Teilen

Bab 3

last update Veröffentlichungsdatum: 13.07.2026 01:49:02

Setelah mobil yang membawa Mira perlahan menghilang dari pandangan, Adam tidak ingin membuang waktu lebih lama dalam kubangan rasa sakitnya. Ia segera berbalik, mengambil kunci motor tua miliknya, dan menuntun Adel keluar.

​"Ayo, Adel, kita berangkat sekolah sekarang ya. Nanti kamu telat," ucap Adam berusaha menata suaranya agar tetap terdengar tenang di depan sang putri.

​

Kebetulan, arah sekolah Adel dan kantor Mira berada di jalur yang sama. Hal ini mempermudah Adam untuk melajukan motornya di belakang mobil mewah milik Kevin yang bergerak membelah jalanan pagi. Fokusnya terbagi antara memastikan keamanan Adel dan menjaga jarak agar mobil di depannya tidak menyadari keberadaannya.

​

Sesampainya di depan gerbang sekolah, Adam menurunkan Adel, membetulkan letak tasnya, dan mencium kening putrinya lembut.

 "Belajar yang rajin ya, Sayang."

​

"Iya, Pa. Papa hati-hati ya," jawab Adel sebelum berlari masuk ke halaman sekolah.

​

Begitu Adel tak lagi terlihat, senyum di wajah Adam langsung lenyap. Firasat buruk yang sedari tadi menggelayuti benaknya kian menebal. Adam memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah untuk melanjutkan pekerjaan domestiknya. Rasa cemas dan curiga yang berkecamuk di dalam dada memaksanya untuk terus memutar gas motor, membuntuti mobil Kevin dari jarak aman.

​

Di dalam hatinya, ego Adam sebagai seorang suami terluka karena kecurigaan perselingkuhan. Namun di sisi lain, terselip pula rasa cemas yang tulus. Bagaimanapun ketusnya Mira, Adam tetap mengkhawatirkan keselamatan istrinya. 

Ia takut jika Kevin hanyalah pria hidung belang yang memiliki niat buruk atau hendak memanfaatkan ambisi Mira di tempat kerja. Adam bahkan sudah bersiap siaga di atas motornya, bertekad akan langsung pasang badan dan menolong Mira jika sampai atasannya itu melakukan tindakan pemaksaan.

​

Namun, dugaan dan kecemasan Adam langsung membentur kenyataan yang jauh lebih pahit.

​Langkah motor Adam mendadak melambat saat melihat mobil Kevin berbelok. 

Arah yang mereka tuju sama sekali bukan area perkantoran tempat Mira bekerja, melainkan halaman sebuah hotel berbintang. Adam memarkirkan motornya agak jauh di sudut luar, matanya tak lepas menatap pintu mobil yang kini terbuka.

​

Satu hal tak terduga yang paling ditakuti Adam akhirnya terpampang nyata di depan mata.

​Saat turun dari mobil, sama sekali tidak ada gurat paksaan atau ketakutan di wajah Mira. 

Sebaliknya, kedua orang itu justru berjalan sangat mesra, saling merangkul, sembari berbagi canda tawa yang begitu lepas. Pemandangan itu bagai hantaman gada besi di dada Adam. Sebuah tawa hangat dan sikap manja yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah Adam dapatkan lagi dari Mira.

"Sayang, aku udah kangen sekali sama kamu. Udah kangen sama apem legitmu!" seru Kevin menggoda Mira.

“Iiih, Pak Kevin! Jangan gitu dong! Geli tau!” seru Mira saat Kevin mencoba mencubit dan menggelitik pinggangnya. Bahkan, tangan Kevin sempat menyenggol dua bukit kembar Mira. Tapi Mira tampak tidak keberatan.

“Kok panggil Pak lagi sih? Emangnya aku ini sudah terlihat tua? Atau jangan jangan kamu takut ketahuan suamimu yang letoy itu?"

"Nggak mungkinlah! Buat apa juga aku takut sama laki laki sampah itu!"

"Baguslah. Kalau begitu jangan lagi panggil Pak saat di luar kantor.  Panggilnya Sayang, atau Beb. Ingat!” sahut Kevin sambil mengecup bibir Mira dengan ringan. Dan Mira terlihat menikmati perlakuan Kevin.

“Iya sayaaang…” jawab Mira dengan nada manja.

Meski suara mereka tidak terlalu keras, tapi Adam bisa mendengarnya dari jarak beberapa meter di balik mobil lain di parkiran tersebut. Mendengar percakapan intim mereka, seketika Adam mengepalkan kedua tangan dan hendak melangkah untuk melabrak keduanya. 

"Mira, keterlaluan kamu sampai mengatakan aku letoy pada laki laki lain!" geram Adam dengan rahang yang mengeras.

​Langkah Kevin dan Mira sempat terhenti sejenak di dekat area koridor luar. Di sana, Adam melihat Mira dan Kevin berciuman dengan begitu intim. Satu adegan yang selama ini dirindukan oleh Adam sebagai suami. Tapi istrinya selalu menolak dan menghinanya. Dan kini dengan suka rela Mira memberikan bibirnya pada pria lain.

"Emmhhhhh..." Mira terdengar melenguh nikmat saat Kevin melumat bibirnya dengan brutal.

Di sudut ruang parkir yang sepi itu, hanya terdengar suara decapan dari kedua bibir mereka yang saling bertautan. Erangan lirih Mira makin terdengar saat tangan liar Kevin dengan lincah meremas payu**d4r4 Mira yang terbungkus kemeja ketat.

​Darah Adam makin mendidih melihat keintiman di depan matanya itu. Dadanya naik turun menahan pasokan oksigen yang mendadak terasa mencekik. Amarah yang begitu hebat bergolak, membakar seluruh akal sehatnya.

 Adam hendak mendekat lalu melayangkan tinjunya ke wajah Kevin untuk menuntaskan harga dirinya yang diinjak-injak, dan menyeret Mira pulang dengan paksa. Tapi ketegangan itu mendadak buyar ketika terdengar suara klakson yang keras.

THIIIIIIINNNNNN!!

Suara klakson keras dari pengunjung hotel yang baru datang, mengejutkan Kevin dan Mira. Dengan cepat keduanya saling melepaskan diri dan membenahi pakaian masing masing.

"Woy! Kalau mau mesum masuk kamar sana!" teriak seseorang dari dalam mobil itu.

Karena kejadian tidak terduga itu, langkah kaki Adam mendadak terhenti. ​Logikanya mendadak berputar. Ia tau jelas bagaimana sifat Mira yang keras kepala dan angkuh selama ini.

 Jika tadi dia nekat melabrak mereka tanpa persiapan, Mira pasti akan lebih memilih berpihak dan membela Kevin mati-matian daripada mendengarkan suaminya sendiri yang dianggapnya tak berguna. Adam hanya akan dicaci sebagai pria pencemburu yang merusak karier istrinya.

​

Adam menarik napas dalam-dalam, memaksakan tangannya yang bergetar hebat untuk merogoh saku celana. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mengarahkan kamera ke arah lobi hotel. Dengan detail, Adam merekam seluruh aksi mesra mereka, mulai dari saat mereka tertawa bersama di resepsionis hingga berjalan beriringan menuju lift dengan kunci kamar di tangan.

“Tahan Adam, tahan! Jangan gegabah! Kamu harus punya bukti yang kuat!” bisik Adam menasehati dirinya sendiri di dalam hati dengan tatapan mata yang berubah menjadi sangat dingin.

​Niatnya untuk mengamuk telah padam, berganti menjadi sebuah rencana yang matang. Adam memilih untuk menyimpan video rekaman itu sebagai senjata pamungkasnya. Ia akan pulang, menyelesaikan harinya, dan menunggu Mira kembali ke rumah nanti malam. 

Di depan Mira, dan terutama di hadapan Marni yang selama ini selalu mendewakan kesuksesan putrinya, Adam akan menunjukkan rekaman video tersebut. Ia ingin melihat bagaimana wajah ibu mertuanya itu saat mengetahui kebusukan dan kehancuran moral dari putri kebanggaannya sendiri.

“Mira, kita selesaikan urusan kita saat kamu pulang!” seru Adam sebelum melangkah pergi dengan sebongkah amarah di hatinya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 100

    Usai menghadiri pemakaman dan memberikan penghormatan terakhir di rumah duka, Adam kembali ke rumah sakit untuk menjaga Adel. Sepanjang perjalanan di dalam mobil hingga duduk di sebelah ranjang perawatan putrinya, pikiran Adam sama sekali tidak bisa tenang. Perasaan ganjil yang menyengat dadanya saat berhadapan langsung dengan Diva di rumah duka terus berputar hebat di dalam kepalanya.​Setiap detail dari sosok Diva, aroma parfumnya yang halus, cara wanita itu menatap matanya, ketenangan di balik duka, hingga intonasi suaranya yang lembut namun berwibawa—sungguh membawanya pada sosok Alya. Kejanggalan itu terlalu nyata untuk sekadar dianggap sebagai ilusi atau ilusi rasa rindu.​Tak sanggup lagi menahan gejolak rasa penasaran yang menghimpit dadanya, Adam merogoh ponselnya. Jemarinya bergerak mengetik sebuah pesan singkat untuk Alya. Kali ini, untuk pertama kalinya, bukan berita perkembangan kesehatan Adel yang ingin ia bagikan, melainkan sebuah pengakuan jujur dari dalam sanubarinya.

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 99

    Dalam hitungan jam, berita duka mengenai tewasnya Kevin melesat cepat menembus jaringan media dan jagat bisnis ibu kota. Kabar tragis itu menjadi topik hangat di berbagai saluran berita pagi. Di kediaman utama, Orang Tua Diva dan Diva sendiri yang masih diliputi rasa syok luar biasa, langsung meluncur menggunakan iring-iringan mobil menuju Rumah Sakit Bhayangkara.​Biar bagaimanapun dendam dan kekecewaan membakar hati mereka, gugatan cerai resmi Diva belum sempat dikabulkan oleh pengadilan. Secara hukum dan lembaran negara, Kevin masih berstatus sebagai suami sah Diva. Tanggung jawab moral dan kepengurusan jenazah sepenuhnya jatuh ke tangan keluarga besar Holding Pusat.​Di kamar jenazah, tim kepolisian dan forensik memaparkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara terperinci kepada Diva dan kedua orang tuanya. Dugaan murni kecelakaan akibat kelalaian pribadi makin menguat. Petugas menemukan jejak tanah licin dan bekas geseran sepatu yang signifikan di pinggir fondasi pembata

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 98

    Malam makin larut tatkala kendaraan hitam yang membawa Diva akhirnya melintasi gerbang besi tinggi kediaman utamanya. Keheningan rumah megah yang biasanya menenangkan kini terasa bagaikan penjara yang dingin dan mencekam. Diva melangkah masuk dengan gontai, menaiki tangga melingkar menuju kamar utamanya dengan sisa-sisa tenaga yang terkuras habis.​Pikirannya berkecamuk hebat, saling bertabrakan bagaikan benang kusut yang mustahil diurai. Bayangan ketulusan Adam dan tatapan polos Adel di rumah sakit terus membayangi benaknya, beradu dengan kekacauan laporan keuangan Holding Pusat yang ditinggalkan Kevin dalam kondisi berantakan. Ditambah lagi dengan reruntuhan rumah tangganya yang baru saja roboh total siang tadi, beban di pundak Diva terasa begitu menghimpit dada.​Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang berukuran king-size, memandangi ruang kamar yang kini terasa teramat luas dan hampa. Sesuai rencana awal bersama tim pengacaranya, Diva sebenarnya berniat melaporkan Kevin ke pihak ke

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 97

    Begitu melangkah keluar dari area lobi utama Rumah Sakit Medika, Alya bergegas menuju sudut lorong taman yang sepi dan remang. Dengan gerakan cepat, ia merogoh ponsel khususnya, menekan tombol panggil cepat menuju satu-satunya orang yang memegang kunci rahasia kehidupannya.​"Rian, jemput aku sekarang di pintu samping rumah sakit," perintah Diva singkat, mengembalikan intonasi suaranya yang dingin dan berwibawa.​"Baik, Nyonya Diva. Saya sudah berada di area parkir luar, dua menit lagi saya tiba," jawab Rian sigap dari balik telepon.​Tak sampai tiga menit, sebuah mobil sedan hitam ber kaca gelap berhenti mulus tepat di hadapan Diva. Wanita itu membuka pintu belakang, melangkah masuk, dan menyandarkan tubuhnya yang letih di atas jok kulit yang empuk. Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi seluruh kebisingan dunia luar.​Saat kendaraan mewah itu mulai melaju membelah gemerlap lampu jalanan kota malam hari, Diva melepaskan kacamata tebal bertangkai hitam dan wig kusamnya. Jemarinya yan

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 96

    Mesin-mesin pemantau medis di dalam ruang ICU kembali berbunyi ritmis dengan nada yang stabil. Setelah melewati gejolak emosi dan rentetan rasa sakit yang menguras energinya, Adel akhirnya terlelap. Napas anak kecil itu mengalun teratur di balik masker oksigennya, membawa ketenangan tipis yang amat sangat disyukuri di dalam ruangan steril tersebut.​Adam mengusap dahi putrinya sekali lagi, memastikan selimut tebal membungkus tubuh mungil itu dengan sempurna, lalu berbalik mengajak Alya keluar secara perlahan agar tidak mengganggu tidur Adel.​Begitu pintu tebal ICU tertutup di belakang mereka, suasana koridor lantai lima kembali menyergap dengan keheningan yang dingin. Adam berdiri menghadap Alya, menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan raut wajah yang diliputi rasa bersalah yang mendalam.​"Alya... aku sungguh-sungguh minta maaf," ujar Adam dengan suara rendah yang parau. Pria tegap itu mengepalkan tangannya di samping tubuh, menyembunyikan rasa canggung yang mendera. "Permintaan Ad

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 95

    Lidah Alya terasa sangat kaku, membeku di balik rongga mulutnya yang mendadak terasa amat kering. Kata-kata yang biasanya tersusun begitu rapi dan tajam saat menghadapi negosiasi bisnis tingkat tinggi kini menguap tanpa bekas.​Dua dunia yang bertolak belakang bertabrakan dahsyat di dalam benaknya. Baru beberapa jam yang lalu, di rumah utamanya, ia mengambil keputusan besar untuk menggugat cerai Kevin dan menendang pria pengkhianat itu keluar dari silsilah hidupnya. Namun kini, di dalam ruang ICU yang serba steril dan dingin ini, seorang anak kecil tak berdosa baru saja melontarkan permohonan yang tak kalah dahsyat: memintanya menikah dengan Adam dan menjadi ibunya.​Dilema hebat meremas-remas dada Diva di balik penyamarannya sebagai Alya. Ini bukan pilihan yang mudah. Jika ia menjawab ya hanya demi menyenangkan hati Adel di saat kritis, ia sadar betul risiko kebohongannya kelak. Bagaimanakah ia bisa menepati janji itu saat identitas aslinya sebagai Diva, seorang pemilik perusahaan te

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status