Home / Romansa / TETANGGA TAPI PANAS / Bab 16 Nanggung

Share

Bab 16 Nanggung

Author: Penulis Hoki
last update publish date: 2026-04-20 23:40:21

Suara hujan badai yang menghantam atap mobil seolah menjadi satu-satunya tameng kedap suara, menutupi apa pun yang terjadi di dalam kabin kendaraan tersebut. Udara dingin dari AC yang menyala berbenturan dengan hawa panas yang tiba-tiba menguar dari dua manusia yang kini terjebak dalam posisi paling berbahaya.

"Lepasin, Za! Gue bilang lepas!" Ruby meronta hebat. Posisi ini terlalu intim dan terlalu memabukkan. Ia berusaha memukul bahu Reza, mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaga.

Namun, R
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 46 Sarapan

    Ruby berdiri mematung di dekat meja rias, masih mengenakan jaket tebalnya. Ia melihat Reza yang dengan santai melepas jaket bomber-nya, memperlihatkan kemeja hitam yang pas di tubuh atletisnya. Reza melempar jaketnya ke kursi, lalu mulai melepas jam tangannya."Za... gue mau mandi duluan ya," ucap Ruby cepat, mencoba mencari pelarian."Bareng aja, biar hemat air," sahut Reza tanpa menoleh."Nggak mau! Gue mau sendiri!" Ruby langsung menyambar handuk dan lari ke dalam kamar mandi, mengunci pintunya dengan cepat.Di dalam kamar mandi, Ruby bersandar di balik pintu, memegang dadanya yang berdegup kencang. “Gila, gila, gila!” batinnya. “Kenapa gue bisa se-gemetaran ini? Gue kan udah sah jadi istrinya! Tapi tetep aja, Reza kalau udah mode 'serius' gitu serem banget.”Ruby butuh waktu hampir empat puluh menit di dalam kamar mandi. Ia sengaja berlama-lama di bawah kucuran air hangat, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Saat ia akhirnya keluar mengenakan jubah mandi handuk yang di

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 45 Tremor

    Udara musim semi di Tokyo hari ini terasa sedikit lebih menusuk daripada kemarin, namun langit biru yang bersih tanpa awan seolah memberikan restu bagi sepasang pengantin baru itu. Sesuai janjinya yang tadi pagi, Reza benar-benar menjadi pemandu wisata yang berdedikasi.Ia membiarkan Ruby menyeretnya ke mana-mana—mulai dari berdesakan di Shibuya Crossing, berburu street food di Takeshita Street, hingga duduk tenang di bawah pohon sakura yang mulai berguguran di Shinjuku Gyoen.Ruby tampak sangat bahagia. Ia berkali-kali mengambil foto, mencatat ide-ide kecil di ponselnya untuk bahan novel, dan sesekali tertawa melihat Reza yang tampak canggung saat diminta berpose kiyowo di depan kamera."Za, sekali lagi! Tangannya bentuk heart dong!" seru Ruby sambil mengarahkan kamera ponselnya.Reza menghela napas, wajah sangarnya tampak sangat kontras dengan pose dua jari yang ia buat. "By, Kalau anak-anak di diler liat gue pose begini, harga diri gue jatuh ke kerak bumi, By.""Bodo amat!" balas R

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 44 Honeymoon

    Lantai marmer Bandara Soekarno-Hatta yang mengilat tampak berbayang di mata Ruby. Ia menyeret koper kabinnya dengan langkah yang sedikit gontai, sementara tangan kirinya memegang erat segelas large americano yang sudah hampir habis. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa lagi ditutupi oleh concealer terbaik sekalipun.Di sampingnya, Reza berjalan dengan langkah tegak, mengenakan jaket bomber hitam dan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya. Ia tampak sangat segar, seolah-olah ia bukan orang yang sama yang baru saja memaksa Ruby begadang sampai pukul empat pagi tadi."By, jalannya jangan merem gitu dong. Sayang," goda Reza sambil merangkul bahu Ruby, menariknya agar tidak tertinggal."Ini semua salah lo, Za," gerutu Ruby, suaranya serak. "Gue bilang jam satu berhenti, lo malah lanjut terus. Lo pikir gue ini robot yang nggak butuh tidur? Kita mau ke Jepang, perjalanannya tujuh jam lebih. Gue mau mati rasanya."Reza tertawa rendah, sebuah bunyi yang biasanya membuat Ruby

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 43 Bumbu cinta

    Aroma nasi goreng mentega yang gurih menusuk indra penciuman Ruby, membangkitkan perutnya yang keroncongan akibat semalam dan puasa mutih yang menyiksanya kemarin. Siska benar-benar menepati janjinya; sebuah nampan besar berisi dua piring nasi goreng, telur mata sapi, kerupuk, dan dua gelas teh manis hangat sudah tersaji di atas nakas setelah teriakan memalukan Reza tadi.Ruby masih duduk bersandar di tumpukan bantal, mencoba menutupi rasa pegal di pinggangnya dengan selimut tebal. Sementara itu, Reza duduk di tepi ranjang dengan wajah segar yang sangat menyebalkan. Pria itu tampak sangat bersemangat, seolah tidak baru saja melewati malam yang menguras energi."Ayo, istriku sayang... Pesawat tempur mau mendarat. Buka mulutnya, aaaa..." Reza menyodorkan sesendok penuh nasi goreng ke depan bibir Ruby.Ruby memalingkan wajah, pipinya masih menyisakan rona merah akibat godaan Reza pada Siska tadi. "Gue punya tangan, Za. Gue bisa makan sendiri.""Tangan lo gemeteran gitu, nanti nasinya tum

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 42 5 anak?

    Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden, menyinari kamar yang masih menyisakan aroma harum melati dan sisa-sisa kehangatan semalam. Ruby perlahan membuka matanya, merasakan berat yang nyaman di pinggangnya dengan lengan kokoh Reza yang melingkar posesif bahkan dalam tidur.Ruby mencoba bergerak, berniat bangun untuk sekadar membasuh wajah. Namun, begitu ia mencoba menggeser kakinya, rasa nyeri yang tajam dan tumpul sekaligus menjalar dari pangkal paha hingga ke lutut. Ia meringis, menggigit bibir bawahnya. Rasanya seolah ia baru saja dipaksa lari maraton sejauh puluhan kilometer tanpa pemanasan."Mau ke mana, Sayang?" Suara berat dan serak khas bangun tidur terdengar tepat di tengkuknya.Reza ternyata sudah bangun. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Ruby, menatap pantulan wajah mereka di cermin nakas dengan senyum penuh kemenangan yang sangat menyebalkan."Mau... mau mandi. Lepasin, Za," bisik Ruby, suaranya juga serak."Bisa jalan?" goda Reza, tangannya justru

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 41 Malam pertama

    Pintu kamar pengantin itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, ruangan itu luas, diterangi cahaya lampu tidur yang kekuningan dan redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding yang dihiasi rangkaian bunga melati. Wanginya begitu semerbak, namun justru membuat sesak paru-paru Ruby.Ruby berdiri mematung di depan cermin besar. Ia masih mengenakan kebaya pengantin yang melekat ketat, mahkota di kepalanya terasa seberat satu ton, dan riasannya meski cantik namun terasa seperti topeng yang menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi.Di pantulan cermin, ia melihat Reza. Pria itu sudah melepas beskapnya, menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan sedikit guratan tato di pangkal lehernya. Reza berjalan mendekat, langkahnya pelan, tidak terburu-buru seperti biasanya."By," panggil Reza rendah.Ruby tersentak. Tangannya yang gemetar mencoba meraih kancing atau jarum di pundaknya, namun jemarinya mendadak kaku. "Za... gue... gue mau mandi dulu. Eh, nggak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status