LOGINShen Mo duduk di belakang meja, satu tangan menopang pelipisnya, sementara di depannya beberapa laporan terbuka.Yu Hao berdiri di sisi kanan, menjelaskan sesuatu dengan suara rendah, dan Shan Liang berdiri tidak jauh dari pintu.“Pergerakannya lebih hati-hati,” ujar Yu Hao pelan. “Sejak dua hari terakhir, dia tidak lagi muncul di kediaman ini.”“Apa dia kembali ke kediaman ayahku?” tanya Shen Mo tanpa mengangkat kepala.“Hamba rasa tidak, Yang Mulia.”“Pangeran Yuze tidak mengatakan apa-apa soal itu,” tambah Shan Liang.“Yuze. Di mana dia?”“Yang Mulia Pangeran Kedua sedang memantau pengiriman pasokan logistik menuju perbatasan utara bersama Jenderal Wei. Mungkin, lusa nanti mereka sudah kembali.”Shen Mo mengangguk. Belum sempat pembicaraan itu berlanjut, ketukan pelan terdengar di pintu.“Masuk.”Pintu terbuka. Song Nan masuk dengan kepala tertunduk, membawa ember kecil dan kain lap.
Pintu paviliun kayu yang berat itu terbuka tanpa suara. Xiwu melangkah masuk, awalnya berniat mencari Shen Mo untuk membicarakan sesuatu yang mendesak. Cahaya sore yang masuk dari jendela-jendela tinggi menerangi debu yang menari di udara, memperlihatkan tata letak paviliun yang luas dan maskulin. Langkah Xiwu terhenti seketika. Di sana, di balik meja kerja besar milik Shen Mo yang penuh dengan gulungan dokumen militer, berdiri seorang pelayan lelaki berpakaian abu-abu sederhana. Tangannya terlihat sedang membolak-balik sebuah buku tua yang tebal. Buku yang Xiwu tahu adalah catatan pribadi Shen Mo tentang taktik perang dan jalur logistik. Begitu mendengar derit halus pintu, pelayan tersentak. Dengan gerakan yang sangat cepat, tetapi berusaha terlihat luwes, ia menggeser buku itu ke posisi semula, lalu segera mengambil kain lap dari pinggangnya. “Salam hormat, Yang Mulia Putri Mahkota,” sapanya
Pintu ditutup rapat, tirai ditarik sebagian, menyisakan cahaya sore yang masuk redup dan jatuh di tengah ruangan. Di sana, mereka berkumpul. Formasi lengkap. Shen Mo di kursinya, Xiwu di sisi tidak jauh darinya, sementara yang lain berdiri membentuk lingkaran kecil yang terasa lebih seperti ruang perundingan daripada pertemuan biasa. Wei Kang berdiri paling depan. Shen Mo menatapnya sejenak sebelum bertanya, nada suaranya kembali datar, jauh dari sikap santai beberapa waktu lalu. “Bagaimana kabarmu?” Wei Kang menunduk hormat. “Baik, Yang Mulia.” Xiwu yang duduk di samping hanya melirik sekilas, lalu tersenyum tipis. Perhatian kecil pada Wei Kang cukup menggambarkan penyesalan suaminya. Shen Mo tidak berlama-lama di sana. Pandangannya bergeser ke meja. Kertas-kertas itu terhampar di atasnya. “Kita kembali ke urusan pelayan itu,” ujarnya tenang. “Apa yang kalian piki
“Ya sudah, lanjutkan saja,” ucap Yuze sambil melambaikan tangan dengan gerakan pasrah. “Lanjutkan saja urusan yang ‘belum selesai’ itu.”Xiwu semakin menenggelamkan wajahnya di dada Shen Mo, bahunya sedikit bergetar karena menahan tawa.“Dan kertas-kertas ini,” Yuze menunjuk ke lantai dengan ujung sepatunya, “aku harap besok pagi mereka sudah kembali ke atas meja dalam keadaan bersih, tanpa tambahan noda apa pun. Terutama noda perona bibir.”“Keluar, Yuze,” perintah Shen Mo tenang.“Tentu! Aku keluar! Aku benar-benar keluar!” Yuze berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan. “Lain kali, aku akan membawa genta besar sebelum masuk ke paviliun ini agar tidak perlu melihat pemandangan yang merusak pertumbuhan mentalku!”Pintu tertutup dengan bantingan yang cukup keras, menyisakan keheningan yang mendadak terasa pekat di dalam ruangan.Shen Mo menghela napas, akhirnya ia bisa melemaskan bahunya yang
Xiwu duduk di sisi meja, cukup dekat dengan Shen Mo.Di tangannya, beberapa lembar catatan yang sudah ia susun rapi. Nama-nama pelayan, tanggal keluar masuk, serta asal penugasan mereka.“Ini yang bisa Liu Li kumpulkan,” ucap Xiwu, “pola pergantiannya memang tidak wajar. Terutama di paviliunmu.”Shen Mo mendengarkan. Pembahasan ini sudah pernah dilakukan sebelumnya dengan Yu Hao, tetapi cara Xiwu menyusun ulang lembaran kertas itu membuat segalanya tampak lebih jelas.“Nama ini,” lanjut Xiwu sambil menunjuk salah satu bagian, “muncul di setiap pergantian. Tugasnya selalu berubah. Kadang di taman, kadang di dapur, lalu tiba-tiba berada di kamar pribadimu.”Ia berhenti sejenak, memberi waktu Shen Mo mencerna.“Tidak ada pelayan dengan tugas yang terus berubah-ubah seperti dia.”Shen Mo mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada kertas di tangan Xiwu, tetapi perhatiannya tidak sepenuhnya di sana.Tanpa sadar, tan
Shen Mo tersentak bangun sepenuhnya. Mata gelapnya langsung terbuka lebar, dan napasnya tertahan saat merasakan berat tubuh Xiwu menekan pusat sensasinya.Di bawah bokong Xiwu, sesuatu yang tertidur lelap tiba-tiba terbangun dengan sentakan keras. Menegang dengan cepat menuntut perhatian.“Xiwu.”Xiwu mengalungkan kedua lengannya di leher Shen Mo, membiarkan tubuh mereka menempel tanpa celah. “Kau sudah bangun?”Shen Mo mengerang rendah, tangannya refleks mencengkeram pinggul Xiwu untuk menahan agar wanita itu tidak bergerak lebih jauh lagi.Namun, gerakan Xiwu yang justru sengaja bergeser sedikit membuat Shen Mo harus memejamkan mata erat, urat-urat di lehernya tampak menegang."Kau tahu apa yang sedang kau lakukan, Xiwu?" suara Shen Mo serak, nyaris menyerupai geraman tertahan. Xiwu hanya tersenyum tipis, jarinya bermain di rambut Shen Mo yang berantakan. "Tentu saja. Aku hanya menyapa suamiku yang baru bangun."
Debu halus terangkat ke udara setiap kali roda kereta menyapu tanah tandus perbatasan yang retak.Di belakang, barisan pasukan Liyang berdiri kaku bagai monumen bisu, sementara di sisi lain, bendera Beishan berkibar tajam. Suaranya seperti cambuk yang membelah angin gersang.Kereta Xiwu berhenti. S
Langkah mereka terdengar teratur di sepanjang koridor istana yang panjang, gema sepatu mereka berbalas dengan dinding batu yang dingin. Tirai sutra tergantung di antara pilar-pilar merah, bergoyang pelan tertiup angin sore.Roulan berjalan di samping Gu Han, sedikit di depan, suaranya mengalir ring
Yun Que masuk dengan langkah cepat, peluh membasahi dahinya meski udara paviliun masih sejuk oleh dupa yang baru dinyalakan.“Yang Mulia!”Ia berhenti di tengah ruangan, napasnya belum sepenuhnya stabil, seolah ragu apakah kabar itu layak diucapkan.Xiwu mengangkat pandangan, tenang seperti biasa k
“Hati-hati, turunkan semuanya,” titah Gao De memperhatikan satu per satu kotak diturunkan dari kereta. Ia melongok ke dalam kereta, lalu mendekati Gu Han yang berdiri mematung.“Jenderal Gu, semua kotak sudah hamba turunkan sesuai dengan permintaan Putri Mahkota Li Xiwu.”Gu Han diam. Matanya mena







