Share

Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku
Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku
Author: Penadiary

Bab 01. Ending Cerita

Author: Penadiary
last update Last Updated: 2026-01-07 18:39:45

“Itu dia! Perempuan iblis!”

“Dasar pembunuh!”

“Kau pantas mati!”

“Matilah, pengkhianat!”

“Habisi dia!”

“Pengkhianat terkutuk!”

Teriakan kebencian rakyat menggema tanpa henti. Chyara diarak menuju panggung eksekusi dan dijatuhkan untuk berlutut di atasnya. Rambut birunya yang dahulu berkilau kini kusut dan layu, menutupi sebagian wajahnya yang lebam dan nyaris tak lagi menyerupai putri Marquess Everardo.

Batu kecil dan sayuran busuk dilemparkan ke arahnya, menghantam tubuhnya berkali-kali. Namun, Chyara tetap diam, seolah rasa sakit telah lama mati bersamanya.

Di hadapannya berdiri Putra Mahkota Darian Ramiro. Ia mengenakan baju seremonial algojo berwarna hitam. Pedang besar terhunus di tangannya, dingin dan tak berperasaan seperti pemiliknya.

Darian menekan sarung pedang di bawah dagu Chyara, memaksa wajah lemah itu menengadah.

“Chyara,” katanya datar tanpa emosi. “Dulu kau gadis yang lembut, bagaimana bisa kau berubah menjadi iblis seperti ini?”

Tatapan Darian menusuk, mata merah darahnya menyala, memancarkan kebencian yang tak lagi ia sembunyikan. Namun, Chyara menatapnya kembali tanpa gentar. Mata biru lautnya yang dulu bersinar kini redup, seakan seluruh cahaya hidupnya telah direnggut.

“Jadi kau yang akan mengeksekusiku, Darian?” tanyanya parau. Darian tak menjawab, tatapannya justru semakin mengeras.

“Kenapa kau berniat membunuh Azelia?” tanyanya dingin. “Dia adikmu!” Suaranya menggema lebih kejam daripada teriakan rakyat.

Tawa Chyara pecah membuat darah mengalir dari sudut bibirnya “Azelia pantas mati!” desisnya. “Dia merampas segalanya dariku, hidupku ... keluargaku ....” Suaranya bergetar saat ia menambahkan, “bahkan kau, Darian.”

Darian memalingkan wajah dan menarik pedangnya kembali. “Hentikan omong kosongmu,” balasnya tajam, kemudian menyeringai tipis. “Dengan kematianmu ini, Azelia akhirnya akan menjadi milikku selamanya.”

Kata-kata itu membuat dada Chyara terasa tertusuk. Ia tertawa lirih, pahit, dan hancur.

“Jadi ini akhirnya ...,” bisiknya. “Aku mati di tangan orang yang paling kucintai.”

Dentang lonceng eksekusi menggema di udara. Sorak sorai rakyat kembali membahana, haus darah dan kegembiraan. Darian mengeratkan genggaman pedangnya tanpa ragu.

“Sampaikan kata terakhirmu,” perintah Darian dingin.

Chyara mengangkat wajahnya perlahan, menatap pria yang menjadi awal dan akhir hidupnya.

“Pernahkah, meski hanya sedetik, kau mencintaiku?”

Hening menyelimuti panggung. Darian terdiam sesaat sebelum menjawab. “Tidak," imbuhnya. “Sejak awal aku membencimu.”

Kata-kata itu menghantam lebih tajam daripada pedang yang akan menebasnya. Chyara tersenyum kecil, bukan lagi getir melainkan penuh tekad. Ia menatap Darian untuk terakhir kalinya.

“Kalau begitu dengarkan aku, Darian,” racaunya pelan namun jelas. “Di kehidupan selanjutnya, atau bahkan di ribuan kehidupan sekalipun. Aku akan membuatmu mencintaiku. Aku memastikan itu, Darian.”

Darian tak memedulikan ucapan Chyara. Ia mengangkat pedangnya tinggi. Angin berdesir singkat di antara mereka, kilatan baja membelah udara.

Tssshhh!

Pedang mengayun cepat dan sorak sorai rakyat memecah langit. Kepala Chyara jatuh dan bergulir di atas panggung kayu. Darahnya mengalir deras, menodai sumpah yang belum sempat terbalaskan.

Azelia berlari naik ke panggung sambil menangis histeris. Darian langsung memeluknya dari belakang seolah menjadi pelindungnya. Namun, Azelia justru menoleh dan menatapnya dengan kebencian yang dingin.

Langkah kaki berat terdengar dari kejauhan. Seorang pria muncul bersama para pengawal kerajaan. Dialah Duke Arthur Veredian.

“Putra Mahkota Darian Ramiro,” tukasnya lantang, “atas titah langsung dari Baginda Raja, kau dinyatakan berkhianat. Kau memanipulasi eksekusi, menghasut rakyat, dan merencanakan kejahatan bersama Chyara Everardo.”

Kerumunan langsung berubah gaduh.

"Kau akan mendapatkan hukuman mati di tempat!"

Darian tak sempat melawan saat pedang pengawal menebas tubuhnya. Ia mati di panggung yang sama, menyusul tunangannya, Chyara.

Pada hari itu, dua nyawa berakhir dalam pengkhianatan. Duke Arthur Veredian diangkat menjadi putra mahkota dan menikahi Azelia Everardo, perempuan yang selamat dari segala tragedi untuk meraih kebahagiaan.

Sementara nama Chyara Everardo, selamanya tercatat dalam sejarah sebagai perempuan iblis yang pantas mendapatkan hukuman mati.

_____

Chyara ...

Chyara ...

Chyara!

Suara itu menggema semakin keras, seolah menarik Chyara kembali dari jurang yang gelap. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka perlahan. Matanya disambut cahaya lembut yang menyilaukan pandangannya. Napasnya terhembus pendek, dadanya naik turun tidak beraturan.

Ia mengerjap beberapa kali, berusaha memahami apa yang ia lihat. Bukan langit-langit rumah sakit, bukan pula atap apartemennya, melainkan dedaunan hijau yang rimbun, bergoyang pelan tertiup angin. Cahaya matahari menembus di sela-sela daun, menciptakan bayangan yang terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Aroma bunga menyentuh inderanya, lembut namun jelas. Chyara menegakkan tubuh perlahan, jantungnya berdetak semakin cepat, seakan memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah. Tubuhnya terasa ringan, ia tak merasakan sakit sama sekali.

Di sekelilingnya terbentang taman bunga yang luas, dipenuhi warna-warna asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Rumput hijau terawat membentang sejauh pandangannya, sementara pepohonan tinggi menaungi jalan setapak dari batu yang tersusun rapi.

Ini bukan tempat yang ia kenal. Bahkan bukan dunia yang ia ingat.

Ingatan terakhirnya masih tergambar jelas. Ia baru saja membaca naskah novel berjudul Kamu Kebahagiaanku, cerita yang akan ia perankan sebagai tokoh utama wanita—Azelia Everardo. Novel dengan alur yang kejam, dipenuhi pengkhianatan, ambisi, dan kematian yang tak terhindarkan.

Ia masih mengingat dengan jelas rasa muak dan sesak yang tertinggal setelah menutup halaman terakhir novel itu. Dalam perjalanan menuju lokasi syuting, mobil yang ditumpanginya kehilangan kendali dan terjun ke jurang.

Suara benturan menggema, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, hingga akhirnya kegelapan menelannya sepenuhnya. Seharusnya ia mati. Namun, jika ini adalah kematian, mengapa dunia di hadapannya terasa begitu hidup?

“Ara!”

Langkah tergesa terdengar mendekat. Seorang lelaki berlari ke arahnya dengan wajah panik, napasnya sedikit terengah seperti sudah berlari cukup jauh hanya untuk memastikan keadaannya. Ia berhenti tepat di hadapan Chyara, menunduk dengan ekspresi cemas yang tak disembunyikan.

“Ara, apa kau baik-baik saja?” tanyanya. “Kakak dengar kau terjatuh dari atas pohon dan tiba-tiba pingsan.” Nada suaranya penuh kekhawatiran, seolah kejadian itu hampir membuatnya kehilangan seseorang yang berharga.

Chyara menatap lelaki itu dalam diam. Rambut biru mudanya berkilau di bawah sinar matahari, sementara sepasang mata biru laut yang jernih dan dalam menatapnya penuh kekhawatiran.

Wajahnya tampan dan terlihat dewasa, tetapi lelaki itu benar-benar terlihat aneh dan asing baginya, tak satu pun ingatan tentangnya muncul di benak Chyara.

Tatapan Chyara kemudian bergeser ke pakaian yang dikenakannya. Kemeja berpotongan klasik dengan bordir halus membingkai tubuhnya, dilapisi rompi gelap yang pas, sementara sarung tangan tipis menutup tangannya dengan rapi. Itu jelas bukan busana modern, juga bukan sesuatu yang pernah Chyara lihat di dunia tempat ia berasal.

Chyara membeku di tempat. Tatapannya menyusuri tubuhnya sendiri, berhenti pada gaun yang kini dikenakannya, kain lembut dengan potongan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Rambutnya terurai panjang hingga ke punggung, dan saat ia menggenggamnya lalu menarik ke depan, kilau biru mudanya memantulkan cahaya matahari dengan jelas. Warnanya sama, sama persis dengan laki-laki di hadapannya.

Sesaat, pikirannya kosong. Kemudian ingatan menyeruak ke dalam kepalanya. Potongan-potongan deskripsi dari novel yang baru saja ia baca kembali teringat.

Rambut panjang berwarna biru muda, itu adalah ciri khas keluarga Marquess Everardo, keluarga bangsawan yang menjadi pusat konflik dalam cerita itu.

Jantung Chyara berdetak keras. Napasnya tercekat, dadanya terasa sesak oleh kemungkinan yang tak ingin ia akui.

“Tidak mungkin …,” bisiknya lirih.

“Apakah aku … masuk ke dalam novel itu sebagai Azelia?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 06. Tetap Berjalan Sesuai Alur

    Air mata Azelia akhirnya jatuh. Gadis kecil itu terisak pelan, lalu dengan langkah tergesa ia menarik ujung mantel Cassio. Tangannya yang mungil mencengkeram kain sutra itu seolah itulah satu-satunya pegangan yang ia miliki.“Ayah ... ini salah Lia,” ucapnya dengan suara bergetar, air mata mengalir di pipinya. “Lia yang terlalu lancang. Tolong ... jangan marahi Kak Chyara. Lia tidak ingin Kakak dimarahi karena Lia.”Tubuh Azelia gemetar ketika ia menunduk dalam-dalam, bahunya naik turun menahan isakan. Pemandangan itu seketika menusuk empati siapa pun yang melihatnya. Anak kecil yang merasa bersalah, memohon perlindungan pada ayahnya demi kakaknya yang baru saja ditegur.Tangisannya terdengar tulus, membuat suasana seketika berubah. Cassio menatap Azelia, amarah di wajahnya mereda, berganti dengan rasa iba.Chyara menyaksikan pemandangan itu dalam diam. Lalu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, pelan, nyaris tak terdengar.Bukan karena ia merasa senang. Melainkan karena akhirnya ia

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 05. Menyambut Tokoh Utama

    Chyara tertawa riang sambil menghambur-hamburkan koinnya di atas ranjang. Selimut, bantal, bahkan lantai di sekitarnya kini penuh dengan koin perak dan emas yang berkilau di bawah cahaya lampu. Ia menidurkan tubuhnya di atas tumpukan koin itu, menatap langit-langit kamar dengan senyum puas dan perasaan yang lega. Cassio telah mengabulkan permintaannya, menaikkan uang hariannya lima kali lipat dari biasanya. Chyara mengangkat tangan, mulai menghitung koin satu per satu dengan hati-hati. Dalam pemahamannya, satu koin emas setara dengan sepuluh koin perak, dan seratus koin tembaga, sehingga perhitungannya menjadi lebih mudah untuk menilai kekayaan hariannya. “Jika uang harian biasa dua ratus koin perak, lima kali lipat berarti seribu koin perak … atau seratus koin emas!” teriaknya sambil tertawa lepas. Kini, Chyara tak perlu khawatir soal kebutuhan sehari-hari atau akan kekurangan uang. Perasaan lega dan senang menyelimuti dirinya, membuatnya merasa seakan dunia sudah berada di bawah

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 04. Hadiah Ulang Tahun

    Setelah mengetuk pintu dengan sopan, Callister mendorongnya terbuka dan bersama Chyara melangkah masuk ke ruang kerja Marquess Everardo. Di balik meja mahoni besar yang mendominasi ruangan, duduk pria yang memegang kendali penuh atas keluarga Everardo—Cassio Everardo. Tatapannya tajam, menusuk, dan dingin, tanpa secercah kehangatan. Kehadirannya seakan membuat siapa pun yang berdiri di hadapannya merasa seperti bidak di papan catur. “Duduklah,” tukasnya datar. Baru saja Chyara dan Callister menempati sofa kulit hitam, pintu ruang kerja kembali terbuka perlahan. Dua pria muda melangkah masuk dengan langkah mantap, memancarkan aura wibawa khas bangsawan. Pandangan Chyara tertuju pada mereka, sejenak meneliti wajah keduanya sebelum ingatannya menyusun kepingan yang tepat. Mereka adalah Celvin dan Celvan Everardo, kakak kembar Chyara. Rambut biru muda yang serasi membingkai wajah mereka, sementara manik mata kuning keemasan—warna yang diwarisi dari sang ibu berkilau tajam di bawah cah

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 03. Cerita Mulai Berjalan

    Kata-kata itu jatuh dengan tajam, sarat kecurigaan dan kesombongan. Chyara terdiam di dalam gendongannya, menyadari satu hal dengan jelas. Takdir lama masih berusaha menyeretnya kembali ke jalan cerita yang sama. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kediaman tanpa mengatakan apa pun. Langkahnya tegas saat ia menuju kamar Chyara. Sorot matanya lurus ke depan tak memedulikan beberapa pelayan yang menunduk hormat pada mereka. Chyara tetap terdiam, hanya menatap wajah Darian yang kini terasa terlalu dekat. Entah mengapa jantungnya berdetak semakin kencang, ritmenya tak beraturan. Padahal ia tahu dengan sangat jelas, ia sama sekali tidak tertarik pada pria itu. Tubuh ini sepertinya tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Seakan Chyara yang asli masih bersemayam di dalam sana, masih menyisakan perasaan lama. Sehingga jantungnya tetap berdegup setiap kali Darian berada begitu dekat dengannya. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kamar tanpa sepatah kata pun. Tangannya dilepaskan seger

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 02. Mencoba Menyimpang dari Alur

    Chyara tertawa pelan, nyaris tak percaya. Ia tak pernah membayangkan akan terjebak di dalam sebuah novel. Dan yang lebih buruk, ia tidak sekadar akting untuk memerankan karakter Azelia, melainkan kini ia harus benar-benar menjalani hidup sebagai gadis itu. Saat membaca naskah 'Kamu Kebahagiaanku', Chyara sama sekali tidak menyukai karakter Azelia yang terlalu polos, lemah, dan hanya tahu menangis. Gadis yang selalu diselamatkan, dicintai, dan dilindungi tanpa perlu berjuang keras. Chyara tak mengerti mengapa dunia dalam novel itu begitu memuja gadis tersebut. Tawa kecilnya terdengar aneh di telinga laki-laki di hadapannya. Ia menatap Chyara dengan ekspresi bingung, lalu mengangkat tangannya dan menyentuh kepala gadis itu dengan ragu. Ia memiringkan kepala Chyara ke kiri dan ke kanan, wajahnya penuh kekhawatiran. “Ara… kepalamu terbentur? Kenapa kau tertawa menakutkan seperti ini?” tanyanya cemas. Chyara langsung terdiam. Ara? Panggilan itu menggema di benaknya. Itu bukan panggi

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 01. Ending Cerita

    “Itu dia! Perempuan iblis!” “Dasar pembunuh!” “Kau pantas mati!” “Matilah, pengkhianat!” “Habisi dia!” “Pengkhianat terkutuk!” Teriakan kebencian rakyat menggema tanpa henti. Chyara diarak menuju panggung eksekusi dan dijatuhkan untuk berlutut di atasnya. Rambut birunya yang dahulu berkilau kini kusut dan layu, menutupi sebagian wajahnya yang lebam dan nyaris tak lagi menyerupai putri Marquess Everardo. Batu kecil dan sayuran busuk dilemparkan ke arahnya, menghantam tubuhnya berkali-kali. Namun, Chyara tetap diam, seolah rasa sakit telah lama mati bersamanya. Di hadapannya berdiri Putra Mahkota Darian Ramiro. Ia mengenakan baju seremonial algojo berwarna hitam. Pedang besar terhunus di tangannya, dingin dan tak berperasaan seperti pemiliknya. Darian menekan sarung pedang di bawah dagu Chyara, memaksa wajah lemah itu menengadah. “Chyara,” katanya datar tanpa emosi. “Dulu kau gadis yang lembut, bagaimana bisa kau berubah menjadi iblis seperti ini?” Tatapan Darian menusuk, mat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status