LOGINPria yang biasa memimpin perusahaan besar tanpa pernah berkedip menghadapi ancaman musuh itu kini tampak begitu rapuh di depan wanita yang tidak berdaya di pelukannya. Ia sama sekali tidak peduli pada tatapan bingung ratusan tamu VIP yang memadati lantai lobi."Tahan sebentar, Buka matamu dan tatap aku, Tiffany!" desik Ethan dengan nada memohon yang teramat langka keluar dari bibirnya.Tiffany mengangguk pelan tanpa membuka kelopak matanya, menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada lengan kokoh Ethan yang memagari punggungnya.Arthur Sinclair yang berdiri tidak jauh dari tempat itu akhirnya mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk mendekat satu langkah lagi."Tuan Vance, jika Nyonya butuh bantuan medis, dokter pribadi keluarga Sinclair sedang berada di lantai atas," tawar Arthur dengan nada gemetar, berusaha menunjukkan kepedulian di tengah kekacauan yang terjadi.Ethan menoleh kilat, melayangkan tatapan mata yang begitu dingin hingga sanggup menghentikan detak jantung Arthur deti
Ethan yang tadi sudah bersiap menghancurkan wajah Christian sampai remuk mendadak membeku kaku di tempatnya. Seluruh aura pembunuh yang meluap dari tubuhnya mendadak menguap saat ia merasakan ketegangan yang amat berbeda dari arah belakang. Tarikan bergetar pada kain jas mewahnya bukan sekadar pegangan biasa, melainkan sebuah jeritan minta tolong yang teramat lemah dari wanita yang paling dicintainya.Seluruh dunia seolah-olah berhenti berputar pada detiknya yang paling krusial.Riuh rendah suara bisik-bisik sosialita, denting gelas kristal yang saling bertabrakan, hingga alunan musik pesta yang mengalun samar mendadak hilang dari kesadaran Ethan. Pusat tata surya pria itu bergeser sepenuhnya dalam hitungan milidetik. Niat membantai yang tadinya membakar otaknya mendadak runtuh tanpa sisa, tergantikan oleh rasa takut yang luar biasa asing saat melihat wanita di sampingnya mulai kehilangan tumpuan tubuh.Ethan menangkap tubuh Tiffany sebelum jatuh menyentuh lantai marmer yang dingi
Tiffany mencengkeram kuat dada jas tebal yang dikenakan Ethan, meremas kain kemeja suaminya hingga berkerut parah. Tubuh wanita itu membungkuk sedikit, menahan guncangan tak terlihat yang menghantam tubuhnya dari dalam. Wajah cantiknya yang beberapa detik lalu tampak tegar kini berubah pucat pasi, kehilangan seluruh warna alaminya dalam waktu singkat.Rasa mual yang luar biasa hebat meletup dari dasar perutnya, merayap naik dan membakar kerongkongannya.Dunia di sekeliling Tiffany rasanya berputar liar sewaktu aroma alkohol menyengat dari pakaian Christian dan wewangian parfum para tamu pesta melebur jadi satu di udara. Rasa pusing yang tajam menghantam pelipisnya, memaksa matanya terpejam rapat demi menahan sensasi mual yang siap meledak. Pegangannya pada dada jas Ethan kian kencang, menjadi satu-satunya tumpuan agar dirinya tidak roboh ke atas marmer dingin."Ethan ...," bisik Tiffany dengan suara tersendat, hampir kehilangan seluruh pasokan napasnya.Sentuhan bergetar dan rint
Christian memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan seluruh tubuhnya gemetar kaku di bawah bayang-bayang Ethan yang pekat mematikan. Rasa dingin yang melilit lehernya makin mencekik, sementara napasnya tersumbat rapat di tenggorokan hingga menyisakan erangan lemah. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya yang bergetar, Christian hanya bisa pasrah menunggu kepalan tangan besi yang sebentar lagi akan menghantam dan menghancurkan wajahnya tanpa ampun.Pria pecundang itu tahu betul pukulan maut dari sosok sekelas Ethan Vance sanggup mematahkan tulang rahangnya dalam sekali tebasan.Seluruh tamu di lobi pesta menahan napas mereka serentak, membeku menyaksikan kepalan tangan Ethan yang siap meluncur di udara. Angin tipis berembus cepat saat lengan kokoh bertato misterius itu mengayun membelah jarak, membawa seluruh dendam dan kemarahan membara yang membakar dadanya. Tidak ada satu pun orang yang berani berkedip, menunggu bunyi remukan tulang yang diyakini akan menggema dahsyat di atas
Tidak ada satu pun tamu di lobi pesta mewah itu yang berani bernapas dengan normal. Udara di sekitar area bar minuman seolah-olah mendadak membeku sepenuhnya, menyisakan keheningan yang begitu pekat dan melumpuhkan. Ratusan pasang mata sosialita, pengusaha ternama, hingga para gaun malam mahal terpaku kaku pada kepalan tangan Ethan Vance yang mengudara dengan buku-buku jari memutih.Ancaman maut yang dipancarkan oleh penguasa bisnis itu benar-benar riil dan sanggup menghentikan detak jantung siapa saja yang menyaksikannya secara langsung.Arthur Sinclair, yang menyadari bahwa pembantaian berdarah di depan publik akan meruntuhkan reputasi acara dan perusahaannya, akhirnya mengumpulkan sisa-sisa keberanian terakhirnya. Dengan wajah pucat pasi dan peluh dingin yang membanjiri leher, pria tua itu melangkah maju setengah inci, memberanikan diri mengulurkan tangannya yang gemetar hebat untuk menggapai lengan jas mahal milik Ethan."Tuan Vance, saya mohon, kendalikan diri Anda!" panggil
Ethan tidak lagi bicara, membiarkan keheningan kelam mengambil alih seluruh kendali di sudut lobi pesta. Keberadaan suara tawa cempreng Christian yang tadinya memenuhi ruangan kini melempem tanpa sisa. Ethan mengambil satu langkah maju dengan pijakan berat yang mematikan, mengikis habis celah udara yang memisahkan tubuh mereka.Langkah kaki itu berdentam pelan di atas marmer kilap, membawa getaran dingin yang langsung merayap naik ke tulang punggung Christian.Christian, yang tadinya menggebu-gebu karena pengaruh minuman keras dan luapan amarah gila, kini mulai merasakan ketakutan nyata akan kematian yang mendadak merayap mendekat. Pupil matanya melebar drastis saat ia mencoba menyerap sorot mata hitam tanpa pendar milik Ethan. Rasa terbakar alkohol yang menguasai otaknya mendadak melenyap, tergantikan oleh kejutan ketakutan murni yang sangat menyiksa."Vance ... kamu ... apa yang mau kamu lakukan?" cicit Christian dengan nada suara yang melengking pecah.Christian mencoba mengge
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan







