Accueil / Romansa / TETANGGA TAPI PANAS / Bab 43 Bumbu cinta

Partager

Bab 43 Bumbu cinta

Auteur: Penulis Hoki
last update Date de publication: 2026-05-05 02:57:03

Aroma nasi goreng mentega yang gurih menusuk indra penciuman Ruby, membangkitkan perutnya yang keroncongan akibat semalam dan puasa mutih yang menyiksanya kemarin. Siska benar-benar menepati janjinya; sebuah nampan besar berisi dua piring nasi goreng, telur mata sapi, kerupuk, dan dua gelas teh manis hangat sudah tersaji di atas nakas setelah teriakan memalukan Reza tadi.

Ruby masih duduk bersandar di tumpukan bantal, mencoba menutupi rasa pegal di pinggangnya dengan selimut tebal. Sementara it
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 107 Flashback

    "Dengar baik-baik, Vico," desis Dimas dengan suara yang sangat rendah, berat, dan bergetar karena menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya. "Jika kau berani menyentuh Ruby walau hanya seujung rambutnya saja, jika kau sampai membuat satu lecet pun di kulitnya... aku bersumpah atas segala iblis di neraka, aku tidak akan segan-segan untuk membongkar isi perutmu dan menjadikan ususmu sebagai pajangan di lobi gedung ini. Di mana kau menyembunyikan wanitaku?"Mendengar ancaman kejam tersebut, Vico yang sedang terpojok dan kesakitan justru tidak menunjukkan rasa gentar. Alih-alih memohon ampun, bahu Vico perlahan bergetar. Sebuah tawa yang sangat sumbang, parau, dan berlumuran darah keluar dari celah bibirnya yang hancur. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema mengerikan di dalam rongga tangga, seolah mengejek seluruh kekuasaan dan ancaman yang baru saja diucapkan oleh sang CEO.Vico menatap Dimas dengan senyum sinis yang penuh dengan kebencian dan dendam kesumat yang sudah mengak

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 106 Pertarungan

    Kesunyian yang mencekam di dalam ruang tangga darurat itu mendadak pecah. Saat Dimas masih mengarahkan cahaya senternya ke arah bordes atas yang kosong, indra pendengarannya yang tajam menangkap sebuah desiran angin halus tepat dari arah titik buta di belakang tubuhnya. Sebuah pergerakan yang sangat cepat dan mematikan membelah kegelapan.BUGH!Satu hantaman benda tumpul yang luar biasa keras menghantam punggung Dimas, tepat di antara kedua tulang belikatnya. Benturan itu begitu kuat hingga menciptakan gema tumpul yang mengerikan di dinding beton. Dimas mengerang tertahan, suaranya serak menahan rasa sakit yang luar biasa.Tubuhnya yang kokoh dan tegap terdorong paksa ke depan, hampir saja terjerembab menuruni rentetan anak tangga curam di bawahnya. Namun, dengan insting keseimbangan seorang predator, Dimas berhasil mencengkeram erat pegangan tangga besi yang berkarat, menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh terguling.Napas Dimas mendesis melalui sela-sela giginya. Rasa panas menjala

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 105 Hilang

    Cahaya putih dari senter ponsel Dimas menjadi satu-satunya pemandu mereka membelah lautan kegelapan di lorong lantai itu. Mereka berjalan perlahan dengan langkah yang terukur dan berhati-hati. Dimas berada di depan, bahu lebarnya seolah menjadi tameng pelindung bagi Ruby yang mengekor rapat di belakangnya. Suasana sunyi yang mencekam di dalam gedung pencakar langit itu membuat suara gesekan sol sepatu mereka di atas karpet lantai terdengar sangat keras dan bergema.Tepat ketika mereka hampir mencapai persimpangan lorong yang mengarah ke pintu darurat bercat merah pudar, ujung cahaya senter Dimas menangkap sebuah pergerakan yang sangat cepat. Sesosok bayangan hitam yang cukup besar berkelebat menyeberangi ujung lorong, menghilang dengan mulus di balik tikungan menuju area toilet tamu.Napas Ruby seketika tertahan di tenggorokan. Kakinya berhenti melangkah secara refleks. Sebagai seorang penulis novel fiksi yang imajinasinya selalu bekerja lebih cepat dari realita, pikiran Ruby langsung

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 104 Tak ada satupun

    Tanpa membuang waktu sedetik pun, Dimas mempererat cengkeramannya di pergelangan tangan Ruby. Pria itu membalikkan badan dan menarik tubuh mungil wanitanya secara paksa untuk menjauh dari area kantin. Ruby tertatih-tatih mengikuti langkah lebar sang CEO, bahkan hampir tersandung kakinya sendiri karena masih dalam keadaan syok berat.Di belakang mereka, Vico masih terkapar mengenaskan di atas lantai porselen yang dingin, mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya yang memar. Darah segar menetes dari sudut bibir sang rubah, namun Dimas sama sekali tidak menoleh ke belakang. Bagi pria berhati es itu, Vico tidak lebih dari sekadar lalat pengganggu yang sudah pantas mendapatkan pelajarannya.Sepanjang perjalanan kembali menuju lantai lima puluh, keheningan di dalam lift eksekutif terasa sangat mencekik. Ruby menyudutkan dirinya di pojok lift, menundukkan kepala dalam-dalam dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Sementara Dimas berdiri tegap di sampingnya, dengan tenang merapikan kerah

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 103 Milikku

    Kantin Genta Pustaka di lantai dasar biasanya selalu ramai oleh hiruk pikuk karyawan, namun pagi ini suasananya sangat lengang. Jam kerja sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu, menyisakan deretan meja dan kursi kosong yang tertata rapi. Di salah satu sudut kantin yang berdekatan dengan jendela kaca besar, Ruby duduk berhadapan dengan Vico. Di atas meja mereka tersaji dua porsi nasi goreng dan dua cangkir kopi yang asapnya masih mengepul tipis.Ruby tampak sangat asyik menikmati sarapannya. Wanita itu menunduk, matanya sepenuhnya fokus pada piring di hadapannya. Ruby memiliki prinsip yang selalu ia pegang teguh sejak kecil, yaitu saat sedang makan, ia pantang untuk berbicara. Baginya, menikmati hidangan adalah sebuah ritual sunyi untuk mensyukuri makanan, sehingga ia benar-benar mengunci mulutnya rapat-rapat. Sesekali ia hanya mengunyah dengan pelan, sama sekali tidak memedulikan keberadaan pria berjas abu-abu terang yang duduk di seberangnya.Padahal, pria di depannya itu bukan p

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 102 Perubahan aura

    Pagi itu, suasana di gedung Genta Pustaka terasa sedikit berbeda. Vico, sang rubah licik yang biasanya hanya datang untuk urusan rapat dewan direksi, kini sudah menampakkan batang hidungnya sejak pagi buta. Pria berjas abu-abu terang tanpa dasi itu berdiri bersandar di dekat mesin absensi lobi utama, seolah sedang menunggu mangsa. Dan benar saja, mangsa yang ditunggunya muncul. Ruby berjalan masuk dengan wajah sedikit lesu, masih memikirkan rentetan kejadian semalam di rumahnya bersama Reza.Melihat kehadiran Ruby, Vico langsung menegakkan tubuhnya dan menyunggingkan senyum maut. Dengan langkah panjang, ia memangkas jarak dan menyejajarkan langkahnya di samping Ruby. Vico mulai melancarkan aksinya, dengan berani mendekati Ruby, memuji penampilan wanita itu hari ini, dan melontarkan lelucon ringan yang memaksa Ruby untuk merespons dengan senyum canggung.Vico sangat tahu batas, ia tidak langsung menyerang secara agresif, melainkan merayap perlahan seperti bisa ular yang masuk ke dalam

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 36 Sudah tiada

    Gelap. Dingin. Dan bau karat yang menyengat.Hal terakhir yang diingat Ruby adalah tubuh Reza yang limbung, darah yang merembes cepat di balik jaket kulitnya, dan sorot mata Dimas yang gila. Setelah itu, semuanya seolah tertelan oleh lubang hitam. Dunia Ruby runtuh tepat saat kepala Reza membentur

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 35 Sentuhan nikmat

    Sementara itu, di sebuah jalanan lintas provinsi yang gelap, raungan mesin mobil memecah keheningan malam. Reza memacu mobilnyanya dengan kecepatan gila-gilaan, menembus angka 160 km/jam di jalur lurus.Jarak dari rumah sakit di Jawa Tengah menuju Jakarta sekitar 450 kilometer. Dalam kondisi normal

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 33 Manipulasi

    Ruby duduk di tepi tempat tidurnya, menatap layar ponsel yang kini terhubung ke Wi-Fi "Safety_Guest". Meski indikator sinyal internetnya penuh, ia merasa seolah-olah sedang memegang bara api. Ada perasaan tidak enak yang merayap di tengkuknya setiap kali ia mengetikkan sesuatu di atas layar.Ia men

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 32 Perangkap

    Malam semakin larut, merayap menuju angka dua belas. Ruby duduk meringkuk di atas tempat tidurnya, memeluk lutut erat-erat. Lampu kamar sengaja ia matikan, hanya menyisakan cahaya remang dari lampu meja di sudut ruangan. Ia tidak ingin siapa pun di luar sana tahu bahwa ia sedang terjaga dan ketakut

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status