Share

Bab 6

Author: Mr. Kis
last update publish date: 2026-08-20 22:17:53

Alya yang sejak awal fokus memperhatikan Adam, tentu bisa melihat respons tubuh majikannya yang mulai gelisah. Gerakan dadanya yang kian naik turun secara memburu, napasnya yang terengah-engah halus, serta otot paha yang mendadak menegang keras adalah sinyal yang sangat jelas.

​Ketika mata Alya melirik sekilas ke arah bagian inti tubuh Adam yang makin menonjol, senyum tipis yang penuh kemenangan terkembang sangat tipis di sudut bibirnya. Begitu samar hingga Adam yang sedang memejamkan mata rapat-rapat tidak akan mungkin menyadarinya.

​Dinding pertahanan pria yang katanya letoy dan tidak perkasa ini rupanya begitu rapuh. Hinaan Mira yang menyebut suaminya tidak berguna di atas ranjang seketika terpatahkan di depan mata Alya. Yang ada di hadapannya saat ini hanyalah seorang lelaki dewasa yang kehausan akan belas kasih dan sentuhan hangat seorang wanita.

​"Gimana, Pak? Bagian sini masih terasa tegang?" tanya Alya dengan suara yang sengaja dibuat lebih dalam dan lembut, nyaris menyerupai desahan halus di udara kamar yang makin terasa panas.

​Jemari Alya yang licin oleh krim mentol tidak berhenti. Malahan, dengan gerakan yang makin berani namun terencana, ia sengaja menggeser telapak tangannya semakin ke dalam. Gerakan melingkar yang tadinya fokus di paha bagian atas kini mengikis jarak yang tersisa. Tangan Alya secara tidak sengaja, atau lebih tepatnya sengaja, menepis tepi kain handuk yang melilit tubuh Adam.

​Srett...

​Ujung jemari Alya yang hangat menyenggol bagian bawah dari tonjolan keras di balik handuk tersebut. Sentuhan langsung itu memberikan efek kejutan listrik yang luar biasa bagi Adam.

​"Aaghh!" Adam tersentak hebat. Tubuhnya membusur kecil di atas kasur, dan kedua tangannya makin mencengkeram erat seprai hingga buku-buku jarinya memutih.

​Adam membuka matanya lebar-lebar dengan napas terengah. Wajahnya merah padam, bercampur antara rasa nikmat yang membakar dan kebingungan yang teramat sangat. "A-Alya... tunggu! T-tanganmu..."

​Alya langsung menarik tangannya cepat, lalu menutup mulutnya dengan raut wajah yang tampak sangat terkejut dan penuh rasa bersalah. Pandangannya menunduk dalam-dalam, pura-pura panik.

​"Astaga! Maafkan saya, Pak! Sungguh, saya tidak sengaja!" seru Alya dengan nada suara yang bergetar polos.

​"I-iya... tidak apa-apa, tapi..." Adam bersuara terbata-bata, berusaha keras menutupi tonjolan di balik handuknya yang kini makin nyata terlihat di depan mata gadis itu.

​"Saya benar-benar minta maaf, Pak Adam. Saya tidak bermaksud sopan atau menyenggol bagian sensitif Bapak. Tapi... kalau boleh saya jelaskan, pusat penarikan urat yang terkilir dari pergelangan kaki itu memang menjalar sampai ke pangkal paha, Pak,” potong Alya pelan. Ia menatap Adam dengan mata membulat penuh penyesalan yang dibuat-buat.

​"M-maksudmu?" tanya Adam, tenggorokannya terasa sangat kering hingga ia harus menelan ludah dengan susah payah.

​"Iya, Pak. Otot paha bagian dalam Bapak ini sangat tegang dan mengeras. Kalau tidak dikendurkan dari puncaknya di sekitar pangkal paha, rasa nyerinya tidak akan benar-benar hilang dan besok kaki Bapak bisa bengkak dua kali lipat," jelas Alya dengan wajah yang begitu polos, seolah-olah ia sedang memberikan kuliah medis yang jujur.

​"Tapi, Alya... itu terlalu dekat dengan..." Adam tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Egonya sebagai pria meronta, namun tubuhnya memekik menginginkan lebih.

​"Bapak percaya pada saya, kan?" tanya Alya lembut, menatap tepat ke dalam manik mata Adam yang dipenuhi keraguan. "Saya cuma berniat menyembuhkan Bapak. Anggap saja ini terapi urut biasa. Bapak pejamkan mata saja kalau merasa risih."

​Tanpa menunggu persetujuan eksplisit dari Adam, Alya kembali meletakkan telapak tangannya di paha dalam Adam. Kali ini, gerakannya jauh lebih pelan, memutar, dan penuh tekanan yang lembut namun tegas.

​Irama pijatan Alya seolah memiliki sihir tersendiri. Setiap kali jemarinya bergerak naik dan sengaja menyapu tipis bagian bawah kejantanan Adam yang menegang keras di balik handuk, Adam hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat dan mengeluarkankan lenguhan pasrah yang tertahan di tenggorokan.

​"Emmgghh..."

​"Tahan sebentar ya, Pak... Agak ditekan sedikit biar darahnya lancar," bisik Alya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum culas. Ia bisa merasakan betapa panas dan kerasnya tubuh pria yang selama ini diinjak-injak oleh Mira.

​Posisi mereka kini sangat intim. Alya berlutut begitu dekat di antara kedua kaki Adam yang terbuka, sementara tubuh Adam terbaring pasrah dengan hanya tertutup selembar handuk yang kian melorot. Udara di dalam kamar itu mendadak dipenuhi oleh aroma krim mentol yang tajam beradu dengan gairah terselubung yang kian memuncak.

​Adam benar-benar berada di ambang batas akal sehatnya. Batinnya menjerit bahwa ini salah, ini melanggar batas antara majikan dan pembantu. Namun, rasa haus akan perhatian, sentuhan, dan pengakuan atas keperkasaannya yang selama berbulan-bulan dihancurkan oleh Mira, kini terbayarkan tuntas oleh perlakuan Alya.

​Jemari Alya bergerak makin berani, mengusap pangkal paha itu dengan alur melingkar yang kian mendekati puncak gairah. Tepat ketika Alya hendak mendorong jemarinya lebih jauh ke dalam lilitan handuk untuk menguji sejauh mana pria itu bisa bertahan 

​BRAK!

​Terdengar uara pintu ruang tamu yang didorong kasar menggelegar hingga ke dalam kamar, disusul suara langkah kaki yang melangkah cepat dan angkuh membelah keheningan rumah.

​"Adam! Adam!! Di mana kamu?!"

​Suara melengking dan penuh nada penghinaan itu memantul keras di dinding-dinding lorong. Itu suara Marni, ibu mertuanya, yang rupanya sudah pulang lebih cepat dari acara kumpul-kumpulnya.

​Suara itu bagaikan siraman air es yang menyiram tumpukan bara api. Suasana intim dan panas di dalam kamar seketika hancur berkeping-keping.

​Adam tersentak kaget hingga tubuhnya hampir melompat dari kasur. Wajahnya yang tadinya memerah oleh gairah kini seketika pucat pasi bagaikan mayat. Jantungnya berdegup kencang karena rasa panik yang membakar dada.

​"Astaga! Ibu mertua saya!" bisik Adam panik setengah mati. Ia dengan cepat menarik handuknya untuk menutupi tubuhnya dengan benar, berusaha menyembunyikan ketegangan tubuhnya yang belum sepenuhnya surut.

​Alya pun tidak kalah cepat. Dengan gerakan refleks yang sangat terlatih, ia dengan sigap menarik tangannya, berdiri tegak, dan memundurkan langkahnya beberapa jengkal dari tepi ranjang. Ia dengan cepat mengambil tube krim otot dan menaruhnya kembali ke dalam saku celemeknya, lalu merapikan posisi nampan bubur di atas meja nakas agar terlihat alami.

​"Adam! Kamu ini pekak ya?! Dipanggil-panggil dari tadi tidak menyahut!" teriakan Marni makin dekat. Langkah kakinya terdengar makin nyaring menuju arah kamar tidur Adam.

​"Alya... cepat berdiri di dekat pintu! Pura-pura sedang membersihkan meja!" perintah Adam setengah berbisik dengan nada tertekan, sambil bersusah payah menarik selimut tebal untuk menutupi seluruh bagian bawah tubuhnya dari pandangan.

​"Baik, Pak," jawab Alya pelan. Wajah polos dan penurutnya kembali terpasang sempurna dalam hitungan detik, seolah-olah tidak ada hal gila yang baru saja terjadi di antara mereka.

​Cklek!

Tanpa aba aba, ​Pintu kamar Adam didorong kasar dari luar. Marni berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan berkacak pinggang, mengenakan pakaian senam warna mencolok dan kacamata hitam yang dinaikkan ke atas kepala. Tatapan matanya yang tajam dan sarat akan rasa jijik langsung menyapu seisi ruangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 100

    Usai menghadiri pemakaman dan memberikan penghormatan terakhir di rumah duka, Adam kembali ke rumah sakit untuk menjaga Adel. Sepanjang perjalanan di dalam mobil hingga duduk di sebelah ranjang perawatan putrinya, pikiran Adam sama sekali tidak bisa tenang. Perasaan ganjil yang menyengat dadanya saat berhadapan langsung dengan Diva di rumah duka terus berputar hebat di dalam kepalanya.​Setiap detail dari sosok Diva, aroma parfumnya yang halus, cara wanita itu menatap matanya, ketenangan di balik duka, hingga intonasi suaranya yang lembut namun berwibawa—sungguh membawanya pada sosok Alya. Kejanggalan itu terlalu nyata untuk sekadar dianggap sebagai ilusi atau ilusi rasa rindu.​Tak sanggup lagi menahan gejolak rasa penasaran yang menghimpit dadanya, Adam merogoh ponselnya. Jemarinya bergerak mengetik sebuah pesan singkat untuk Alya. Kali ini, untuk pertama kalinya, bukan berita perkembangan kesehatan Adel yang ingin ia bagikan, melainkan sebuah pengakuan jujur dari dalam sanubarinya.

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 99

    Dalam hitungan jam, berita duka mengenai tewasnya Kevin melesat cepat menembus jaringan media dan jagat bisnis ibu kota. Kabar tragis itu menjadi topik hangat di berbagai saluran berita pagi. Di kediaman utama, Orang Tua Diva dan Diva sendiri yang masih diliputi rasa syok luar biasa, langsung meluncur menggunakan iring-iringan mobil menuju Rumah Sakit Bhayangkara.​Biar bagaimanapun dendam dan kekecewaan membakar hati mereka, gugatan cerai resmi Diva belum sempat dikabulkan oleh pengadilan. Secara hukum dan lembaran negara, Kevin masih berstatus sebagai suami sah Diva. Tanggung jawab moral dan kepengurusan jenazah sepenuhnya jatuh ke tangan keluarga besar Holding Pusat.​Di kamar jenazah, tim kepolisian dan forensik memaparkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara terperinci kepada Diva dan kedua orang tuanya. Dugaan murni kecelakaan akibat kelalaian pribadi makin menguat. Petugas menemukan jejak tanah licin dan bekas geseran sepatu yang signifikan di pinggir fondasi pembata

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 98

    Malam makin larut tatkala kendaraan hitam yang membawa Diva akhirnya melintasi gerbang besi tinggi kediaman utamanya. Keheningan rumah megah yang biasanya menenangkan kini terasa bagaikan penjara yang dingin dan mencekam. Diva melangkah masuk dengan gontai, menaiki tangga melingkar menuju kamar utamanya dengan sisa-sisa tenaga yang terkuras habis.​Pikirannya berkecamuk hebat, saling bertabrakan bagaikan benang kusut yang mustahil diurai. Bayangan ketulusan Adam dan tatapan polos Adel di rumah sakit terus membayangi benaknya, beradu dengan kekacauan laporan keuangan Holding Pusat yang ditinggalkan Kevin dalam kondisi berantakan. Ditambah lagi dengan reruntuhan rumah tangganya yang baru saja roboh total siang tadi, beban di pundak Diva terasa begitu menghimpit dada.​Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang berukuran king-size, memandangi ruang kamar yang kini terasa teramat luas dan hampa. Sesuai rencana awal bersama tim pengacaranya, Diva sebenarnya berniat melaporkan Kevin ke pihak ke

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 97

    Begitu melangkah keluar dari area lobi utama Rumah Sakit Medika, Alya bergegas menuju sudut lorong taman yang sepi dan remang. Dengan gerakan cepat, ia merogoh ponsel khususnya, menekan tombol panggil cepat menuju satu-satunya orang yang memegang kunci rahasia kehidupannya.​"Rian, jemput aku sekarang di pintu samping rumah sakit," perintah Diva singkat, mengembalikan intonasi suaranya yang dingin dan berwibawa.​"Baik, Nyonya Diva. Saya sudah berada di area parkir luar, dua menit lagi saya tiba," jawab Rian sigap dari balik telepon.​Tak sampai tiga menit, sebuah mobil sedan hitam ber kaca gelap berhenti mulus tepat di hadapan Diva. Wanita itu membuka pintu belakang, melangkah masuk, dan menyandarkan tubuhnya yang letih di atas jok kulit yang empuk. Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi seluruh kebisingan dunia luar.​Saat kendaraan mewah itu mulai melaju membelah gemerlap lampu jalanan kota malam hari, Diva melepaskan kacamata tebal bertangkai hitam dan wig kusamnya. Jemarinya yan

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 96

    Mesin-mesin pemantau medis di dalam ruang ICU kembali berbunyi ritmis dengan nada yang stabil. Setelah melewati gejolak emosi dan rentetan rasa sakit yang menguras energinya, Adel akhirnya terlelap. Napas anak kecil itu mengalun teratur di balik masker oksigennya, membawa ketenangan tipis yang amat sangat disyukuri di dalam ruangan steril tersebut.​Adam mengusap dahi putrinya sekali lagi, memastikan selimut tebal membungkus tubuh mungil itu dengan sempurna, lalu berbalik mengajak Alya keluar secara perlahan agar tidak mengganggu tidur Adel.​Begitu pintu tebal ICU tertutup di belakang mereka, suasana koridor lantai lima kembali menyergap dengan keheningan yang dingin. Adam berdiri menghadap Alya, menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan raut wajah yang diliputi rasa bersalah yang mendalam.​"Alya... aku sungguh-sungguh minta maaf," ujar Adam dengan suara rendah yang parau. Pria tegap itu mengepalkan tangannya di samping tubuh, menyembunyikan rasa canggung yang mendera. "Permintaan Ad

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 95

    Lidah Alya terasa sangat kaku, membeku di balik rongga mulutnya yang mendadak terasa amat kering. Kata-kata yang biasanya tersusun begitu rapi dan tajam saat menghadapi negosiasi bisnis tingkat tinggi kini menguap tanpa bekas.​Dua dunia yang bertolak belakang bertabrakan dahsyat di dalam benaknya. Baru beberapa jam yang lalu, di rumah utamanya, ia mengambil keputusan besar untuk menggugat cerai Kevin dan menendang pria pengkhianat itu keluar dari silsilah hidupnya. Namun kini, di dalam ruang ICU yang serba steril dan dingin ini, seorang anak kecil tak berdosa baru saja melontarkan permohonan yang tak kalah dahsyat: memintanya menikah dengan Adam dan menjadi ibunya.​Dilema hebat meremas-remas dada Diva di balik penyamarannya sebagai Alya. Ini bukan pilihan yang mudah. Jika ia menjawab ya hanya demi menyenangkan hati Adel di saat kritis, ia sadar betul risiko kebohongannya kelak. Bagaimanakah ia bisa menepati janji itu saat identitas aslinya sebagai Diva, seorang pemilik perusahaan te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status