Teilen

Bab 44 Honeymoon

last update Veröffentlichungsdatum: 07.05.2026 01:42:19

Lantai marmer Bandara Soekarno-Hatta yang mengilat tampak berbayang di mata Ruby. Ia menyeret koper kabinnya dengan langkah yang sedikit gontai, sementara tangan kirinya memegang erat segelas large americano yang sudah hampir habis. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa lagi ditutupi oleh concealer terbaik sekalipun.

Di sampingnya, Reza berjalan dengan langkah tegak, mengenakan jaket bomber hitam dan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya. Ia tampak sangat segar, seolah-olah i
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 44 Honeymoon

    Lantai marmer Bandara Soekarno-Hatta yang mengilat tampak berbayang di mata Ruby. Ia menyeret koper kabinnya dengan langkah yang sedikit gontai, sementara tangan kirinya memegang erat segelas large americano yang sudah hampir habis. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa lagi ditutupi oleh concealer terbaik sekalipun.Di sampingnya, Reza berjalan dengan langkah tegak, mengenakan jaket bomber hitam dan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya. Ia tampak sangat segar, seolah-olah ia bukan orang yang sama yang baru saja memaksa Ruby begadang sampai pukul empat pagi tadi."By, jalannya jangan merem gitu dong. Sayang," goda Reza sambil merangkul bahu Ruby, menariknya agar tidak tertinggal."Ini semua salah lo, Za," gerutu Ruby, suaranya serak. "Gue bilang jam satu berhenti, lo malah lanjut terus. Lo pikir gue ini robot yang nggak butuh tidur? Kita mau ke Jepang, perjalanannya tujuh jam lebih. Gue mau mati rasanya."Reza tertawa rendah, sebuah bunyi yang biasanya membuat Ruby

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 43 Bumbu cinta

    Aroma nasi goreng mentega yang gurih menusuk indra penciuman Ruby, membangkitkan perutnya yang keroncongan akibat semalam dan puasa mutih yang menyiksanya kemarin. Siska benar-benar menepati janjinya; sebuah nampan besar berisi dua piring nasi goreng, telur mata sapi, kerupuk, dan dua gelas teh manis hangat sudah tersaji di atas nakas setelah teriakan memalukan Reza tadi.Ruby masih duduk bersandar di tumpukan bantal, mencoba menutupi rasa pegal di pinggangnya dengan selimut tebal. Sementara itu, Reza duduk di tepi ranjang dengan wajah segar yang sangat menyebalkan. Pria itu tampak sangat bersemangat, seolah tidak baru saja melewati malam yang menguras energi."Ayo, istriku sayang... Pesawat tempur mau mendarat. Buka mulutnya, aaaa..." Reza menyodorkan sesendok penuh nasi goreng ke depan bibir Ruby.Ruby memalingkan wajah, pipinya masih menyisakan rona merah akibat godaan Reza pada Siska tadi. "Gue punya tangan, Za. Gue bisa makan sendiri.""Tangan lo gemeteran gitu, nanti nasinya tum

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 42 5 anak?

    Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden, menyinari kamar yang masih menyisakan aroma harum melati dan sisa-sisa kehangatan semalam. Ruby perlahan membuka matanya, merasakan berat yang nyaman di pinggangnya dengan lengan kokoh Reza yang melingkar posesif bahkan dalam tidur.Ruby mencoba bergerak, berniat bangun untuk sekadar membasuh wajah. Namun, begitu ia mencoba menggeser kakinya, rasa nyeri yang tajam dan tumpul sekaligus menjalar dari pangkal paha hingga ke lutut. Ia meringis, menggigit bibir bawahnya. Rasanya seolah ia baru saja dipaksa lari maraton sejauh puluhan kilometer tanpa pemanasan."Mau ke mana, Sayang?" Suara berat dan serak khas bangun tidur terdengar tepat di tengkuknya.Reza ternyata sudah bangun. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Ruby, menatap pantulan wajah mereka di cermin nakas dengan senyum penuh kemenangan yang sangat menyebalkan."Mau... mau mandi. Lepasin, Za," bisik Ruby, suaranya juga serak."Bisa jalan?" goda Reza, tangannya justru

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 41 Malam pertama

    Pintu kamar pengantin itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, ruangan itu luas, diterangi cahaya lampu tidur yang kekuningan dan redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding yang dihiasi rangkaian bunga melati. Wanginya begitu semerbak, namun justru membuat sesak paru-paru Ruby.Ruby berdiri mematung di depan cermin besar. Ia masih mengenakan kebaya pengantin yang melekat ketat, mahkota di kepalanya terasa seberat satu ton, dan riasannya meski cantik namun terasa seperti topeng yang menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi.Di pantulan cermin, ia melihat Reza. Pria itu sudah melepas beskapnya, menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan sedikit guratan tato di pangkal lehernya. Reza berjalan mendekat, langkahnya pelan, tidak terburu-buru seperti biasanya."By," panggil Reza rendah.Ruby tersentak. Tangannya yang gemetar mencoba meraih kancing atau jarum di pundaknya, namun jemarinya mendadak kaku. "Za... gue... gue mau mandi dulu. Eh, nggak

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 40 Mahar 8

    PLAK!Tas Siska mendarat telak di kepala Reza."ADUH! Mba! Sakit!" teriak Reza sambil memegangi kepalanya yang pusing. "Kan udah pergi tadi! Kenapa balik lagi sih?!""HP gue ketinggalan di meja! Bukannya istirahat, malah maksa Ruby kayak gitu! Gue bilangin Babe ya, biar nikah lo diundur tahun depan!" ancam Siska sambil menyambar HP-nya di meja nakas.Ruby sudah berdiri di pojok ruangan dengan wajah merah padam sampai ke telinga, sibuk merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar. Ia benar-benar ingin menghilang dari muka bumi saat ini juga."By, kalau dia macem-macem lagi, geplak aja pake botol infus! Jangan dikasih ampun!" seru Siska sebelum akhirnya benar-benar keluar dan menutup pintu dengan bantingan keras.Reza mengusap kepalanya, lalu menoleh ke arah Ruby dengan wajah memelas namun matanya masih berkilat nakal. "By... pusing nih. Kayaknya jahitan gue lepas deh gara-gara digeplak Mba Siska. Sini dong, obatin..."Ruby menyambar bantal kursi dan melemparkannya tepat ke wajah Reza. "M

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 39 HP ketinggalan

    Tiba-tiba, Reza menoleh pada Siska yang sedang sibuk melipat baju di sofa. "Mba, ambilin tas tas kecil gue di dalem mobil dong. Yang warna hitam, yang tadi pagi Mba bawain dari rumah di Jawa Tengah."Siska menghentikan kegiatannya, menatap Reza dengan tatapan bingung. "Tas hitam? Yang isinya charger sama baju ganti lo itu?""Iya, Mba. Cepetan. Ini urusan hidup dan mati," desak Reza.Siska mendengus jengkel, namun ia mengambil kunci mobil dan melangkah keluar kamar. "Awas ya kalau lo ngerjain gue lagi, Za."Setelah Siska keluar, suasana di kamar menjadi sunyi. Ruby menatap Reza dengan tatapan curiga. "Urusan hidup dan mati? Tas kecil? Lo mau apa sih, Za?"Reza tidak menjawab. Ia hanya tersenyum misterius sambil menatap pintu, menunggu kakaknya kembali. Ruby mulai merasa tidak enak hati.Tak lama kemudian, Siska kembali dengan membawa sebuah tas punggung kecil berwarna hitam polos. Tas itu tampak sedikit usang. Siska melempar tas itu ke atas ranjang di dekat kaki Reza."Nih," ucap Siska

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status