Share

TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)
TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)
Penulis: Re_

1

Penulis: Re_
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 18:40:44

Ruang makan itu dipenuhi cahaya pagi. Meja panjang berlapis taplak putih, peralatan makan tersusun rapi. Aroma teh hangat dan roti panggang memenuhi udara.

Di ujung meja Shilla mengaduk buburnya kesal, terlihat beberapa kali mengetuk mangkuk porselen keras.

“Hentikan Shilla, kau bisa menghancurkan mangkoknya,” tegur Miranda tegas. Shilla berhenti namun merespon teguran ibunya dengan merengut.

Baron Jonas melirik sedikit lalu kembali menyuapkan bubur ke mulutnya. Adegan yang hampir setiap pagi dia temukan.

Bunyi sepatu beradu halus dengan lantai marmer, mereka menoleh. Seorang gadis berjalan tenang. Gaun sutra lembut yang dikenakannya memantulkan kilau halus setiap kali dia bergerak.

Clang!

Bunyi logam menghantam lantai dengan suara yang keras. Shilla melemparkan sendoknya ketika Hazel duduk untuk menikmati sarapan.

“Gaun itu seharusnya milikku.”

“Aku tahu, tapi aku tidak pernah memintanya,” jawab Hazel tampak tak perduli, menyeruput teh hangat lalu menggigit roti bakar.

“Kau menerimanya,” bentak Shilla.

“Ayah memberikannya atas nama kasih sayang.”

Mata shilla membesar,

“Ayah katamu? Kasih sayang? Mimpimu terlalu indah,ya.” Jari Shilla mengetuk-ngetuk meja, “Sebaiknya kau segera bangun.”

“Bagaimanapun, Baron Jonas adalah ayahku. Kami memiliki darah yang sama,” pungkas Hazel tenang.

“Kau kehilangan akal, ya. Ternyata hidup di desa membuat fikiran tidak berkembang dengan sempurna.”

“Melihatmu seperti ini, sepertinya fikiranku jauuh lebih sempurna darimu,” balas Hazel melempar senyum tipis.

“K-kau!” Gadis itu bangkit hendak mencengkeram Hazel.

“Shilla, kembali ke mejamu,” perintah Jonas tegas.

Shilla menggeram.

“Shilla, patuhlah.” Miranda ikut angkat suara.

”Kau rampas gaunku, mengambil perhiasanku, bahkan merebut perhatian orang tuaku. Apalagi yang kau mau, hah?!”

“Dan kau,” balas Hazel,

“Memilih bersembunyi dan memintaku menggantikanmu.”

Wajah Shilla berubah,

“Aku tidak mau mati di tangan Marquess Aiden.”

Hazel mengangkat dagu. “Semua yang kalian berikan adalah harga yang harus kubayar dengan kematianku.”

Shilla mengepalkan tangan.

”Jangan berpura-pura berani, Kau fikir kau pantas mendampingi Marquess,” cemoohnya kasar.

“Entahlah, tapi biasanya aku cukup kuat untuk bertahan. Maaf, kalau membuatmu kecewa.” Hazel mengelap mulut.

“Aku sudah selesai.” lalu ia berbalik meninggalkan dapur.

Gaun sutranya kembali berkilau di cahaya lorong. Dibelakangnya Shilla gemetar, menarik celemak dan membantingnya di lantai.

“Kenapa aku harus memakai pakaian ini, aku bukan pelayan.”

Baron Jonas mendengus,

“Kau ingin mengumumkan pada dunia bahwa aku mengganti pengantin wanita? Semua orang tahu aku hanya memiliki seorang putri.”

“Sekarang Papa berpihak pada anak kampung itu? Setelah semua yang dia lakukan.”

“Aku tidak memihaknya. Aku tidak ingin terjadi kesalahan.” Jonas mengusap muka.

”Ini penting untuk hidupmu Shilla. Hidup keluarga kita. Mengapa kau tidak mau mengalah. Tolong bantu keluarga ini, oke? tolong tenang, sebentar saja,“pinta Jonas dengan suara parau.

“Tapi mengapa aku harus menjadi pelayan, aku jijik memakai baju murahan ini.”

Miranda menghela nafas,

“Karena itu tidak akan menarik perhatian. Tenanglah Shilla, kenapa kau terus memprovokasi gadis itu?” tanyanya dengan nada sedikit kesal.

“Dia membuatku muak. Aku tidak tahan melihatnya,” ucap Shilla.

“Argh ..., ingin sekali aku menampar wajah angkuhnya itu.” Shilla mengigit jari dengan mata berapi, andai saja tidak ada dekret pernikahan, dia tidak harus menahan diri untuk menghancurkan gadis desa itu.

“Bersabarlah, Sayang. Kendalikan dirimu. Mama juga menolak kehadirannya, tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita membutuhkan gadis itu.”

“Jangan bicara lagi, kita harus bergegas ke Ravenford. Aku tidak mau kehilangan muka jika sampai terlambat.” Baron Jonas mengakhiri percakapan.

***

Gerbang besi kastel Marquess Aiden terbuka perlahan, suara engselnya berat, mengema pendek seakan menyambut mereka. Kereta berhenti di halaman batu yang luas. Udara terasa dingin dan bersih.

Hazel turun dari kereta, gaun sutranya telah berganti gaun pengantin yang mewah. Bulu kuduknya meremang, nafasnya keluar pendek, berembun tipis di udara. Sedikit bergetar dia mengangkat ujung rok sedikit agar tak terseret. Lily menatapnya khawatir. Menyesal melepas mantel saat turun dari kereta tadi.

Tok tok.

Sepatu pengantin bergema di halaman yang luas. Satu-satunya suara yang terdengar diantara barisan pelayan yang berdiri rapi menyambutnya.

Pintu utama terbuka.

Aroma kayu tua tercium samar saat dia melangkah masuk. Lorong panjang membentang dihadapananya,diterangi cahaya tinggi dari jendela-jendela kaca, setiap langkahnya terasa lebih berat. Hazel menegakkan kepala, berusaha tetap tenang.

‘Aku melakukan ini demi keluarga Hadwin’

Langkah kakinya terdengar jelas tanpa keraguan menuju aula pernikahan.

Di ujung aula Marquess Aiden Cassian Hawthorne berdiri di depan altar. Punggungnya tegak, wajahnya datar. Tak ada kegelisahan di sana. Berdiri patuh seolah yang sedang dilakukannya saat ini adalah bentuk bakti untuk negara.

Hazel melangkah masuk, tangannya menggamit lengan Baron Jonas yang tampak gugup di sampingnya. Gaunnya putih bersih, hampir menyilaukan di antara warna gelap ruangan. Setiap langkah mendekatkannya pada altar, pada pria yang akan menjadi suaminya.

Lalu Aiden menoleh, tatapan mereka bertemu sebentar. Sepasang mata coklat keemasan itu bergetar, hanya sepersekian detik.

Manik biru itu ... jernih dan menghanyutkan. Tiba-tiba dia berdehem.

Tergesa Jonas menyerahkan tangan Hazel di hadapan Aiden. Pria itu menerimanya pelan namun pasti. Dalam genggamannya tangan itu terlihat ... kecil.

Rangkaian upacara berjalan khidmat dan tenang.

Menuju sumpah pernikahan, Pendeta mengangkat tangannya,

“Marquess Aiden Cassian Hawthorne.” Suaranya bergema lembut di aula,

“Di hadapan hukum kerajaan dan saksi yang berkumpul di tempat ini, apakah anda bersedia menerima wanita ini sebagai istri yang sah untuk anda lindungi, hormati dan cintai dalam masa damai ataupun sulit?”

Hening sesaat, semua mata tertuju padanya.

Aiden menatap ke depan, rahangnya mengeras. Ia menarik nafas pelan dan berbicara dengan dengan suara rendah namun jelas.

“Saya menerimanya.”

Pendeta kemudian menoleh pada Hazel yang berdiri di sebelahnya.

“lady Shilla Anartia. Apakah anda dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan menerima Marquess Aiden Cassian Hawthore sebagai suami yang sah, dan bersedia berjalan di sisinya dalam terang dan bayangan?”

Hazel mengangkat dagu, menoleh manik mata coklat keemasan Aiden yang menatapnya tajam.

“Ya, saya menerima.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    13

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    12

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    11

    “Sadar?” ulangnya singkat.“Ya, Tuan. Beliau meminta agar tidak memanggil tabib.”“Syukurlah kalau Marchiones sudah sadar, ini adalah kabar yang sangat baik,” seru Granduke Verral Oliver bersemangat,“Sebaiknya Marquess Aiden bergegas menemui beliau, bagaimanapun ini adalah hari pernikahan kalian. Marchiones pasti sangat membutuhkan Anda.”Setelah memberi salam sopan, Aiden meninggalkan Aula. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah tajam dan waspada,“Sudah berapa lama.”“Baru saja,” jawab Raymond cepat.Aiden melangkah kembali menuju kamar berpintu cokelat tempat wanita itu tadi dibaringkan.“Tuan, Lady tidak berada di kamar.”Aiden menghentikan langkahnya, “Lalu?”“Beliau di dapur kastil.”Aiden menatap Raymond dengan alis menukik.“Sepertinya Lady ingin beristirahat di sana karena meminta pelayan dapur untuk keluar sejenak.”“Maksudmu dia kelaparan?”Raymond menutup mulut.Hah!Mendengus, Aiden memutar langkahnya menuju dapur.Saat dia masuk Hazel sudah setengah duduk,

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    10

    Pintu kamar di tutup, suara berat langkah Sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menjauh. Kamar itu benar-benar sunyi ketika kelopak mata wanita itu bergerak.“Dia sudah pergi?” Hazel membuka mata.“Nona ....” Lily yang duduk di samping tempat tidur tercekat nyaris berbisik. Tangannya menggenggam lap basah, wajahnya penuh kecemasan.“Syukurlah Nona sudah sadar, saya akan memanggil Tuan Marquess.’“Tidak,” potong Hazel lalu bangun dengan cepat, tatapannya jernih menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya beralih pada Lily.“Kalau begitu Tabib.”“Apalagi itu, hanya bikin repot.”Lily terbelalak, Hazel terlihat tenang untuk seseorang yang baru saja pingsan, ‘Nona berpura-pura pingsan?” tanyanya ragu, seolah itu sebuah kejahatan.“Menurutmu?” Hazel mengedipkan sebelah mata, “Apa aku terlihat seperti seseorang yang mudah jatuh?”Lily menelan ludah,menatapnya dengan campuran lega dan kesal, “Saya tahu Nona banyak akal, tapi bisakah Nona berbicara dulu sebelum melakukan sesuatu, saya

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    9

    Kembali ke saat ini, “Ya, saya menerima.” Hazel kembali menatap kedepan. Terdengar hembusan nafas pelan dari arah sampingnya, tarikan nafas yang lebih dalam dan teratur.Pendeta melanjutkan upacara, Dia mengulurkan bantalan beludru kecil. Di atasnya terletak dua cincin sederhana tanpa emas dan perak, hanya ukiran lambang keluarga di bagian dalam.Marquess Aiden mengambil cincin itu terlebih dahulu. Meski gerakannya di perlambat,dengan kesadaran penuh ia menoleh wanita di sisinya.“Ulurkan tanganmu,” ucap pendeta.Hazel melakukannya.Aiden menggenggam jemarinya. Dengan gerakan hati-hati dia menyelipkan cincin di jari manis pengantin wanitanya seakan jari itu akan hancur saat dia menyentuhnya. Dia bahkan berhenti bernafas.Cincin itu terpasang.Tiba-tiba Hazel limbung, tubuhnya terhuyung ke samping, wajahnya terlihat pucat saat kedua kelopak matanya terpejam. Jemarinya gemetar mencengkeram ujung jas pengantin Aiden. Dalam sekejap, Aiden sudah meraih tubuhnya, menahan sebelum ia benar-

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    8

    Hazel tersenyum puas memandang wajah dan gaun Shilla yang basah kuyup, air masih menetes di lantai marmer. Setelah menyiramkan air, ia Kembali duduk tenang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang wajar.Ia mendengar bisikan Shilla pada Marie. Hazel melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana gadis berambut ,merah itu memelototi Marie hingga perintahnya dipatuhi.‘Tidak bermoral?Hazel hampir tertawa.“Konyol. Keluarga Hadwin mendidikku dengan sangat baik sehingga aku tahu kepantasan yang dilakukan saat menerima tamu.’Hazel menyandarkan tubuhnya dengan santai, senyumnya masih terjaga.Miranda tampak panik membantu Shilla yang kehilangan arah sambil mengeluarkan sumpah serapah. Jonas memegangi kepalanya. Wajahnya pucat seolah beban itu terlalu berat untuk ditanggung, sementara Lily tersenyum bangga. “Papa, usir anak kampung itu,” Shilla menunjuk Hazel dengan tangan gemetar, “Aku tidak ingin melihatnya lagi!” Wajahnya kini merah padam.“Tenanglah Shilla,” ujar Miranda cepat.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status