Se connecter"Jemput Nyonya ya, Jo?" "Iya, Bi." Bejo meringis kemudian duduk di kursi dekat meja dapur untuk lebih dulu minum. Lutut kalau ditekuk masih nyeri. Kadang rasanya ingin mengumpat dalam hati, apalagi kalau mengingat akan kejadian semalam. Muak sekali rasanya. "Damn it!" Sontak Bibi menoleh padanya mendengar umpatan yang keluar tadi. "Eh kenapa, Jo? Ada yang sakit? Mau Bibi kasih obat lagi?" "Ngak usah, Bi. Jagoan, nggak akan berasa sakitnya ini mah." Padahal saat ketumpahan kuah dia menjerit keperihan. Setelah minum, Bejo pun beranjak dari sana untuk kembali ke kamar. Rebahan sekalian baca-baca sepertinya cocok dengan dirinya yang sedang seperti ini. Namun baru saja berdiri, Bibi menahan pergerakannya. "Jo, tunggu!" Dia pun berbalik melihat Bibi yang kemudian memberikan potongan buah untuknya. Bibi tersenyum mendekati dan memintanya untuk segera meraih piring itu. Kedua alisnya pun terangkat melihat wajah Bibi yang terlihat penuh permohonan. Sepertinya memang a
"Eh, Jo kamu mau kemana?" teriak Bibi saat melihatnya berlari menuju kamar dan keluar lagi setelah mengambil kunci mobil. Padahal kaki masih sakit, bahkan Bejo pun berlari dengan tertatih tetapi tidak membuatnya gentar. Dia harus mencari Mila. "Niat banget sih ini cewek. Ampun gue mah!" gumam Bejo tanpa menggubris teriakan dari Bibi. Dia segera masuk mobil untuk mencari keberadaan Mila saat ini. "AGH! SIAL!" umpatnya kala kaki dan tangan harus digerakkan untuk menjalankan mobil. Bejo meringis kesakitan tetapi tak membuatnya mundur. Dia tetap melajukan mobil itu ke tempat Mila berada. Pikiran Bejo kemana-mana apalagi saat tau kalau Mila membawa motornya sendiri. Bukan hanya nekat tetapi Bejo pun tak habis pikir sama Mila. Bawa mobil tidak berani giliran bawa motor besar malah ngacir. Kalau sampai Saka tau bagaimana? Apa tidak membuat masalah nantinya? "Jauh banget lagi bengkel yang didatengin. Selamat sampai tujuan tapi tetap aja bikin orang kepikiran. Udah bener-bener di ru
Cup Kedua mata Mila terbeliak mendapatkan kecupan darinya. Masih dengan jarak yang dekat, Bejo berdehem dan menyeringai melihat ekspresi dari Mila. "Makasih, Nya. Maaf kalau saya lancang. Obatnya tuh ini, Nya." Bejo menarik diri setelah berbisik dan memperhatikan Mila dengan sangat lekat sedangkan wanita itu mendadak salah tingkah seraya mengusap pipinya sendiri. Mila membuang muka tetapi mendadak kepedihan dia rasakan kala sesuatu menyiram lukanya. "Aawwwhh!" "Eh ya ampun! Maaf, Jo!" kata Mila dan bergegas meletakkan piring ke nakas kemudian mengambil tisu untuk membersihkan kuah sayur yang tumpah membasahi lututnya. "Maaf ya, Jo. Maaf sekali, aku nggak sengaja numpahin. Kamu sih! Aku jadinya 'kan salting." Bejo yang kesakitan malah jadi mengulum senyum mendengar apa yang Mila sampaikan. Rasa perih sampai tidak terasa saking gemasnya melihat Mila yang begitu sangat jujur sekali padanya. "Lagi keceplosan ya, Nya? Apa efek di sun?" "Apa sih kamu, Jo! Jangan
"Kenapa?" tanya Mila padanya dan dia menggelengkan kepala mendengar pertanyaan wanita itu. "Nggak apa, Nyonya sudah makan?" tanya Bejo kemudian mengalihkan perbincangan mereka. "Belum, aku langsung ke sini. Kamu makan ya. Aku ambilin dulu." "Nggak usah, Nya! Saya bisa sendiri." Mila segera beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju ruang makan. Sudah ditahan-tahan tetapi masih saja keluar mengambil makan. Jadi enak 'kan... Hhmm... "Ngapa jadi perhatian banget," gumam Bejo kemudian mengambil ponselnya. Berita tentang kejadian semalam ternyata sudah didengar oleh anak kampus hingga ramai di grup para mahasiswa. Mereka sempat menggali informasi hingga foto-foto Bejo tersebar. Bukan hanya saat melawan tetapi juga saat menghajar para musuh. Memang terlihat sangat waaah sekali karena banyak yang Bejo lawan dari pada kedua sahabatnya. Maka tak heran jika Bejo yang paling merasakan sakitnya.Pagi ini pun rasanya badan masih remuk. Malah lebih dari semalam. Tukang belulang
Kedua mata Mila menatap dengan sangat lekat dan kedua tangan wanita itu pun terangkat mengusap wajah Bejo dengan perlahan hingga Bejo meringis mendapati itu. "Ah! Shh... Jangan ditekan dong, Nya!" "Kamu kenapa? Kamu habis tawuran?" cecar Mila yang tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Bejo. "Pergi masih ganteng, kok pulang sudah babak belur begini? Kamu punya musuh atau kamu melakukan kesalahan hingga dikeroyok orang? Ya ampun... Mana saja yang sakit? Ini kok celana sobek begini? Jaket kamu juga." Mila memperhatikan penampilannya dan tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya. Mila menarik tangan Bejo untuk duduk di kursi ruang tengah dan segera mengambil kotak obat yang ada di sisi dapur. Bejo kemudian membuka jaketnya dan melihat lengan juga siku yang sakit. Tidak heran kalau lecet, jaketnya pun bisa sampai rusak begini. Bejo menghela nafas berat melihat itu semua kemudian membuka celana jeansnya dan menyisakan celana pendek saja. "Tuh lutut kamu sampai
Bejo meringis kala merasakan tubuhnya yang terasa sakit. Perih di lutut, tangan dan juga punggung. Beruntung bagian kepala aman karena mengenakan helm yang rapat.Edo dan Didi pun segera menghentikan motor mereka kemudian berlari mendekati Bejo yang saat ini berusaha untuk beranjak dari sana."Jo! Lo nggak apa-apa?" Edo segera mengangkat motor yang menindih kakinya.Dia sendiri masih diam belum ingin menjawab, membiarkan mereka membantu dan menarik kakinya setelah Didi meraih tubuhnya untuk beranjak dari sana.Badannya masih sedikit lemas karena mengalami syok tetapi lampu yang menyorot mereka, bersamaan dengan kedatangan motor- motor yang kini berbaris di depan sana membuatnya segera beranjak dan berusaha untuk berdiri tegak menghadapi orang-orang tersebut. Bejo melihat mereka masih dengan helm yang masih terpasang di kepala dan membungkus sampai tidak memperlihatkan kedua mata. Namun dari sepuluh motor di sana yang terlihat menantang, salah satunya tentu saja Bejo kenal. Kedua mat
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan