เข้าสู่ระบบCup "Semangat!" "Ups! Sorry ganggu. Gue nggak lihat. Beneran!" "Ck, ganggu aja!" umpat Brilly kesal sedangkan Naomi sontak membuang muka menutupi wajahnya yang mungkin saat ini sudah sangat merona. "Sorry, gue masuk mau ngasih tau loe kalau bentar lagi siap operasi. Maaf ya Mbak Naomi. Nggak sengaja," kata Gani seraya menggaruk kepala. Bohong sekali memang kalau pria itu tidak melihat apa-apa. Maka dari itu meminta maaf akan keteledorannya. Begini yang Naomi takutkan, akhirnya terjadi juga padahal durasi baru sebentar. "Mbak-mbak! Nyonya!" tegur Brilly. "Iya maaf, Nyonya. Lupa kalau sebentar lagi mau jadi Nyonya Brilly ya, Bu. Maaf ya, Bu. Lanjut dech! Tapi palingan juga cuma lima menitan. Soalnya tim medis udah otw kemari." "Udah sana keluar dulu! Bikin cewek gue malu aja loe. Nggak nyaman dia jadinya." "Iya, iya, sorry. Lanjut dah! Gaspol ndangak! Digaspol ndangak-ndangak! Manukku siap...." "Haish... Sialand, Gani!" umpat Brilly lagi setelah mendengar Gani y
Naomi datang dengan membawakan buah-buahan untuk Brilly. Sepanjang jalan Naomi bingung memikirkan apa yang harus dia bawakan untuk Brilly. Terlebih keinginan Brilly yang sangat tidak mungkin. Tidak mungkin juga jika datang dengan tangan kosong. Apalagi ada mertua. Alhasil apa yang ada di otaknya, dia bawakan saja untuk Brilly. Naomi melangkah kecil menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju kamar VIP. Keraguan melanda karena ada mertua tetapi mendengar Brilly begitu sangat menunggu kedatangannya membuat Naomi tidak bisa mengabaikan pria itu begitu saja. Naomi tiba di depan pintu kamar yang dia tuju. Tatapannya mengarah pada nomor kamar tersebut. Kamar ini sama dengan kamar yang Brilly sebutkan tadi. Naomi menarik nafas dalam sebelum masuk. Naomi lebih dulu menenangkan diri. Padahal sudah bertemu setiap hari akan tetapi dengan hubungannya yang sekarang dengan Brilly membuat Naomi seperti kembali ke masa lalu saat dia baru mengenal cinta. "Aku harus bersikap sebagai ipar, adi
Pagi ini, Naomi mengurus Gwen sendiri. Apalagi di rumah tidak ada Mami dan Daddy yang sudah beberapa pekan sangat memperhatikan mereka. Tidak adanya mereka terasa sepi. Kedua mertuanya tidak pulang. Mereka menginap di rumah sakit menunggu Brilly yang mana hanya sendiri karena Gani harus pulang. Sebenarnya Brilly sudah meminta keduanya untuk pulang. Brilly justru kasihan pada Naomi dan Gwen. Namun Mami dan Daddy lebih mengkhawatirkan Brilly yang hanya sendiri. Di rumah ada Maryam yang walaupun musuh Naomi sebelumnya tetapi wanita itu sama sekali tidak berani macam-macam sskarang. Apalagi Daddy sudah sangat wanti-wanti pada Maryam. Sampai berani mengganggu Naomi, nyawa taruhannya. "Kita berangkat berdua, Mi? Om belum pulang?" "Belum bisa pulang, Nak. Oma dan Opa ada di rumah sakit menemani Om Brilly. Doakan Om Brilly lekas sembuh ya." "Iya, Mi. Kasihan Om Brilly, tapi Gwen siapa yang jemput sekolah, Mi?" "Nanti Mami yang antar jemput Gwen, Sayang. Kalau bukan Mami,
"Assalamualaikum... Brilly.... Ya ampun, ini kaki kamu kenapa? Kepala kamu, tangan kamu, begitu kok ya bilang baik-baik saja. Ini buruk, Brilly." Mami sangat terkejut sekali dengan kondisi Brilly saat ini. Beliau berlari mendekati Brilly yang terlihat lemas di ranjang pesakitan. "Hanya terjepit mobil, Mi." "Hanya lagi!" sahut Mami gemas sekali. Apapun yang menjadi alasan dari Brilly membuat Mami amat sangat sewot sekali. Pasalnya memang keadaan Brilly yang sebenarnya itu cukup buruk. "Kamu tuh tebuat dari apa sich? Perasaan Mami melahirkan kamu sama seperti Lian. Kenapa kamu tuh udah babak belur begini, masih bisa bilang nggak apa-apa? Ini tuh sakit semua, Nak." Gani dan Daddy hanya diam saja kalau sudah Ibu Ratu marah-marah. Brilly sendiri hanya meringis mendengar ocehan tersebut. Tidak ada pembelaan yang keluar dari mulut Brilly. Pria itu sangat mengerti dan menghormati Mami. "Lain kali itu hati-hati! Jangan sampai begini! Kamu tuh memangnya punya nyawa berapa? Apa
Naomi dan Gwen turun menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mami dan Daddy yang sedang menikmati makanan mereka. Sebenarnya sudah sejak tadi Naomi dan Gwen dipanggil tetapi Naomi baru keluar setelah kondisi hatinya sudah lebih baik. Masih tentang Brilly yang kecelakaan. Mungkin kedua mertuanya mencoba menutup akan itu. Mereka tidak ada yang mengabarinya tetapi Gwen tidak bisa diam. Gwen berlari mendekati Oma dan Opanya dengan langkah kecil yang membuat kedua orang tua tersebut menoleh memerhatikan. "Gwen sudah bangun?" "Iya Oma, Oma, Om di rumah sakit. Kepala Om sakit. Tadi Gwen telepon Om," kata Gwen mengadu pada Omanya. Mami terkejut mendengar celotehan putrinya sedangkan Naomi tidak ikut bicara dan menempatkan diri di samping Mami. Naomi tau, mungkin Mami dan Daddy tidak mau membuatnya panik tapi mereka tidak tau kalau Naomi sudah mendengar semuanya tadi. "Oh ya? Ya ampun, Gwen sudah bicara sama Om Brilly? Terus gimana, Nak? Bagaimana kabar Om Brilly sekarang?
"Om kenapa itu kepalanya? Kok ada putih-putihnya? Apa Om jatuh? Om dimana sekarang? Apa Om sedang di rumah sakit? Gwen jenguk ya?" Brilly mengulum senyum mendengar itu, mendengar ocehan putrinya yang sangat ingin tau. Brilly menatap penuh kerinduan. Bisa jadi dalam waktu seminggu dia tidak bisa bertemu dengan Gwen. "Iya Om sakit. Doakan Om cepat sembuh ya!" "Gwen mau kesana." "Jangan dulu, Nak! Kasihan Mami baru sembuh. Nanti ya kalau Mami sudah sehat dan kuat lagi. Tunggu saja sampai Om pulang. Mami biar istirahat di rumah." "Tapi Mami sudah sehat, Om. Mami sudah bisa gendong Gwen tadi." Brilly menatap gemas putrinya, tetapi sepertinya bukan hanya pada putrinya saja melainkan pada Naomi yang kini diam memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa. Naomi masih diam, Naomi masih enggan bicara pada Brilly. Naomi hanya menelponkan pria itu untuk putrinya. Namun ada hal yang Naomi ingin tau. Kenapa Brilly bisa sampai kena musibah seperti ini. Ah! Andai dia tidak tau takdir,
"Gwen..." "Papi!" seru Gwen kemudian mengangkat kedua tangan meminta Lian untuk datang. Gwen tersenyum kala Lian duduk dan memeluk tubuh kecil putrinya. Naomi diam memperhatikan dari balik pintu kamar. Dia ingin tau bagaimana percakapan antara Gwen dan juga Lian setelah mereka lama tidak berj
"Kamu bisa memerintah tetapi kamu sendiri tidak menghabiskan makananmu. Dimana letak contohnya?" Itulah bisikan dari Brilly yang membuat Naomi tadi sampai malu. Naomi kira hendak menciumnya ternyata menegur karena apa yang dia katakan pada Gwen tadi. "Aku mau ke kamar, Kak. Nanti... Nanti Mar
Naomi meletakkan makanan yang Brilly tunjuk tadi di atas piring milik pria itu. Dia melirik Brilly yang kemudian menarik piring tersebut agar lebih dekat dan segera menikmati makanan itu tadi. Naomi meringis setelahnya kemudian menunduk seraya menarik nafas berulang kali dan membuangnya perlahan
"Kak aku ke kamar dulu!" kata Naomi dengan suara terbata dan Brilly tidak menjawab, hanya diam memperhatikan hingga Naomi memutuskan untuk bergegas beranjak dari sana dan membiarkan Gwen bersama Brilly dulu. Naomi mendadak gerah sekali. Apalagi mendengar apa yang Brilly katakan tadi. Kok ya menda







