FAZER LOGIN"Saya nggak berangkat Jo. Kamu kalau mau ke kampus hati-hati ya. Hari ini kamu free. Saya di rumah." Suara Mila terdengar pelan sekali di telinganya. Ada rasa penasaran yang semakin kuat setelah mendengar suara itu. Rasanya Bejo sangat ingin ke atas tetapi terhalang oleh Bibi. "Ya sudah kalau begitu. Nyonya sudah minum obat? Katanya meriang? Apa karena main basah-basahannya nggak tuntas, Nyonya?" "Bisa jadi." Kedua alisnya terangkat mendengar jawaban itu dari Mila. "Jadi beneran gara-gara nggak sampai tuntas jadinya kependem terus bikin meriang, Nyonya?" tanyanya lagi dan Mila hanya menjawab singkat saja. "Mungkin." Tut "Eh kok dimatiin? Beneran nggak sih? Ah taulah! Nanti biar gue cek sendiri aja." Bejo menghabiskan makanannya dan bergegas pergi, karena tidak membawa Mila maka dari itu dia tidak menggunakan mobil. Motor kesayangannya akan kembali dikeluarkan untuk berangkat ke kampus. "Jo! Jo! Jo!" Panggilan dari belakang sana membuatnya menoleh penuh
"Jangan di sini, Jo!" "Terus mau dimana, Nyonya?" "Jangan juga sekarang!" jawab Mila dengan tegas kemudian beranjak dari sana dan pergi meninggalkannya yang masih ada di dalam air. Bejo menghela nafas berat melihat itu kemudian melirik ke atas. Di sana sudah tak ada lagi Saka tetapi sepertinya dia tidak akan aman kalau hanya diam. Bejo pun memutuskan untuk berenang demi menidurkan Juki. Suara air yang bergerak begitu kencang menggambarkan bagaimana gerakannya saat ini. Semua dia lakukan demi untuk bisa kembali menenangkan diri. Tidak lama, tapi menghasilkan, gerakannya membuat Juki lebih tenang. Nafasnya ngos-ngosan dan dia segera keluar dari kolam. Bejo merebahkan diri di pinggir kolam, meringis saat badannya terasa lelah. "Juk-Juk, lo kalau udah berdiri begini amat dah. Kudu capek dulu baru mau pingsan lagi," kata Bejo kemudian memejamkan kedua mata. Sejenak dia menenangkan diri sebelum kembali ke kamar. Tanpa dia tau, di atas ternyata Mila sedang berdebat kemb
Mila tersenyum memandangnya dan itu menjadi pemandangan yang mungkin kelak akan dia rindukan. Bejo sendiri tidak yakin akan tetap ada terus di samping wanita itu. Tidak ada yang tau bagaimana kedepannya nanti. Untuk saat ini mereka hanya bisa menjalani tanpa rencana apapun. Senyum Mila pun merupakan jawaban dari hati wanita itu. Hanya saja Bejo tidak ingin membahasnya lagi demi kenyamanan wanita itu. Yang terpenting dia sudah tau kalau hadirnya diterima baik oleh Mila. "Yang tadi, di sana itu, orang yang berarti bagi Nyonya?" tanya Bejo dengan suara lirih dan agak ragu untuk menanyakan itu. "Ya, dia orang baik tapi nasibnya tidak baik." Mila kemudian melihat jauh ke depan. Wanita itu kembali tersenyum tetapi kali ini bukan senyum yang membahagiakan tetapi senyuman yang menyimpan banyak luka. "Jangan diteruskan kalau itu bisa melukai Nyonya kembali!" "Aku selalu mendoakannya, Jo. Dia hadir sebelum aku bersama Mas Saka. Dia orang yang pernah sangat aku sayang dan sampa
Bejo tidak mengatakan apa-apa. Dia diam memeluk Mila dan tidak juga menghiraukan Bibi yang sejak tadi mencolek, mencubit, sampai menarik pakaiannya. Bejo kali ini tidak perduli apapun karena yang dia tau, Mila saat ini sedang sangat membutuhkan tempat ternyaman untuk melepaskan beban yang datang dari orang yang seharusnya paling menyayangi wanita itu. "Maaf kalau kamu juga harus kena amukan Ibu tadi. Maaf ya, Jo. Ibu memang seperti itu." Mila mendongak menatap wajahnya yang kini tersenyum dengan mengukir senyum. Kedua tangannya pun masih memegang kedua lengan Mila dan memperhatikan air mata yang kembali terjatuh. "Jangan dipikirkan, Nyonya! Saya mah udah biasa kalau hanya dihina seperti itu. Lagian nggak ada yang salah karena memang saya hanya sopir." "Tapi Ibu sangat meremehkan kamu, Jo. Aku juga malu karena sikap Ibuku sangat buruk." Mila menundukkan kepalanya dengan tangan yang mengusap air mata. Bibi yang tadi sibuk menariknya dan menyadarkannya pun ikut iba melihat
"Bu ini sopir aku. Dia itu tinggal di sini. Jangan seperti ini, Bu! Lepas!" Mila meraih tangan Ibu dan menariknya agar melepas tubuh Bejo. Ibu benar-benar tidak terkendali sampai seperti ini. Mila sangat terlihat tidak suka dengan sikap Ibu yang demikian. Bejo sendiri sampai tidak percaya kalau beliau itu adalah orang tua dari Mila. Apa lagi sangat jauh sekali dari Mila yang kalem ini. Kalau ada buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Mila itu buah yang belum sampai jatuh sudah dipetik sama orang. "Apa? Jadi ini sopir kamu? Kenapa kalian terlihat sangat dekat? Kamu jangan kurang ajar sama Saka ya, Mila! Jangan sampai karena Saka sibuk terus kamu ada main sama orang ini! Ingat! Dia itu hanya sopir! Babu! Bawahan kamu! Bukan orang yang penting! Nggak ada uangnya! Maka dari itu jangan kamu gelap mata hanya karena melihat ketampanannya saja! Ngerti kamu!" "Bu!" sentak Mila tak terima. Sementara Bejo hanya menyeringai mendengar semua yang keluar dari mulut beliau. Bejo pun sama se
"Nanti gue pikirin dulu. Gue ada gawe, ada pekerjaan lain juga, nggak bisa seenaknya gue ambil job." "Tanya dulu sama Nyonya. Kalau ini menurut gue nggak akan ganggu kerjaan nyopir." "Tetap aja, gue nggak bisa sembarangan terima job," jawab Bejo dengan pendiriannya. Apabila memang boleh oleh Mila, dia akan ambil, tapi kalau tidak ya tidak akan. Apalagi ini berkaitan dengan wanita lain yang tentunya akan ada hubungan lebih lanjut. Bukan perkara mudah kalau hubungannya dengan seorang wanita. Mereka makhluk sensitif yang kapan saja bisa ngamuk. "Gue denger sich adeknya calon kakak ipar kuliah di sini, tapi gue nggak tau siapa. Kalau tau mah udah gue tanyain adeknya. Gue yakin tuh orang taulah kalau emang bener adeknya calon ipar gue. Cuma gue nggak tau orangnya. Kakak gue juga nggak tau." "Bagaimana sih lo, Do?" sahut Didi dan Edo mengedikkan kedua pundak. "Belum ada janur kuning melengkung mah kata gue juga tuh cewek masih bebas milih mana yang bagus. Kakak loe yang udah
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t







