LOGINAira merasakan hiruk-pikuk udara dini hari di Terminal Angkot Jatinegara. Ini adalah pusat keramaian yang tidak pernah tidur, tempat para pencari nafkah memulai hari jauh sebelum matahari terbit.
Dia berdiri di sudut yang strategis, di dekat pangkalan ojek, tempat para buruh pabrik yang turun dari angkutan malam transit menuju kendaraan terakhir mereka. Ia menyusun kantong-kantong kertas berisi Roti Panggang Krispi Gula Mentega di atas sebuah kardus bekas. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena rasa cemas bercampur malu. Ia seorang pemilik toko roti yang kini berdiri di pinggir jalan. Aira menyusun kantong-kantong kertas berisi Roti Panggang Krispi Gula Mentega di atas sebuah kardus bekas. Tangannya sedikit gemetar. "Lima ratus ribu, Ra. Lima puluh bungkus. Demi besok," bisiknya pada dirinya sendiri. Wanita itu menatap dagangannya. Dia membungkus lebih dari 50 bungkus. "Kalau laku semua, aku pasti bisa mendapatkan uang lebih dari 500 ribu," tandasnya. Pelanggan pertamanya adalah seorang supir angkot paruh baya dengan wajah lelah. Pria itu mendekat, tertarik oleh aroma manis mentega yang baru dipanggang, yang menembus bau asap rokok dan knalpot. "Apaan nih, Neng? Wangi benar," tanya supir itu, menggaruk kepalanya. "Roti panggang krispi, Bang. Seribu rupiah sepotong. Sepuluh ribu satu kantong. Cocok buat teman ngopi dan ganjal perut," jawab Aira, suaranya sedikit bergetar. Ia berusaha tersenyum ramah. Supir itu mengambil satu potong. Matanya melebar setelah gigitan pertama. "Wih! Enak, Neng! Gula sama menteganya pas! Bawa pulang satu kantong, Neng!" Aira merasakan lonjakan energi. Ia dengan cekatan menyerahkan kantong itu dan menerima uang Rp10.000. Keberhasilan penjualan pertama ini menjadi doping yang sangat ampuh. Keberhasilan penjualan pertamanya menjadi suntikan energi yang ampuh. Supir angkot, buruh pabrik, dan pedagang pasar awal hari menyukai camilan murah, cepat, dan mengenyangkan buatannya. Roti krispi itu, yang terasa mewah namun harganya terjangkau, menjadi hit instan. Lima menit kemudian, dua orang buruh pabrik perempuan mampir. Mereka membeli dua kantong, sambil bertanya-tanya, "Kok tidak jualan di toko biasa, Mbak?" Aira hanya menjawab, "Lagi coba cari rezeki di tempat baru, Mbak. Biar cepat laku." Ia menghindari detail, fokus pada transaksi. Pukul 03.30 pagi, Aira sudah menjual hampir separuh dagangannya. Target Rp500.000 terasa semakin dekat. Para pekerja shift malam, tukang becak, dan pedagang pasar awal hari menjadi sasaran empuk. Roti krispi itu, yang terasa mewah namun harganya terjangkau, menjadi hit instan. Uang tunai terkumpul dengan cepat. Lembar-lembar sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan memenuhi kantong jaketnya. Ini adalah hasil kerja kerasnya, buah dari kreativitas dan kenekatannya, bukan dari belas kasihan. Pukul 04.30, Aira berhasil menjual semua dagangannya, termasuk tujuh kantong terakhir yang ia jual borongan pada tukang ojek. Total uang di tangannya: Rp525.000. Ia memiliki dana yang cukup untuk membeli semua bahan baku, bahkan membayar listrik yang sudah jatuh tempo. Aira segera berjalan cepat menuju pasar subuh, membeli terigu, mentega, dan telur. Ia menyelinap kembali ke rumah sebelum matahari terbit, menyimpan bahan-bahan itu di gudang mini, lalu bergegas membersihkan diri. Ia hanya sempat mandi kilat dan mengganti pakaian. Ia merasakan kantuk yang luar biasa, seolah kelopak matanya ditarik oleh beban beton. * * Pukul 06.30 pagi. Aira sudah tiba kembali di toko. Wajahnya pucat, matanya merah. Ia membuka etalase, tetapi tidak ada apa-apa di dalamnya. Ia belum sempat memanggang adonan apapun karena sibuk berbelanja dan menyiapkan bahan. Tepat saat ia selesai menata beberapa piring kosong di etalase, Arman masuk. Pria itu sudah rapi dengan kemeja kantor instansi swasta, siap berangkat. Ia mampir ke toko istrinya sesuai kebiasaan, mengharapkan roti gratis untuk sarapan. "Lho, Ra? Kenapa etalasenya kosong?" tanya Arman, nadanya langsung menuntut. Aira berbalik. Ia menatap Arman yang tidak menyadari betapa buruk penampilannya. "Mas. Aku baru selesai belanja bahan baku. Belum sempat memanggang rotinya," jawab Aira, ia menyembunyikan kelelahan di suaranya. "Belum matang? Astaga, Ra! Ini sudah jam setengah tujuh! Aku harus segera berangkat ke kantor. Aku lapar! Biasanya jam segini sudah ada roti manis, roti sisir, atau cupcake di etalase!" Arman meninggikan suara, rasa lapar bercampur dengan binar kekesalan karena rutinitas paginya terganggu. Aira tetap tenang, tapi hatinya meradang. Semalam, pria ini merampas uang terakhirnya, dan sekarang menuntut sarapan dari hasil kerja keras yang belum sempat ia kerjakan. "Maaf, Mas. Aku harus belanja bahan dulu. Kan kas toko kemarin kosong. Kamu tidak lihat aku sampai pucat begini? Kalau aku tidak belanja, toko ini tidak bisa buka hari ini," balas Aira. Arman menghela napas kasar. Ia tidak menunjukkan simpati sedikit pun. "Sudahlah, kau ini drama sekali. Aku lapar. Kalau begini, Ibu pasti marah juga di rumah. Kau ini gak becus jadi menantu dan jadi istri!" Arman berbalik tanpa pamit yang pantas, kekesalannya tertuju pada Aira karena sarapannya gagal. Ia meninggalkan toko istrinya dengan langkah berat, meninggalkan Aira berdiri sendiri di tengah etalase kosong. "Dia marah karena aku tidak bisa menyajikan hasil keringatku tepat waktu. Bukan karena dia khawatir padaku," batin Aira, air matanya tertahan. Ia segera memulai adonan pertama. Ia harus bekerja cepat sebelum pelanggan datang. Dan untunglah, tepat saat itu, dua orang pekerjanya sudah datang. Aira bisa meminta mereka mengerjakan adonan setelah Aira menimbang adonan utama. * * * Pukul 09.00 pagi. Aira tiba di rumah ibu mertuanya. Ia sengaja mengambil jeda singkat setelah adonan pertama masuk oven. Ia tidak bisa menahan kantuknya lebih lama. Di tangannya, ia membawa sebungkus nasi dan lauk sederhana yang ia beli dari warung di depan toko. Nasi bungkus itu ia siapkan untuk Rey, anaknya yang berusia empat tahun. Baru saja Aira membuka pintu, ia sudah disambut oleh tatapan tajam Bu Lastri yang duduk di sofa reyot. Wajah wanita paruh baya itu sudah merah padam karena marah. "Akhirnya, kau pulang juga! Ke mana saja dari tadi pagi? Anakmu kelaparan di dalam! Suami mu berangkat ke kantor dalam keadaan lapar juga! Apa-apaan kau ini, Ra!" sembur Bu Lastri, ia langsung menyerang Aira. Aira berdiri kaku, lelahnya terasa seperti beban fisik yang tak tertahankan. "Maaf, Bu. Saya harus menyiapkan bahan dan adonan di toko. Kas toko kosong, Bu. Kalau toko tutup, kita makan dari mana?" jawab Aira. Sang menantu mencoba mempertahankan suaranya agar tidak bergetar. "Alasan saja! Bilang saja kau itu malas! Urusan perut suami dan mertua itu lebih utama daripada adonan kue! Arman sudah lapor padaku. Katanya, di toko tidak ada roti sama sekali! Kau mau bikin malu dia di kantor kalau tidak sarapan!" cecar Bu Lastri lagi, kini ia berdiri dan mendekati Aira. "Dan aku? Kau pikir aku tidak lapar! Sudah jam sembilan ini, Ra! Kenapa kau tidak memasak? Kenapa kau tidak buatkan anakmu sarapan? Dia rewel dari tadi! Untung-untungan kau punya mertua seperti aku! Aku masih mau menjaga cucu lho! Lihat itu mertua di TV TV. Mana mau mereka menjaga cucunya! Seharusnya kau bersyukur!" Sang mertua terus meledak-ledak dalam bersua. Aira memejamkan mata. Ia merasakan kemarahan yang mendidih. Ia mencari uang 500 ribu itu agar mereka tidak kelaparan hari ini, dan balasan yang ia terima adalah omelan karena ia tidak sempat menjadi juru masak. "Saya capek, Bu. Semalam saya tidak tidur sama sekali," ujar Aira, seraknya sudah tak tertahankan. Bu Lastri tertawa. Ekspresinya nampak mengejek. "Kecapean kenapa? Kau ini drama sekali! Cepat ke dapur! Masak untukku sekarang juga!" Saat itulah Aira mencapai batas kesabarannya. Ia tidak akan membiarkan dirinya terus-menerus menjadi mesin ATM yang diwajibkan menjadi pembantu rumah tangga dan sasaran amarah Arman dan Bu Lastri yang gagal sarapan. "Ibu kan bisa memasak sendiri? Coba Ibu ke dapur saja! Silahkan masak kalau Ibu memang lapar!" Aira mendengkus. Lantas, dia segera melewati mertuanya begitu saja. "Woi! Kau mau ke mana, Ra? Kau dengar aku bicara apa tidak?! Kau tuli ya? Jangan seenaknya begini!" teriak Bu Lastri hingga urat lehernya nampak membiru. Akan tetapi, Aira tidak menoleh. "Ra! Kau mau ke mana? Cepat masak untukku!!!"Pagi itu, Arman kembali ke rumah dengan wajah muram. Ia tidak tidur semalaman. Ia mengintai istrinya seperti mengintai seorang maling.Bu Lastri sudah menunggu anaknya dengan cangkir teh di teras."Bagaimana, Man? Kau lihat dia? Apakah dia bertemu pria lain?" tanya Bu Lastri setengah berbisik, matanya menatap penuh harap.Arman menggelengkan kepala. "Tidak, Bu. Tidak ada pria lain. Tapi... Aira punya banyak uang rahasia."Arman menceritakan apa yang ia lihat. Dia berkisah tentang Wulan yang melakukan transaksi besar dengan seorang pria bergerobak pada pukul 03.00 pagi, dan tumpukan uang tunai di meja kasir. Ia tidak menyebutkan nominal lima juta, tetapi Arman meyakinkan ibunya bahwa itu adalah uang yang sangat banyak.Bu Lastri terkejut, matanya pun berbinar. "Uang? Dia menyembunyikan uang dari kita? Astaga! Pantas saja, dia pelit sekali! Dia membodohi kita!""Iya, Bu. Aira memiliki banyak uang yang tidak terlihat oleh kita. Pantas saja, dia menitipkan el tempat penitipan anak, alia
Aroma ragi yang manis dan mentega yang creamy terasa lebih nyaman daripada bau amis piring kotor di rumah mertua. Aira berbaring di sofa belakang toko, ia memeluk El yang tidur pulas.Wanita itu membuka buku tabungan kecilnya. Uang yang dirampas Bu Lastri adalah pembayaran dari Bima untuk pesanan besok."Mereka mencuri uang itu, dan aku harus tetap memproduksi 1.000 bungkus roti krispi," bisik Aira.Keuntungan yang dirampas itu tidak menghancurkan Operasi Krispi GulMet, tetapi mengubahnya menjadi perjuangan mematikan untuk harga diri. Aira harus membuktikan bahwa ia bisa mandiri, bahkan setelah dirampok oleh keluarganya sendiri."Aku akan memproduksi roti itu di sini. Di sini justru lebih leluasa dan lebih aman dari untaian suami dan mertuaku!" Aira tersenyum miring.***Sementara itu, di rumah, Arman dan Bu Lastri berada dalam kondisi tegang. Bu Lastri kesal karena Aira lebih mempercayakan anaknya untuk dititipkan di daycare. Dia juga kesal karena Aira lebih memilih merogoh koc
Ruang tengah terasa mencekik. Tuduhan Arman—bahwa uang pembayaran Daycare berasal dari hasil perselingkuhan—menggantung di udara seperti racun. Bu Lastri tampak menikmati drama itu, matanya memancarkan kepuasan, senyuman di bibirnya nampak kian lebar dan sinis.Aira menatap Arman dengan tajam, bahkan tanpa berkedip. Ia tidak marah, tetapi matanya memancarkan rasa lelah dan kecewa yang sangat dingin."Apa katamu? Aku berselingkuh? Kau bilang uangku banyak karena aku mendua? Dari mana kamu memiliki pemikiran seperti itu, Mas?" Aira bertanya, suaranya tenang, tetapi tajam."Uang Daycare ini tidak lebih dari uang yang kau biarkan aku cari sendiri! Aku lembur sampai tidak tidur! Aku bekerja seperti orang gila! Dan sekarang, kau menuduhku berselingkuh karena aku akhirnya bisa membiayai anakku sendiri?!" pekiknya.Wanita itu melangkah maju, tangannya menunjuk Arman. "Coba, jelaskan padaku! Kalau aku berselingkuh, kenapa aku masih sudi mencuci piring kotor di rumah ini? Kenapa aku masih harus
"Apakah kamu sedang berencana untuk selingkuh?" Bu Lastri tiba-tiba muncul di belakang Aira dan membombardir menantunya dengan sederetan pertanyaan yang sangat menyudutkan. Wanita paruh baya itu datang ketika menantunya sedang memikirkan bagaimana cara melancarkan aksinya untuk mengerjakan orderan dari Bima."Aira sedang berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang lebih untuk memberi makan suami dan mertua, Bu." Aira tersenyum simpul. "Halah! Jangan banyak bacot! Kau ini benar-benar menantu kurang ajar." Bu Lastri berkacak pinggang."Apa yang Ibu inginkan? Kenapa Ibu tiba-tiba datang ke toko? Apakah Ibu lapar lagi? Ah, Ibu pasti ingin meminta beberapa roti untuk cemilan kan?""Tidak! Aku datang ke sini untuk meminta uang! Ada iuran RT yang harus dibayarkan sore ini. Cepat! Minta duit!" Bu Lastri mendelik.Tanpa menunggu persetujuan menantunya, sang mertua langsung menghampiri meja kasir dan membuka laci. Dia mengambil beberapa lembar uang dan langsung berlalu pergi begitu saja tanpa
Aira meninggalkan mertuanya begitu saja. Dia tak peduli dengan teriakan wanita paruh baya itu. Aira pergi ke kamarnya.Saat ia membuka pintu kamar. Di dalamnya, ada El yang berusia empat tahun. Bocah itu sedang asyik bermain mobil-mobilan.Untunglah, El bukan anak yang rewel. Biasanya, pagi begini ... dia menunggu Aira kembali dari toko sambil bermain di dalam kamar. Siangnya, biasanya Aira akan membawa anaknya ke toko roti. Meskipun usianya sudah 4 tahun, tapi El belum sekolah. Aira tak ada uang untuk memasukkan anaknya ke PAUD."El, sayang. Mama bawakan nasi bungkus untukmu, Nak," kata Aira dengan lembut, lalu ia menyodorkan nasi bungkus hangat itu kepada putranya.Ia duduk di tepi ranjang yang berderit, sementara Bu Lastri masih mengomel dari luar kamar. Sang mertua terus memaki-maki kemalasan dan ketidakpekaan Aira. Namun, Aira tidak peduli. Ia membiarkan omelan itu menguap begitu saja.Dia memeluk El dengan erat."Makan yang kenyang ya, Sayang. Mama minta maaf, Mama belum sempat
Aira merasakan hiruk-pikuk udara dini hari di Terminal Angkot Jatinegara. Ini adalah pusat keramaian yang tidak pernah tidur, tempat para pencari nafkah memulai hari jauh sebelum matahari terbit.Dia berdiri di sudut yang strategis, di dekat pangkalan ojek, tempat para buruh pabrik yang turun dari angkutan malam transit menuju kendaraan terakhir mereka. Ia menyusun kantong-kantong kertas berisi Roti Panggang Krispi Gula Mentega di atas sebuah kardus bekas. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena rasa cemas bercampur malu.Ia seorang pemilik toko roti yang kini berdiri di pinggir jalan.Aira menyusun kantong-kantong kertas berisi Roti Panggang Krispi Gula Mentega di atas sebuah kardus bekas. Tangannya sedikit gemetar."Lima ratus ribu, Ra. Lima puluh bungkus. Demi besok," bisiknya pada dirinya sendiri.Wanita itu menatap dagangannya. Dia membungkus lebih dari 50 bungkus. "Kalau laku semua, aku pasti bisa mendapatkan uang lebih dari 500 ribu," tandasnya.Pelangg







