Mag-log in"Bejo juga kemana sih? Ditelepon dari tadi sama sekali nggak angkat. Apa aku cari saja mereka ke toko, tapi sudah jam segini. Mereka pasti sudah pulang. Seharusnya begitu! Apa Mila dan Bejo sedang bercinta? Mereka tidak mau aku ganggu? Ah enak sekali mereka. Salalu saja membuatku berkedut membayangkannya." Saka mengusap miliknya sendiri seraya melajukan mobil menuju rumah. Kedua mata fokus pada jalan tetapi tidak dengan pikirannya. Otak Saka kotor bahkan sudah sangat menginginkan sekali. "Apa dia, aku memintanya menemuiku saja? Ah iya, Mila sedang bersama dengan Bejo, lalu untuk apa aku pulang? Tidak perlu mencari mereka. Besok malam akan ada jadwalnya kita bersama di satu ranjang." Saka menyeringai setelah itu. Pria ini memang sudah sangat gila. Tidak ada sama sekali rasa bersalah pada Keysa yang baru saja diceraikan. Tidak juga kepikiran kalau Keysa sudah mengatakan banyak hal tentang hubungan mereka pada Mila. Yang ada di otak Saka hanya sebuah hubungan ranjang yang harusn
"Lepaskan, Nyonya!" "Joo.... Ah, Baby! Aku sampai!" Entah sudah berapa kali sampai pada titik klimaks yang sangat diidamkan. Mila tak kunjung lemas. Bahkan usai klimaks itu, Mila masih tersenyum menantangnya. "Begini apa nggak pengen ngawinin terus coba! Gemas banget sih, Nya!" "Ah! Jangan digigit Jo!" Jangan-jangan tapi tangan Mila menahan kepalanya kala menyusu lagi bak bayi yang kehausan. Mila menahan hingga Bejo tak bisa mengabaikan. Si Juki masih anteng di dalam. Bahkan enggan keluar tetapi Bejo tak ingin hanya di sana saja. Dia membawa tubuh Mila menuju kamar yang terdapat ranjang besar tetapi bukan di situ mereka singgah. SRAAKK Bejo menendang kursi yang ada di depan meja rias. Dia menurunkan Mila di sana dan melepaskan sementara Juki dari peraduan yang menghangatkan. "Di sini, Jo?" tanya Mila padanya dan Bejo hanya mengangguk kemudian membalikkan tubuh Mila agar menghadap ke cermin. Bejo menyeringai dan memeluk wanita itu dari belakang. Dengan kerin
Keysa bersimpuh di kaki Saka dan menahan pergerakan Saka. Wanita itu sangat berharap Saka masih memiliki perasaan dan memberikan kesempatan. "Jangan tinggalkan aku, Mas! Aku rela kamu sembunyikan. Selama ini aku nggak pernah minta banyak sama kamu. Aku hanya ingin kamu menjadi suamiku. Sudah, Mas! Aku janji tidak akan lagi menemui Mila." Saka melirik ke bawah. Keysa sudah basah dengan air mata. Pria itu sama sekali tidak memiliki iba. Saka juga tidak sama sekali ingin memeluk dan meraih tubuh Keysa. "Bagaimana jika aku bosan?" "Mas nggak mau! Aku kurang mengalah apa sama kamu? Aku hanya ingin menjadi istri kamu, Mas. Sudah itu saja, Mas! Maafkan aku atas kesalahanku!" "Tapi itu saja tidak cukup untukku, Key! Aku tidak bisa hanya dengan satu wanita. Kamu sudah tau itu!" kata Saka dengan penuh keseriusan tetapi Keysa masih mau menerima. "Dan aku terima, Mas. Aku sangat menerimanya. Aku mengijinkan kamu dengan Mila." "Sayangnya bukan hanya Mila." Kedua mata Keysa t
"Mila kemana sih? Ditelepon sama mertua, nggak mau jawab. Anak ini memang suka sekali aku marah-marah. Mau dibecklis dari keluarga tapi Papah tuh belain terus." "Kamu tuh minta Mila datang untuk apa lagi? Kenapa bikin huru hara terus, Mah? Sudah! Sudah tua jangan suka nyari masalah!" "Siapa sih, Pah? Siapa yang membuat huru hara? Mamah hanya ingin dia datang bersama Saka. Mamah ingin sesekali Saka itu menginap di rumah ini. Kalau tidak atas seijin Mila atau Mila yang mau diajak untuk datang ke rumah. Nggak akan Saka mau menginap. Intinya apa? Intinya ya memang Mila sangat mempengaruhi Saka! Mila itu nggak betah di sini makanya Saka juga ikutan nggak betah. Dasar mantu mandul!" "Sstt.... Sudah! Kasihan Saka kalau kamu begitu terus. Saka loh cinta sama Mila. Wajar kalau nggak betah, namanya juga suami. Ya maunya sama istri. Papah juga maunya sama Mamah kemana-mana. Dari dulu begitu. Ya sama! Jangan apa-apa kamu nyalahin mantu! Mila akan salah terus di mata kamu kalau kamu saja p
Sampai dikamar, setelah Bejo memastikan situasi aman. Dia segera masuk dan tak lupa memastikan pintu terkunci rapat. Bejo berbalik melihat Mila yang kemudian melangkah handak menuju ranjang tetapi dengan cepat tangannya menarik lengan Mila hingga wanita itu terkejut. Bejo mendorong tubuh Mila seraya membungkam mulut wanita itu. Kedua mata Mila sempat terbelalak karena terkejut dengan apa yang ia lakukan tetapi setelah serangan ini bersifat lembut dan menuntut. Mila pun pasrah dan cenderung membiarkan diri dinikmati olehnya. Tangan Bejo meraih kedua tangan Mila. Mengangkat tangan wanita itu ke atas kepala dan mengunci pergerakan Mila. Tangan satunya membuka kancing yang tadi sempat ditutup kembali. Mengusap isinya dengan lembut hingga Mila membusung memintanya untuk meraba lebih dalam lagi. "Gila montok banget si Nyonya. Nggak sia-sia olahan gue beberapa bulan ini. Udah makin ngembang kayak direndem minyak tanah. "Euhhh..." Kalau di sini bebas, mau mendesah pun tak
"Ah! Enak sekali!" Mila sudah meracu saat ini. Kedua mata wanita itu memejam, kepala mendongak, tangan membekap dan tubuh tak bisa diam. Itu semua karena Bejo menyesap memberikan sentuhan di dada Mila. Jari pun masih bermain di bawah sana hingga tangannya basah. "Satu kali klimaks baru kita lanjutkan di kamar, Nyonya." "Jo bagaimana kalau celanamu akan basah? Kamu tau kan, setelah bersamamu aku sering mengeluarkan cairan dan itu banyak sekali. Aku sangat puas bersamamu, Jo. Aku sampai seperti pipis." "Kita pindah ke belakang, Nyonya! Jangan keluar pintu! Lewat sini saja," katanya memberikan solusi. Kalau mobil kotor masih bisa dibersihkan, tapi kalau celananya yang basah. Nanti malah dikira ngompol sama orang-orang yang melihatnya. Gila memang! Salah siapa dibuat tidak waras begini. Saka pandai bermain di belakang, Mila pun akan mengimbanginya. Sakit hati itu sudah tidak lagi bisa diajak kompromi. Mila benar-benar membahagiakan diri, melepaskan diri dari penjara lara
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







