LOGINHari berganti sore, dan ketegangan di dalam dada Adam kian memuncak. Waktu terasa berjalan begitu lambat hingga akhirnya suara deru mobil terdengar berhenti di depan rumah menandakan Mira telah pulang, dan masih diantar oleh Kevin.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Adam sudah berdiri di ruang tamu, menyambutnya dengan tatapan mata yang dingin. Tanpa basa-basi, Adam langsung melayangkan pertanyaan.
"Kemana kamu dan Kevin pergi tadi pagi? Setelah mengantar Adel, aku melihat kalian belok ke arah hotel?"
Mendengar pertanyaan itu, Sontak wajah Mira terkejut. Bukannya merasa bersalah, ia justru meluapkan kemarahan dengan nada tinggi.
"Maksud kamu apa, Mas?! Aku ini capek baru pulang kerja, banting tulang cari uang buat keluarga ini, tapi sampai rumah malah dituduh yang enggak-enggak! Nggak tahu diri banget kamu!"
Keributan itu memancing Marni keluar dari kamarnya. Mendengar keributan tersebut, sang mertua langsung ikut bicara dan membela putrinya dengan berapi-api tanpa tau kebenaran yang ada.
"Heh, Adam! Kamu itu benar-benar keterlaluan ya! Mira itu capek kerja demi kamu juga, demi isi perut kamu! Kenapa sekarang malah kamu curigai? Dasar laki-laki cemburuan, tidak berguna! Lagian, kamu sama bosnya Mira, kalau dibandingin seperti langit dan bumi!" cerocos Marni dengan kedua mata melotot ke arah Adam.
Setelah puas memaki Adam, mulut kedua wanita itu seketika terbungkam rapat saat Adam dengan tenang merogoh sakunya, menyalakan ponsel, dan memutar rekaman video perselingkuhan mereka di hotel tadi pagi.
Layar ponsel itu menampilkan dengan sangat jelas bagaimana Mira dan Kevin berjalan mesra, bercanda tawa, bahkan berciuman intim sebelum menerima kunci kamar di resepsionis.
Suasana rumah mendadak hening seketika. Untuk beberapa saat, Adam berhasil membuat Mira dan Marni kehilangan kata-kata. Wajah Mira memucat, sementara Marni terbelalak menatap layar ponsel itu.
Tetapi, keterkejutan itu tidak berlangsung lama. Mira yang pandai bersilat lidah segera menguasai diri. Ia menegakkan kepalanya, menatap Adam dengan tatapan menantang yang penuh kilatan amarah.
"Lalu kenapa kalau video ini benar?! Kamu harusnya sadar, Mas, semua ini gara-gara kamu! Gara-gara kamu yang tidak bisa mencukupi kebutuhanku! Kalau saja kamu jadi suami yang becus dan punya banyak uang, aku tidak akan pernah mencari pelarian ke pria lain!"
Sontak, Marni yang sempat syok langsung menyambar kalimat putrinya dan kembali membela Mira habis-habisan.
"Benar kata Mira! Seorang wanita itu butuh dicukupi. Kalau suaminya cuma bisa jadi pembantu di rumah dan nggak menghasilkan apa-apa, jangan salahkan anak saya kalau dia mencari laki-laki yang lebih mapan!"
Mendengar pembelaan yang begitu tidak waras dari batas kewajaran, Adam benar-benar murka. Ego dan harga dirinya sebagai laki-laki yang selama ini diinjak-injak meledak sepenuhnya.
"Cukup!! Ibu jangan selalu ikut campur dan membenarkan kebusukan anak Ibu sendiri! Dia ini berzina di belakang suaminya!" bentak Adam dengan suara menggelegar, matanya menyalang merah menatap Marni.
Amarah Adam membuncah. Dadanya terasa sesak menahan setiap ucapan pedas dari istri dan mertuanya. Rasanya dia ingin meluapkan emosinya.
Namun, sebisa mungkin Adam menahan diri. Dia hanya bisa memejamkan mata rapat rapat sambil mengepalkan kedua tangan erat erat.
“Kenapa ekspresinya begitu? Marah? Nggak Terima? Hah?” cerocos Mira. Adam tidak lagi bisa menahan sesak di dadanya. Saat dia hendak menanggapi ucapan istrinya yang makin menjadi, tiba tiba terdengar suara dari arah pintu.
"Papa… Mama..!”
Adel berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca, ketakutan melihat pertengkaran hebat di depannya.
Melihat putrinya, fokus Adam terpecah. Dan di detik itulah, Mira yang sudah terlanjur gelap mata oleh amarah justru memanfaatkan kelengahan Adam.
“Dasar laki laki nggak berguna!” caci Dita sekali lagi.
Dengan sekuat tenaga, Mira mendorong dada Adam dan menendang kakinya hingga Adam kehilangan keseimbangan.
Bugh!
Adam terjatuh dan terguling dari tiga anak tangga pembatas ruang tengah. Tubuhnya menghantam lantai dengan keras. Seketika, rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pergelangan kakinya yang terkilir parah. Adam mengerang kesakitan, memegangi kakinya yang mulai membengkak.
Namun, Mira sama sekali tidak peduli. Dengan pandangan dingin dan penuh rasa jijik, ia memalingkan muka.
"Ayo, Bu, kita masuk kamar. Biarkan saja dia di situ," ketus Mira. Ia dan ibunya pergi begitu saja meninggalkan Adam yang merintih kesakitan di lantai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Keesokan harinya, petaka bagi seisi rumah dimulai. Adam sama sekali tidak bisa bangun dari tempat tidur. Jangankan untuk menyapu atau memasak, untuk sekadar memijakkan kakinya ke lantai saja rasa sakitnya luar biasa menusuk.
Mengetahui tugas-tugas rumah yang belum disentuh, Mira meradang. Ia masuk ke kamar Adam dan marah-marah karena sarapan belum siap dan rumah berantakan.
Sementara itu, Marni yang melihat situasi rumah kacau langsung mencari seribu alasan untuk pergi keluar rumah sepagi mungkin. Ia buru-buru pamit karena tidak sudi menggantikan tugas-tugas Adam untuk mengurus rumah dan memasak.
Karena semua pekerjaan rumah tangga terbengkalai, rumah berantakan, dan tidak ada yang mengurus keperluan sekolah Adel, Mira akhirnya tidak punya pilihan lain. Dengan terpaksa dan terburu-buru, ia menghubungi agensi untuk mencari asisten rumah tangga yang bisa langsung bekerja hari itu juga.
Pada hari itu juga, seorang asisten rumah tangga baru bernama Alya datang ke rumah. Dalam waktu singkat, Alya diminta untuk memahami pekerjaan barunya.
“Sempurna. Akhirnya aku bisa masuk rumah ini!” seru Alya di dalam hati sambil memperhatikan foto pernikahan Mira dan Adam di dinding.
Rupanya, Alya bukanlah seorang asisten rumah tangga sungguhan. Ada misi lain yang dia simpan dengan menjadi asisten rumah tangga Mira.
Siang itu, suasana rumah mendadak sepi kembali. Mira sudah berangkat ke kantor dengan kekesalannya, Adel sudah dijemput untuk sekolah, dan Marni pergi keluar untuk senam dan berkumpul dengan teman-temannya.
Di dalam rumah besar itu, hanya tersisa Adam yang terbaring di kamarnya dan Alya yang mulai merapikan rumah.
Merasa bertanggung jawab pada tugasnya, Alya berniat mengantarkan makanan untuk tuan rumah yang didengarnya sedang sakit. Ia memasak bubur hangat, menaruhnya di atas nampan, lalu berjalan menuju kamar Adam.
Tok... tok... tok...
Alya mengetuk pintu kamar dengan sopan. "Permisi, Pak... Ini saya antarkan makanannya," ucapnya lembut.
Ternyata pintu kamar tersebut tidak tertutup rapat dan tidak terkunci. Dorongan pelan dari ketukan Alya membuat pintu itu perlahan terbuka sendiri.
Melihat pintu tidak terkunci dan sedikit terbuka, Alya pun melangkah masuk ke dalam kamar. Namun, tepat pada saat itu, pintu kamar mandi di dalam kamar terbuka. Adam baru saja keluar dari kamar mandi dengan bersusah payah memapah dirinya sendiri tanpa menggunakan pakaian. Hanya ada handuk putih yang melilit area perut hingga paha.
Alya seketika terkejut setengah mati dan langsung menghentikan langkahnya. Matanya terbelalak lebar saat melihat sosok Adam yang berdiri di depannya hanya dengan mengenakan lilitan selembar handuk putih di pinggangnya, memperlihatkan bagian atas tubuhnya yang polos. Suasana kamar mendadak kikuk seketika.
“Maaf Pak Adam, saya sudah lancang. Kalau gitu saya keluar dulu Pak,” ucap Alya sambil menundukkan kepala, dan bersiap untuk keluar kamar. Tapi, tiba tiba Adam menahannya.
“Alya, tunggu!”
"Oh, di sini kamu rupanya! Meringkuk seperti raja di atas kasur!" semprot Marni tanpa basa-basi, matanya melotot menatap Adam yang terbaring berselimut."Ada apa, Bu? Saya sedang tidak bisa jalan, kaki saya terkilir parah," sahut Adam berusaha menetralkan suaranya yang masih agak berat dan bergetar akibat gairah yang terputus mendadak.Marni mendengus keras, melangkah masuk dua pijakan tanpa memedulikan penderitaan menantunya. "Alasan saja! Cuma terkilir sedikit saja manja sekali sampai tidak bisa bangun! Kamu tahu tidak, gara-gara kamu tidak memasak sarapan tadi pagi, perut Ibu sekarang sakit kena maag!"Marni lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alya yang berdiri menunduk di dekat nakas."Heh, Pembantu Baru!" bentak Marni ketus. "Kenapa kamu lama sekali di kamar ini? Apa yang kamu lakukan?"Alya mendongak sedikit, memasang raut wajah takut dan serba salah. "M-maaf, Bu... Saya cuma mengantarkan bubur hangat untuk Pak Adam, dan membantu mengambilkan obat oles karena kaki Beliau
Alya yang sejak awal fokus memperhatikan Adam, tentu bisa melihat respons tubuh majikannya yang mulai gelisah. Gerakan dadanya yang kian naik turun secara memburu, napasnya yang terengah-engah halus, serta otot paha yang mendadak menegang keras adalah sinyal yang sangat jelas.Ketika mata Alya melirik sekilas ke arah bagian inti tubuh Adam yang makin menonjol, senyum tipis yang penuh kemenangan terkembang sangat tipis di sudut bibirnya. Begitu samar hingga Adam yang sedang memejamkan mata rapat-rapat tidak akan mungkin menyadarinya.Dinding pertahanan pria yang katanya letoy dan tidak perkasa ini rupanya begitu rapuh. Hinaan Mira yang menyebut suaminya tidak berguna di atas ranjang seketika terpatahkan di depan mata Alya. Yang ada di hadapannya saat ini hanyalah seorang lelaki dewasa yang kehausan akan belas kasih dan sentuhan hangat seorang wanita."Gimana, Pak? Bagian sini masih terasa tegang?" tanya Alya dengan suara yang sengaja dibuat lebih dalam dan lembut, nyaris menyerupai
Suasana di dalam kamar tidur itu mendadak hening dan beku untuk beberapa saat. Alya masih berdiri mematung di dekat meja kecil dengan nampan bubur yang sedikit bergetar di tangannya, sementara wajahnya merona merah akibat rasa terkejut yang belum sepenuhnya hilang. Di sisi lain, Adam yang berdiri bertumpu pada kusen pintu kamar mandi dengan hanya berbalut selembar handuk di pinggangnya, merasakan kecanggungan yang luar biasa menyerang dirinya. Rasa sakit di kakinya yang berdenyut hebat seolah sempat teredam sejenak oleh rasa malu yang menjalar ke seluruh tubuhnya."Ah... m-maaf, Pak! Saya benar-benar tidak tahu kalau Bapak sedang... sedang keluar dari kamar mandi. Pintu depannya tadi agak terbuka saat saya ketuk, jadi saya langsung masuk untuk mengantarkan bubur," ucap Alya dengan suara yang terbata-bata, segera memalingkan pandangannya ke arah lantai demi menjaga kesopanan.Dengan gerakan cepat dan hati-hati, Alya meletakkan nampan berisi bubur hangat itu ke atas meja di dekat
Hari berganti sore, dan ketegangan di dalam dada Adam kian memuncak. Waktu terasa berjalan begitu lambat hingga akhirnya suara deru mobil terdengar berhenti di depan rumah menandakan Mira telah pulang, dan masih diantar oleh Kevin.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Adam sudah berdiri di ruang tamu, menyambutnya dengan tatapan mata yang dingin. Tanpa basa-basi, Adam langsung melayangkan pertanyaan. "Kemana kamu dan Kevin pergi tadi pagi? Setelah mengantar Adel, aku melihat kalian belok ke arah hotel?"Mendengar pertanyaan itu, Sontak wajah Mira terkejut. Bukannya merasa bersalah, ia justru meluapkan kemarahan dengan nada tinggi. "Maksud kamu apa, Mas?! Aku ini capek baru pulang kerja, banting tulang cari uang buat keluarga ini, tapi sampai rumah malah dituduh yang enggak-enggak! Nggak tahu diri banget kamu!"Keributan itu memancing Marni keluar dari kamarnya. Mendengar keributan tersebut, sang mertua langsung ikut bicara dan membela putrinya dengan berapi-api tanpa tau keben
Setelah mobil yang membawa Mira perlahan menghilang dari pandangan, Adam tidak ingin membuang waktu lebih lama dalam kubangan rasa sakitnya. Ia segera berbalik, mengambil kunci motor tua miliknya, dan menuntun Adel keluar."Ayo, Adel, kita berangkat sekolah sekarang ya. Nanti kamu telat," ucap Adam berusaha menata suaranya agar tetap terdengar tenang di depan sang putri.Kebetulan, arah sekolah Adel dan kantor Mira berada di jalur yang sama. Hal ini mempermudah Adam untuk melajukan motornya di belakang mobil mewah milik Kevin yang bergerak membelah jalanan pagi. Fokusnya terbagi antara memastikan keamanan Adel dan menjaga jarak agar mobil di depannya tidak menyadari keberadaannya.Sesampainya di depan gerbang sekolah, Adam menurunkan Adel, membetulkan letak tasnya, dan mencium kening putrinya lembut. "Belajar yang rajin ya, Sayang.""Iya, Pa. Papa hati-hati ya," jawab Adel sebelum berlari masuk ke halaman sekolah.Begitu Adel tak lagi terlihat, senyum di wajah Adam langsung
Mendengar suara lirih Adel, kepalan tangan Adam perlahan mengendur. Amarah yang sedetik lalu membakar dadanya seketika padam, digantikan oleh rasa iba yang teramat sangat pada putri kecilnya. Ia tidak ingin Adel melihat keretakan ini. Ia tidak ingin mental anaknya hancur karena keegoisan orang dewasa."Eh, Adel sayang... belum tidur, Nak?" Adam berbalik, melangkah mendekati pintu tempat Adel berdiri sambil memeluk boneka beruang kecilnya.Mira hanya mendengus, langsung kembali meraih tabletnya tanpa memedulikan kehadiran sang anak."Papa mau ke kamar Adel sekarang kok. Yuk, Papa temani tidur," ucap Adam lembut, menggendong Adel dan membawanya kembali ke kamarnya.Di dalam kamar yang bernuansa merah muda itu, Adam merebahkan tubuhnya di samping Adel. Tangan kasarnya mengusap rambut sang putri dengan penuh kasih sayang. Adel memeluk lengan ayahnya erat-erat."Pa, jangan berantem sama Mama ya... Adel takut," bisik Adel pelan sebelum matanya mulai terpejam.Ia mengecup kening Ad







