Hujan deras mengguyur dataran Luoyuan. Aroma tanah basah bercampur darah membekas di udara, menggantung seperti kabut pekat. Hembusan angin membawa suara denting logam dan teriakan prajurit yang bercampur nyaring dengan gelegar petir dari langit kelam. Di tengah-tengah medan yang porak-poranda oleh jejak kaki kuda dan tubuh bergelimpangan, seorang pria berdiri dengan tombak naga panjang berbalut energi dao, menghadap ratusan pasukan kekaisaran.
Komandan Zhao mengangkat tangan, menghentikan pasukannya saat melihat sosok berjubah kelabu berdiri sendirian di ujung tebing kecil.
“Pendekar,” katanya, suaranya menggema di udara lembap. “Sebutkan namamu. Aku tidak membunuh seseorang tanpa tahu siapa yang kuhabisi.”
Sosok berjubah itu tidak bergerak. Rintik hujan jatuh di pundaknya, tapi ia berdiri tegak, seperti bayangan batu yang menyatu dengan alam. Beberapa saat sunyi, lalu pria itu mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya masih muda, tapi sorot matanya... seperti danau yang menyimpan ribuan tahun badai.
“Kau terlalu banyak bicara,” ujarnya datar. “Anjing kekaisaran memang hobi menggonggong.”
Ia mengangkat tangan, dan dalam satu gerakan cepat, membentuk segel Dao dengan dua jari. Cahaya keemasan muncul dari ujung jari-jarinya, lalu membungkus tubuhnya seperti kabut cahaya.
“Terima ini.” Suara keras menggelegar saat ia menghentakkan kakinya ke tanah dan menggeret tombak naga panjangnya seolah sedang menyanyat tanah.
“Teknik Dao Taraf Kedua: Cakar Naga Mengoyak Surga!”
Dari tanah yang basah, seekor naga emas raksasa muncul, meraung dan menyapu ke arah pasukan Zhao dengan kecepatan mengerikan. Suaranya mengguncang jantung. Angin dari kibasan energinya menyapu pepohonan di kejauhan. Beberapa prajurit tak sempat bereaksi, tubuh mereka terpental ke udara, senjata hancur, dan jeritan kematian menggema ke langit. Barisan depan langsung porak poranda. Beberapa prajurit mundur gemetar, sebagian lain hanya bisa menatap kosong ketika tubuh rekan mereka terlempar ke udara bersama retakan bumi.
Zhao membelalak. “Itu... tidak mungkin…”
Ia menarik pedangnya dan menahan serangan naga emas dengan lapisan qi-nya. Dentuman keras terdengar, dan tanah retak di bawah mereka.
"Pasukan Bersiap! Formasi Penindas Langit!"
Tiga puluh prajurit Dao langsung membentuk lingkaran, membangkitkan energi qi dari pusat telapak tangan ke tanah. Simbol-simbol merah menyala muncul di sekeliling mereka, membentuk penjara dao sementara yang memampatkan tekanan spiritual di sekitarnya.
Di tengah formasi itu, Xu Qian masih berdiri seorang diri. Jubah kelabunya mulai robek di bagian bahu, terkena ledakan sebelumnya. Mata emasnya menatap sekeliling, menilai. Tanah terbelah saat simbol formasi aktif. Deru suara angin bercampur energi dao menggema dari segala arah.
“Ini bukan formasi biasa,” gumam Xu Qian. “Mereka benar-benar ingin memaksaku mengeluarkan segalanya…”
Zhao melangkah ke depan, bayangannya memanjang di tanah lembab.
“Masih belum terlambat untuk menyerah,” katanya, pedangnya bersinar merah darah. “Atau kau ingin anak buahku mati sia-sia demi kesombonganmu?”
Xu Qian tak menjawab. Ia mengangkat dua jarinya, dan menarik napas panjang. "Aku pernah melawan pasukan dua kali lipat jumlah ini di selatan ketika usia baruku dua puluh. Jangan berpikir aku akan takut."
“KAU TERLALU SOMBONG!” Zhao menerjang, pedangnya memotong udara, memicu gelombang tekanan qi yang menggulung seperti badai.
Xu Qian menangkis, lalu melompat mundur. Seketika, tangannya membentuk segel: jari telunjuk dan tengah bersatu, telapak kiri terbuka menghadap langit.
“Teknik Dao taraf ketiga: Hembusan Nafas Langit!”
Angin berkilau emas menyapu dari dalam tubuhnya, mengarah ke barisan luar formasi. Suara raungan naga terdengar samar, tapi nyata. Dua belas prajurit terangkat ke udara, senjata mereka meleleh oleh panas spiritual dari hembusan itu.
Zhao berteriak, "Tahan! Dia hanya satu orang!"
Namun kekuatan Xu Qian bukan dari jumlah jurus, melainkan presisi dan tekanan spiritualnya. Ia menghindar, berputar, menyerang, dan meledakkan tanah di sekitar prajurit kekaisaran. Medan berubah: dari lapangan berlumpur menjadi retakan-retakan besar dan lubang dalam berasap. Serpihan batu beterbangan, formasi mulai bergetar.
Tiba-tiba tekanan spiritual meningkat. Xu Qian bersiap, tapi sudah terlambat. Tombak panjang menyambar dari udara, Pang An telah tiba, tubuhnya melayang di udara, jubahnya berkibar dengan qi yang menggelegak di sekitarnya.
Xu Qian memekik dalam hati. “Sial... terlalu cepat dia tiba!”
Tombak Pang An nyaris menembus dada Xu Qian, tapi ia berhasil melompat ke samping. Tubuhnya terguling, dan saat berdiri, ia sedikit terhuyung.
Pang An mendarat dengan aura gelap menyelimuti tanah. "Jadi inilah pria yang membuat istana harus membekukan misi utara selama lima tahun?" ucapnya dingin.
Pertarungan pun dimulai. Xu Qian dan Pang An bergerak cepat, bak dua bayangan hitam dan emas. Serangan mereka mengguncang udara. Xu Qian menusuk dengan tombaknya lurus ke jantung, namun Pang An memutar tubuh seperti ular, menghindar lalu mengunci tangan kanan Xu Qian dan menghantam lutut ke perutnya. Napas Xu Qian tertahan sesaat, tapi ia memaksa tubuhnya kembali berdiri.
Xu Qian mengeluarkan jurus ketiganya, namun Pang An membalas dengan teknik tekanan Dao tingkat tinggi yang mampu membalik momentum spiritual lawan dalam satu hantaman. Perbedaan satu taraf dao di antara keduanya membuat perbedaan besar. Kaki Xu Qian menyeret tanah, nafasnya mulai berat. Tangan kirinya berdarah.
“Sudah cukup. Ini akhirnya,” desis Pang An, menyiapkan hantaman terakhir dengan energi Dao terkonsentrasi di ujung tombaknya.
Cahaya hitam menyelimuti tombaknya. Udara membeku. Xu Qian tidak bisa bergerak cepat, tubuhnya nyaris terkunci oleh tekanan qi.
Ia menguatkan langkah. Dalam hatinya berkata, "Jika aku tumbang hari ini, biarlah tanah ini mencatat namaku bukan sebagai pembunuh... tapi pelindung."
Lalu...
“Xu Qian!!!” Suara lembut namun penuh kekuatan menyela udara.
Seketika itu juga, langit pecah. Dari balik rerimbunan, bola cahaya biru keperakan meledak, menghancurkan sebagian bukit kecil di belakang Xu Qian. Angin dingin menyapu seluruh lembah. Api biru, tapi bukan api biasa muncul, berpendar dalam tujuh warna menyilaukan: merah, biru, hijau, ungu, putih, emas, dan hitam lembut.
Dari dalam pusaran api itu, muncul seorang wanita berwajah tenang dengan rambut panjang keperakan melayang diterpa energi qi yang mengalir deras. Xu Ling’er. Api di sekelilingnya bukan membakar, tapi membekukan. Tanah yang diinjaknya berubah menjadi kristal es, udara mengembun jadi salju tipis.
Tanpa berkata-kata, ia mengayunkan tangannya. Api Es Tujuh Warna menari, membentuk seekor phoenix kristal yang mengepak dan menabrak gelombang Dao milik Pang An. Ledakan terjadi. Debu mengepul, langit tersibak. Phoenix itu menghantam tanah, meledakkan api dan es ke segala arah. Batuan meleleh dan membeku bersamaan, menciptakan hamparan es biru berkilau di tengah lumpur perang. Xu Qian terdorong ke belakang dan tertahan di pelukan Ling’er.
“Maaf aku terlambat,” bisik Ling’er, nadanya rendah, tapi ada keteguhan di matanya.
Xu Qian menatap istrinya, tersenyum lelah. “Aku sudah bilang, jangan keluar…”
Ling’er menggeleng. “Kau bukan dewa. Aku tak akan membiarkanmu mati tanpaku.”
Pang An berdiri lagi dari balik puing batu. Bajunya terbakar sebagian, wajahnya berdebu. Ia menatap Ling’er, lalu tertawa kecil. “Api Es Tujuh Warna… tak kusangka masih ada pewarisnya.”
Kini, keduanya berdiri berdampingan. Naga Emas dan Phoenix Es berputar di sekitar mereka. Namun pertarungan hanya berlangsung beberapa menit lagi. Tenaga Xu Qian menurun drastis, dan bahkan Api Es Ling’er mulai melemah, nyalanya menurun dari tujuh warna menjadi hanya empat.
Dengan satu serangan kuat dari Pang An yang kali ini membawa kekuatan Dao Penindas Jiwa, Xu Qian dan Ling’er terhempas bersamaan, tubuh mereka terbentur batu dan jatuh ke tanah. Tak bisa bangkit lagi. Pang An berdiri, menghela napas panjang.
"Sayang sekali… kekuatan hebat, tapi terlalu lama mengasingkan diri. Kalian lemah karena cinta.” Ia mengangkat tangan, memberi isyarat. Rantai dao melilit tubuh keduanya, menyegel aliran spiritual mereka.
Namun, sebelum pergi, Pang An menatap mereka sekali lagi. “Identitas kalian... bukan sesuatu yang bisa diadili sembarangan. Aku akan membawamu ke hadapan Kaisar Xuan.”
“Kau anjing kekaisaran, lebih baik bunuh saja kami sekarang!” Ling’er berteriak marah.
“Aku tidak bisa buru-buru membunuhmu, nona muda Kerajaan Es…” Pang An tersenyum sinis, menaikkan kedua pipinya.
Bersambung…
Dalam dunia Benua Dao yang luas dan penuh misteri, kekuatan seseorang tidak diukur dari umur, keturunan, ataupun harta—melainkan dari sejauh mana ia melangkah di jalan kultivasi. Jalan ini dikenal sebagai Dao, jalur yang menghubungkan tubuh fana dengan kekuatan abadi yang mengalir dari langit dan bumi. Kultivasi bukan sekadar latihan jasmani atau penguasaan teknik bertarung, melainkan proses panjang penyatuan diri dengan hukum alam semesta. Dan dalam dunia ini, pencapaian seorang kultivator diukur melalui sepuluh tingkat kemajuan, yang dikenal sebagai Taraf Dao Qi. Setiap taraf bukan hanya representasi kekuatan, tetapi juga refleksi dari kedalaman jiwa, pemahaman terhadap hukum kosmik, dan seberapa jauh seseorang mampu menanggung tekanan spiritual dari Dao itu sendiri.
Di dunia kultivasi, jarak antar tingkat bukan sekadar angka ia adalah jurang. Satu langkah kecil bisa memisahkan nasib manusia dan dewa. Seorang kultivator Taraf Empat puncak bisa memimpin sekte, menggetarkan sebuah negara. Namun begitu menembus Taraf Lima, dunia yang mereka pijak seolah berubah. Langit dan bumi merespons, Dao di sekitarnya menjadi tunduk. Apalagi Taraf Enam itu sudah merupakan makhluk langka di negeri tingkat rendah.Biasanya, seorang pendekar Taraf Enam tidak akan lagi membuang waktu di negeri kultivasi rendah. Mereka memilih pergi ke negara yang lebih tinggi, di mana energi Dao lebih padat, sumber daya lebih kaya, dan lawan lebih layak untuk mengasah diri. Maka dari itu, mendengar nama “Taraf Enam” di negeri seperti Kota Pembantaian adalah hal yang nyaris mustahil.Namun malam itu, di dalam tenda besar Camp Bayangan, sebuah rahasia yang tak seorang pun duga akhirnya terbongkar.Suasana menegang sejak Xu Ming mengucapkan kalimat itu.“Dia sebenarnya adalah seorang p
“Pendekar taraf lima lainnya?!” Suara berat Bai Simi pecah di dalam aula, matanya melebar, cambuk di tangannya bergetar tak terkendali.Kata-kata Xu Ming barusan bergema dalam pikiran semua orang yang hadir. Sesaat, udara di dalam ruangan seakan membeku. Bahkan napas berat prajurit pengawal di tepi aula terdengar jelas.Zhuge Liang menghentikan langkah mondar-mandirnya. Tubuhnya menegang, pupilnya menyempit. “Jadi bukan hanya Shi Tian, Lembah Moyan ternyata menyembunyikan satu lagi pendekar taraf lima?” gumamnya, suara rendahnya penuh ketegangan.Mo Lauzu menggeram, wajah tuanya berkerut semakin dalam. “Gila! Jika benar begitu, maka kekuatan kita selama ini sudah terlalu diremehkan. Kita semua tahu perbedaan puncak taraf empat dan taraf lima bukan sekadar satu tingkat.”Ketua Sekte Pengemis menambahkan dengan suara berat, tongkat bambu di tangannya menekan lantai. “melainkan jurang hidup dan mati. Bahkan mereka yang sudah bertahun-tahun di puncak taraf empat masih terjebak tanpa harap
Di atas langit, dua sosok masih bertarung sengit. Zhuge Liang, penguasa Kota Pembantaian, melayang dengan jubah berkibar, tombak peraknya menahan gempuran pedang hitam Shi Tian yang berlumuran aura iblis. Kedua pendekar itu seperti dewa perang yang saling mengiris langit. Xu Ming mendongak, pupilnya berkilat. Suara transmisinya menembus medan, langsung ke telinga Zhuge Liang.“Tuan Kota, kita sebaiknya mundur terlebih dahulu.”Zhuge Liang terperanjat, hampir kehilangan ritme serangannya. “Mund-mundur?!” serunya melalui transmisi. “Kenapa?! Kita belum kalah!”Xu Ming mengatupkan giginya, suaranya dalam dan penuh keyakinan. “Percayalah kepadaku, Tuan Kota! Saat ini, bertahan lebih lama hanya akan mengundang kehancuran. Aku punya cara untuk membalikkan keadaan, tapi kita harus mundur terlebih dahulu!”WHUUUMMMM!!! Langit berguncang saat Shi Tian menghantam dengan pedang hitamnya. Aura iblis meluap liar, melilit tubuhnya seperti kabut neraka. Tatapan matanya menyala buas, penuh amarah.“B
Whuushhh!!! Xu Ming menebarkan sayap naga es dan api dari manifestasi Dao-nya, tubuhnya melesat seperti anak panah. Lelaki tua itu menyilangkan tangan, melepaskan racun kental seperti kabut rawa, lalu menghantamkannya lurus ke dada Xu Ming. Duaarrr!!! Tubuh mereka berdua terpental bersamaan! Xu Ming menghantam pilar batu hingga retak, sementara lelaki tua itu menjejak lantai keras, meninggalkan bekas telapak kaki yang berasap korosif.Napas Xu Ming terengah, namun matanya masih bersinar tajam. Wajah lelaki tua itu pucat, keringat dingin bercampur darah mengalir di pelipisnya. Ia mendengus keras, dada naik-turun seperti tempa besi yang kehabisan arang.“Kau bajingan kecil!” lelaki tua itu meraung. “Bagaimana mungkin bocah sepertimu bisa mengimbangi Dao-ku?!”Xu Ming menyeringai bengis, meski darah menetes di sudut bibirnya. “Mungkin kau terlalu lama duduk menjaga reruntuhan ini, tua bangka. Sementara aku terus melangkah maju.”BOOMM!!! Aura keduanya meledak kembali, tapi kali ini lebi
Sha Bhu menggenggam pedang tembaganya dengan sisa tenaga. Lututnya bergetar, darah segar terus menetes dari mulutnya, matanya yang buram menatap kehancuran yang sebentar lagi menimpanya.“Sepertinya, sampai di sini aku…” gumamnya lirih.Namun, tepat saat pusaran racun itu hendak menghantam, udara berubah. SSHHHHHHH! Suhu mendadak anjlok. Bersamaan dengan itu, kabut racun yang mengamuk tiba-tiba melambat, lalu membeku. Kristal es putih kebiruan merebut setiap tetes racun dari udara, membalutnya dengan lapisan beku yang berkilau dingin. Desis korosif lenyap, diganti dengan suara retakan es yang merambat cepat di sepanjang pusaran racun.“Teknik Dao Taraf Pertama : Medan Pembekuan Ekstrem!” Suara muda itu bergema lantang, menyapu seluruh lorong reruntuhan.Salju turun perlahan, butir-butir putih melayang lembut, namun membawa tekanan Dao yang menusuk tulang. Seolah musim dingin pertama baru saja turun ke dalam gua magma yang penuh racun.Kabut hijau pekat itu, yang seharusnya menelan Sha
Cahaya merah muda bercampur hitam yang menyelimuti tubuh Xu Ming perlahan meredup, menyusut masuk ke dalam pori-pori tubuhnya. Nafasnya stabil, meridian di dalam tubuhnya berdenyut dengan kekuatan baru. Kesadarannya kembali penuh. Ia membuka mata. Pupil hitamnya kembali jernih, namun wajahnya masih menyimpan kebingungan setelah pengalaman terobosan barusan.Yang pertama ia lihat bukanlah naga purba, bukan pula ruang spiritual, melainkan sosok mungil yang berdiri di udara dengan kedua tangan bertolak pinggang—Bing-Bing. Rambut peraknya melayang indah, tapi tatapan matanya… seperti hendak memakan Xu Ming hidup-hidup.BRAK! Tinju mungil Bing-Bing menghantam kepala Xu Ming.“Kau selalu saja membuatku hampir mati ketakutan tiap kali kau mendapat ‘keajaiban’!” teriaknya dengan wajah merah padam. “Apa kau tahu betapa paniknya diriku saat melihatmu mendadak hilang kesadaran, pupilmu putih seperti boneka mayat, sementara tubuhmu hampir meledak karena lahar panas?!”Xu Ming meringis sambil meng