تسجيل الدخولDeru mesin mobil sewaan yang kasar membelah keheningan malam kota yang dipenuhi kerlip lampu neon.Chloe menginjak pedal gas lebih dalam, meluncurkan kendaraan kusam itu membelah jalanan utama menuju kawasan hiburan paling glamor di pusat kota. Gelombang emosi yang membakar dadanya perlahan teralihkan oleh ketegangan tak bernama sewaktu bayangan gedung kelab malam paling megah mulai terlihat di ujung jalan.Kelab malam bernama The Velvet Crown itu berdiri megah dengan arsitektur modern berdinding kaca gelap berlapis lampu kristal keemasan.Tempat eksklusif itu merupakan pusat hiburan kelas atas yang menjadi ajang berkumpulnya para pengusaha kaya, pejabat papan atas, dan tokoh berpengaruh dunia bawah. Chloe memarkirkan mobil sewaannya di area parkir umum tak jauh dari gerbang utama, lalu melangkah keluar dengan gaun hitam ketatnya yang memikat.Ia meniti langkah penuh kehati-hatian melintasi pintu samping khusus karyawan yang terletak di lorong gelap bagian belakang gedung kelab t
"Kamu sudah gila, Chloe! Otakmu sudah benar-benar rusak oleh obsesi konyol ini!" balas Beatrice seraya menghentakkan kakinya di atas lantai."Kalau kamu terus-terusan bertindak nekat seperti ini, Ethan Vance tidak akan segan-segan menghancurkan bisnis ayahmu yang tersisa!" ancam Beatrice dengan suara bergetar."Biarkan dia mencoba! Aku tidak peduli pada bisnis Papa atau apa pun!" potong Chloe seraya berdiri tegak membusungkan dadanya yang membusung tinggi."Aku akan merebut Ethan kembali dengan cara apa pun, bahkan kalau aku harus membakar seluruh kota ini sampai jadi abu!" ancam Chloe tanpa ragu.Beatrice menggelengkan kepalanya seraya mundur satu langkah, menatap putrinya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa pusing dan putus asa."Mama tidak mau ikut campur lagi kalau kamu sampai ditangkap pengawal Ethan atau dijebloskan ke penjara!" pangkas Beatrice sebelum memutar tubuhnya.Wanita paruh baya itu keluar dari kamar dan membanting pintu kayu tebal itu hingga menimbulkan dentum
Langkah kaki Chloe menghentak kasar saat memasuki kamar tidurnya yang serba putih di kediaman Sinclair.Ia membuang tas genggam barang mewahnya ke atas lantai marmer tanpa peduli tas mahal itu tergores. Tubuhnya dihempaskan begitu saja ke atas kasur busa berseprai sutra yang terasa dingin dan kaku.Sepasang matanya menatap tajam ke arah langit-langit kamar yang dihiasi ukiran kayu klasik dan lampu kristal yang mati.Pikiran wanita itu berkecamuk hebat, dipenuhi oleh sisa-sisa bayangan kejadian memalukan di restoran mewah beberapa jam lalu.Rasa hina dan cemoohan bersahut-sahutan di dalam dadanya, menciptakan dentupan amarah yang membakar hingga ke ujung kepalanya.Setiap usaha yang ia susun dengan cermat seolah hanya menabrak dinding batu tebal yang tak tergoyahkan sedikit pun.Ethan sama sekali tidak meliriknya, bahkan memandangnya seperti sebuah kotoran yang tidak layak mendapatkan porsi perhatian paling kecil sekalipun.Padahal ia sudah membuang rasa malu, mengenakan pakaia
Suara denting alat makan perak beradu halus dengan porselen mahal sewaktu Ethan mengusap bibirnya menggunakan serbet kain bersih.Langkah kaki Chloe yang menghentak keras menjauhi area meja makan restoran mewah itu lenyap sepenuhnya di balik pintu kaca berukir emas. Ethan meletakkan serbet kainnya ke atas meja, sama sekali tidak mengalihkan perhatian dari ponsel pintarnya yang masih menampilkan pesan manis dari Tiffany.Pria tegap itu berdiri anggun, merapikan kancing jas mewahnya sebelum memberi isyarat ringan pada Marcus yang setia mengawal di belakangnya."Selesaikan pembayaran makan siang ini, Marcus. Kita kembali ke kediaman sekarang," perintah Ethan singkat dengan nada bariton yang mantap."Siap, Tuan Vance. Mobil utama sudah bersiaga tepat di depan teras restoran," sahut Marcus seraya membungkuk hormat dan memanggil pelayan.Rombongan pengawalan ketat langsung memagari langkah Ethan melintasi selasar restoran hingga menuju pintu keluar utama yang bernuansa klasik.SUV la
Dua pengawal berbadan tegap mencengkeram lengan Chloe secara halus namun sangat bertenaga, membimbing langkahnya keluar melintasi pintu kaca berputar Vance Group.Hawa dingin pendingin udara gedung seketika berganti dengan panasnya terik matahari siang yang membakar permukaan aspal jalanan utama. Chloe menghentakkan kakinya dengan kasar di atas trotoar, melepaskan cengkeraman tangan pengawal itu dengan raut wajah yang dipenuhi dendam kesumat.Rasa malu yang luar biasa hebat saat diusir dari lobi tidak serta-merta melumpuhkan niat busuk wanita bergaun merah mencolok tersebut.Ia mengusap sudut matanya yang memerah, memperbaiki letak gaun ketatnya, lalu berjalan cepat menuju mobil sewaan hitam kusam di gedung parkir seberang jalan. Di dalam kabin mobil yang terasa pengap, Chloe merogoh tas genggamnya untuk menyambar ponsel pintar dan menghubungi salah satu relasi lamanya."Cari tahu di mana Ethan Vance akan makan siang hari ini. Sekarang juga!" bentak Chloe tanpa memberikan salam p
Kertas-kertas putih yang berserakan di atas lantai marmer lobi Vance Group menjadi pusat perhatian seketika.Chloe membungkukkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat lambat, sengaja memamerkan belahan gaun merah menyalanya yang amat rendah tepat di hadapan Ethan. Riasan tebal di wajahnya terpapar jelas di bawah sorotan lampu kristal lobi, memancarkan keputusasaan yang dibungkus oleh kepura-puraan anggun.Ia mendongak pelan, memasang binar mata paling menyedihkan bercampur godaan terselubung untuk memancing empati pria berkuasa di depannya."Ethan ... tidak disangka kita bisa bertemu di sini," bisik Chloe dengan nada suara yang bergetar penuh kepura-puraan."Aku tidak bermaksud mengganggu langkahmu, tapi bisakah kita bicara sebentar saja soal hal penting?" tanya Chloe seraya mencoba menyentuh ujung lengan jas hitam Ethan.Langkah kaki Ethan yang tadinya mantap dan tegap mendadak terhenti persis satu jengkal di depan lembaran kertas yang terhampar di lantai.Aura di seluruh area l
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur







