Share

Bab 2

Author: Mr. Kis
last update publish date: 2026-07-13 01:48:28

Mendengar suara lirih Adel, kepalan tangan Adam perlahan mengendur. Amarah yang sedetik lalu membakar dadanya seketika padam, digantikan oleh rasa iba yang teramat sangat pada putri kecilnya. Ia tidak ingin Adel melihat keretakan ini. Ia tidak ingin mental anaknya hancur karena keegoisan orang dewasa.

"Eh, Adel sayang... belum tidur, Nak?" Adam berbalik, melangkah mendekati pintu tempat Adel berdiri sambil memeluk boneka beruang kecilnya.

​Mira hanya mendengus, langsung kembali meraih tabletnya tanpa memedulikan kehadiran sang anak.

"Papa mau ke kamar Adel sekarang kok. Yuk, Papa temani tidur," ucap Adam lembut, menggendong Adel dan membawanya kembali ke kamarnya.

Di dalam kamar yang bernuansa merah muda itu, Adam merebahkan tubuhnya di samping Adel. Tangan kasarnya mengusap rambut sang putri dengan penuh kasih sayang. Adel memeluk lengan ayahnya erat-erat.

"Pa, jangan berantem sama Mama ya... Adel takut," bisik Adel pelan sebelum matanya mulai terpejam.

​Ia mengecup kening Adel lama. Demi bocah suci inilah, Adam rela membuang harga dirinya ke dasar bumi. Demi masa depan Adel, ia bersedia menjadi keset di rumah ini. Namun, sampai kapan ia harus bertahan dalam siksaan batin yang tiada akhir ini?

Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa begitu mencekam. Adam seperti biasa telah menyelesaikan seluruh tugasnya. Tugas yang harusnya dilakukan oleh istri, atau bahkan seorang pembantu. Yakni, memasak sarapan, merapikan rumah, dan menyiapkan keperluan sekolah Adel. Di meja makan, sudah duduk Adel dan Marni, ibu mertuanya. Dan juga Mira yang sudah rapi dengan pakaian kerja eksekutifnya yang modis dan berkelas.

​"Semalam Ibu dengar ada suara ribut-ribut dari kamar kamu, Mir. Ada apa sih? Mengganggu jam istirahat Ibu saja," tanya Marni sambil mengoles selai ke rotinya dengan raut wajah masam.

Mira yang sedang meminum kopinya langsung mendengus ketus. "Siapa lagi kalau bukan menantu Ibu itu. Semalam tiba-tiba masuk kamar, pakai nuntut hubungan suami istri segala. Nggak tahu diri banget! Sudah numpang hidup, nggak punya penghasilan, malam-malam malah bikin pusing orang yang cari duit!” cerocos Mira dengan nada ketusnya. 

​Mendengar jawaban dari putrinya, Marni langsung menghentikan gerakannya. Tatapan matanya yang tajam menembus langsung ke arah Adam yang saat itu sedang menuangkan air putih untuk Adel.

"Heh, Adam! Kamu itu benar-benar muka tembok ya! Harusnya kamu itu sadar posisi! Untung Mira masih mau menampung kamu di sini, memberi kamu makan. Bukannya tahu diri urus rumah yang benar, malah macem-macem. Kamu mau mengotori anak saya dengan urusan ranjang kamu itu? Kamu itu bahkan tidak pantas disebut laki laki, apalagi suami!” caci Marni, suaranya meninggi penuh penghinaan. 

​Adam hanya diam, berdiri mematung di dekat meja makan. Kedua tangannya di dalam saku celana mengepal begitu kuat hingga urat-uratnya menonjol. Setiap kalimat dari mulut ibu mertuanya terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka menganga. Dia diam bukan karena takut, tapi karena tidak ingin ribut di depan putrinya.

“Nenek kenapa memarahi Papa?” tanya Adel dengan polos.

​​"Adel, cepat habiskan sarapanmu lalu berangkat sekolah! Jangan ikut campur urusan orang tua," potong Marni ketus, membuat Adel langsung tertunduk takut.

Setelah itu, Marni kembali menoleh ke arah Adam, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan jijik. 

"Inget ya Adam, kalau bukan karena belas kasihan keluarga ini, kamu itu sudah jadi gelandangan di luar sana! Jadi jangan pernah mimpi mau macam-macam sama anak saya!"

​Di tengah rentetan makian yang terus mengalir dari mulut Marni, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang cukup keras dari arah depan rumah. Suara itu berbunyi dua kali, menandakan sang pemilik mobil sedang menunggu seseorang.

Marni mengernyitkan dahi, tampak heran. Begitu juga dengan Adam dan Adel. Tetapi mereka memendam keheranannya dalam hati.

 "Siapa sih pagi-pagi begini yang datang? Pakai mobil bagus lagi?" gumam Marni sambil menyingkap gorden untuk melihat siapa yang datang.

​Berbeda dengan ibu dan suaminya yang keheranan, wajah Mira seketika berubah cerah. Senyum bahagia yang tak pernah ia perlihatkan pada Adam kini mengembang sempurna di bibirnya. Ia langsung menyambar tas branding-nya dan berdiri dari kursi.

​"Ah, jemputanku sudah datang. Aku berangkat kerja dulu ya, Bu," pamit Mira dengan nada suara yang mendadak riang.

"Jemputan? Sejak kapan kamu dijemput mobil, Mir? Biasanya kan kamu naik taksi online atau bawa mobil sendiri?" ​tanya Marni makin heran.

​Mira membenahi pakaiannya di depan cermin kecil dekat ruang tamu, lalu menjawab dengan nada yang terkesan enteng dan santai. "Itu Pak Kevin, Bu. Atasan baru Mira di kantor. Kebetulan rumahnya searah, jadi dia menawarkan diri untuk bareng."

“Atasan?” tanya Marni lagi.

 "Iya Bu. Jadi Mira harus pintar-pintar jaga hubungan baik dan dekat dengan bos, Bu. Biar posisi Mira di kantor makin aman, dan siapa tahu sebentar lagi Mira bisa naik jabatan jadi Direktur Pemasaran,” Mira menoleh sekilas ke arah ibunya sambil berbisik dengan nada bangga.

​Mendengar hal itu, mata Marni langsung berbinar serakah. Ia mengangguk-angguk setuju dengan semangat.

 "Oh, begitu! Bagus itu, Mir! Kamu memang cerdas. Harus itu, dekati terus bos kamu. Biar karier kamu makin melejit tinggi. Ibu dukung penuh!"

Meski suara mereka lirih, tapi Adam bisa mendengarnya. Dada Adam bergemuruh hebat. Rasa cemburu dan perih berbaur menjadi satu, menciptakan rasa sesak yang luar biasa. 

Istrinya, seorang wanita yang masih sah menjadi miliknya, pergi bekerja dijemput oleh pria lain dengan alasan menjaga hubungan baik. Tentu itu bukan sesuatu yang pantas.

​"Mira! Tunggu!" panggil Adam, langkahnya maju satu tindakan, mencoba menahan istrinya. Mira sejenak berhenti tanpa menoleh ke arah suaminya. 

"Tidak pantas seorang istri dijemput oleh pria lain. Apa kata tetangga nanti? Aku ini suamimu, Mir!"

Mendengar teguran itu, dia berbalik. Menatap Adam dengan tatapan yang sangat dingin dan meremehkan. Namun, sebelum Mira sempat membalas, Marni sudah lebih dulu pasang badan dan mendorong bahu Adam dengan kasar.

​"Heh! Kurang ajar kamu ya, Adam! Berani-beraninya kamu mengatur anak saya?! Kamu itu punya hak apa di rumah ini? Hah?! Hak mengatur? Kamu cuma benalu! Mira itu sedang berjuang demi masa depan keluarga, demi uang! Memangnya kamu bisa kasih Mira jabatan? Bisa kasih uang banyak? Enggak, kan?!" maki Marni, suaranya melengking memenuhi ruangan..

​"Tapi Bu, ini soal kehormatan.."

​"Halah! Kehormatan nggak bisa dipakai buat beli beras! Sana kamu masuk ke dapur! Cuci piring-piring kotor itu, lalu pel rumah sampai bersih! Lalu antar Adel ke sekolah! Jangan pernah berani mencampuri urusan karier anak saya, atau saya sendiri yang akan mengusir kamu dari rumah ini!"

​Mira hanya tersenyum sinis melihat Adam yang dimaki habis-habisan oleh ibunya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada Adam, wanita itu berbalik dan melangkah anggun keluar pagar, mendekati mobil mewah yang sudah menunggunya di luar.

​Sementara Adam hanya bisa berdiri terpaku di ruang tamu, menatap nanar melalui jendela saat istrinya masuk ke dalam mobil pria lain. Kepalan tangannya bergetar hebat. Rasa sakit, cemburu, dihina, dan tidak dihargai telah menumpuk hingga ke batas tertinggi yang bisa ditampung oleh dadanya.

“Mira, kamu benar benar makin keterlaluan! Kesabaranku ada batasnya Mir! Lihat saja, aku pasti akan mencari tau sejauh mana hubungan kamu dengan bosmu itu!” geram Adam dalam hati sambil mengeraskan rahang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 7

    ​"Oh, di sini kamu rupanya! Meringkuk seperti raja di atas kasur!" semprot Marni tanpa basa-basi, matanya melotot menatap Adam yang terbaring berselimut.​"Ada apa, Bu? Saya sedang tidak bisa jalan, kaki saya terkilir parah," sahut Adam berusaha menetralkan suaranya yang masih agak berat dan bergetar akibat gairah yang terputus mendadak.​Marni mendengus keras, melangkah masuk dua pijakan tanpa memedulikan penderitaan menantunya. "Alasan saja! Cuma terkilir sedikit saja manja sekali sampai tidak bisa bangun! Kamu tahu tidak, gara-gara kamu tidak memasak sarapan tadi pagi, perut Ibu sekarang sakit kena maag!"​Marni lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alya yang berdiri menunduk di dekat nakas.​"Heh, Pembantu Baru!" bentak Marni ketus. "Kenapa kamu lama sekali di kamar ini? Apa yang kamu lakukan?"​Alya mendongak sedikit, memasang raut wajah takut dan serba salah. "M-maaf, Bu... Saya cuma mengantarkan bubur hangat untuk Pak Adam, dan membantu mengambilkan obat oles karena kaki Beliau

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 6

    Alya yang sejak awal fokus memperhatikan Adam, tentu bisa melihat respons tubuh majikannya yang mulai gelisah. Gerakan dadanya yang kian naik turun secara memburu, napasnya yang terengah-engah halus, serta otot paha yang mendadak menegang keras adalah sinyal yang sangat jelas.​Ketika mata Alya melirik sekilas ke arah bagian inti tubuh Adam yang makin menonjol, senyum tipis yang penuh kemenangan terkembang sangat tipis di sudut bibirnya. Begitu samar hingga Adam yang sedang memejamkan mata rapat-rapat tidak akan mungkin menyadarinya.​Dinding pertahanan pria yang katanya letoy dan tidak perkasa ini rupanya begitu rapuh. Hinaan Mira yang menyebut suaminya tidak berguna di atas ranjang seketika terpatahkan di depan mata Alya. Yang ada di hadapannya saat ini hanyalah seorang lelaki dewasa yang kehausan akan belas kasih dan sentuhan hangat seorang wanita.​"Gimana, Pak? Bagian sini masih terasa tegang?" tanya Alya dengan suara yang sengaja dibuat lebih dalam dan lembut, nyaris menyerupai

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 5

    Suasana di dalam kamar tidur itu mendadak hening dan beku untuk beberapa saat. Alya masih berdiri mematung di dekat meja kecil dengan nampan bubur yang sedikit bergetar di tangannya, sementara wajahnya merona merah akibat rasa terkejut yang belum sepenuhnya hilang. Di sisi lain, Adam yang berdiri bertumpu pada kusen pintu kamar mandi dengan hanya berbalut selembar handuk di pinggangnya, merasakan kecanggungan yang luar biasa menyerang dirinya. Rasa sakit di kakinya yang berdenyut hebat seolah sempat teredam sejenak oleh rasa malu yang menjalar ke seluruh tubuhnya.​"Ah... m-maaf, Pak! Saya benar-benar tidak tahu kalau Bapak sedang... sedang keluar dari kamar mandi. Pintu depannya tadi agak terbuka saat saya ketuk, jadi saya langsung masuk untuk mengantarkan bubur," ucap Alya dengan suara yang terbata-bata, segera memalingkan pandangannya ke arah lantai demi menjaga kesopanan.​​Dengan gerakan cepat dan hati-hati, Alya meletakkan nampan berisi bubur hangat itu ke atas meja di dekat

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 4

    Hari berganti sore, dan ketegangan di dalam dada Adam kian memuncak. Waktu terasa berjalan begitu lambat hingga akhirnya suara deru mobil terdengar berhenti di depan rumah menandakan Mira telah pulang, dan masih diantar oleh Kevin.​Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Adam sudah berdiri di ruang tamu, menyambutnya dengan tatapan mata yang dingin. Tanpa basa-basi, Adam langsung melayangkan pertanyaan. "Kemana kamu dan Kevin pergi tadi pagi? Setelah mengantar Adel, aku melihat kalian belok ke arah hotel?"​Mendengar pertanyaan itu, Sontak wajah Mira terkejut. Bukannya merasa bersalah, ia justru meluapkan kemarahan dengan nada tinggi. "Maksud kamu apa, Mas?! Aku ini capek baru pulang kerja, banting tulang cari uang buat keluarga ini, tapi sampai rumah malah dituduh yang enggak-enggak! Nggak tahu diri banget kamu!"​Keributan itu memancing Marni keluar dari kamarnya. Mendengar keributan tersebut, sang mertua langsung ikut bicara dan membela putrinya dengan berapi-api tanpa tau keben

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 3

    Setelah mobil yang membawa Mira perlahan menghilang dari pandangan, Adam tidak ingin membuang waktu lebih lama dalam kubangan rasa sakitnya. Ia segera berbalik, mengambil kunci motor tua miliknya, dan menuntun Adel keluar.​"Ayo, Adel, kita berangkat sekolah sekarang ya. Nanti kamu telat," ucap Adam berusaha menata suaranya agar tetap terdengar tenang di depan sang putri.​Kebetulan, arah sekolah Adel dan kantor Mira berada di jalur yang sama. Hal ini mempermudah Adam untuk melajukan motornya di belakang mobil mewah milik Kevin yang bergerak membelah jalanan pagi. Fokusnya terbagi antara memastikan keamanan Adel dan menjaga jarak agar mobil di depannya tidak menyadari keberadaannya.​Sesampainya di depan gerbang sekolah, Adam menurunkan Adel, membetulkan letak tasnya, dan mencium kening putrinya lembut. "Belajar yang rajin ya, Sayang."​"Iya, Pa. Papa hati-hati ya," jawab Adel sebelum berlari masuk ke halaman sekolah.​Begitu Adel tak lagi terlihat, senyum di wajah Adam langsung

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 2

    Mendengar suara lirih Adel, kepalan tangan Adam perlahan mengendur. Amarah yang sedetik lalu membakar dadanya seketika padam, digantikan oleh rasa iba yang teramat sangat pada putri kecilnya. Ia tidak ingin Adel melihat keretakan ini. Ia tidak ingin mental anaknya hancur karena keegoisan orang dewasa.​"Eh, Adel sayang... belum tidur, Nak?" Adam berbalik, melangkah mendekati pintu tempat Adel berdiri sambil memeluk boneka beruang kecilnya.​Mira hanya mendengus, langsung kembali meraih tabletnya tanpa memedulikan kehadiran sang anak.​"Papa mau ke kamar Adel sekarang kok. Yuk, Papa temani tidur," ucap Adam lembut, menggendong Adel dan membawanya kembali ke kamarnya.​Di dalam kamar yang bernuansa merah muda itu, Adam merebahkan tubuhnya di samping Adel. Tangan kasarnya mengusap rambut sang putri dengan penuh kasih sayang. Adel memeluk lengan ayahnya erat-erat.​"Pa, jangan berantem sama Mama ya... Adel takut," bisik Adel pelan sebelum matanya mulai terpejam.​Ia mengecup kening Ad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status