ANMELDEN"Oh, di sini kamu rupanya! Meringkuk seperti raja di atas kasur!" semprot Marni tanpa basa-basi, matanya melotot menatap Adam yang terbaring berselimut.
"Ada apa, Bu? Saya sedang tidak bisa jalan, kaki saya terkilir parah," sahut Adam berusaha menetralkan suaranya yang masih agak berat dan bergetar akibat gairah yang terputus mendadak.
Marni mendengus keras, melangkah masuk dua pijakan tanpa memedulikan penderitaan menantunya. "Alasan saja! Cuma terkilir sedikit saja manja sekali sampai tidak bisa bangun! Kamu tahu tidak, gara-gara kamu tidak memasak sarapan tadi pagi, perut Ibu sekarang sakit kena maag!"
Marni lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alya yang berdiri menunduk di dekat nakas.
"Heh, Pembantu Baru!" bentak Marni ketus. "Kenapa kamu lama sekali di kamar ini? Apa yang kamu lakukan?"
Alya mendongak sedikit, memasang raut wajah takut dan serba salah. "M-maaf, Bu... Saya cuma mengantarkan bubur hangat untuk Pak Adam, dan membantu mengambilkan obat oles karena kaki Beliau memar berat."
"Obat oles obat oles! Tidak usah terlalu dimanja laki-laki ini!" cerocos Marni galak sambil menunjuk wajah Adam dengan telunjuknya. "Dia itu cuma akting biar bisa malas-malasan di rumah! Kamu itu dibayar untuk bersihkan rumah, bukan jadi suster pribadi dia!"
"Baik, Bu... Maafkan saya," jawab Alya pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Sudah! Sekarang kamu ikut Ibu ke dapur! Buatkan Ibu teh hangat dan siapkan makanan! Ibu lapar!" perintah Marni melambaikan tangannya mengusir Alya dari kamar.
"Baik, Bu, saya segera ke dapur," pamit Alya dengan suara lembut. Sebelum berbalik melangkah keluar mengikuti Marni, Alya sempat melirik sekilas ke arah Adam melalui sudut matanya.
Sebuah kerlingan mata yang sangat tipis dan penuh arti dilemparkan Alya kepada Adam. Sebuah sinyal rahasia yang menegaskan bahwa urusan di antara mereka berdua di atas ranjang ini... masih jauh dari kata selesai.
Adam tertegun menatap kepergian Alya. Dadanya masih bergemuruh hebat, ditinggalkan sendirian di dalam kamar dengan sisa-sisa sensasi panas yang masih tertinggal di pahanya dan tanda tanya besar yang kini menggantung di dalam benaknya.
Perlahan tapi pasti, sensasi hangat dari krim otot buatan Alya mulai bekerja secara ajaib pada pergelangan kaki dan lutut Adam. Rasa nyeri menusuk yang tadinya membuat tubuhnya kaku dan tak berdaya kini menyusut secara drastis. Adam mencoba menggerakkan jemari kakinya, lalu perlahan menekuk lututnya. Rasa sakitnya memang belum sepenuhnya hilang, tetapi sendi-sendinya terasa jauh lebih leluasa untuk digerakkan.
Adam mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang kusam. Batinnya bergejolak hebat.
Di satu sisi, ada rasa bersalah yang menusuk dadanya ketika teringat bagaimana tubuhnya memberikan reaksi biologis tak terkontrol saat jemari Alya menyentuh area pangkal pahanya. Bagaimanapun juga, ia masih seorang suami sah dari seorang wanita bernama Mira.
Namun, bayangan rasa bersalah itu seketika sirna berganti desakan amarah ketika ingatan tentang hotel tadi pagi berputar ulang di kepalanya. Pemandangan Mira yang tertawa manja di pelukan Kevin, ciuman panas mereka di bawah sorotan lampu lobi, hingga rentetan makian pedas dan tendangan yang dilayangkan istrinya semalam, semuanya menampar kesadaran Adam.
“Untuk apa aku merasa bersalah pada wanita yang jelas-jelas menjual harga dirinya demi pria lain? Dia yang mengkhianatiku, dia yang membuangku seperti sampah. Bukan aku yang harus merasa berdosa di rumah ini.” batin Adam mengeraskan rahang.
Perasaan utang budi pada Alya justru terasa jauh lebih nyata. Dalam hitungan jam sejak kedatangannya, gadis pembantu itu telah memberikannya perhatian dan bantuan tulus yang tak pernah ia dapatkan dari istrinya selama bertahun-tahun.
Dengan tekad yang mantap, Adam meraih celana kain dan kaos polos dari laci lemari. Ia memakainya perlahan, memastikannya terpasang rapi, lalu mencoba melangkah menuju pintu. Senyum tipis terukir di bibirnya saat merasakan kakinya sudah bisa menapak di lantai, meski masih ada sedikit rasa ganjal saat melangkah.
Adam berniat menuju dapur. Ia tahu betul betapa beratnya memegang seluruh pekerjaan rumah tangga sendirian, mulai dari menyiapkan makanan Marni yang serba menuntut hingga merapikan rumah yang luas. Ia tidak ingin pembantu barunya itu kelelahan, terlebih Alya telah berbaik hati menolongnya.
Langkah Adam yang masih lelah membawanya menyusuri lorong menuju area dapur. Meski pelan, tapi setidaknya kondisi kakinya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Dari jarak beberapa meter,dia melihat Alya sedang berdiri membelakanginya, sibuk mencuci piring-piring kotor di atas bak cuci.
"Loh, Pak Adam kok keluar kamar. Bukannya istirahat? Kakinya belum sembuh loh," tanya Alya terkejut saat menoleh dan melihat keberadaan majikannya.
Adam tersenyum lembut, melangkah mendekat ke arah meja konter dapur. "Sudah kok. Ini sudah enak dibuat jalan. Makasih ya, semua berkat pijatan kamu," jawab Adam jujur dengan nada penuh rasa syukur.
Alya menghentikan usapan busanya pada piring, lalu mengelap tangannya dengan serbet bersih. Matanya menatap kaki Adam yang kini bisa menumpu beban tubuh dengan jauh lebih stabil.
Namun, di balik tatapan polosnya, pikiran Alya berputar cepat. Ia mengingat dendam dan sakit hatinya pada Mira yang telah masuk dalam rumah tangganya. Melihat Adam yang begitu polos dan rentan adalah jalan sempurna baginya untuk meremukkan kebahagiaan Mira dari dalam.
"Nggak perlu berterima kasih, Pak. Soalnya, pijatanku sebenarnya belum tuntas," terang Alya sengaja. Suaranya mengalun rendah, bernada manja yang terselubung rapi di balik kesopanan seorang pelayan.
Adam menaikkan alisnya, rasa heran mendadak hinggap di dadanya. "Maksud kamu? Kamu akan memijatku lagi?" kejut Adam.
"Iya, Pak. Urat syaraf di pangkal paha Bapak masih ada yang perlu diurut biar nggak bikin nyeri. Dan perlu diulang 2 sampai 3 kali," jelas Alya tanpa ragu, menatap lurus ke dalam mata Adam dengan kedalaman yang menghipnotis.
Degh!
Adam terkejut. Jantungnya mendadak berdegup kencang, memukul dadanya dengan hantaman yang begitu keras. Kepala dan batin Adam seketika bergemuruh hebat, membayangkan bagaimana jemari halus Alya akan kembali merayap naik, mengusap area paling sensitif di pangkal pahanya, persis seperti kejadian membakar di kamar tidur tadi.
Usai menghadiri pemakaman dan memberikan penghormatan terakhir di rumah duka, Adam kembali ke rumah sakit untuk menjaga Adel. Sepanjang perjalanan di dalam mobil hingga duduk di sebelah ranjang perawatan putrinya, pikiran Adam sama sekali tidak bisa tenang. Perasaan ganjil yang menyengat dadanya saat berhadapan langsung dengan Diva di rumah duka terus berputar hebat di dalam kepalanya.Setiap detail dari sosok Diva, aroma parfumnya yang halus, cara wanita itu menatap matanya, ketenangan di balik duka, hingga intonasi suaranya yang lembut namun berwibawa—sungguh membawanya pada sosok Alya. Kejanggalan itu terlalu nyata untuk sekadar dianggap sebagai ilusi atau ilusi rasa rindu.Tak sanggup lagi menahan gejolak rasa penasaran yang menghimpit dadanya, Adam merogoh ponselnya. Jemarinya bergerak mengetik sebuah pesan singkat untuk Alya. Kali ini, untuk pertama kalinya, bukan berita perkembangan kesehatan Adel yang ingin ia bagikan, melainkan sebuah pengakuan jujur dari dalam sanubarinya.
Dalam hitungan jam, berita duka mengenai tewasnya Kevin melesat cepat menembus jaringan media dan jagat bisnis ibu kota. Kabar tragis itu menjadi topik hangat di berbagai saluran berita pagi. Di kediaman utama, Orang Tua Diva dan Diva sendiri yang masih diliputi rasa syok luar biasa, langsung meluncur menggunakan iring-iringan mobil menuju Rumah Sakit Bhayangkara.Biar bagaimanapun dendam dan kekecewaan membakar hati mereka, gugatan cerai resmi Diva belum sempat dikabulkan oleh pengadilan. Secara hukum dan lembaran negara, Kevin masih berstatus sebagai suami sah Diva. Tanggung jawab moral dan kepengurusan jenazah sepenuhnya jatuh ke tangan keluarga besar Holding Pusat.Di kamar jenazah, tim kepolisian dan forensik memaparkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara terperinci kepada Diva dan kedua orang tuanya. Dugaan murni kecelakaan akibat kelalaian pribadi makin menguat. Petugas menemukan jejak tanah licin dan bekas geseran sepatu yang signifikan di pinggir fondasi pembata
Malam makin larut tatkala kendaraan hitam yang membawa Diva akhirnya melintasi gerbang besi tinggi kediaman utamanya. Keheningan rumah megah yang biasanya menenangkan kini terasa bagaikan penjara yang dingin dan mencekam. Diva melangkah masuk dengan gontai, menaiki tangga melingkar menuju kamar utamanya dengan sisa-sisa tenaga yang terkuras habis.Pikirannya berkecamuk hebat, saling bertabrakan bagaikan benang kusut yang mustahil diurai. Bayangan ketulusan Adam dan tatapan polos Adel di rumah sakit terus membayangi benaknya, beradu dengan kekacauan laporan keuangan Holding Pusat yang ditinggalkan Kevin dalam kondisi berantakan. Ditambah lagi dengan reruntuhan rumah tangganya yang baru saja roboh total siang tadi, beban di pundak Diva terasa begitu menghimpit dada.Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang berukuran king-size, memandangi ruang kamar yang kini terasa teramat luas dan hampa. Sesuai rencana awal bersama tim pengacaranya, Diva sebenarnya berniat melaporkan Kevin ke pihak ke
Begitu melangkah keluar dari area lobi utama Rumah Sakit Medika, Alya bergegas menuju sudut lorong taman yang sepi dan remang. Dengan gerakan cepat, ia merogoh ponsel khususnya, menekan tombol panggil cepat menuju satu-satunya orang yang memegang kunci rahasia kehidupannya."Rian, jemput aku sekarang di pintu samping rumah sakit," perintah Diva singkat, mengembalikan intonasi suaranya yang dingin dan berwibawa."Baik, Nyonya Diva. Saya sudah berada di area parkir luar, dua menit lagi saya tiba," jawab Rian sigap dari balik telepon.Tak sampai tiga menit, sebuah mobil sedan hitam ber kaca gelap berhenti mulus tepat di hadapan Diva. Wanita itu membuka pintu belakang, melangkah masuk, dan menyandarkan tubuhnya yang letih di atas jok kulit yang empuk. Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi seluruh kebisingan dunia luar.Saat kendaraan mewah itu mulai melaju membelah gemerlap lampu jalanan kota malam hari, Diva melepaskan kacamata tebal bertangkai hitam dan wig kusamnya. Jemarinya yan
Mesin-mesin pemantau medis di dalam ruang ICU kembali berbunyi ritmis dengan nada yang stabil. Setelah melewati gejolak emosi dan rentetan rasa sakit yang menguras energinya, Adel akhirnya terlelap. Napas anak kecil itu mengalun teratur di balik masker oksigennya, membawa ketenangan tipis yang amat sangat disyukuri di dalam ruangan steril tersebut.Adam mengusap dahi putrinya sekali lagi, memastikan selimut tebal membungkus tubuh mungil itu dengan sempurna, lalu berbalik mengajak Alya keluar secara perlahan agar tidak mengganggu tidur Adel.Begitu pintu tebal ICU tertutup di belakang mereka, suasana koridor lantai lima kembali menyergap dengan keheningan yang dingin. Adam berdiri menghadap Alya, menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan raut wajah yang diliputi rasa bersalah yang mendalam."Alya... aku sungguh-sungguh minta maaf," ujar Adam dengan suara rendah yang parau. Pria tegap itu mengepalkan tangannya di samping tubuh, menyembunyikan rasa canggung yang mendera. "Permintaan Ad
Lidah Alya terasa sangat kaku, membeku di balik rongga mulutnya yang mendadak terasa amat kering. Kata-kata yang biasanya tersusun begitu rapi dan tajam saat menghadapi negosiasi bisnis tingkat tinggi kini menguap tanpa bekas.Dua dunia yang bertolak belakang bertabrakan dahsyat di dalam benaknya. Baru beberapa jam yang lalu, di rumah utamanya, ia mengambil keputusan besar untuk menggugat cerai Kevin dan menendang pria pengkhianat itu keluar dari silsilah hidupnya. Namun kini, di dalam ruang ICU yang serba steril dan dingin ini, seorang anak kecil tak berdosa baru saja melontarkan permohonan yang tak kalah dahsyat: memintanya menikah dengan Adam dan menjadi ibunya.Dilema hebat meremas-remas dada Diva di balik penyamarannya sebagai Alya. Ini bukan pilihan yang mudah. Jika ia menjawab ya hanya demi menyenangkan hati Adel di saat kritis, ia sadar betul risiko kebohongannya kelak. Bagaimanakah ia bisa menepati janji itu saat identitas aslinya sebagai Diva, seorang pemilik perusahaan te







