LOGINMatahari baru saja naik ketika Shen Yuze melangkah terburu-buru menyusuri koridor. Namun, langkahnya mendadak terhenti beberapa meter dari pintu utama kamar Shen Mo.Di sana, Shan Liang dan Yu Hao berdiri tegak. Wajah kedua pengawal setia itu tampak tegang. Seolah-olah mereka sedang berjaga di area peperangan.Bahkan dua hari yang berlalu, terasa seperti puluhan tahun.Sejak hari pertama, suasana di sekitar kamar itu sudah menjadi bahan bisik-bisik terselubung di antara para pelayan.Keduanya tidak mengizinkan siapapun mendekati pintu kamar. Baki makanan dan nampan air minum hanya boleh diantarkan jauh dari depan pintu luar, itu pun langsung diambil oleh Shan Liang.Suara desahan yang tidak kunjung terputus, erangan rendah, serta keheningan yang sesekali disusul ketegangan dari dalam kamar Shen Mo membuat tak seorang pun perlu bertanya apa yang sedang dilakukan pasangan suami-istri itu.Yuze menghentikan langkahnya di depan Shan Liang dan Yu Hao, mengerutkan kening heran melihat raut
Di sisi lain istana, kabar mengenai keputusan Kaisar Shen Guowei akhirnya sampai ke telinga Yan Qingrong. Ia berdiri di depan jendela, memandang halaman istana yang diselimuti cahaya pagi. Di belakangnya, tiga orang pejabat yang selama ini berdiri di pihak Klan Yan menunggu dengan sikap penuh hormat. Menteri Personalia Zhang Wenru, Menteri Pendapatan Liu Zheng, dan Wakil Menteri Ritus Han Qisheng. Tatapan Yan Qingrong tetap tertuju ke luar jendela ketika ia akhirnya bertanya, “Jadi, belum ada keputusan untuk mengangkat selir?” “Belum, Yang Mulia,” jawab Zhang Wenru. “Dan Kaisar masih mengizinkan para klan mengajukan nama?” “Benar,” sahut Liu Zheng. Yan Qingrong terdiam. Jemarinya perlahan mengetuk kusen jendela. Keputusan Guowei memang tidak menutup jalan bagi mereka, tetapi juga tidak memberikan kesempatan untuk segera memasukkan seorang wanita ke kediaman Putra Mahkota. Yan Qingrong tersenyum tipis. Setidaknya satu hal berjalan sesuai dugaan. Namun, senyum itu tidak bertaha
Sejak matahari mulai naik di balik atap-atap istana, para pejabat yang datang untuk menghadiri sidang pagi dapat merasakan bahwa Kaisar Shen Guowei sedang menyiapkan sesuatu. Beberapa kepala klan yang sebelumnya paling keras menyuarakan persoalan penerus kerajaan telah dipanggil lebih awal. Mereka berdiri di dalam aula utama dengan sikap penuh hormat, tetapi tidak satu pun yang menyembunyikan harapan di balik tatapan mereka. Mereka datang untuk satu hal. Memastikan bahwa permintaan mereka mengenai selir untuk Putra Mahkota tidak akan kembali ditunda. Di atas singgasana, Guowei memandang seluruh pejabat yang hadir. Wajahnya tenang seperti biasa, tetapi sorot matanya membuat tidak seorang pun berani memotong pembicaraan sebelum ia selesai. Pandangannya sempat berhenti pada satu celah kosong di samping Shen Yuze. Tempat di mana seharusnya Shen Mo berdiri. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bicara. “Beberapa hari terakhir, aku telah mendengar banyak pendapat mengenai mas
Shen Mo terdiam cukup lama. Tatapannya jatuh pada wajah Xiwu yang basah oleh air mata, seolah sedang berusaha memahami kalimat yang baru saja didengarnya.“Jadi, kalau aku bukan lagi putra mahkota, kau tidak bisa tinggal di sisiku?”Xiwu menunduk, tetapi Shen Mo mengangkat dagunya perlahan.“Lihat aku, Xiwu.”Tatapan mereka bertemu.“Siapa yang coba kau lindungi, Shen Mo?”“Aku melepaskan kedudukan itu karena mereka ingin menggunakannya untuk mengambil sesuatu yang paling berharga bagiku.”“Shen Mo,” Xiwu kembali menyeka air matanya. “Lalu bagaimana dengan ayah dan ibu? Lalu… Yuze? Apa kau akan mengorbankan mereka?”“Kau adalah satu-satunya yang aku—”Sontak Xiwu menutup kedua telinganya. “Aku tidak mau kehadiranku menjadi alasan kesengsaraan orang lain lagi, Shen Mo! Aku tidak mau!!”Shen Mo menarik kedua tangan Xiwu. “Xiwu!”“Kita sudah melewati banyak hal bahkan kembali dari kematian. Sekarang kau mengatakan ingin menyerahkan segalanya tanpa memikirkan orang lain yang tulus menyaya
Pagi itu, halaman depan kediaman kekaisaran dipenuhi para pengawal dan pelayan yang sibuk memastikan seluruh barang bawaan telah ditempatkan dengan baik.Beberapa kereta telah berjajar rapi di bawah naungan pepohonan, sementara kuda-kuda perang berdiri tenang dengan napas yang mengepul tipis di udara pagi.Setelah beberapa hari diguyur hujan, langit akhirnya tampak lebih cerah, meskipun sisa awan kelabu masih menggantung jauh di ufuk.Sebuah kereta kuda megah berukiran khas Beishan sudah bersiap di garis terdepan rombongan. Di sampingnya, beberapa pengawal berkuda dan Shan Liang berdiri siaga.Xiwu berdiri berhadapan dengan kedua orang tuanya.Permaisuri Lianhua menggenggam erat jemari putrinya, berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh di depan para pengawal, sementara Kaisar Li Zhenyuan berdiri di sisinya dengan raut wajah tegas—meski sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa berat hati.“Ibu, Ayah... jagalah kesehatan kalian,” bisik Xiwu lembut.“Kau juga, Wu’er,” tutur Li
Shen Mo menurunkan bukunya, menatap Xiwu. Sejak tadi istrinya tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya hanya tertuju pada halaman taman yang basah oleh hujan, tetapi jelas pikirannya tidak berada di sana. “Kenapa melamun?” Xiwu tersadar, lalu menoleh kepadanya. “Aku sedang memikirkan ucapanmu.” Shen Mo meletakkan bukunya di atas meja. “Karena kita akan segera kembali ke Beishan?” Xiwu mengangguk pelan. “Kau tidak setuju kita kembali ke Beishan?” Xiwu menggeleng. “Tidak seperti itu. Aku merindukan Beishan. Aku akan berada di manapun, asalkan kau bersamaku. Hanya saja kalau pulang dengan tergesa seperti ini, aku cemas ibu pasti sedih.” “Ibu sendiri yang meminta kita segera pulang.” Xiwu menarik napas lalu meraih tangan Shen Mo. “Itu yang aku cemaskan. Ibu selalu saja menyimpan segalanya sendiri hanya karena dia mengkhawatirkan aku.” Shen Mo menggenggam tangan Xiwu. “Ibu akan tenang kalau kau baik-bai
“Gege!”Suara Shen Yuze memecah kebisingan, tetapi Shen Mo tidak menyahut. Lelaki itu bergerak dalam keheningan yang mematikan.Setiap ayunan pedangnya presisi, menjatuhkan lawan dengan satu tebasan tanpa satu pun gerakan sia-sia. Medan pertempuran seolah terbelah secara alami s
Debu halus terangkat ke udara setiap kali roda kereta menyapu tanah tandus perbatasan yang retak.Di belakang, barisan pasukan Liyang berdiri kaku bagai monumen bisu, sementara di sisi lain, bendera Beishan berkibar tajam. Suaranya seperti cambuk yang membelah angin gersang.Kereta Xiwu berhenti. S
Langkah mereka terdengar teratur di sepanjang koridor istana yang panjang, gema sepatu mereka berbalas dengan dinding batu yang dingin. Tirai sutra tergantung di antara pilar-pilar merah, bergoyang pelan tertiup angin sore.Roulan berjalan di samping Gu Han, sedikit di depan, suaranya mengalir ring
Yun Que masuk dengan langkah cepat, peluh membasahi dahinya meski udara paviliun masih sejuk oleh dupa yang baru dinyalakan.“Yang Mulia!”Ia berhenti di tengah ruangan, napasnya belum sepenuhnya stabil, seolah ragu apakah kabar itu layak diucapkan.Xiwu mengangkat pandangan, tenang seperti biasa k







