MasukTemuan nomor registrasi mobil operasional panti asuhan pada lembar kendali katering membuat suasana malam di apartemen kembali tegang. Reyhan mondar-mandir di ruang tengah dengan rahang mengetat, memegang salinan berkas yang baru saja diteliti bersama Malikha. Kuasa sebagai CEO bergejolak di dalam dadanya, mendesak untuk segera digunakan demi memotong paksa kelicikan para sepupu.
"Ini sudah keterlaluan, Malikha. Cynthia dan kaki tangan Om Burhan jelas merencanakan sabotase fisik menggu
Telepon dari Pak Maman terputus dengan menyisakan ketegangan baru yang merayap di ruang tengah apartemen. Reyhan menatap gawai di tangannya dengan rahang yang mengeras, sementara Malikha mengembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak berpacu cepat. Ancaman dari utusan Paman Arkan kepada saksi kunci mereka adalah bukti nyata bahwa kubu lawan tidak akan pernah membiarkan kebenaran terungkap dengan mudah."Kita harus berangkat sekarang, Malikha," ucap Reyhan, suaranya terdengar mendesak saat ia mengambil kunci mobil di atas meja pantry. "Aku tidak bisa membiarkan keselamatan Pak Maman terancam karena membantu kita. Aku akan membawa tim keamanan pribadi untuk mengamankan draf buku manual biru itu sebelum orang-orang Paman Arkan merebutnya secara paksa."Malikha segera berdiri dan melangkah ke hadapan Reyhan, menghalangi langkah suaminya dengan kelembutan yang tegas. "Mas Reyhan, tolong tahan dir
Pagi hari di luar jendela apartemen tampak mendung, namun di dalam ruang tengah, Malikha sibuk menata beberapa lembar draf kertas di atas karpet. Meskipun statusnya masih dibekukan secara permanen dari divisi sosial kantor pusat, ia menolak untuk sekadar meratapi nasib. Masa skorsing ini justru digunakannya sebagai kesempatan berharga untuk bergerak secara mandiri tanpa terikat oleh birokrasi Al-Fahri yang sedang dikuasai faksi Laras.Reyhan berjalan mendekat membawa secangkir kopi, lalu duduk bersila di samping istrinya. Matanya menatap tumpukan catatan tulisan tangan Malikha yang sangat rapi. Ada rasa kagum sekaligus sesak di dadanya melihat wanita itu tetap tegar di tengah badai fitnah yang menimpanya."Kamu tidak beristirahat, Malikha?" tanya Reyhan, suaranya melembut, penuh dengan perhatian hangat yang tulus. "Kamu sudah terjaga sejak sebelum subuh untuk merapikan semua draf kronologi ini.""
Malam semakin larut di ruang kerja sekunder apartemen mereka. Lembaran catatan manual tentang Pak Maman dan peta lokasi gudang arsip lama di pinggiran kota terhampar di atas meja kayu yang diterangi lampu temaram. Reyhan menatap skema tersebut dengan dahi berkerut, menimbang-nimbang setiap risiko yang bisa menghancurkan sisa pertahanan mereka."Jika kita bergerak lambat dengan hanya mencari Pak Maman terlebih dahulu, kita akan kehabisan waktu, Malikha," ucap Reyhan, suaranya mengandung kecemasan yang berat. "Sidang pleno lanjutan dewan komisaris utama akan dilaksanakan dalam empat puluh delapan jam. Sementara itu, faksi Laras bergerak sangat cepat dengan menggunakan pengaruh media internal mereka. Aku bisa meminta Hendra menyewa penyelidik swasta untuk melacak Pak Maman malam ini juga, dan sedikit mendesak saksi-saksi lain dengan kompensasi finansial agar mereka mau bicara jujur."Malikha yang sedang menyeduh teh hangat seger
"Sistem luring di luar kantor pusat," bisik Reyhan, suaranya memecah kesunyian sepertiga malam di ruang tengah. Ia menatap Malikha yang masih terjaga di sampingnya dengan binar mata yang mendadak hidup kembali. "Malikha, mutasi palsu itu mencantumkan tanggal transaksi sepuluh tahun lalu, tepat pada bulan transisi dari sistem manual ke digital. Semua data masa transisi itu disimpan luring di arsip sekunder."Malikha mengerutkan keningnya, mencoba mencerna penjelasan suaminya dengan saksama. "Arsip sekunder? Bukankah akses digital kita ke database yayasan sudah ditutup sepenuhnya oleh dewan utama setelah sidang pleno siang tadi, Mas?""Akses digital memang ditutup, tetapi arsip fisik sekunder itu berada di tempat yang berbeda," jawab Reyhan, suaranya merendah demi menjaga kerahasiaan situasi mereka. "Data itu disimpan di sebuah gudang penyimpanan kecil milik keluarga di wilayah pinggiran kota. Hanya segelintir orang tua di dewa
Malam melarut tanpa suara di dalam apartemen. Setelah kabar tentang hangusnya ruang arsip panti asuhan diterima, tidak ada lagi perdebatan atau kepanikan yang meledak. Hanya ada kesunyian yang tebal, jenis sunyi yang lahir ketika sepasang manusia menyadari bahwa seluruh jalan keluar yang mereka rancang telah tertutup rapat.Reyhan duduk bersandar di lantai ruang tengah, meluruskan kakinya dengan kepala bersandar pada tepian sofa. Dasinya sudah lama ditarik lepas, menyisakan kerah kemeja yang terbuka berantakan. Di hadapannya, Malikha sedang melipat mukena dengan gerakan yang sangat lambat setelah menyelesaikan salat malamnya."Aku minta maaf, Malikha," ucap Reyhan memecah kesunyian, suaranya terdengar begitu lirih dan sarat akan rasa bersalah yang mendalam. "Aku adalah suamimu, pemimpin di rumah ini, dan juga CEO di perusahaan itu. Tapi saat mereka mempermalukanmu dan merampas seluruh pekerjaanmu siang tadi, aku hanya bisa du
Sidang pleno luar biasa dewan komisaris utama Al-Fahri akhirnya digelar secara tertutup. Ruang rapat utama yang sunyi itu dipenuhi oleh tatapan dingin para tetua keluarga. Di ujung meja, Om Hamzah memimpin sidang dengan wajah yang sangat datar. Sementara Laras duduk di sisi berseberangan, melipat tangannya dengan senyum tipis yang sarat akan kepuasan tersembunyi.Reyhan duduk di samping Malikha, mencengkeram lututnya sendiri dengan kepalan tangan yang kaku. Konflik batin di dadanya bergejolak hebat antara keinginan untuk meledak dan kepasrahan atas taruhan syarat berat yang mereka terima kemarin. Di hadapan mereka, tumpukan berkas mutasi palsu yang menuduh Malikha menggelapkan dana panti asuhan telah tersebar ke setiap anggota dewan."Kami sudah memberikan waktu tiga hari untuk membawa bukti fisik asli dari bank daerah dan saksi kunci," ucap Om Hamzah, suaranya mengalun berat tanpa kehangatan. "Namun, sampai detik ini, Pak Us
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela apartemen, membawa kehangatan yang berbeda setelah badai di meja makan Al-Fahri mereda. Di dapur kecil itu, keheningan bukan lagi tentang keterasingan batin, melainkan ketenangan yang matang. Malikha berdiri di depan kompor, membalik dadar t
Sebagai karyawan baru di divisi administrasi lantai lima, Malikha benar-benar menjaga janjinya. Tidak ada yang tahu jika wanita berhijab sederhana itu adalah istri sah dari CEO tertinggi di gedung ini. Namun, menyamar menjadi orang biasa ternyata mengundang badai yang tidak terduga.Sejak hari pert
Ketegangan di ruang tamu rumah sederhana itu membuat dada Malikha terasa sesak. Di hadapannya, sang ibu tiri bersama saudara tirinya menatap dengan pandangan menuntut yang begitu dingin."Jangan egois, Malikha! Keluarga kita sedang terlilit utang besar. Menikah dengan pria pilihan Ibu adalah satu-s
Bertahun-tahun terlilit hutang, disiksa ibu tirinya hingga Ia lelah bekerja dan terpojokkan ketika semua utang itu akhirnya menumpuk. Ketika semuanya perlu dibayarkan segera, Malikha tidak pernah menyangka Ia sepasrah ini.Ia akan melakukan suatu hal gila dengan bosnya sendiri demi kepentingan masi







