendela rumah lamanya, melainkan cahaya kota yang putih, hangat, dan asing.Setelah membersihkan diri, Safira langsung memilih untuk keluar kamar. Lagi-lagi ia merasakan suasana yang berbeda. Rumah terasa sunyi. Langkahnya bergema pelan di lantai marmer. Dari lantai bawah terdengar suara peralatan makan beradu pelan. Safira menuruni tangga dengan hati-hati.Di ruang makan, Adrian duduk dengan setelan kemeja abu-abu gelap, lengan digulung rapi. Sebuah tablet tergeletak di samping cangkir kopinya.Safira refleks berhenti melangkah.Adrian mendongak, dan tanpa sengaja tatapan mereka saling bertaut. Safira terlihat begitu cantik alami, segar, dengan wajah polos tanpa sentuhan riasan apapun. Ada kelembutan yang jujur terpancar dari sorot matanya, sesuatu yang jarang sekali ia temukan. Berbeda dengan Vivian yang selalu tampil sempu
Mobil hitam berhenti perlahan di depan sebuah gerbang tinggi yang megah. Lampu jalan berkilau temaram, memantul di bodi mobil yang baru saja menempuh perjalanan panjang dari stasiun. Di dalam mobil, seorang gadis muda duduk diam dengan tangan menggenggam tas kecil di pangkuannya. Jemarinya berkeringat dingin, bergetar halus seakan ikut membawa gugup yang memenuhi dadanya. “Sudah sampai, Nona,” ucap sopir dengan suara ramah, meliriknya sekilas melalui kaca spion. Safira mengangkat wajah. Pandangannya segera terpaku pada pagar besi di hadapannya. Di balik pagar, sebuah rumah besar bergaya modern tampak berdiri dengan anggun. Ini rumah Tante Vivian… batin Safira, menarik napas panjang. Hanya beberapa bulan lalu, Safira masih tinggal di rumah sederhana di sebuah desa kecil bersama ayah dan ibunya. Hidupnya tenang, meski sederhana. Hingga kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya dalam sekejap. Dunia yang dikenalnya runtuh, meninggalkannya sendiri dengan kesedihan yang nyaris







