Beranda / Romansa / TERJERAT GODAAN OM ADRIAN / Secangkir Kopi Dan Fantasi Liar

Share

Secangkir Kopi Dan Fantasi Liar

Penulis: SweetWater
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-08 17:20:11

Pagi itu Safira terbangun oleh cahaya yang menyusup melalui celah tirai kamarnya. Ia mengerjap pelan, menyadari terang yang berbeda. Bukan lagi sinar lembut dari jendela rumah lamanya, melainkan cahaya kota yang putih, hangat, dan asing.

Setelah membersihkan diri, Safira langsung memilih untuk keluar kamar. Lagi-lagi ia merasakan suasana yang berbeda. Rumah terasa sunyi. Langkahnya bergema pelan di lantai marmer. Dari lantai bawah terdengar suara peralatan makan beradu pelan. Safira menuruni tangga dengan hati-hati.

Di ruang makan, Adrian duduk dengan setelan kemeja abu-abu gelap, lengan digulung rapi. Sebuah tablet tergeletak di samping cangkir kopinya.

Safira refleks berhenti melangkah.

Adrian mendongak, dan tanpa sengaja tatapan mereka saling bertaut. Safira terlihat begitu cantik alami, segar, dengan wajah polos tanpa sentuhan riasan apapun. Ada kelembutan yang jujur terpancar dari sorot matanya, sesuatu yang jarang sekali ia temukan. Berbeda dengan Vivian yang selalu tampil sempurna dengan riasan rapi, bahkan di pagi hari. Kehadiran Safira menghadirkan pemandangan yang sederhana namun justru terasa menggetarkan bagi Adrian.

“Selamat pagi,” ucap Adrian lebih dulu, suaranya tenang, nyaris datar, tapi tetap terdengar berat.

“P-pagi, Om Adrian,” jawab Safira cepat, lalu melangkah mendekat dengan canggung. “Maaf, kalau saya bangun terlambat. Saya pikir hari masih pagi,” imbuhnya kemudian.

Adrian melirik jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Safira. “Tidak apa-apa. Sepertinya kamu memang masih butuh istirahat. Kalau mau, tidur lagi saja.”

Safira buru-buru menggeleng. “Tidak perlu, Om. Saya bisa melakukan sesuatu. Membersihkan rumah, atau membantu apapun.”

Adrian menatap sejenak gadis yang saat ini tersenyum kikuk di tempatnya. “Nikmatilah waktumu, Safira. Sebelum minggu depan kamu mulai bekerja.”

Safira tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa mengangguk seraya meremas jari-jari tangannya.

“Ayo, sarapan.” Suara Adrian kembali terdengar.

Lagi-lagi Safira hanya bisa mengangguk. “Apa Tante Vivian belum bangun?” Tanyanya hati-hati.

“Dia sudah berangkat,” jawab Adrian. “Dan dia juga titip pesan supaya kamu jangan sungkan di rumah ini.”

Safira tersenyum kaku saat mendengarnya. “Apa … Tante Vivian selalu berangkat pagi? M-maksud saya, apa Tante tidak sempat sarapan terlebih dahulu?”

“Ya. Vivian memang selalu berangkat pagi. Dan dia jarang sekali sempat sarapan di rumah,” jelas Adrian lalu ia meraih tablet yang ada di depannya.

Safira mengangguk. Ia baru tahu kehidupan orang kaya ternyata sesibuk ini. Bahkan di pagi hari saja mereka rela meninggalkan sarapan hanya demi mengejar pekerjaan.

Safira menatap piring di depannya. Roti panggang, telur, dan potongan buah segar. Semua terlihat rapi, seperti di hotel. Ia makan pelan, berusaha tidak menimbulkan suara.

Diam-diam Adrian mengamati Safira. Selama ini, ia hampir selalu sarapan seorang diri. Vivian biasanya sudah berangkat pagi karena pekerjaan. Dan kalaupun sempat sarapan bersama, semuanya dilakukan dengan tergesa. Hampir tak pernah ada percakapan ringan, sekadar berbagi cerita pagi yang bisa mereka nikmati bersama.

Tapi pagi ini Adrian merasa semuanya akan mulai berbeda. Kehadiran Safira justru akan mengisi kekosongan yang selama ini ia rasakan.

“Tidurmu cukup?” Tanya Adrian tiba-tiba tanpa menoleh.

Safira berdehem sejenak sebelum menjawab pertanyaan Adrian. “Cukup, Om. Kamarnya sangat nyaman,” jawabnya sambil tersenyum.

Adrian mengangguk seraya menyesap kopinya yang hanya tinggal tersisa sedikit. “Bagus kalau kamu merasa nyaman. Lanjutkan istirahatmu di rumah. Aku harus berangkat bekerja sekarang.”

Adrian hendak bangkit seraya membawa cangkir kopinya. Namun, tiba-tiba Safira menahan, terlalu cepat sampai membuat Adrian sempat kebingungan dengan sikap gadis itu.

“Biar saya saja, Om. Saya akan membereskan semuanya.” Kata Safira yang langsung bangkit berdiri. Berniat membereskan semua piring yang ada di atas meja makan, termasuk cangkir kopi yang ada di tangan Adrian.

“Tidak perlu, Safira. Nanti sudah ada yang bertugas membereskan semua ini. Aku hanya terbiasa membawa cangkir kopiku sendiri, sekalian menghabiskannya.”

Safira menggeleng sambil tersenyum. Ia sudah di izinkan tinggal di rumah ini jadi Safira pikir, ia tidak boleh hanya diam saja. Lagipula sedikit membantu tidak masalah, kan?

Namun, saat Safira hendak melangkah tanpa sengaja kakinya tersandung kaki meja dan membuat cangkir kopi yang di bawanya jatuh, tumpah mengenai celana Adrian, tepat di bagian paha.

“Astaga!” Mata Safira membulat panik. “Maafkan saya, Om Adrian. Saya tidak sengaja,” ucapnya tergesa, suaranya nyaris bergetar. Rasa takut merayap cepat. Takut akan kemarahan, takut telah berbuat kesalahan besar.

Adrian justru terdiam. Tidak ada bentakan, tidak ada teguran. Ia hanya menatap Safira tanpa ekspresi, lalu menggeser duduknya, berniat berdiri.

Namun, gerakannya terhenti.

Safira tiba-tiba berlutut di hadapannya, bersimpuh terlalu dekat, terlalu rendah tepat di antara kedua pahanya. Jarak mereka seketika lenyap.

Napas Adrian tertahan sesaat. Terlebih saat Safira mulai menyentuh celananya. Jemari gadis itu terasa gemetar saat menepuk-nepuk bagian celana Adrian yang terkena tumpahan kopi.

Pandangan Adrian lalu turun, menangkap posisi Safira yang entah sadar atau tidak terlalu intim untuk sekadar membersihkan tumpahan.

“Safira, tidak perlu,” Adrian mencoba menghentikannya. Nada suaranya terdengar terkendali, tapi rahangnya mengeras.

Namun, Safira tak mendengar. Tangannya tetap bergerak, mengusap kain celana Adrian dengan tisu, seolah hanya ingin memastikan tak ada sisa noda yang tertinggal.

Adrian menghela napas pelan, lalu berdehem. Tangannya terangkat, melonggarkan dasinya yang tiba-tiba terasa menyesakkan. Posisi Safira yang berlutut di hadapannya, jarak yang hampir tak ada, dan sentuhan kecil yang berulang, semua itu berhasil mengganggu hormon prianya.

Pikirannya melayang ke arah yang seharusnya tak ia datangi.

Bagaimana jika Safira tak berhenti di situ? Bagaimana jika sentuhan itu bukan lagi sekadar rasa bersalah?

Adrian segera menggeleng, menepis bayangan itu dengan paksa.

Sial.

Ia tak pernah membayangkan kehadiran Safira bisa mengguncangnya sedalam ini. Namun, tubuhnya tak bisa berbohong. Ada sesuatu yang mulai bereaksi. Dan Adrian tahu, ia tidak bisa membiarkan posisi ini berlangsung terlalu lama.

“Safira…” Adrian lalu kembali bersuara. Nadanya rendah dan berat, menyimpan sesuatu yang tak terucap.

Kali ini Safira mendengar. Ia mendongak perlahan, dan barulah ia menyadari jarak dan posisinya. Wajahnya memucat sejenak, lalu memerah. Tisu di tangannya berhenti bergerak.

Ekspresi wajah itu entah kenapa membuat sesuatu dalam diri Adrian semakin bergejolak. Ia berdehem pelan sebelum pikiran liarnya kembali menyerang.

“Aku bisa mengganti celanaku,” ujar Adrian datar.

“Tapi, Om …”

Adrian langsung berdiri, lalu pergi meninggalkan Safira yang bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya. Lagi-lagi ia kembali mengumpat dalam hati.

“Kehadiran gadis itu benar-benar suatu tantangan untukku,” gumamnya seraya melangkah menuju kamar untuk berganti setelan kerja.

Saat Adrian kembali turun dan ingin berangkat bekerja. Ia melihat Safira yang sudah berdiri di dekat pintu. Wajah gadis itu jelas menggambarkan perasaan bersalah dan rasa takut.

“Om Adrian …”

Suaranya yang lembut berhasil menghentikan langkah Adrian. Adrian menoleh dan menatap Safira yang juga tengah menatapnya.

“Sekali lagi saya minta maaf. Saya benar-benar tidak sengaja,” ucap Safira sedikit bergetar.

“Ini hanya masalah kecil, Safira. Jangan terlalu di pikirkan.”

“Tapi—“

“Aku sudah hampir terlambat,” potong Adrian yang seketika membuat Safira langsung mengangguk.

Tanpa mengatakan apapun lagi, Adrian langsung melangkah keluar, menuju mobil dan meninggalkan rumah.

***

Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam ketika Adrian kembali ke rumahnya. Begitu melangkah masuk, kesunyian langsung menyambut seperti malam-malam sebelumnya. Rumah itu terasa kosong, dingin, tanpa kehangatan. Vivian belum pulang dari pekerjaannya. Adrian tahu pasti karena carport masih lengang, tak ada mobil istrinya yang biasa terparkir di sana.

Adrian memasuki rumah dengan langkah lelah. Namun, saat melewati ruang makan langkahnya terhenti karena ia mendengar seseorang memanggil namanya.

Safira.

Adrian menoleh dan menatap gadis yang saat ini sedang tersenyum hangat menyambut kepulangannya. Hal yang jarang ia dapatkan selama menjadi suami Vivian. Vivian jarang sekali pulang lebih awal. Istrinya selalu sibuk bekerja daripada mengurus rumah. Apalagi menyambut kepulangannya.

“Om Adrian baru pulang?” Suaranya terdengar ringan tapi penuh perhatian.

Adrian hanya mengangguk untuk menanggapinya.

“Kalau begitu Om Adrian makan saja dulu. Saya sudah memasak makan malam,” sambung Safira.

“Memasak? Kamu? Bukanya sudah ada Bi Ida yang bertugas untuk menyiapkan semua itu.” Kata Adrian.

Safira meringis. “Saya sedikit membantu tadi. Maaf kalau saya lancang.”

Adrian menggeleng. “Bukan seperti itu, Safira. Maksudku kalau sudah ada Bi Ida kamu tidak perlu repot memasak. Vivian bisa marah kalau tahu kamu repot menyiapkan makan malam.”

“Tapi saya tidak repot,” sahut Safira cepat. “Saya justru senang karena bisa membantu,” imbuhnya kemudian.

“Jadi kamu suka memasak?” Tanya Adrian.

“Ya … sedikit,” jawab Safira tampak malu-malu.

Adrian tersenyum tipis. Manis sekali reaksi gadis itu. Membuatnya semakin penasaran.

“Baiklah kalau begitu. Aku ingin mencoba seenak apa masakanmu.” Adrian hendak melangkah menuju ruang makan tapi suara Safira kembali terdengar.

“Om Adrian ingin langsung makan sekarang?” Tanya Safira ragu-ragu. “Tidak ingin membersihkan diri terlebih dahulu?”

“Aku rasa tidak perlu,” jawab Adrian cepat. Tatapan pria itu menyimpan sesuatu yang terasa ganjil. “Siapa tahu ada kejadian minuman tumpah lagi. Jadi aku tidak perlu membersihkan diri dua kali, kan.”

“Ah, soal itu … saya benar-benar minta maaf. Saya—“

“Aku hanya bercanda, Safira,” sahut Adrian terkekeh. “Jangan di pikirkan lagi.”

Safira menggigit bibirnya. “Saya pastikan, saya tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi, Om. Saya akan lebih berhati-hati,” ujarnya. Takut kalau Adrian menyimpan rasa kesal karena kejadian kopi tumpah pagi tadi.

Adrian diam sejenak. Ia menatap Safira yang kini menunduk entah karena takut atau apa. Tiba-tiba Adrian mendekat, entah mendapat keberanian darimana ia menyentuh dagu Safira, mendongakkannya hingga menatap ke arahnya.

“Aku tidak masalah kalau kamu ingin menumpahkan kopi lagi di celanaku, Safira. Atau bahkan … kamu ingin melakukan yang lebih dari sekedar menumpahkan kopi,” ujar Adrian. Suaranya terdengar serak dan berat hingga membuat seluruh tubuh Safira merinding saat mendengarnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Pilihan Untuk Safira

    Adrian dan Safira melangkah masuk ke rumah hampir bersamaan. Mereka baru saja pulang bekerja. Hari pertama bekerja langsung menguras tenaga Safira. Jauh dari bayangannya tentang pekerjaan kantoran yang rapi dan ringan.Tanpa sadar ia menghela napas terlalu keras. Adrian yang berjalan lebih dulu menoleh.Pria itu menatap Safira yang berdiri di belakangnya. “Apa kamu lelah, Safira?”“Eh, i-iya, Om. Sedikit,” jawab Safira jujur, berusaha tersenyum. “Ini pertama kalinya saya benar-benar terjun ke dunia kantor.”“Wajar,” kata Adrian tenang. “Nanti juga terbiasa.”Safira hanya mengangguk, lalu memilih pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat ingin makan malam, rupanya dapur masih kosong. Tidak ada seorang pun di sana. Namun, semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan.Safira baru ingin duduk saat ia mendengar langkah kaki berat memasuki ruang makan. Ia menoleh, menatap Adrian yang baru memasuki ruang makan.“Makan, Safira.” Pria itu berujar santai. Lalu menarik kursi tempat bia

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Hari Pertama Bekerja

    “Aku harus menjawab ini sekarang.” Vivian bangkit dari sisi ranjang, meraih ponselnya di atas nakas. “Aku akan berada di ruang kerja. Kalau mengantuk, kamu bisa tidur lebih dulu. Tidak perlu menungguku,” imbuhnya lembut, disertai senyum yang terasa sekilas, lalu pergi.Adrian tidak bereaksi. Ia hanya menatap punggung istrinya yang menjauh hingga pintu kamar tertutup pelan. Ia di tinggalkan dalam kondisi setengah terbakar, hanya demi sebuah panggilan.Panggilan yang belakangan ini terasa terlalu sering. Terlalu penting.Tapi Adrian sudah tidak heran. Ini bukan kali pertama dan mungkin juga bukan yang terakhir ia kalah oleh suara dari seberang sana.Adrian mengusap wajahnya kasar, lalu menghembuskan napas panjang sambil menatap langit-langit kamar. Menunggu Vivian kembali terasa sia-sia. Ia tahu, besar kemungkinan malam ini akan berakhir sama seperti sebelumnya. Dirinya sendirian, dengan hasrat yang kembali di pendam.***Safira menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang. Hari ini ad

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Kebutuhan Batin Yang Tidak Pernah Terpenuhi

    Sore itu Safira sengaja menghabiskan waktunya di dapur. Bukan karena diminta, melainkan karena rasa bosan yang perlahan menumpuk sejak beberapa hari terakhir ia tinggal di rumah Vivian. Di rumah sebesar ini, ia nyaris tak memiliki peran apapun. Semua pekerjaan rumah telah ditangani orang lain.Setiap pagi para pekerja datang, menjalankan tugasnya dengan cekatan, lalu pergi begitu pekerjaan mereka sudah selesai. Rumah kembali lengang, rapi, dan terasa terlalu tenang. Tak ada yang benar-benar tinggal, selain tukang kebun dan satpam yang berjaga di gerbang depan rumah Vivian.Safira mengaduk pelan isi mangkuk di hadapannya, mencoba menikmati kesibukan kecil itu, hingga sebuah suara memecah lamunannya.“Safira, kamu sedang apa?”Safira tersentak, lalu cepat menoleh. Ia langsung tersenyum ketika mendapati Vivian berdiri di ambang dapur. Seperti biasa, wanita itu tampak rapi dan anggun meski hanya mengenakan pakaian rumahan sederhana, kesan elegan yang seolah melekat alami pada dirinya. “A

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Secangkir Kopi Dan Fantasi Liar

    Pagi itu Safira terbangun oleh cahaya yang menyusup melalui celah tirai kamarnya. Ia mengerjap pelan, menyadari terang yang berbeda. Bukan lagi sinar lembut dari jendela rumah lamanya, melainkan cahaya kota yang putih, hangat, dan asing.Setelah membersihkan diri, Safira langsung memilih untuk keluar kamar. Lagi-lagi ia merasakan suasana yang berbeda. Rumah terasa sunyi. Langkahnya bergema pelan di lantai marmer. Dari lantai bawah terdengar suara peralatan makan beradu pelan. Safira menuruni tangga dengan hati-hati.Di ruang makan, Adrian duduk dengan setelan kemeja abu-abu gelap, lengan digulung rapi. Sebuah tablet tergeletak di samping cangkir kopinya.Safira refleks berhenti melangkah.Adrian mendongak, dan tanpa sengaja tatapan mereka saling bertaut. Safira terlihat begitu cantik alami, segar, dengan wajah polos tanpa sentuhan riasan apapun. Ada kelembutan yang jujur terpancar dari sorot matanya, sesuatu yang jarang sekali ia temukan. Berbeda dengan Vivian yang selalu tampil sempu

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Rumah Baru, Tatapan Pertama

    Mobil hitam berhenti perlahan di depan sebuah gerbang tinggi yang megah. Lampu jalan berkilau temaram, memantul di bodi mobil yang baru saja menempuh perjalanan panjang dari stasiun. Di dalam mobil, seorang gadis muda duduk diam dengan tangan menggenggam tas kecil di pangkuannya. Jemarinya berkeringat dingin, bergetar halus seakan ikut membawa gugup yang memenuhi dadanya. “Sudah sampai, Nona,” ucap sopir dengan suara ramah, meliriknya sekilas melalui kaca spion. Safira mengangkat wajah. Pandangannya segera terpaku pada pagar besi di hadapannya. Di balik pagar, sebuah rumah besar bergaya modern tampak berdiri dengan anggun. Ini rumah Tante Vivian… batin Safira, menarik napas panjang. Hanya beberapa bulan lalu, Safira masih tinggal di rumah sederhana di sebuah desa kecil bersama ayah dan ibunya. Hidupnya tenang, meski sederhana. Hingga kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya dalam sekejap. Dunia yang dikenalnya runtuh, meninggalkannya sendiri dengan kesedihan yang nyaris

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status