LOGIN
“Ah… Pak Kades… Jangan…”
“Sebentar saja… Aku udah nggak tahan ini…” Marjoni atau biasa disebut Joni menahan napasnya di balik celah dinding bambu yang basah oleh hujan malam itu, matanya awas mengintip ke dalam gubuk. Ia menelan ludah saat tangan pria bertubuh gempal itu tengah menyusuri lekuk tubuh seorang wanita matang dan menggoda yang tengah berusaha melepaskan diri. “Ayolah Sarah, jangan kabur terus, kau masih punya hutang banyak. Jangan paksa aku bertindak kasar ya?” Suara kasar dari Bobi, pria tersebut, menggema di ruangan. Sementara napas wanita bernama Sarah, yang merupakan Ibu Tiri Joni, terengah-engah. Punggung wanita muda itu sudah menempel erat pada dinding bilik yang rapuh. “Be-Beri saya waktu lagi, Pak. Saya janji akan melunasi hutangnya,” katanya gugup, sambil berusaha menutupi bagian belahan dadanya yang terus saja menjadi incaran mata nakal Bobi. Bobi sang kepala Desa yang terkenal sebagai lintah darat cabul itu memajukan tubuh tambunnya. “Lima puluh juta lho, Sarah! Mau bayar pakai apa lagi kau?” Dari balik celah dinding, Joni hanya bisa mematung. Pemandangan itu memicu gejolak kemarahan di dadanya. Namun, rasa marah itu kalah jauh dibandingkan rasa takut akan kekuatan fisik Bobi dan preman-premannya membuat kakinya terpaku. Ia sadar dirinya terlalu lemah untuk melawan. Tangan kotor Bobi perlahan mulai bergerak meraba dagu Sarah. “Suami kau sudah mampus dan meninggalkan utang. Tapi serahkan sertifikat rumah ini, plus... kamu ikut aku ke ranjang, utang kita anggap lunas, oke?!” “Jangan sentuh saya, Pak!” jerit Sarah, menepis tangan itu sambil menahan tangis. “Berhentilah bertingkah polos di hadapanku, Sarah. Tubuhmu ini sudah lama tidak dijamah pria. Dan sekarang kau masih punya hutang besar padaku. Kau harusnya tahu bagaimana cara melunasinya, kan?” “Maaf, saya sudah bilang sebelumnya agar Pak Bobi memberi saya waktu lagi. Saya janji akan lunasi semua hutang itu,” tegas Sarah, tangan kanannya berusaha mendorong tubuh Bobi yang lengket menjauh. Kepala desa itu malah mencengkram tangan Sarah dan menekannya ke dinding. Tangan kirinya beralih mengunci pinggul wanita itu. “Ah... sakit...,” jerit Sarah, air mata itu akhirnya jatuh perlahan. Ia menoleh putus asa ke arah pintu, berharap keajaiban datang. “Hehe, akhirnya aku bisa merasakan kau, Sarah. Berbahagialah karena mulai sekarang kau akan menjadi mainanku,” Bobi bergumam, pikirannya begitu liar dan tak sabar ingin segera menikmati seluruh tubuh Sarah malam ini. Di luar, raungan petir menyadarkan Joni. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh kemarahan yang mendidih. Dengan tekad bulat membuang segala keraguan, Joni memutar langkah, berlari menerobos lewat pintu belakang. Braaaaaak! Tiba-tiba pintu dapur gubuk rapuh itu terdorong keras. Joni merangsek masuk dengan napas terengah-engah, tubuhnya basah kuyup oleh air hujan. Di tangannya, ia memegang sebuah celurit karat dan kantong plastik berisi racikan akar-akaran hutan demi mengobati penyakit demam Sarah. “Lepaskan Ibuku, Bobi!” teriak Joni, matanya memerah. “Oho, si dungu muncul,” Bobi terkekeh sumbang, melambaikan tangan tanpa balik badan. “Hajar cecunguk itu!” Dua preman berbadan kekar yang bersembunyi di balik kegelapan teras langsung melompat menubruk Joni. Joni mencoba melawan, melayangkan pukulan asal-asalan, namun fisiknya yang kurus kering bukanlah tandingan para algojo desa. Bugh! Plak! Bugh! Satu tendangan mendarat telak di dada Joni, menyebabkannya jatuh tersungkur. Pukulan balok kayu menghantam pelipisnya. Darah segar menyembur dari mulut Joni, membasahi lantai tanah yang dingin. Namun, ternyata Kedua preman itu tak berhenti sampai di sana. Mereka menarik kerah baju Joni yang sudah tak berdaya, menyeretnya kasar ke luar, lalu melempar tubuh kurus itu ke halaman gubuk yang tengah diguyur hujan lebat. “Joni!” jerit Sarah histeris. Ia mencoba berlari menolong, namun Bobi dengan cepat menjambak rambut Sarah dan menguncinya. “Lihat anak tirimu itu, Sarah. Lemah! Mampus dia sebentar lagi,” tawa Bobi pecah, matanya melotot penuh nafsu saat ia mulai menyebakkan kerah baju Sarah hingga merobek kain tipisnya. “Sekarang kau layani aku!” Joni terkapar bersimbah darah di halaman. Kesadarannya perlahan menghilang. Dari sudut matanya yang membengkak, ia melihat Sarah menjerit ketakutan, berjuang keras menahan selangkangan Bobi yang makin merapat. Rasa benci, cemas, dan ketidakmampuan membakar dada Joni. ‘Tuhan... kalau aku harus mati malam ini, biarkan aku membunuh bajingan itu dulu,’ batin Joni meraung. Namun, pandangannya makin lama kian menggelap. Sementara tangannya yang mengepal makin lama makin lemas. Saat seringai Bobi dan preman-premannya serta tangisan ibu tirinya hilang dari penglihatannya, tiba-tiba… DAARRR! Gemuruh petir menyambar lagi, tapi bukan petir biasa. Kilatan berwarna merah menyala yang aneh mendadak membelah langit malam tepat di atas gubuk tersebut. Tanpa peringatan, lidah petir merah itu menyambar lurus dan menghantam dada Joni yang terkulai. Tubuh Joni kejang-kejang mendadak. Suhu tubuhnya melonjak hingga mengepulkan uap air dari pakaiannya yang basah. Dua preman dan Bobi terhenyak kaget, menghentikan aksinya karena silau kilatan merah yang membutakan mata. Di dalam kesadaran Joni yang gelap gulita, sebuah entitas gaib bergetar. Jiwa seorang Alkemis Surgawi dari dimensi kuno menyatu lurus ke dalam nukleus jiwanya. Ding! Suara berdenting nyaring yang terdengar sangat futuristik tiba-tiba bergema langsung di dalam otak Joni, menghentikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. [Peringatan Darurat: Inisiasi Jiwa Berhasil!] [Sistem Master Alkimia Telah Diaktifkan.] [Menganalisis Kerusakan Tubuh Host... Menginjeksikan Darah Alkemis Murni.] [Efek Tambahan: Feromon Dominan Alkemis Berhasil Dilindungi.] Layar transparan bernuansa keemasan membayang di retina Joni. Luka memar di wajahnya merapat dalam hitungan detik. Patah tulang rusuknya tersambung kembali dengan bunyi klek yang memuaskan. Energi hangat luar biasa tiba-tiba meledak dari pusat pusarnya, mengalir keras ke seluruh pembuluh darahnya. Bobi yang baru saja pulih dari rasa terkejut, kembali menyeringai kasar. “Cahaya aneh apa itu tadi? Ah, persetan! Paling cuma kilat biasa.” Bobi kembali menarik tubuh Sarah. “Mari kita lanjutkan, Sarah—“ “Hei, Bajingan Tua.” Suara itu berat, tenang, namun menyiarkan dinginnya kematian. Bobi dan kedua premannya membeku. Mereka menoleh lambat-lambat ke arah pintu. Joni berdiri tegap. Matanya yang sebelumnya redup kini menyala dengan kilatan pupil keemasan yang mistis. Senyum tipis yang sarat akan dominasi merayap di bibirnya yang masih berbekas darah kering. Joni meremas jemarinya sendiri, memicu bunyi kertakan tulang yang menggelegar di dalam ruangan yang sunyi itu. “Siapa yang memberi izin bibir busukmu menyentuh Ibuku?”Malam baru saja turun ketika pintu belakang sebuah rumah berarsitektur kayu di sudut sepi dusun terdorong kasar. Bobi melangkah keluar dengan raut wajah merah padam. Kemeja dinasnya kusut, dan perut tambunnya membusung tegang.Di ambang pintu, seorang wanita muda berdiri menyandarkan tubuhnya pada kusen. Parasnya ayu, matanya lentik, namun sepasang alisnya menukik tajam.Namanya Laras, janda kembang desa yang selama ini menjadi simpanan rahasia Kepala Desa.“Mas Bobi mau ke mana lagi, Hah?!” bentak Laras setengah berbisik, matanya berkilat marah. “Jangan cuma bisa kabur setelah bikin keributan di rumahku!”Bobi memutar badannya kasar, melotot seraya menunjuk muka Laras dengan jari gemetar. “Kau jangan ikut-ikutan menyudutkan aku, Laras! Kepala aku sudah mau pecah!”“Kepala Mas mau pecah, tapi janji-janji Mas ke aku mana?!” Laras melangkah keluar satu tapak, membusungkan dadanya tanpa rasa takut. “Bulan lalu Mas janji mau membelikan aku kalung emas lima gram. Pekan lalu janji mau kasi
Anita merapikan kembali gaun tidurnya di sudut ruangan VIP yang temaram. Udara di dalam kamar masih menyisa aroma harum minyak melati bercampur desiran hangat energi alkimia.Dari balik lipatan selendangnya, Anita merogoh sebuah buku ber-sampul kulit hitam yang sudah kusam. Ia melangkah mendekati Joni yang sedang duduk di tepi dipan, lalu meletakkan buku itu di atas pangkuan pemuda tersebut.“Apa ini, Anita?” tanya Joni seraya menatap buku kusam itu.“Senjata milik suamiku, eh maksudku si bajingan Bobi itu,” bisik Anita. Tangannya yang halus mengusap jemari Joni. “Di dalamnya ada seluruh catatan penggelapan dana bantuan desa, uang kas proyek jalan, sampai daftar nama pejabat kecamatan yang biasa dia suap selama lima tahun terakhir.”Joni membuka lembar demi lembar buku tersebut. Mata keemasannya berkilat membacanya.[Analisis Sistem: Dokumen Hukum Valid Terdeteksi.][Opsi 1: Laporkan ke Pihak Berwajib (Kekuasaan Bobi Runtuh Seketika).][Opsi 2: Tahan Dokumen (Ekspansi & Pengurasan Ase
Ada saat-saat dalam sejarah sebuah tempat ketika roda takdir tidak sekadar berputar pelan, melainkan berguling menghantam dan meratakan tatanan lama. Dan di desa kecil yang terlalu lama dikuasai oleh keserakahan, pagi itu menjadi saksi bagaimana hierarki yang rapuh runtuh tanpa sisa.***Kabar tentang Kepala Desa Bobi yang dilemparkan bagaikan karung beras di pekarangan Joni menyebar bagaikan badai. Tidak ada lagi yang menatap pemuda itu dengan sebelah mata. Ketakutan warga bertukar menjadi rasa hormat, dan rasa hormat itu perlahan menjelma menjadi harapan.Pagi hari berikutnya pelataran gubuk yang biasanya sepi dipenuhi belasan warga desa. Mereka berdiri berjejer, menanti dengan canggung namun matanya memancarkan binar antusiasme.Joni berdiri di atas tangga kayu gubuknya, berdampingan dengan Sarah yang tampil makin anggun dan memesona.“Mulai hari ini,” suara Joni yang berat dan tenang memecah keheningan pagi, “aku butuh sepuluh orang warga untuk membantuku memanen akar-akaran dan
Keheningan pagi yang hangat itu mendadak pecah oleh deru langkah kaki yang riuh dan bentakan kasar yang membelah udara.“Seret semua barangnya keluar! Ratakan gubuk reot ini kalau perlu!”Bobi melangkah lebar memimpin rombongan. Perut tambun sang Kepala Desa itu membusungkan keangkuhan, dilapisi kemeja dinas yang licin. Di sampingnya, beberapa aparat desa berseragam dan belasan preman suruhan berjalan garang membawa balok kayu dan surat penyitaan palsu.Tak ketinggalan, di barisan depan berdiri Ogin bersama beberapa preman sesepuh desa yang paling provokatif, wajahnya yang penuh brewok menyeringai busuk.“Warga sekalian! Lihat baik-baik!” teriak Ogin dengan suara parau yang memanggil perhatian warga sekitar. Warga desa pun mulai berkerumun di balik semak dan pagar kayu, menatap cemas. “Pagi ini, batas waktu utang lima puluh juta si Joni dungu sudah habis! Hari ini rumah ini disita resmi oleh Pak Kades!”“Benar!” Bobi menimpali seraya melipat tangan di dada, matanya berkilat penuh ke
Joni menatap mata Sarah yang berkabut pasrah. Erangan halus dan rasa sakit yang membakar dari mutasi sel tubuh wanita muda itu mengetuk nuraninya. Ini bukan lagi soal norma, bukan lagi soal tabu hubungan ibu tiri dan anak yang selama ini memenjarakan mereka. Ini adalah pertaruhan nyawa.Tanpa mengalihkan pandangannya, Joni berdiri pelan, melangkah ke pintu kamar kayu yang rapuh, lalu memutar palang kayu untuk menguncinya rapat-rapat.Klek.Keheningan malam yang sunyi seolah menyegel ruangan itu dari dunia luar. Hanya tersisa deru hujan yang menghantam atap seng dan helaan napas memburu yang memecah kesunyian.Joni kembali berlutut di tepi dipan. Jemari tegapnya yang hangat merengkuh dagu Sarah yang merona merah.“Dengarkan aku, Sarah...” suara Joni terdengar amat berat, dalam, dan dipenuhi kehangatan dominan yang menenangkan. “Mulai detik ini, buang semua masa lalu itu. Kamu bukan lagi ibu tiriku, dan aku bukan lagi pemuda dungu yang lemah.”Sarah menatap manik mata keemasan Joni. Di
Dunia selalu punya caranya sendiri untuk menguji seberapa keras tekad seseorang. Ketika fajar esok hari adalah garis batas antara kebebasan dan kehancuran, setiap detik yang bergulir terasa bagaikan dentang lonceng kematian yang makin nyaring.---Tenggat waktu tiga hari dari Bobi tiba esok pagi.Pagi-pagi sekali, ketika embun hutan masih tebal membungkus dedaunan, Joni melangkah memasuki kawasan hutan rimba di kaki bukit. Di sampingnya, Dodo, sahabat karibnya sejak kecil yang setia, berjalan mengapit keranjang bambu besar. Dodo adalah satu-satunya pemuda desa yang tidak pernah ikut mengejek Joni saat ia masih menjadi cecunguk yang lemah.“Jon... kau yakin bahan-bahan di keranjang ini cukup buat bikin racikan pemungkas?” bisik Dodo ragu, matanya yang awas menatap semak-semak yang mati angin. “Perasaanku nggak enak. Sejak tadi ada suara kresek-kresek yang mengikuti langkah kita.”Joni tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya yang keemasan berkilat di balik bayang-bayang pepohonan tua







