LOGIN"Bi! Bi! Cepat ke atas sekarang!" Tut "Aaaggghhh sakit sekali! Ini masih sangat perih ssstttt," keluh Saka setelah berteriak memanggil Bibi melalui telepon rumah. "Sampai kapan aku hanya bisa tiduran begini? Aaaggghhh! Bajingan! Dasar kau tidak berguna! Belum juga digunakan pada Mila tapi sudah babak belur begini! Kalau tidak segera sembuh awas kau ya!" Saking kesalnya, Saka sampai marah-marah sendiri. Suara Saka menarik perhatian Mila yang baru saja keluar untuk mengambil minum dengan membawa gelas yang kosong. Mila melangkah mendekati pintu yang tidak tertutup rapat dan mengintip keadaan Saka tanpa membuka benda persegi panjang tersebut. Mila berdiri di sana memperhatikan dengan hati yang tak karuan. Dalam pandangan Mila terlihat wajah Saka memerah mungkin sakitnya tak tertahan. Terlihat ekor mata pria itu pun basah. Rasa iba di hati Mila pun hadir tetapi kalau mengingat apa yang Saka lakukan semalam, rasanya Mila sangat berat untuk mendekati dan mengurus pria itu.
"Parah loe, Jo!" Bejo santai saja menanggapi kegaduhan di belakang sana. Dia mengeluarkan ponselnya seraya melangkah menuju kantin. Masih ada satu jam lagi untuknya lanjut kelas berikutnya dan masih ada waktu lima belas menitan untuknya ngadem dulu minum es jeruk agar otak lebih segar. "Jadinya loe nanti ngajarin si Caca, Jo?" tanya Edo setelah kembali dengan nampan yang berisikan tiga gelas es jeruk. "Nggak tau." "Lah gimana sich? Kata loe ACC. Terus kerjaan loe gimana? Ganggu nggak? Dipecat Nyonya baru tau rasa loe! Kalau gue jadi loe sich lebih pilih sama Nyonya dari pada sama Caca." "Kalau gue jadi dia sich milih dua-duanya," sahut Didi. "Emang loe 'kan maruk, Di!" sarkas Edo. "Nggak usah pada pengen jadi gue. Yang jadi gue ya gue aja! Loe berdua jangan! Berat!" Dia pun mengomentari perdebatan kedua sahabatnya yang terus saja membahas Mila dan Caca. Bejo melirik keduanya bergantian kemudian melengos setelahnya. "Berat kalau loe ditimpa keduanya barengan.
Bejo turun dari motor besarnya. Motor bersejarah hasil dari menabung bertahun-tahun sampai kebeli di saat lulus SMA. Motor kesayangan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya. Baru juga turun, banyak mata wanita terpukau padanya. Bahkan pesona ketua BEM saja kalah dengan dia yang tidak menjabat apapun di sana. Kembalinya dia dengan motor besarnya setelah beberapa kali menggunakan mobil, tidak mengurangi pesonanya di mata para wanita. Hanya saja dia selalu santai dalam menyikapi itu semua. Tidak ada yang dianggap spesial baginya. Bahkan kesombongan tidak berhasil merasuki jiwanya. Bejo melangkah dengan santai membawa tas hitam di pundaknya seraya menyugar rambut yang sempat tak tertata karena helm. Satu wanita menarik perhatiannya. Padahal banyak wanita yang mendadak cari perhatian dan menatap dengan kedua mata memuja. Tidak berbeda jauh dengan wanita yang satu ini, wanita itu memperhatikannya dengan tatapan mata yang sama dengan wanita di se
"Mas..." "Kamu kenapa ikut ke sini? Yang aku panggil itu Bejo bukan kamu, Sayang!" Saka terlihat sangat terkejut sekali dan wajah pria itu terlihat merona nampak malu dengan kehadiran Mila bersamanya. Bejo melirik Mila yang ada di sampingnya. Wajah wanita itu menatap bagian Saka yang hampir terbuka dengan gantungan kantong pipis penuh di pinggir kasur. Saking terkejutnya Mila sampai tangan wanita itu memegang lengannya, entah itu salam keadaan sadar atau reflek saja Mila melakukan itu. Sepasang suami istri ini sama-sama terkejut, hanya bedanya Mila kaget melihat kondisi Saka sedangkan Saka malu dilihat bagian yang sakitnya. Sementara Bejo sudah sudah seperti wasit di antara mereka. Bejo mendekati Mila sedikit setelah gemas melihat respon wanita itu. "Nyonya tutup mulutnya!" bisiknya dan dia mengulum senyum saat Mila melirik padanya. "Hah? Kamu tuh, Jo!" Mmulut Mila merapat setelah mendapatkan teguran darinya. Wanita itu berdecak dan memberikan cubitan di lengannya kemu
"Sekarang Nyonya istirahat ya!" Bejo menarik selimut untuk menutupi tubuh Mila. Dia tersenyum melihat kedua mata Mila yang masih terlihat sembab. "Jangan nangis lagi, Nyonya! Lewati badainya! Saya yakin Nyonya mampu." "Makasih ya, Jo. Saya tau kamu yang sudah nolongin saya tadi. Walaupun saya nggak tau bagaimana cara kamu, tapi nggak mungkin lampu semahal dan sebagus itu bisa pecah. Saya menggantinya belum lama." Bejo terkekeh mendengar apa yang Mila sampaikan. Apalagi pemikiran dari wanita itu yang mencoba untuk menebak. "Siapa tau ada cicak yang dendam sama Tuan. Eh doanya diijabah atau ada semut yang nggak terima lihat Tuan kasarin Nyonya." "Ck, mana ada!" "Hahahaha.... Ya udah saya keluar dulu ya, Nyonya. Mau lihat Tuan juga. Kasihan kayaknya bakal disunat. Permisi, Nyonya." Dia tetap sopan walaupun ada kalanya dia mengeluarkan semua hawa nafsunya pada Mila. Bejo cukup paham akan situasi dan kondisi serta posisi. "Ya." Dia menutup rapat pintu kamar tamu
"Ini obatnya, Nyonya. Bisa pakai sendiri atau saya yang mengoleskannya?" Bejo tadi sampai harus ke apotik besar untuk membeli obat oles ini. Bukan hanya uang yang dia bawa tetapi juga muka tebal karena setelah mengatakan keluhan sakit yang Mila derita, petugas apotik itu melihatnya agak gimana. Mungkin dalam hati petugas tersebut dia hyper sekali hingga membuat Mila sampai lecet. Padahal berbuat saja tidak. Yang dia buat semalam malah tidak menimbulkan kesakitan. Justru Mila dibuat nge-fly sampai nyanyak sekali tidurnya. "Aku mana bisa, Jo?" tanya Mila balik dan dia pun menarik nafas dalam seraya melirik tubuh Mila yang terbungkus selimut. "Ya udah kalau gitu saya yang obatin. Mudah-mudahan si Juki nggak minta lagi. Suka iseng soalnya anaknya, Nyonya." "Memangnya kamu nggak kasihan sama saya, Jo?" "Benget, tapi namanya juga nafsu. Eh tapi si Juki mah anak baik, Nyonya. Dia nggak akan minta kalau tau lawannya begini. Lagian saya nggak akan minta kalau Nyonya nggak
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







