ログインPagi itu, Arman kembali ke rumah dengan wajah muram. Ia tidak tidur semalaman. Ia mengintai istrinya seperti mengintai seorang maling.Bu Lastri sudah menunggu anaknya dengan cangkir teh di teras."Bagaimana, Man? Kau lihat dia? Apakah dia bertemu pria lain?" tanya Bu Lastri setengah berbisik, matanya menatap penuh harap.Arman menggelengkan kepala. "Tidak, Bu. Tidak ada pria lain. Tapi... Aira punya banyak uang rahasia."Arman menceritakan apa yang ia lihat. Dia berkisah tentang Wulan yang melakukan transaksi besar dengan seorang pria bergerobak pada pukul 03.00 pagi, dan tumpukan uang tunai di meja kasir. Ia tidak menyebutkan nominal lima juta, tetapi Arman meyakinkan ibunya bahwa itu adalah uang yang sangat banyak.Bu Lastri terkejut, matanya pun berbinar. "Uang? Dia menyembunyikan uang dari kita? Astaga! Pantas saja, dia pelit sekali! Dia membodohi kita!""Iya, Bu. Aira memiliki banyak uang yang tidak terlihat oleh kita. Pantas saja, dia menitipkan el tempat penitipan anak, alia
Aroma ragi yang manis dan mentega yang creamy terasa lebih nyaman daripada bau amis piring kotor di rumah mertua. Aira berbaring di sofa belakang toko, ia memeluk El yang tidur pulas.Wanita itu membuka buku tabungan kecilnya. Uang yang dirampas Bu Lastri adalah pembayaran dari Bima untuk pesanan besok."Mereka mencuri uang itu, dan aku harus tetap memproduksi 1.000 bungkus roti krispi," bisik Aira.Keuntungan yang dirampas itu tidak menghancurkan Operasi Krispi GulMet, tetapi mengubahnya menjadi perjuangan mematikan untuk harga diri. Aira harus membuktikan bahwa ia bisa mandiri, bahkan setelah dirampok oleh keluarganya sendiri."Aku akan memproduksi roti itu di sini. Di sini justru lebih leluasa dan lebih aman dari untaian suami dan mertuaku!" Aira tersenyum miring.***Sementara itu, di rumah, Arman dan Bu Lastri berada dalam kondisi tegang. Bu Lastri kesal karena Aira lebih mempercayakan anaknya untuk dititipkan di daycare. Dia juga kesal karena Aira lebih memilih merogoh koc
Ruang tengah terasa mencekik. Tuduhan Arman—bahwa uang pembayaran Daycare berasal dari hasil perselingkuhan—menggantung di udara seperti racun. Bu Lastri tampak menikmati drama itu, matanya memancarkan kepuasan, senyuman di bibirnya nampak kian lebar dan sinis.Aira menatap Arman dengan tajam, bahkan tanpa berkedip. Ia tidak marah, tetapi matanya memancarkan rasa lelah dan kecewa yang sangat dingin."Apa katamu? Aku berselingkuh? Kau bilang uangku banyak karena aku mendua? Dari mana kamu memiliki pemikiran seperti itu, Mas?" Aira bertanya, suaranya tenang, tetapi tajam."Uang Daycare ini tidak lebih dari uang yang kau biarkan aku cari sendiri! Aku lembur sampai tidak tidur! Aku bekerja seperti orang gila! Dan sekarang, kau menuduhku berselingkuh karena aku akhirnya bisa membiayai anakku sendiri?!" pekiknya.Wanita itu melangkah maju, tangannya menunjuk Arman. "Coba, jelaskan padaku! Kalau aku berselingkuh, kenapa aku masih sudi mencuci piring kotor di rumah ini? Kenapa aku masih harus
"Apakah kamu sedang berencana untuk selingkuh?" Bu Lastri tiba-tiba muncul di belakang Aira dan membombardir menantunya dengan sederetan pertanyaan yang sangat menyudutkan. Wanita paruh baya itu datang ketika menantunya sedang memikirkan bagaimana cara melancarkan aksinya untuk mengerjakan orderan dari Bima."Aira sedang berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang lebih untuk memberi makan suami dan mertua, Bu." Aira tersenyum simpul. "Halah! Jangan banyak bacot! Kau ini benar-benar menantu kurang ajar." Bu Lastri berkacak pinggang."Apa yang Ibu inginkan? Kenapa Ibu tiba-tiba datang ke toko? Apakah Ibu lapar lagi? Ah, Ibu pasti ingin meminta beberapa roti untuk cemilan kan?""Tidak! Aku datang ke sini untuk meminta uang! Ada iuran RT yang harus dibayarkan sore ini. Cepat! Minta duit!" Bu Lastri mendelik.Tanpa menunggu persetujuan menantunya, sang mertua langsung menghampiri meja kasir dan membuka laci. Dia mengambil beberapa lembar uang dan langsung berlalu pergi begitu saja tanpa
Aira meninggalkan mertuanya begitu saja. Dia tak peduli dengan teriakan wanita paruh baya itu. Aira pergi ke kamarnya.Saat ia membuka pintu kamar. Di dalamnya, ada El yang berusia empat tahun. Bocah itu sedang asyik bermain mobil-mobilan.Untunglah, El bukan anak yang rewel. Biasanya, pagi begini ... dia menunggu Aira kembali dari toko sambil bermain di dalam kamar. Siangnya, biasanya Aira akan membawa anaknya ke toko roti. Meskipun usianya sudah 4 tahun, tapi El belum sekolah. Aira tak ada uang untuk memasukkan anaknya ke PAUD."El, sayang. Mama bawakan nasi bungkus untukmu, Nak," kata Aira dengan lembut, lalu ia menyodorkan nasi bungkus hangat itu kepada putranya.Ia duduk di tepi ranjang yang berderit, sementara Bu Lastri masih mengomel dari luar kamar. Sang mertua terus memaki-maki kemalasan dan ketidakpekaan Aira. Namun, Aira tidak peduli. Ia membiarkan omelan itu menguap begitu saja.Dia memeluk El dengan erat."Makan yang kenyang ya, Sayang. Mama minta maaf, Mama belum sempat
Aira merasakan hiruk-pikuk udara dini hari di Terminal Angkot Jatinegara. Ini adalah pusat keramaian yang tidak pernah tidur, tempat para pencari nafkah memulai hari jauh sebelum matahari terbit.Dia berdiri di sudut yang strategis, di dekat pangkalan ojek, tempat para buruh pabrik yang turun dari angkutan malam transit menuju kendaraan terakhir mereka. Ia menyusun kantong-kantong kertas berisi Roti Panggang Krispi Gula Mentega di atas sebuah kardus bekas. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena rasa cemas bercampur malu.Ia seorang pemilik toko roti yang kini berdiri di pinggir jalan.Aira menyusun kantong-kantong kertas berisi Roti Panggang Krispi Gula Mentega di atas sebuah kardus bekas. Tangannya sedikit gemetar."Lima ratus ribu, Ra. Lima puluh bungkus. Demi besok," bisiknya pada dirinya sendiri.Wanita itu menatap dagangannya. Dia membungkus lebih dari 50 bungkus. "Kalau laku semua, aku pasti bisa mendapatkan uang lebih dari 500 ribu," tandasnya.Pelangg







