Share

Bab 7

Author: Mr. Kis
last update publish date: 2026-08-20 22:18:31

​"Oh, di sini kamu rupanya! Meringkuk seperti raja di atas kasur!" semprot Marni tanpa basa-basi, matanya melotot menatap Adam yang terbaring berselimut.

​"Ada apa, Bu? Saya sedang tidak bisa jalan, kaki saya terkilir parah," sahut Adam berusaha menetralkan suaranya yang masih agak berat dan bergetar akibat gairah yang terputus mendadak.

​Marni mendengus keras, melangkah masuk dua pijakan tanpa memedulikan penderitaan menantunya. "Alasan saja! Cuma terkilir sedikit saja manja sekali sampai tidak bisa bangun! Kamu tahu tidak, gara-gara kamu tidak memasak sarapan tadi pagi, perut Ibu sekarang sakit kena maag!"

​Marni lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alya yang berdiri menunduk di dekat nakas.

​"Heh, Pembantu Baru!" bentak Marni ketus. "Kenapa kamu lama sekali di kamar ini? Apa yang kamu lakukan?"

​Alya mendongak sedikit, memasang raut wajah takut dan serba salah. "M-maaf, Bu... Saya cuma mengantarkan bubur hangat untuk Pak Adam, dan membantu mengambilkan obat oles karena kaki Beliau memar berat."

​"Obat oles obat oles! Tidak usah terlalu dimanja laki-laki ini!" cerocos Marni galak sambil menunjuk wajah Adam dengan telunjuknya. "Dia itu cuma akting biar bisa malas-malasan di rumah! Kamu itu dibayar untuk bersihkan rumah, bukan jadi suster pribadi dia!"

​"Baik, Bu... Maafkan saya," jawab Alya pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Sudah! Sekarang kamu ikut Ibu ke dapur! Buatkan Ibu teh hangat dan siapkan makanan! Ibu lapar!" perintah Marni melambaikan tangannya mengusir Alya dari kamar.

​"Baik, Bu, saya segera ke dapur," pamit Alya dengan suara lembut. Sebelum berbalik melangkah keluar mengikuti Marni, Alya sempat melirik sekilas ke arah Adam melalui sudut matanya.

​Sebuah kerlingan mata yang sangat tipis dan penuh arti dilemparkan Alya kepada Adam. Sebuah sinyal rahasia yang menegaskan bahwa urusan di antara mereka berdua di atas ranjang ini... masih jauh dari kata selesai.

​Adam tertegun menatap kepergian Alya. Dadanya masih bergemuruh hebat, ditinggalkan sendirian di dalam kamar dengan sisa-sisa sensasi panas yang masih tertinggal di pahanya dan tanda tanya besar yang kini menggantung di dalam benaknya.

Perlahan tapi pasti, sensasi hangat dari krim otot buatan Alya mulai bekerja secara ajaib pada pergelangan kaki dan lutut Adam. Rasa nyeri menusuk yang tadinya membuat tubuhnya kaku dan tak berdaya kini menyusut secara drastis. Adam mencoba menggerakkan jemari kakinya, lalu perlahan menekuk lututnya. Rasa sakitnya memang belum sepenuhnya hilang, tetapi sendi-sendinya terasa jauh lebih leluasa untuk digerakkan.

​Adam mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang kusam. Batinnya bergejolak hebat. 

Di satu sisi, ada rasa bersalah yang menusuk dadanya ketika teringat bagaimana tubuhnya memberikan reaksi biologis tak terkontrol saat jemari Alya menyentuh area pangkal pahanya. Bagaimanapun juga, ia masih seorang suami sah dari seorang wanita bernama Mira.

​Namun, bayangan rasa bersalah itu seketika sirna berganti desakan amarah ketika ingatan tentang hotel tadi pagi berputar ulang di kepalanya. Pemandangan Mira yang tertawa manja di pelukan Kevin, ciuman panas mereka di bawah sorotan lampu lobi, hingga rentetan makian pedas dan tendangan yang dilayangkan istrinya semalam, semuanya menampar kesadaran Adam.

“​Untuk apa aku merasa bersalah pada wanita yang jelas-jelas menjual harga dirinya demi pria lain? Dia yang mengkhianatiku, dia yang membuangku seperti sampah. Bukan aku yang harus merasa berdosa di rumah ini.” batin Adam mengeraskan rahang.

​Perasaan utang budi pada Alya justru terasa jauh lebih nyata. Dalam hitungan jam sejak kedatangannya, gadis pembantu itu telah memberikannya perhatian dan bantuan tulus yang tak pernah ia dapatkan dari istrinya selama bertahun-tahun.

​Dengan tekad yang mantap, Adam meraih celana kain dan kaos polos dari laci lemari. Ia memakainya perlahan, memastikannya terpasang rapi, lalu mencoba melangkah menuju pintu. Senyum tipis terukir di bibirnya saat merasakan kakinya sudah bisa menapak di lantai, meski masih ada sedikit rasa ganjal saat melangkah.

​Adam berniat menuju dapur. Ia tahu betul betapa beratnya memegang seluruh pekerjaan rumah tangga sendirian, mulai dari menyiapkan makanan Marni yang serba menuntut hingga merapikan rumah yang luas. Ia tidak ingin pembantu barunya itu kelelahan, terlebih Alya telah berbaik hati menolongnya.

​Langkah Adam yang masih lelah membawanya menyusuri lorong menuju area dapur. Meski pelan, tapi setidaknya kondisi kakinya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Dari jarak beberapa meter,dia melihat Alya sedang berdiri membelakanginya, sibuk mencuci piring-piring kotor di atas bak cuci.

​"Loh, Pak Adam kok keluar kamar. Bukannya istirahat? Kakinya belum sembuh loh," tanya Alya terkejut saat menoleh dan melihat keberadaan majikannya.

​Adam tersenyum lembut, melangkah mendekat ke arah meja konter dapur. "Sudah kok. Ini sudah enak dibuat jalan. Makasih ya, semua berkat pijatan kamu," jawab Adam jujur dengan nada penuh rasa syukur.

​Alya menghentikan usapan busanya pada piring, lalu mengelap tangannya dengan serbet bersih. Matanya menatap kaki Adam yang kini bisa menumpu beban tubuh dengan jauh lebih stabil. 

Namun, di balik tatapan polosnya, pikiran Alya berputar cepat. Ia mengingat dendam dan sakit hatinya pada Mira yang telah masuk dalam rumah tangganya. Melihat Adam yang begitu polos dan rentan adalah jalan sempurna baginya untuk meremukkan kebahagiaan Mira dari dalam.

​"Nggak perlu berterima kasih, Pak. Soalnya, pijatanku sebenarnya belum tuntas," terang Alya sengaja. Suaranya mengalun rendah, bernada manja yang terselubung rapi di balik kesopanan seorang pelayan.

​Adam menaikkan alisnya, rasa heran mendadak hinggap di dadanya. "Maksud kamu? Kamu akan memijatku lagi?" kejut Adam.

​"Iya, Pak. Urat syaraf di pangkal paha Bapak masih ada yang perlu diurut biar nggak bikin nyeri. Dan perlu diulang 2 sampai 3 kali," jelas Alya tanpa ragu, menatap lurus ke dalam mata Adam dengan kedalaman yang menghipnotis.

Degh!

​Adam terkejut. Jantungnya mendadak berdegup kencang, memukul dadanya dengan hantaman yang begitu keras. Kepala dan batin Adam seketika bergemuruh hebat, membayangkan bagaimana jemari halus Alya akan kembali merayap naik, mengusap area paling sensitif di pangkal pahanya, persis seperti kejadian membakar di kamar tidur tadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 7

    ​"Oh, di sini kamu rupanya! Meringkuk seperti raja di atas kasur!" semprot Marni tanpa basa-basi, matanya melotot menatap Adam yang terbaring berselimut.​"Ada apa, Bu? Saya sedang tidak bisa jalan, kaki saya terkilir parah," sahut Adam berusaha menetralkan suaranya yang masih agak berat dan bergetar akibat gairah yang terputus mendadak.​Marni mendengus keras, melangkah masuk dua pijakan tanpa memedulikan penderitaan menantunya. "Alasan saja! Cuma terkilir sedikit saja manja sekali sampai tidak bisa bangun! Kamu tahu tidak, gara-gara kamu tidak memasak sarapan tadi pagi, perut Ibu sekarang sakit kena maag!"​Marni lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alya yang berdiri menunduk di dekat nakas.​"Heh, Pembantu Baru!" bentak Marni ketus. "Kenapa kamu lama sekali di kamar ini? Apa yang kamu lakukan?"​Alya mendongak sedikit, memasang raut wajah takut dan serba salah. "M-maaf, Bu... Saya cuma mengantarkan bubur hangat untuk Pak Adam, dan membantu mengambilkan obat oles karena kaki Beliau

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 6

    Alya yang sejak awal fokus memperhatikan Adam, tentu bisa melihat respons tubuh majikannya yang mulai gelisah. Gerakan dadanya yang kian naik turun secara memburu, napasnya yang terengah-engah halus, serta otot paha yang mendadak menegang keras adalah sinyal yang sangat jelas.​Ketika mata Alya melirik sekilas ke arah bagian inti tubuh Adam yang makin menonjol, senyum tipis yang penuh kemenangan terkembang sangat tipis di sudut bibirnya. Begitu samar hingga Adam yang sedang memejamkan mata rapat-rapat tidak akan mungkin menyadarinya.​Dinding pertahanan pria yang katanya letoy dan tidak perkasa ini rupanya begitu rapuh. Hinaan Mira yang menyebut suaminya tidak berguna di atas ranjang seketika terpatahkan di depan mata Alya. Yang ada di hadapannya saat ini hanyalah seorang lelaki dewasa yang kehausan akan belas kasih dan sentuhan hangat seorang wanita.​"Gimana, Pak? Bagian sini masih terasa tegang?" tanya Alya dengan suara yang sengaja dibuat lebih dalam dan lembut, nyaris menyerupai

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 5

    Suasana di dalam kamar tidur itu mendadak hening dan beku untuk beberapa saat. Alya masih berdiri mematung di dekat meja kecil dengan nampan bubur yang sedikit bergetar di tangannya, sementara wajahnya merona merah akibat rasa terkejut yang belum sepenuhnya hilang. Di sisi lain, Adam yang berdiri bertumpu pada kusen pintu kamar mandi dengan hanya berbalut selembar handuk di pinggangnya, merasakan kecanggungan yang luar biasa menyerang dirinya. Rasa sakit di kakinya yang berdenyut hebat seolah sempat teredam sejenak oleh rasa malu yang menjalar ke seluruh tubuhnya.​"Ah... m-maaf, Pak! Saya benar-benar tidak tahu kalau Bapak sedang... sedang keluar dari kamar mandi. Pintu depannya tadi agak terbuka saat saya ketuk, jadi saya langsung masuk untuk mengantarkan bubur," ucap Alya dengan suara yang terbata-bata, segera memalingkan pandangannya ke arah lantai demi menjaga kesopanan.​​Dengan gerakan cepat dan hati-hati, Alya meletakkan nampan berisi bubur hangat itu ke atas meja di dekat

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 4

    Hari berganti sore, dan ketegangan di dalam dada Adam kian memuncak. Waktu terasa berjalan begitu lambat hingga akhirnya suara deru mobil terdengar berhenti di depan rumah menandakan Mira telah pulang, dan masih diantar oleh Kevin.​Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Adam sudah berdiri di ruang tamu, menyambutnya dengan tatapan mata yang dingin. Tanpa basa-basi, Adam langsung melayangkan pertanyaan. "Kemana kamu dan Kevin pergi tadi pagi? Setelah mengantar Adel, aku melihat kalian belok ke arah hotel?"​Mendengar pertanyaan itu, Sontak wajah Mira terkejut. Bukannya merasa bersalah, ia justru meluapkan kemarahan dengan nada tinggi. "Maksud kamu apa, Mas?! Aku ini capek baru pulang kerja, banting tulang cari uang buat keluarga ini, tapi sampai rumah malah dituduh yang enggak-enggak! Nggak tahu diri banget kamu!"​Keributan itu memancing Marni keluar dari kamarnya. Mendengar keributan tersebut, sang mertua langsung ikut bicara dan membela putrinya dengan berapi-api tanpa tau keben

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 3

    Setelah mobil yang membawa Mira perlahan menghilang dari pandangan, Adam tidak ingin membuang waktu lebih lama dalam kubangan rasa sakitnya. Ia segera berbalik, mengambil kunci motor tua miliknya, dan menuntun Adel keluar.​"Ayo, Adel, kita berangkat sekolah sekarang ya. Nanti kamu telat," ucap Adam berusaha menata suaranya agar tetap terdengar tenang di depan sang putri.​Kebetulan, arah sekolah Adel dan kantor Mira berada di jalur yang sama. Hal ini mempermudah Adam untuk melajukan motornya di belakang mobil mewah milik Kevin yang bergerak membelah jalanan pagi. Fokusnya terbagi antara memastikan keamanan Adel dan menjaga jarak agar mobil di depannya tidak menyadari keberadaannya.​Sesampainya di depan gerbang sekolah, Adam menurunkan Adel, membetulkan letak tasnya, dan mencium kening putrinya lembut. "Belajar yang rajin ya, Sayang."​"Iya, Pa. Papa hati-hati ya," jawab Adel sebelum berlari masuk ke halaman sekolah.​Begitu Adel tak lagi terlihat, senyum di wajah Adam langsung

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 2

    Mendengar suara lirih Adel, kepalan tangan Adam perlahan mengendur. Amarah yang sedetik lalu membakar dadanya seketika padam, digantikan oleh rasa iba yang teramat sangat pada putri kecilnya. Ia tidak ingin Adel melihat keretakan ini. Ia tidak ingin mental anaknya hancur karena keegoisan orang dewasa.​"Eh, Adel sayang... belum tidur, Nak?" Adam berbalik, melangkah mendekati pintu tempat Adel berdiri sambil memeluk boneka beruang kecilnya.​Mira hanya mendengus, langsung kembali meraih tabletnya tanpa memedulikan kehadiran sang anak.​"Papa mau ke kamar Adel sekarang kok. Yuk, Papa temani tidur," ucap Adam lembut, menggendong Adel dan membawanya kembali ke kamarnya.​Di dalam kamar yang bernuansa merah muda itu, Adam merebahkan tubuhnya di samping Adel. Tangan kasarnya mengusap rambut sang putri dengan penuh kasih sayang. Adel memeluk lengan ayahnya erat-erat.​"Pa, jangan berantem sama Mama ya... Adel takut," bisik Adel pelan sebelum matanya mulai terpejam.​Ia mengecup kening Ad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status