INICIAR SESIÓNOlivia menggenggam kunci besi berkarat itu erat-erat. Rasa heran membendung di kepalanya, tetapi kelelahan fisik membuat kakinya terus bergerak.
"Terima kasih, Nenek," bisik Olivia pelan.
"Naiklah. Jangan keluyuran ke lantai atasnya lagi," sahut Nenek tua itu tanpa berpaling dari meja kasirnya.
Olivia menaiki tangga kayu pertama dengan hati-hati. Suara kayu berderit nyaring bergema di lantai dasar yang kumuh. Namun, begitu kakinya memijak anak tangga terakhir dan memasuki lorong lantai dua, napasnya seketika tertahan.
"Loh? Ini... penginapan yang sama?" gumam Olivia terperangah.
Lantai dua penginapan itu sama sekali berbeda dengan lantai dasar yang berdebu dan bobrok. Karpet merah tebal terbentang rapi di sepanjang koridor. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang dipoles hingga mengkilap, memancarkan aroma terapi kayu manis yang menenangkan. Barang-barang yang ada di sana memang tampak tua, tetapi berkesan sangat klasik, elegan, dan bersih tanpa setitik debu pun.
Di lorong luas itu, hanya ada tiga pintu kamar berukir indah. Namun, yang paling membuat mata Olivia membelalak adalah sebuah tangga melingkar di ujung lorong yang menjulang tinggi ke atas. Tangga itu tampak amat megah dengan ukiran rumit yang seolah menembus langit-langit.
"Aneh banget..." bisik Olivia seraya mendongak menatap tangga raksasa itu. "Seingatku dari luar tadi, bangunan ini cuma dua tingkat dan mau roboh. Kenapa tangganya bisa setinggi ini?"
Kecurigaannya terkalahkan oleh rasa kantuk yang teramat sangat. Olivia melangkah menuju kamar paling pojok dengan pintu bercat merah memudar. Saat ia memutar kunci dan mendorong pintu, matanya kembali disajikan pemandangan luar biasa.
Kamar itu sangat bersih dan nyaman. Kasur busa empuk bertirai putih bersih menyambut pandangannya, lengkap dengan meja kayu klasik dan cermin berukir perak di sudut ruangan.
"Ah, akhirnya..." Olivia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu.
Sensasi lembut kain sprei langsung membelai kulitnya yang penuh luka goresan, Olivia memejamkan mata dan tenggelam dalam tidur yang sangat lelap.
Namun, kedamaian itu tak bertahan lama. Dalam tidurnya, kegelapan gulita mendadak menyergap.
Di dalam mimpi buruknya, Olivia berdiri di tengah kobaran api yang membakar habis Perbatasan Vance. Monster Berduri raksasa meraung dari balik kabut, sementara ratusan prajurit berzirah hitam mengacungkan pedang ke arahnya. Di tengah kepungan itu, Kapten Brandon melangkah maju seraya tersenyum dingin. "Akhirnya tertangkap juga kau, Olivia!" teriak Brandon seraya menghujamkan pedangnya tepat ke dada Olivia!
"Tidak!" jerit Olivia histeris.
BAM! BAM! BAM!
Ketukan keras bertubi-tubi di pintu kamar mengejutkannya. Olivia melompat bangun dari tempat tidur dengan napas terengah-engah dan peluh dingin membasahi dahinya.
"Gadis kecil! Sudah jam tiga sore! Waktunya bayar sewa!" teriak suara serak Nenek tua dari balik pintu.
Olivia menepuk-nepuk pipinya, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang terkumpul setengah. "I-iya, Nenek! Saya keluar sekarang!"
Olivia bergegas membuka pintu. Nenek tua renta itu berdiri memegang tongkat kayunya, menatap Olivia dengan mata kataraknya yang dingin.
"Dapur ada di lantai dasar bagian belakang," ucap Nenek tua itu singkat. "Bahan-bahan sudah kusiapkan di meja. Buat makanan hangat yang bisa mengenyangkan."
"Baik, Nenek. Serahkan padaku," jawab Olivia mencoba tersenyum ramah.
Mereka berdua turun ke lantai dasar. Dapur penginapan itu ternyata tidak sekumuh area depan, meski peralatannya sangat sederhana. Di atas meja batu, sudah tersedia beberapa potong daging unggas segar, kentang, wortel, daun salam, serta sebotol minyak dan mangkuk garam.
"Aku akan buat sup daging hangat saja. Ini paling pas untuk ibu tua," batin Olivia.
Sebagai mantan manusia modern yang terbiasa memasak sendiri, Olivia bertindak cepat. Jemarinya dengan lincah menyambar pisau dapur. Srett! Srett! Ia mengupas kentang dan wortel dengan presisi tinggi, mengirisnya tipis-tipis sebelum memotong daging unggas menjadi bentuk dadu kecil.
"Kamu pandai menggunakan pisau," puji Nenek tua itu pelan seraya duduk memandangi dari balik meja kayu.
"Dulu saya sering bekerja di dapur kedai, Nek," sahut Olivia seraya menyalakan kayu bakar di dalam tungku batu.
Bara api merah dengan cepat melahap kayu kering. Olivia menaruh panci besi raksasa, mengucurkan sedikit minyak, lalu menumis bawang dan daun salam hingga letupan kecil berbunyi menyebarkan aroma harum. Setelah itu, ia menuangkan air jernih dari gentong dan memasukkan seluruh potongan daging serta sayuran.
"Perhatikan bumbunya, Gadis Kecil," gumam Nenek tua itu misterius. "Gunakan botol-botol di rak atas agar rasanya mantap."
Olivia mendongak menatap rak kayu kusam. Ada botol garam batu dan sebuah botol kaca tanpa label berisi bubuk kristal halus berwarna agak kekuningan.
"Ini pasti bumbu penyedap khusus," bisik Olivia.
Ia menyendok sejumput garam dan menambahkan dua sendok bubuk kristal tersebut ke dalam kuah yang mendidih membual-bual. Kuah bening itu perlahan berubah warna menjadi kecokelatan yang pekat dan sangat menggiurkan. Aroma gurih yang amat kuat langsung memenuhi udara dapur.
Setelah mengaduknya hingga merata selama beberapa menit, sup daging kental itu matang sempurna. Olivia mengambil mangkuk tanah liat, mengisinya sampai penuh, lalu menyajikannya di depan Nenek tua.
"Silakan dicoba, Nenek. Sup daging hangat ala saya," ujar Olivia bangga.
Nenek tua itu mendekatkan hidungnya, menghirup uap gurih yang membubung tinggi. Tersenyum tipis hingga memperlihatkan gusi ompongnya, ia meraih sendok kayu. Dengan perlahan, Nenek tua menyuapkan kuah panas itu ke dalam mulutnya.
"Hmm... rasanya luar biasa gurih..." puji Nenek tua lirih.
Namun, pujian itu menjadi kalimat terakhirnya.
Tiba-tiba, sendok kayu di tangan Nenek tua terlepas dan jatuh berdenting ke lantai batu. Bola mata kataraknya membelalak lebar seolah hendak keluar dari rongganya.
Ugh! Khhk!
Nenek tua itu mendadak mencengkeram lehernya sendiri seraya mengerang kesakitan luar biasa. Pembuluh darah di leher dan dahinya menonjol keluar, berwarna kehitaman yang menjalar cepat. Kulit keriput wajahnya berubah membiru memar hanya dalam hitungan detik!
"Nenek?!" jerit Olivia panik setengah mati, melangkah mundur hingga menabrak meja dapur. "Nenek kenapa?!"
Keseimbangan Nenek tua itu hancur. Tubuh rentanya kejang-kejang hebat hingga terguling dari kursi kayu, terhempas keras ke lantai dapur. Dari mulutnya yang menganga, keluar busa putih kental berbaur cairan darah hitam yang berbau amat busuk.
Jari-jarinya yang membiru merayap gemetar di lantai, menunjuk lurus ke arah wajah Olivia yang pucat pasi.
"K-kamu... meracuniku... Racun Kelam..." racau Nenek tua itu parau dengan sisa napasnya.
"Enggak! Aku enggak bubuh racun! Aku cuma pakai bumbu di rak!" teriak Olivia histeris, air matanya menetes ketakutan.
Nenek tua itu terbatuk keras memuntahkan darah hitam terakhirnya. Matanya mendelik tajam ke atas, lalu seluruh tubuhnya mendadak kaku tak bergerak sama sekali.
Ruangan dapur seketika hening mencekam. Olivia berdiri mematung dengan dada kempas-kempis, menatap sosok pemilik penginapan yang kini tewas mengerikan di depan matanya.
Olivia menggenggam kunci besi berkarat itu erat-erat. Rasa heran membendung di kepalanya, tetapi kelelahan fisik membuat kakinya terus bergerak."Terima kasih, Nenek," bisik Olivia pelan."Naiklah. Jangan keluyuran ke lantai atasnya lagi," sahut Nenek tua itu tanpa berpaling dari meja kasirnya.Olivia menaiki tangga kayu pertama dengan hati-hati. Suara kayu berderit nyaring bergema di lantai dasar yang kumuh. Namun, begitu kakinya memijak anak tangga terakhir dan memasuki lorong lantai dua, napasnya seketika tertahan."Loh? Ini... penginapan yang sama?" gumam Olivia terperangah.Lantai dua penginapan itu sama sekali berbeda dengan lantai dasar yang berdebu dan bobrok. Karpet merah tebal terbentang rapi di sepanjang koridor. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang dipoles hingga mengkilap, memancarkan aroma terapi kayu manis yang menenangkan. Barang-barang yang ada di sana memang tampak tua, tetapi berkesan sangat klasik, elegan, dan bersih tanpa setitik debu pun.Di lorong luas itu
"Batuk! Uhuk-uhuk!"Olivia terbatuk-batuk hebat. Dadanya sesak akibat debu tebal yang membumbung di dalam kegelapan pekat. Keheningan mencekam langsung menyergap. Suara teriakan para pemburu liar dan gemuruh batuan yang runtuh tadi mendadak lenyap ditelan dinding batu raksasa yang kini menyumbat mulut gua."Dingin... gelap banget..." bisik Olivia gemetar.Gadis itu memeluk lututnya sendiri di atas tanah lembap. Tangannya mengepal erat, meremas kepingan perak yang berhasil ia pertahankan mati-matian. Rasa sakit di pipinya akibat tamparan keras pemburu tadi masih berdenyut nyeri, ditambah darah kental yang mengering di sudut bibirnya."Bisa-bisanya aku terkurung di sini?" ringis Olivia, berusaha menelan ludah yang terasa pahit. "Pikir, Olivia, pikir! Di novel The Legend of Astra, gua tempat bersarangnya monster berduri pasti punya celah ventilasi. Nggak mungkin gua ini benar-benar kedap udara!"Olivia merayap perlahan dalam kegelapan. Jemarinya bergerilya membelai dinding batu yang dingi
"Sialan..." umpat Olivia lirih.Suaranya nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri yang berdegup kencang bagai dihantam palu. Tubuhnya yang terbaring kaku di lantai gua berkerikil mendadak tak sanggup digerakkan. Rasa lelah dan kelaparan yang melilit perutnya mendadak menguap, tergantikan oleh ketakutan murni.Dua titik cahaya merah menyala itu makin mendekat. Bayangan besar berbulu lebat perlahan keluar dari kegelapan ceruk gua. Seekor Monster Berduri, monster tingkat rendah yang sering ditulis dalam novel The Legend of Astra, sedang menatapnya dengan liur yang menetes ke tanah."Kenapa harus ketemu monster di saat tubuhku begini?!" ringis Olivia seraya merayap mundur perlahan di tanah lembap.Groarrr!Monster itu menggeram rendah, memamerkan deretan taring tajam yang berkilat di bawah tembusan cahaya bulan dari mulut gua. Langkah kakinya yang berakar kuku tajam mengikis batuan gua dengan bersuara nyaring."Jangan mendekat..." bisik Olivia, tangannya bergerilya cepat di lantai g
"Sial!" umpat Olivia dalam hati.Darahnya membeku seketika. Suara serak dan berat itu muncul tepat dari arah bayangan semak-semak tebal di bawah dinding kedai. Olivia menahan napas, tangannya gemetar hebat seraya merapatkan tubuhnya ke dinding kayu yang berdebu.Sesosok pria berbadan tegap melangkah keluar dari kegelapan lorong samping. Ia tidak mengenakan zirah resmi prajurit Vance, melainkan mantel kulit kusam dengan penutup muka hitam. Di tangan kanannya, sebuah pisau pemburu berkilat tajam di bawah remang cahaya sore.Bukan Kapten Brandon, melainkan orang suruhan Grok yang ditugaskan menjaga lorong belakang."Kupikir Tuan Grok cuma berprasangka buruk," mendesis pria itu seraya melangkah mendekat. Ujung pisaunya terangkat, mengarah tepat ke dada Olivia. "Ternyata kamu benar-benar berniat kabur membawa uang perak itu, Tikus Kecil.""Aku tidak berniat kabur!" seru Olivia cepat, memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak tumpukan kayu bakar. "Prajurit menyergap ke dalam! Kalau
Olivia mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping celemek kusamnya. Tekanan dari pria berzirah di depannya membuat napasnya terasa makin berat. Tubuhnya yang masih lemah akibat kelaparan serasa mau roboh."Resep rahasia Keluarga Vance?" ulang Olivia seraya menundukkan kepala, mencoba berakting sepolos mungkin. "Saya tidak mengerti maksud Tuan. Saya cuma pelayan dapur biasa di sini.""Jangan berbohong!" bentak pria berzirah itu kasar. "Olahan daun Aethel dengan aroma seperti ini biasa disajikan koki istana Baron Vance! Tanpa takaran yang pas, daun itu cuma rumput liar pahit penolak serangga!"Pria itu melangkah maju satu tindak lagi, membuat Grok di belakangnya makin gemetar ketakutan."Bicaralah jujur, Gadis!" desaknya tajam. "Siapa yang mengajarimu racikan ini?!""Saya tidak tahu kalau daun itu resep rahasia bangsawan, Tuan!" seru Olivia dengan nada panik yang dibuat-buat, menatap pria itu dengan mata membelalak takut. "Tuan Grok cuma memberi saya tulang babi tengik dan lobak layu.
Duk! Duk! Duk!Suara derap langkah berat Tuan Grok menaiki tangga kayu menggema seperti tabuh kematian di telinga Olivia. Setiap pijakan membuat debu-debu tua berjatuhan dari celah atap dapur.Jantung Olivia berdegup kencang hantam dada. Lambungnya yang melilit perih seolah tak ada artinya lagi dibandingkan dengan rasa dingin yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya. Tubuh Perempuan dua puluh tahun yang kurus kering ini terlalu lemah untuk kabur, apalagi berduel fisik."Sial... aku tidak boleh mati konyol di sini!" bisik Olivia seraya menatap sekeliling dengan mata liar.Grok menendang pintu jebakan hingga terbuka lebar. Tap! Tubuh tambunnya kembali muncul di permukaan dapur. Di tangan kanannya, sebuah pisau pemotong daging yang tebal berkilat tajam di bawah remang cahaya lampu minyak."Ternyata kamu, tikus kecil," mendesis Grok dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang berminyak tampak sangat bengis. "Apa yang kamu lihat, Olivia?!"Olivia memundurkan langkahnya perlahan hingg







