LOGIN
Tatapannya berpindah pada Aluna.
“Apakah Anda tetap ingin melanjutkan gugatan ini?” Ruangan pengadilan militer itu cukup sunyi, bahkan mungkin terlalu sunyi untuk ukuran siang hari, dan hanya gema suara dari petugas itulah yang mamou memecah kesunyian. Suara detikan jam di dinding bahkan terdengar lebih keras dari biasanya. Para petugas administrasi duduk di belakang meja panjang, menatap dua orang yang berdiri berhadapan di tengah ruangan itu. Di sisi kiri berdiri seorang wanita muda dengan gaun sederhana berwarna krem. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan wajah yang cantik namun pucat. Aluna Rengganis namanya—istri dari Kapten tampan nan gagah berana Raka Juang Mahardika. Sedangkan di sisi kanan, Kapten Raka sudah berdiri dengan seragam militer yang rapi sempurna. Bahunya tegap, wajahnya tegas, dan aura dingin yang keluar darinya membuat ruangan terasa lebih kaku. “Nyonya Aluna,” ulang sang petugas dengan suara yang sedikit ditekan. Semua mata langsung tertuju pada Aluna. Dia tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam ujung meja dengan sangat pelan. Jika seseorang memperhatikan dengan teliti, mereka akan langsung menyadari ujung jari wanita itu yang sedikit gemetar. Mereka yang ada di ruangan itu tahu siapa mereka Aluna dan Raka. Bahkan pernikahan mereka juga sangat terkenal kala itu. Pernikahan yang terjadi bukan karena adanya cinta, melainkan karena sebuah skandal. Beberapa bulan lalu, seluruh lingkaran militer langsung gempar ketika Aluna memaksa menikah dengan Raka melalui tekanan keluarga. Banyak orang mengatakan bahwa wanita itu manipulatif, haus status, dan rela melakukan apa pun demi menjadi istri Kapten paling menjanjikan di markas militer. Dan sekarang, justru wanita itu pula yang mengajukan gugatan cerai. Aluna menarik napas perlahan. Di hadapannya, Raka berdiri dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa. Mata pria itu masih dingin seperti es, menatapnya seolah sedang melihat seseorang yang bahkan tidak pantas untuk diperhatikan. Benar-benar tidak ada ekspresi sama sekali selain ketidakpedulian yang sangat ketara. Dan nyata, tatapan seperti itu justru menusuk lebih dalam daripada kebencian itu sendiri. Aluna menelan ludahnya dengan susah payah. Dalam hatinya, dia tak berhenti tertawa pahit. Mengingat semua yang dia alami saat ini sama persis seperti cerita di dalam novel yang pernah ia baca. Tepatnya, dunia ini adalah dunia di dalam sebuah novel yang pernah ia baca. Dan dia sekarang berada di dalamnya. Sudah tiga minggu sejak dia membuka mata dan menemukan dirinya berada di tubuh Aluna Rengganis. Seorang tokoh wanita yang terkenal karena reputasi buruknya. Tokoh yang dibenci hampir semua orang. Tokoh yang memaksa menikah dengan pria yang bahkan tidak mencintainya. Dan tokoh yang akan mati dalam waktu beberapa bulan lagi. Ingatan itu membuat jantung Aluna berdegup lebih cepat. Dia mengigit bibir bawahnya. Karena dalam cerita asli, setelah gugatan cerai ini disetujui, Aluna akan meninggalkan rumah dinas militer dengan penuh kemarahan. Dia akan terlibat dalam beberapa konflik kecil sebelum akhirnya mengalami kecelakaan mobil misterius. Dan kecelakaan yang berhasil merenggut nyawanya. Banyak orang dalam cerita menganggap itu hanya kecelakaan biasa. Tapi berbeda dengannya. Sebagai pembaca, Aluna tahu itu bukanlah sebuah kebetulan yang wajar. Dan dia juga tidak berniat mati begitu saja di dalam novel ini. “Nyonya Aluna?” Lagi. Suara petugas kembali menariknya pada kenyataan. Membuat desir halus menerpa tengkuknya. “Anda melamun? Apakah Anda tetap ingin melanjutkan gugatan cerai ini?” Aluna masih belum menjawab. Membuat keheningan mendominasi ruangan itu lagi. Beberapa orang bahkan menunggu dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. Bagaimanapun, semua orang sudah mendengar tentang hubungan buruk pasangan ini. “Aku ingin mencabut gugatan itu.” Kalimat itu akhirnya lolos dari mulut Aluna. Sejenak, tidak ada yang bergerak. Seolah kata-katanya baru saja berhasil memecahkan sesuatu yang tidak kasat mata. Petugas itu bahkan berkedip beberapa kali. Melihat dokumen, lalu kembali menatap Aluna dengan wajah bingung. “Maaf?” “Aku mencabut gugatan cerainya.” Suara Aluna kali ini terdengar lebih jelas. “Perceraian tidak perlu dilanjutkan. Sekali lagi, aku mencabut gugatannya.” Ruangan langsung dipenuhi bisikan pelan. Beberapa petugas saling berpandangan dengan ekspresi bingung. Sementara itu, untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan ini, Raka bergerak. Pria itu sedikit menoleh ke arah Aluna. Aluna bisa merasakan aura tekanan yang keluar dari Raka bahkan tanpa dia berkata apa pun. Raka memang terkenal bukan hanya karena kemampuannya di medan perang. Tetapi juga karena kepribadiannya yang dingin dan sulit ditebak. Dia tidak suka permainan, dan dia paling tidak suka dimanipulasi. Melihat ekspresi Raka, petuas itu bergerak cepat. Dia berdehem untuk memecah keheningan yang mulai merambat. “Nyonya Aluna, Anda yakin dengan keputusan ini?” “Iya.” “Gugatan ini diajukan oleh Anda sendiri dua minggu lalu,” jelas petugas itu lagi. Dia hanya ingin memastikan kalau yang Aluna katakana bukan lah rencana yang bisa membuatnya menyesal. “Aku tahu.” “Apakah ada alasan tertentu untuk perubahan keputusan ini?” Aluna terdiam. Dia memejamkan matanya sebentar, menarik napas panjang, lalu kembali meluruskan pandangannya. “Aku hanya berubah pikiran.” Petugas itu masih terlihat bingung, tetapi akhirnya anggukan samar muncul. Dia langsung mencatatak semua keputusan Aluna. “Baik. Jika begitu, gugatan cerai akan dihentikan.”Aluna hampir saja tertawa miris. Kalau dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia adalah jiwa dari dunia lain yang masuk ke tubuh ini, Raka mungkin akan langsung memanggil psikiater militer, atau bahkan menyeretnya ke rumah sakit jiwa. “Anggap saja aku baru sadar sesuatu,” jawab Aluna. Perlahan, wajahnya terangkat. Dari mulai kaki, badan dan kini berhenti di wajah Raka yang sudah berdiri tepat di depannya. Aluna kembali menelan ludah dengan sangat susah payah. Namun tanpa diduga, Raka kini justru berjalan menuju meja makan, lalu duduk di salah satu kursinya. Gerakan sederhana itu, membuat Aluna semakin merasa gugup. Apa lagi ketika Raka mengambil sendok dan mencicipi sup panas itu, Aluna langsung menahan napasnya, dengan mata membulat sempurna. “Ini terlalu asin,” katanya kemudian. “Kamu terlalu banyak mencampurkan garam di sini.” Raut wajah Aluna yang semula tegang, kini berubah tak bergairah. Tentu saja. Dia sendiri tidak percaya pada hasil karyanya. Aluna meletak
“Hemmm,” Aluna menarik napas berat. Walau dia masih terasa asing di rumah itu, dua tidak bisa berdiam diri selamanya di dalam kamar. Dan sialnya, di kehidupan sebelumnya, dia belum pernah menginjakkan kakinua ke dapur. Dia hanya memakan makanan dari hasil online food, atau berteriak minta makan, kala sedang berlibur ke rumah orang tuanya. Dan di dalam kehidupan sebelumnya, Aluna adalah seorang dokter bedah. Dia terbiasa membaca hasil CT scan organ, dan berdiri di depan meja operasi dengan taruhan hidup dan mati seseorang. Dan itu lebih mudah untuknya, dibandingkan ketika dia harus berdiri di depan kompor, membaca resep dan perbumbuan yang belum sepenuhnya dia kenal. Tapi kini Aluna sudah berdiri di dapur yang selama tiga bulan ini menjadi tempat menuangkan ide-ide masakannya. Dia berdiri dengan ekspresi serius, menatap buku resep di ponselnya seperti sedang mempelajari strategi perang. “Oke, dua sendok garam,” katanya dengan kening yang sedikit berkerut. “Eh, dua apa sa
Lampu taman memantulkan cahaya kuning lembut di lantai batu yang dingin, tapi untuk Alana, udara terasa jauh lebih berat dari pada beberapa detik sebelumnya. Tangannya masih memegang ponsel dengan layar yang masih menyala. Di sana, pesan itu masih terpampang jelas: ‘Seharusnya kamu sudah mati hari ini.’ Dan di bawahnya, sebuah foto mobil hitam yang tadi dia lihat di luar pagar rumah. Alana menepuk-nepuk kepalanya kasar. Dia berusaha mengingat kejadian di novel. Dalam novel yang dia baca, kematian Aluna terjadi pada 30 Agustus dalam kecelakaan mobil di tikungan pegunungan. Dan itu bukan hari ini. Jadi kenapa seseorang mengirim pesan seperti ini? “Apa kecelakaan di novel bukan kecelakaan pertama?” bisik Aluna bimbang. Matanya masih menatap layar ponsel. Ketika Aluna baru saja akan masuk ke dalam rumah, langkah kaki kembali terdengar dari belakangnya. “Kenapa kamu berdiri di luar?” Aluna menoleh. Dia langsung bisa menatap Raka yang kini berdiri di belakangnya. Lampu dari da
Aluna menatap tangga itu beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pelan. “Dia benar-benar dingin.” Aluna memainkan jemarinya. Dia senang karena fakta bahwa Raka yang masih memperlakukannya seperti orang asing, berarti alur ceritanya belum berubah terlalu jauh. Dan itu bagus. Karena jika Raka tiba-tiba berubah sekarang, justru akan sangat mencurigakan. Aluna berdiri dan membawa cangkirnya ke dapur. Tepat ketika ia kembali ke ruang tamu, langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya jatuh pada kalender kecil di meja. Menampilkan tanggal hari ini dengan sangat jelas. Aluna menatap tanggal itu cukup lama. Kemudian perlahan duduk di sofa lagi dengan tanggal terlipas di pangkuan. Pikirannya kembali bekerja sekarang. Dia harus mulai mencari tahu tentang dua hal yang sangat penting yang bisa mengubah alur cerita ini. Tentang siapa yang ingin membunuhnya, dan tentang alasan kenapa dia harus dibunuh. Karena dalam cerita asli, kematian Aluna hampir tidak dibahas lagi setelah itu. Seolah hidupnya
Malam turun perlahan di kota itu. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di aspal yang sedikit basah oleh hujan sore tadi. Di dalam rumah dinas militer, suasana terasa jauh lebih sunyi daripada di luar. Rumah besar itu memiliki ruang tamu luas dengan jendela tinggi, lantai marmer yang dingin, dan perabotan mahal yang tertata rapi, tapi entah kenapa, semuanya terasa sangat kosong, terlebih itu untuk Aluna. Rumah itu sudah seperti bangunan tanpa kehidupan. Aluna berdiri di depan jendela ruang tamu. Tangannya memegang cangkir teh yang sudah mulai dingin, dengan tatapan tertuju pada halaman depan rumah yang gelap dan sepi. Pikirannya masih terjebak pada mobil hitam yang terparkir di luar pagar siang tadi. “Udah Aluna, tenang aja,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Tiga bulan lagi baru kecelakaan itu terjadi. Masih ada waktu. Jangan panik dulu.” Bahkan ketika dia mengatakan itu, hatinya tidak benar-benar tenang. Dalam cerita asli, setelah mencabut gu
Penyesalkan macam apa yang sedang menggerogoti kepercayaan diri ya sekarang? Kenapa dia harus berada di dalam novel ini? Jika memang harus berpindah ke novel, kenapa dia tidak berpindah ke novel romantis dengan nuansa indah dipenuhi bunga-bunga mekar. "Aku emang suka novel ini, tapi nggak ada niatan juga buat masuk kesini," cicit Aluna lagi Tatapan Aluna turun pada layar kecil di bagian belakang kursi mobil. Di sana tertera tanggal hari ini: ‘12 Mei.’ Tubuh Aluna menegang. Jantungnya berdegup sedikit lebih keras. Dia kembali ingat sesuatu. Di dalam novel, kecelakaan itu terjadi pada tanggal 30 Agustus. Masih ada waktu tiga bulan sebelum kecelakaan itu terjadi. Aluna menatap tanggal itu cukup lama, lalu menyeka keringat yang hampir saja masuk ke mata. Tiga bulan adalah waktu yang sedikit, tapi jika dia tetap mengikuti alur cerita asli, dia pasti akan mati. Dan kalau dia mengubah alur itu, mungkin semuanya bisa berbeda dan semua isi novel jelas akan berubah. Mobil akhirn







