Share

BAB 24

Author: RAJJA-M
last update publish date: 2026-06-18 12:15:13
Isabela mengikuti pelayan itu menyusuri koridor, hingga pintu besar di ujungnya terbuka, dan udara dingin garasi langsung menyambutnya. Panjang dan dingin. Lampu putihnya menyinari deretan mobil yang berjejer rapi, masing-masing tertutup rapi, tidak satu pun yang terlihat seperti milik orang biasa.

Isabela langsung menuju Bentley.

Pintu belakang dibuka. Ia berlutut di atas jok, meraba celah kursi dengan jarinya, pelan, teliti, tidak mau melewatkan sudut manapun. Kantong pintu. Kolong kursi. Cela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 95

    Cane berdiri di depan jendela kaca yang membentang dari lantai sampai langit-langit, satu tangan di saku celana, yang lain memegang gelas wine yang isinya belum berkurang sedikit pun sejak setengah jam lalu.Dari lantai atas sana, ia bisa melihat halaman parkir kantor dengan jelas. Sebuah Audi hitam berhenti tepat di depan lobi, dan pintu penumpangnya terbuka lebih dulu.Isabela keluar dari sana, tertawa kecil pada sesuatu yang baru saja dikatakan orang di kursi kemudi. Theo menyusul turun dari sisi lain mobil, berjalan memutar untuk berdiri di depan Isabela. Mereka bicara sebentar, entah apa, tapi cukup untuk membuat Isabela menutup mulutnya sendiri menahan tawa.Cane menatap semua itu tanpa berkedip. Jarinya mengetuk permukaan meja sekali, lalu sekali lagi.Baru setelah Audi itu benar-benar hilang dari pandangan, Cane mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam."Terlambat satu jam dua belas menit," gumamnya.Sudut bibirnya terangkat tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 94

    Rapat hari itu berlangsung lebih lama dari yang Cane perkirakan. Beberapa kepala divisi masih membahas soal alokasi anggaran kuartal ini sebelum akhirnya rapat itu selesai juga. Ketika akhirnya ia keluar dari ruang rapat, jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktu makan siang.Ia melangkah menyusuri lorong menuju ruangannya sendiri, dan seperti biasa, langkahnya berbelok dulu ke arah meja Isabela yang letaknya tidak jauh dari ruangannya. Sepanjang jalan, ia sudah menyiapkan satu dua kalimat jahil di kepalanya, sekadar untuk melihat wajah kesal gadis itu.Namun begitu sampai di sana, kursi itu kosong. Tidak ada tas, tidak ada tanda-tanda Isabela di sana.Cane berdiri sebentar di depan meja itu, menatapnya tanpa ekspresi berarti sebelum berbalik.Mungkin ia sedang makan di kantin lantai tiga, pikirnya, atau mungkin sudah keluar duluan. Ia tidak ambil pusing. Ia menuju lift pribadi, turun ke basement, lalu masuk ke mobilnya sendiri menuju restoran yang biasa ia datangi bersama

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 93

    Pagi itu, jalanan sudah mulai ramai. Kendaraan berlalu-lalang di jalan utama, sementara beberapa orang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.Isabela sudah bersiap seperti biasa. Ia keluar dari rumah dan berjalan menuju depan gang untuk menunggu taksi sebelum berangkat kerja.Namun begitu sampai di depan gang, langkahnya terhenti. Theo berdiri di sana, bersandar santai di sisi mobilnya.Isabela mendekat, kening sedikit berkerut. "Theo, kau buat apa di sini?"Theo memutar tubuhnya menghadapnya, senyum hangat langsung muncul di wajahnya. "Bela. Aku ingin mengantarmu. Boleh?"Isabela tersenyum. "Tentu saja, tapi tumben sekali.""Ingin saja," jawab Theo ringan, membuka pintu mobil untuknya. "Ayo, masuk."Mobil melaju meninggalkan gang. Beberapa menit pertama hening, hanya suara mesin dan udara pagi yang samar dari celah pendingin udara. Isabela memandang keluar jendela, sesekali Theo meliriknya, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi urung."Maaf soal kemarin," akhirnya Theo membuka s

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 92

    Kini, di dalam restoran, mereka bertiga duduk di satu meja. Kedua pria itu saling menatap, seolah jejak permusuhan terlihat jelas di mata mereka, sementara Isabela hanya bisa menatap keduanya dengan bingung, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.Tidak ada yang bicara. Hanya suara ombak samar dari luar jendela dan denting sendok garpu dari meja lain yang mengisi keheningan itu.Isabela membuka menu di tangannya, mencoba mencairkan suasana yang terasa aneh baginya, meski ia tidak tahu persis kenapa. Matanya berpindah dari satu halaman ke halaman lain, kening berkerut pelan. Semuanya terlihat enak. Ia tidak tahu harus memilih yang mana.Sebelum ia sempat membuka mulut untuk bertanya, Cane sudah lebih dulu memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja mereka. Ia bahkan tidak melirik ke arah Theo yang duduk di seberangnya, seolah kursi itu kosong."Apa makanan unggulan di sini?" tanya Cane, nadanya datar, tanpa basa-basi."Ikan, Tuan," jawab pelayan itu sopan. "Restoran kami memang

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 91

    Tawa Cane belum benar-benar reda ketika mobil berbelok memasuki gang sempit tempat rumah Isabela berada. Lampu jalan di sana lebih redup, berkedip-kedip malas, tapi cukup untuk memperlihatkan wajah Isabela yang masih merah padam."Sudah sampai," ujar Cane, menghentikan mobil tepat di depan gang. Ia melirik Isabela dari sudut mata, masih menyimpan senyum jahil di ujung bibirnya. "Atau kau masih mau membahas soal punyaku tadi? Kau mau mencobanya lagi? Aku siap kapanpun kau mau.""Diam!" Isabela buru-buru membuka sabuk pengaman, wajahnya semakin panas. "Aku turun sekarang juga.""Secepat itu?" Cane pura-pura kecewa, meski tangannya sudah bergerak mematikan mesin. "Padahal aku baru mau menawarkan diri mengantarmu sampai depan pintu.""Tidak perlu," jawab Isabela cepat, tangannya sudah memegang gagang pintu. "Aku bisa jalan sendiri, cuma beberapa meter."Cane bersandar ke jok, mengamatinya dengan tatapan geli. "Kau selalu buru-buru kalau sudah dekat rumah. Kenapa? Takut aku ikut masuk?"Is

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 90

    Langit sore mulai berubah jingga ketika Cane duduk di balik meja kerjanya, membaca sisa siaran berita yang baru saja berakhir di layar tabletnya. Foto Heitor Vasconcelos memenuhi layar, berdiri tegap di atas podium dengan setelan jas gelap dan pita merah putih tersemat di dada, lambang Frente Nacional de Segurança dan deretan bendera berjajar di belakangnya.Jenderal Vasconcelos Resmi Diusung partai Frente Nacional de Segurança (FNDS) sebagai Calon Presiden!Cane menggeser layar ke bawah, membaca sekilas paragraf yang membahas acara pengukuhan yang digelar semalam di sebuah gedung konvensi besar di ibu kota, dihadiri ratusan simpatisan dan disiarkan langsung ke berbagai stasiun televisi nasional. Beberapa foto memperlihatkan deretan pejabat duduk di kursi kehormatan, wali kota, sejumlah anggota parlemen, bahkan beberapa nama pengusaha besar yang selama ini dikenal dekat dengan lingkaran militer. Semua tersenyum lebar ke arah kamera, seolah sudah sepakat siapa yang akan mereka dukung se

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 6

    Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk—bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.Di dalam

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 5

    Di lantai paling atas gedung BRN Corporation, keheningan terasa berbeda. Lebih tebal. Lebih dingin. Seperti udara pun sudah belajar untuk tidak bersuara sembarangan di ruangan ini.Cane duduk bersandar di kursi kulit hitamnya yang besar—punggung tegak, satu kaki bertumpu santai di atas lutut lainny

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 4

    Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 3

    Di tempat yang sangat berbeda—puncak menara BRN Corp—kesunyian terasa seperti sesuatu yang sengaja diciptakan. Bukan sepi karena tidak ada orang, tapi sepi karena tidak ada yang berani bersuara lebih dari perlu. Aroma maskulin yang tajam, jejak parfum berat, dan asap cerutu mahal menyatu dalam udar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status