LOGIN"Halah! Itu hanya alasan istri kamu saja, Saka! Harusnya kamu lebih tegas lagi pada Mila. Jangan mau mendengarkan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Mila begitu karena tidak mau bertemu dengan Mamah. Memang menantu susah diatur! Padahal ke rumah mertuanya sendiri tapi banyak mikir. Seharusnya acara apapun tidak bisa mengalahkan kunjungan ke rumah mertua. Apalagi kalau sampai menolak untuk menginap." "Sabar, Mah! Mila juga punya kehidupan. Aku sebagai suami tidak boleh egois. Kalau Mila ada acara ya biarkan ikut dulu! Besok-besok masih bisa. Masih banyak waktu untuk bisa ke rumah Mamah." "Nggak bisa begitu dong, Saka! Kamu terlalu ngalah sama istri. Lain kali jangan mau kalah! Kamu harus lebih tegas pada Mila. Mamah lihat kok malah Mila yang semakin berkuasa atas anak Mamah." "Mah, sudah dulu ya! Aku ada meeting setelah ini. Nanti aku hubungi lagi." Tut Saka mematikan panggilan itu tanpa perduli Mamahnya akan marah. Saka malas mendengarkan ocehan beliau, maka dari itu s
"Terserah kamu, Jo! Aku sudah muak. Aku hanya menunggu waktu saja. Aku merasa belum cukup. Sabar ya, Jo!" Tangan Mila menyentuh tangannya dan dia melirik dengan senyum tipis yang mulai mengembang. Namun tidak menunjukkan ekspresi apapun pada Mila. "Woke! Santai, Nyonya! Aman! Yang penting Nyonya puas, Nyonya bahagia, Nyonya aman tentram, Nyonya...." "Sssttt.... Udah, Jo! Kamu tuh! Aku percaya kok sama kamu," kata Mila seraya menutup mulutnya dengan satu jari telunjuk yang kemudian dia raih dan kecup dengan lembut. "Percaya sama saya berat, Nya! Saya nggak punya apa-apa yang mengharuskan Nyonya percaya. Ya udah kalau begitu, pagi ini mau kemana? Toko?" Mila menganggukkan kepala dan Bejo beranjak dari sana. "Saya ambil tas dulu, Nyonya." "Iya, Jo. Aku tunggu di mobil." "Nggak sarapan dulu? Sarapan dulu lah! Nggak inget semalam abis ngapain? Isi dulu itu perutnya!" kata Bejo mengingatkan dan Mila menggelengkan kepalanya. "Nggak nafsu, Jo." "Saya tau kok, Nya. N
"Ya sudah kalau begitu. Akan aku hubungi Mamah nanti dan akan aku katakan kalau kamu tidak bisa datang karena ada acara. Kita atur ulang saja jadwalnya!" Mila meliriknya yang menyeringai tipis mendengar keputusan dari Saka. "Gue kata juga apa! Lawak udah ini rumah tangga juga. Nyonya Mila suka lawak semenjak sama gue, Tuan! Kalau nggak suka nggak akan betah sama Bejo. Sorry Om Sule, jadi kebawa-bawa. Kalau nggak gini nggak bisa jadi lawakan pagi." "Nanti saya antar ketemu Sule, Nyonya! Tenang saja!" katanya seraya menganggukkan kepala dan sempat memejamkan mata meyakinkan Mila sedangkan wanita itu mendesis lirih memandangnya. "Ya sudah kalau begitu. Have fun ya, Sayang! Aku pulang malam," ujar Saka kemudian meraih dagu Mila dan memberikan kecupan yang membuat Bejo menatap jengah. "Harus banget ngokop depan gue? Enak kali begitu! Pamer! Gue udah kenyang gue semalam, Tuan!" batin Bejo tetapi mata terus memperhatikan bagaimana Saka mengecup dan memagut dengan penuh gairah.
"Ya elaaaahhhh... Perasaan masih pagi. Udah ribut aja! Heboh banget emang rumah tangga mereka. Kayak Kak Ros nikah sama Uncle Mutu. Rame!" celetuk Bejo. Kalau sudah urusan seperti itu, dia memilih menjadi pendengar saja. Bejo kembali duduk dan santai menghabiskan makanannya. "Jo, mereka tuh ngobrol dikit aja jadi debat ya. Nggak kayak kita, ngomong dikit jadi kenyang," komentar Bibi melihat apa yang terjadi. "Udah Bibi nggak usah ikutan! Mending makan bala-bala! Mana sambel kacangnya, Bi?" tanya Bejo santai sekali menanggapi keributan majikannya. Itu karena masih bisa dia pantau dengan tenang. Sekalian juga agar Bibi tidak terlalu kepo semakin jauh. Sementara Mila masih memandang penuh tantangan pada Saka yang kemudian menyeringai melihat sang istri. "Kamu benar-benar mau bukti, Mila? Iya? Aku akan berikan itu asal kamu mau tidur sama aku! Kamu benar-benar bisa memuaskan aku tanpa ada alasan, tanpa ada tangisan dan tanpa ada pengecualian, paham!" sahut Saka dan Mila
"Jo kamu ngapain pagi-pagi udah di belakang rumah? Eh kamu lagi jemur kasur, Jo?" tegur Bibi kamudian mendekati. "Astaghfirullah... Itu mata kenapa? Kamu nggak tidur? Hitam begitu udah kayak dipandain." "Dipandain," cibir Bejo. "Dijotos panda! Mata panda maksudnya, Bi! Ada lagi di pandain," cibir Bejo kemudian berjongkok di depan kasur yang ia jemur. "Kamu mimpi basah ya, Jo? Ya ampun... Sampai basah banget begitu? Kamu ngompol ini mah bukan mimpi basah!" kata Bibi setelah melihat kondisi kasurnya. "Pantes aja itu mata sampai begitu. La wong kamu nggak aja nggak bisa tidur. Makanya kalau mau tidur tuh pipis dulu! Udah bujang masih aja harus diingetin. Ampun deh, Jo! Jo!" Bibi menggelengkan kepala seolah apa yang beliau sampaikan itu benar adanya sedangkan dia terima diam saja tanpa menjawab. Sabodolah Bibi mau bicara apa. Tidak mungkin juga mengatakan kalau ini ulah Mila. "Iya udah iya. Titip kasur, Bi! Takut hujan nggak ketahuan." "Hujan dari Hongkong! Ada juga ngg
"Aku kembali ke kamar ya, Jo!" "Tunggu, Nyonya!" Tangan Bejo menahan pergerakan Mila. Wanita itu belum menjawab pertanyaannya yang membuat dia geregetan melihatnya. Bejo berdecak dan memandang penuh peringatan. "Iya." Akhirnya jawaban singkat itu Mila berikan tetapi semakin membuat Bejo gemas. Bejo memandang Mila dengan sangat intens. Tangannya meraih dagu Mila hingga keduanya saling memandang. Mata Mila terlihat memerah dan basah. "Sama siapa?" tanyanya lirih dan Mila menggelengkan kepala. Bejo menganggukkan kepalanya saat tak mendapatkan jawaban. Dia menarik nafas dalam dan tersenyum memandang Mila. "Sekarang udah merasa impas, Nyonya?" "Ya, memang harus di balas dengan hal yang sama bahkan lebih, Jo." Bejo menggeleng kepala mendengar itu kemudian melepaskan tangan Mila. "Nyonya mau saya antar?" tanyanya lagi dan Mila menolak. "Nggak perlu! Aku bisa balik ke kamar sendiri. Aku nggak takut andai Mas Saka tau aku dari mana." "Oke. Hati-hati naik tangga
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah