FAZER LOGINSuasana di dalam kamar tidur itu mendadak hening dan beku untuk beberapa saat. Alya masih berdiri mematung di dekat meja kecil dengan nampan bubur yang sedikit bergetar di tangannya, sementara wajahnya merona merah akibat rasa terkejut yang belum sepenuhnya hilang.
Di sisi lain, Adam yang berdiri bertumpu pada kusen pintu kamar mandi dengan hanya berbalut selembar handuk di pinggangnya, merasakan kecanggungan yang luar biasa menyerang dirinya. Rasa sakit di kakinya yang berdenyut hebat seolah sempat teredam sejenak oleh rasa malu yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Ah... m-maaf, Pak! Saya benar-benar tidak tahu kalau Bapak sedang... sedang keluar dari kamar mandi. Pintu depannya tadi agak terbuka saat saya ketuk, jadi saya langsung masuk untuk mengantarkan bubur," ucap Alya dengan suara yang terbata-bata, segera memalingkan pandangannya ke arah lantai demi menjaga kesopanan.
Dengan gerakan cepat dan hati-hati, Alya meletakkan nampan berisi bubur hangat itu ke atas meja di dekat tempat tidur. Namun, saat melihat bagaimana Adam mencoba melangkah dengan bertumpu pada satu kaki yang tampak membengkak kebiruan, rasa iba di hati gadis itu langsung mengalahkan rasa malunya. Langkah Adam sangat pincang, dan wajahnya tampak memucat menahan bobot tubuhnya sendiri.
"Alya... jika kamu tidak keberatan, bolehkah saya meminta bantuanmu ?Tolong belikan saya krim otot atau salep untuk memar. Kaki saya rasanya sangat kaku dan panas,” pinta Adam pada Alya.
Mendengar permintaan itu, wajah Alya seketika berubah cerah karena teringat sesuatu. Dia teringat di dalam tasnya dia selalu punya stok krim otot dan minyak angin.
"Oh, soal krim otot, Pak? Kebetulan sekali saya punya di dalam tas saya. Saya selalu membawanya ke mana-mana untuk berjaga-jaga jika badan saya pegal setelah bekerja. Bapak tidak perlu repot-repot menyuruh saya ke apotek depan. Tunggu sebentar ya, Pak, saya bergegas ambilkan dulu ke kamar."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Adam, Alya membalikkan badannya dengan gesit dan melangkah keluar dari kamar Adam menuju kamarnya.
“Duuuh, kirain dia mau minta tolong apa? Ternyata minta krim otot! Aku harus pandai berpura pura menjadi pelayan yang menurut perintah majikan. Jangan sampai dia tau kalau aku di sini cuma menyamar,” gumam Alya di sepanjang langkahnya menuju kamar.
Sementara itu, di dalam kesendirian kamarnya, Adam menatap langit-langit dengan pandangan yang kosong. Dadanya mendadak terasa sesak oleh sebuah kesadaran yang menampar jiwanya. Ia tersenyum ironis, merutuki nasibnya yang begitu malang.
Kemarin malam, ia memohon-mohon pada istrinya sendiri untuk sekadar berbagi kehangatan di ranjang, namun yang ia dapatkan hanyalah cacian, makian, hingga tendangan yang membuatnya terkilir seperti ini. Istrinya sama sekali tidak peduli apakah ia hidup atau mati, cacat atau sehat.
Namun kini, seorang gadis asing yang baru beberapa jam menginjakkan kaki di rumah ini sebagai pembantu justru menunjukkan rasa cemas dan perhatian yang tulus kepadanya.
Tidak butuh waktu lama bagi Alya untuk kembali. Pintu kamar diketuknya pelan sebelum ia melangkah masuk kembali dengan sebuah tube krim otot berwarna putih-hijau di tangan kanannya.
"Ini, Pak. Krimnya masih baru dan belum banyak terpakai. Khasiatnya sangat bagus untuk meredakan bengkak dan melancarkan aliran darah yang tersumbat," kata Alya sambil mendekat ke sisi ranjang dan mengulurkan obat tersebut kepada Adam.
Adam menerima tube krim itu dengan tangan yang sedikit bergetar. "Terima kasih banyak, Alya. Kamu sudah sangat membantu saya hari ini. Oh iya, berapa harga krim ini? Biar saya ganti uangmu sekarang." Adam berniat meraih ponselnya di atas nakas untuk mengambil dompet digital atau mencari sisa uang tunai yang mungkin tersisa di laci.
Namun, Alya dengan cepat mengibaskan kedua tangannya di udara, menolak dengan sopan. "Eh, tidak usah, Pak! Tidak usah diganti. Itu benar-benar tidak seberapa, lagipula saya berniat tulus memberikannya untuk membantu Bapak agar cepat sembuh. Jangan dipikirkan soal uangnya."
Adam tertegun sejenak. Tangannya yang memegang tube krim itu membeku di udara. Tatapan matanya lekat menatap wajah polos Alya yang tampak tersenyum tulus tanpa pamrih. Sudah berapa lama ia tidak merasakan ketulusan seperti ini?
Alya sedikit resah sambil menundukkan kepala. Dia tidak berani melihat majikannya terlalu lama, karena Adam terus menatapnya.
Sementara Adam, dia masih larut dalam rasa haru. Hidupnya selama beberapa tahun terakhir, terutama semenjak Mira sukses, terasa bagaikan padang pasir yang sangat gersang dari perhatian dan kasih sayang.
Setiap hari telinganya hanya dijejali oleh kata-kata kasar, tuntutan materi, dan pandangan merendahkan dari Mira dan Marni.
Kehadiran Alya yang begitu tiba tiba dan penuh perhatian dalam sekejap menyentuh bagian terdalam dari hati Adam yang sudah lama mati rasa. Ada rasa hangat yang aneh perlahan merambat di dadanya, membuat matanya sedikit berkaca-kaca.
"Kenapa, Pak? Kok wajahnya begitu? Apa kakinya semakin sakit?" tanya Alya memecah lamunan Adam saat melihat majikannya itu hanya terdiam menatapnya.
"Ah, tidak... tidak apa-apa, Alya. Saya hanya... hanya merasa sangat berterima kasih," lirih Adam. Dia tidak mungkin berkata jujur jika dia tertegun dengan ketulusan dan perhatian Alya yang tidak bisa dia dapat dari istrinya.
Melihat sikap Adam yang terlihat tulus, tiba tiba muncul rencana baru di otak Alya. Misinya yang awalnya ingin mengumpulkan bukti kebusukanmu Mira justru berubah ingin membalas kelakukan busuk Mira dengan suaminya.
Alya melihat ke arah kaki Adam yang membengkak, lalu menatap tube krim yang masih berada di tangan Adam.
"Pak... kalau boleh, dan kalau Bapak tidak keberatan, biarkan saya yang membantu mengoleskan krim ini ke kaki Bapak. Pasti sangat sulit bagi Bapak untuk menjangkau bagian yang sakit dengan posisi duduk seperti itu,” ujar Alya dengan sopan dan hati hati.
Mendengar tawaran yang begitu intim dari seorang wanita yang bukan istrinya, Adam tersentak kecil. Meski dia terharu dengan perhatian Alya, tapi bukan berarti dia akan memanfaatkan keadaan sesukanya.
"Eh? Tidak usah, Alya. Ini... ini tidak perlu sampai seperti itu. Tugasmu di sini hanya membersihkan rumah, bukan mengurus badan saya. Saya bisa mengoleskannya sendiri pelan-pelan."
Adam mencoba menolak demi menjaga batasan moral yang ia pegang teguh, meskipun dalam hati ia tahu fisiknya memang sedang sangat lemah.
Alya tidak mundur. Usai ditolak dia justru mengambil kembali tube krim itu dari tangan Adam dengan gerakan yang lembut namun pasti. Dia memposisikan dirinya di lantai, berlutut di dekat tepi ranjang tepat di hadapan kaki Adam yang terluka.
"Bapak jangan sungkan pada saya. Sejujurnya, saya benar-benar tidak tega melihat kondisi Bapak yang seperti ini. Melihat Bapak yang terbaring menahan sakit dengan kaki terkilir seperti ini... ingatan saya langsung terbang kepada mendiang kakak laki-laki saya," ucap Alya sambil mulai memutar tutup krim tersebut. Pandangan matanya mendadak berubah sedikit redup, diselimuti oleh kabut kesedihan masa lalu.
Adam terdiam, mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan oleh Alya.
"Dulu, saya punya kakak laki-laki yang usianya mungkin sebaya dengan Bapak. Dia adalah orang yang sangat baik dan bekerja keras untuk keluarga kami. Suatu hari, dia juga mengalami kecelakaan kecil saat bekerja hingga kakinya terkilir parah di bagian sendi. Waktu itu, sayalah yang selalu mengoleskan obat dan mengurut kakinya sampai dia bisa berjalan lagi. Tapi... sayangnya, setahun yang lalu dia mengalami kecelakaan yang lebih parah dan Tuhan lebih sayang padanya. Dia sudah meninggal dunia, Pak," lanjut Alya dengan suara yang mengalun lambat dan penuh kerinduan.
Meski keberadaan Alya di rumah itu adalah sebuah penyamaran, tapi kerinduannya pada sang kakak itu sungguhan.
“Astaga. Saya turut berduka cita,” sahut Adam. Rupanya Adam mulai termakan ucapan Alya.
Alya menyeka sudut matanya yang sedikit basah dengan ujung lengan bajunya agar semakin memancing simpati Adam. Lalu dia mendongak menatap Adam dengan senyuman tulus.
"Iya Pak. Karena itu, saat melihat Bapak kesakitan seperti ini, saya merasa seperti melihat kakak saya sendiri yang sedang butuh bantuan. Jadi, tolong biarkan saya membantu Bapak ya?"
Mendengar pengakuan yang begitu menyentuh hati dan penuh dengan ketulusan emosional itu, seluruh benteng pertahanan dan penolakan di dalam diri Adam runtuh seketika. Ia tidak tega lagi melarang atau menolak niat baik gadis yang sedang merindukan kakaknya ini. Adam mengembuskan napas pasrah, lalu mengangguk pelan.
"Baiklah, Alya... Jika itu tidak menyusahkanmu. Terima kasih banyak atas kebaikan hatimu."
"Sama-sama, Pak. Sekarang, Bapak rileks saja ya," jawab Alya dengan nada lega.
Alya kemudian menekan tube obat tersebut, mengeluarkan cairan krim putih yang beraroma mentol segar ke atas telapak tangannya yang halus. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Alya mulai menempelkan telapak tangannya yang hangat ke kulit kaki Adam yang terasa dingin dan kaku.
Rupanya, Alya tidak sekadar mengoleskan krim tersebut di permukaan kulit. Berbekal pengalamannya merawat mrndiang kakaknya dulu, jemari tangan Alya mulai menekan-nekan dengan teknik urutan yang lembut tapi sangat bertenaga.
Pijatan pertamanya mendarat di sekitar pergelangan kaki Adam yang membengkak, perlahan mengurai otot-otot yang menegang akibat hantaman benturan kemarin malam. Adam sempat memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya saat rasa sakit yang tajam bercampur sensasi hangat dari krim itu mulai bereaksi di kulitnya.
"Sakit ya, Pak? Saya kurangi tekanannya ya," bisik Alya lembut, menatap wajah Adam dengan penuh empati.
"Tidak apa-apa, Alya... Lanjutkan saja. Justru rasa hangatnya membuat sendi saya sedikit lebih nyaman," jawab Adam dengan napas yang agak memburu.
Adam mulai merasa nyaman dengan pijatan Alya, meski awalnya terasa sedikit nyeri.
Urutan Alya bergerak dengan alur yang sangat lambat dan ritmis. Sentuhan tangan wanita yang begitu lembut, penuh kehati-hatian, dan dilakukan dengan penuh perasaan adalah sesuatu yang sudah bertahun-tahun lenyap dari kehidupan pernikahan Adam. Setiap gesekan kulit tangan Alya di atas kakinya perlahan mengirimkan sinyal yang aneh ke dalam pusat saraf Adam.
Perlahan namun pasti, arah pijatan Alya mulai naik ke atas. Dari pergelangan kaki, jemarinya bergerak lembut melewati tulang kering, lalu mengitari area lutut Adam yang juga mengalami memar akibat terbentur anak tangga.
Di bagian lutut yang terkilir ini, Alya memberikan perhatian lebih, mengusap dan menekannya dengan gerakan melingkar yang konstan untuk meredakan ketegangan di sana. Rasa hangat dari krim otot itu kini mulai menjalar luas, menciptakan sensasi panas yang menjalar di sepanjang kaki Adam.
Namun, pijatan itu tidak berhenti di situ saja. Alya yang tampaknya sangat fokus untuk memastikan seluruh jalur aliran darah di kaki majikannya kembali lancar, terus menggerakkan kedua telapak tangannya naik lebih tinggi lagi. Tangan halus gadis itu kini mulai merambah ke area paha Adam. Kulit paha Adam yang terbuka karena lilitan handuk yang agak tersingkap kini bersentuhan langsung dengan kulit tangan Alya yang dibaluri krim hangat.
“Astaga! Kenapa pijatannya naik ke paha? Tapi.. rasanya memang sangat nyaman. Apa ini tidak berlebihan?” resah Adam di dalam hati.
Dia hendak menghentikan tangan Alya, tapi dia tidak memungkiri jika pijatan itu sangat membuatnya merasa nyaman. Bahkan istrinya belum pernah memijatnya seperti itu.
Gesekan demi gesekan di area paha itu memberikan sensasi yang sama sekali berbeda bagi Adam. Sentuhan tangan Alya yang lembut bergerak naik, memijat otot paha bagian dalam, hingga tanpa disadari oleh Alya, jemarinya beberapa kali bergerak mendekati area pangkal paha Adam.
Di sinilah segalanya mulai berubah bagi Adam. Sebagai seorang pria dewasa yang sudah berbulan-bulan diasingkan dari ranjang istrinya dan dibiarkan hidup dalam kondisi puasa batin yang menyiksa, sentuhan fisik yang begitu dekat dan intim dari seorang wanita muda berwajah manis seperti Alya memicu sebuah reaksi biologis yang tidak bisa ia kendalikan.
Aliran darah di dalam tubuh Adam mendadak bergolak hebat. Rasa hangat yang tadinya berasal dari krim otot kini bertransformasi menjadi gelombang panas yang membakar gairah alaminya sebagai seorang lelaki.
“Gimana Pak Adam? Apa rasa nyerinya mulai menghilang?” tanya Alya di sela sela pijatannya, tanpa memindahkan tangannya dari kulit Adam.
“Iiiii…iiyaa… rasanya nyeri …agaak.. hilang,” jawab Adam terbata bata karena sedikit gugup.
Setiap kali telapak tangan Alya yang licin oleh krim bergerak naik mendekati pangkal pahanya, jantung Adam berdegup dua kali lebih cepat. Napasnya mulai terasa berat dan tidak beraturan. Sensasi sentuhan itu terasa begitu nikmat sekaligus menyiksa di saat yang bersamaan. Dan puncaknya, tanpa bisa dicegah lagi oleh akal sehatnya, pusaka kejantanan milik Adam yang berada di balik lilitan handuk putih itu tiba-tiba ikut terbangun dan menegang dengan sempurna, menciptakan sebuah tonjolan yang cukup jelas di balik kain handuk yang tipis tersebut.
Adam seketika panik. Wajahnya yang tadinya pias kini mendadak berubah merah padam karena rasa malu yang teramat sangat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengalihkan pikirannya ke hal-hal lain, memikirkan rasa sakit di kakinya, memikirkan kemarahannya pada Mira, namun sentuhan tangan Alya di pahanya terlalu nyata untuk diabaikan.
”Sial! Kenapa punyaku malah bangun gara-gara dipijat sama Alya? Bagaimana jika Alya melihat tonjolan di balik handuk ini? Gadis itu pasti akan berpikir bahwa dia adalah pria mesum yang memanfaatkan keadaan,”gerutu Adam dengan sangat frustrasi di dalam hatinya. Ia merasa sangat berdosa sekaligus merutuki tubuhnya yang berkhianat di saat-saat seperti ini.
Namun di sisi lain, sebuah sudut tergelap di dalam batin Adam tidak bisa membohongi kenyataan bahwa ia sangat menikmati setiap detik pijatan dari pembantu barunya itu. Rasa rindu akan sentuhan lembut seorang wanita yang selama ini ia kubur dalam-dalam kini bangkit dan terpuaskan melalui jemari Alya yang terus bergerak naik turun di pahanya dengan alur yang lambat dan memabukkan.
Adam hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat, meremas seprai ranjang dengan kedua tangannya, sembari berdoa dalam hati agar Alya tidak menyadari ketegangan yang sedang terjadi di balik selembar handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya itu.
Usai menghadiri pemakaman dan memberikan penghormatan terakhir di rumah duka, Adam kembali ke rumah sakit untuk menjaga Adel. Sepanjang perjalanan di dalam mobil hingga duduk di sebelah ranjang perawatan putrinya, pikiran Adam sama sekali tidak bisa tenang. Perasaan ganjil yang menyengat dadanya saat berhadapan langsung dengan Diva di rumah duka terus berputar hebat di dalam kepalanya.Setiap detail dari sosok Diva, aroma parfumnya yang halus, cara wanita itu menatap matanya, ketenangan di balik duka, hingga intonasi suaranya yang lembut namun berwibawa—sungguh membawanya pada sosok Alya. Kejanggalan itu terlalu nyata untuk sekadar dianggap sebagai ilusi atau ilusi rasa rindu.Tak sanggup lagi menahan gejolak rasa penasaran yang menghimpit dadanya, Adam merogoh ponselnya. Jemarinya bergerak mengetik sebuah pesan singkat untuk Alya. Kali ini, untuk pertama kalinya, bukan berita perkembangan kesehatan Adel yang ingin ia bagikan, melainkan sebuah pengakuan jujur dari dalam sanubarinya.
Dalam hitungan jam, berita duka mengenai tewasnya Kevin melesat cepat menembus jaringan media dan jagat bisnis ibu kota. Kabar tragis itu menjadi topik hangat di berbagai saluran berita pagi. Di kediaman utama, Orang Tua Diva dan Diva sendiri yang masih diliputi rasa syok luar biasa, langsung meluncur menggunakan iring-iringan mobil menuju Rumah Sakit Bhayangkara.Biar bagaimanapun dendam dan kekecewaan membakar hati mereka, gugatan cerai resmi Diva belum sempat dikabulkan oleh pengadilan. Secara hukum dan lembaran negara, Kevin masih berstatus sebagai suami sah Diva. Tanggung jawab moral dan kepengurusan jenazah sepenuhnya jatuh ke tangan keluarga besar Holding Pusat.Di kamar jenazah, tim kepolisian dan forensik memaparkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara terperinci kepada Diva dan kedua orang tuanya. Dugaan murni kecelakaan akibat kelalaian pribadi makin menguat. Petugas menemukan jejak tanah licin dan bekas geseran sepatu yang signifikan di pinggir fondasi pembata
Malam makin larut tatkala kendaraan hitam yang membawa Diva akhirnya melintasi gerbang besi tinggi kediaman utamanya. Keheningan rumah megah yang biasanya menenangkan kini terasa bagaikan penjara yang dingin dan mencekam. Diva melangkah masuk dengan gontai, menaiki tangga melingkar menuju kamar utamanya dengan sisa-sisa tenaga yang terkuras habis.Pikirannya berkecamuk hebat, saling bertabrakan bagaikan benang kusut yang mustahil diurai. Bayangan ketulusan Adam dan tatapan polos Adel di rumah sakit terus membayangi benaknya, beradu dengan kekacauan laporan keuangan Holding Pusat yang ditinggalkan Kevin dalam kondisi berantakan. Ditambah lagi dengan reruntuhan rumah tangganya yang baru saja roboh total siang tadi, beban di pundak Diva terasa begitu menghimpit dada.Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang berukuran king-size, memandangi ruang kamar yang kini terasa teramat luas dan hampa. Sesuai rencana awal bersama tim pengacaranya, Diva sebenarnya berniat melaporkan Kevin ke pihak ke
Begitu melangkah keluar dari area lobi utama Rumah Sakit Medika, Alya bergegas menuju sudut lorong taman yang sepi dan remang. Dengan gerakan cepat, ia merogoh ponsel khususnya, menekan tombol panggil cepat menuju satu-satunya orang yang memegang kunci rahasia kehidupannya."Rian, jemput aku sekarang di pintu samping rumah sakit," perintah Diva singkat, mengembalikan intonasi suaranya yang dingin dan berwibawa."Baik, Nyonya Diva. Saya sudah berada di area parkir luar, dua menit lagi saya tiba," jawab Rian sigap dari balik telepon.Tak sampai tiga menit, sebuah mobil sedan hitam ber kaca gelap berhenti mulus tepat di hadapan Diva. Wanita itu membuka pintu belakang, melangkah masuk, dan menyandarkan tubuhnya yang letih di atas jok kulit yang empuk. Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi seluruh kebisingan dunia luar.Saat kendaraan mewah itu mulai melaju membelah gemerlap lampu jalanan kota malam hari, Diva melepaskan kacamata tebal bertangkai hitam dan wig kusamnya. Jemarinya yan
Mesin-mesin pemantau medis di dalam ruang ICU kembali berbunyi ritmis dengan nada yang stabil. Setelah melewati gejolak emosi dan rentetan rasa sakit yang menguras energinya, Adel akhirnya terlelap. Napas anak kecil itu mengalun teratur di balik masker oksigennya, membawa ketenangan tipis yang amat sangat disyukuri di dalam ruangan steril tersebut.Adam mengusap dahi putrinya sekali lagi, memastikan selimut tebal membungkus tubuh mungil itu dengan sempurna, lalu berbalik mengajak Alya keluar secara perlahan agar tidak mengganggu tidur Adel.Begitu pintu tebal ICU tertutup di belakang mereka, suasana koridor lantai lima kembali menyergap dengan keheningan yang dingin. Adam berdiri menghadap Alya, menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan raut wajah yang diliputi rasa bersalah yang mendalam."Alya... aku sungguh-sungguh minta maaf," ujar Adam dengan suara rendah yang parau. Pria tegap itu mengepalkan tangannya di samping tubuh, menyembunyikan rasa canggung yang mendera. "Permintaan Ad
Lidah Alya terasa sangat kaku, membeku di balik rongga mulutnya yang mendadak terasa amat kering. Kata-kata yang biasanya tersusun begitu rapi dan tajam saat menghadapi negosiasi bisnis tingkat tinggi kini menguap tanpa bekas.Dua dunia yang bertolak belakang bertabrakan dahsyat di dalam benaknya. Baru beberapa jam yang lalu, di rumah utamanya, ia mengambil keputusan besar untuk menggugat cerai Kevin dan menendang pria pengkhianat itu keluar dari silsilah hidupnya. Namun kini, di dalam ruang ICU yang serba steril dan dingin ini, seorang anak kecil tak berdosa baru saja melontarkan permohonan yang tak kalah dahsyat: memintanya menikah dengan Adam dan menjadi ibunya.Dilema hebat meremas-remas dada Diva di balik penyamarannya sebagai Alya. Ini bukan pilihan yang mudah. Jika ia menjawab ya hanya demi menyenangkan hati Adel di saat kritis, ia sadar betul risiko kebohongannya kelak. Bagaimanakah ia bisa menepati janji itu saat identitas aslinya sebagai Diva, seorang pemilik perusahaan te







