LOGINChyara tertawa riang sambil menghambur-hamburkan koinnya di atas ranjang. Selimut, bantal, bahkan lantai di sekitarnya kini penuh dengan koin perak dan emas yang berkilau di bawah cahaya lampu.
Ia menidurkan tubuhnya di atas tumpukan koin itu, menatap langit-langit kamar dengan senyum puas dan perasaan yang lega. Cassio telah mengabulkan permintaannya, menaikkan uang hariannya lima kali lipat dari biasanya. Chyara mengangkat tangan, mulai menghitung koin satu per satu dengan hati-hati. Dalam pemahamannya, satu koin emas setara dengan sepuluh koin perak, dan seratus koin tembaga, sehingga perhitungannya menjadi lebih mudah untuk menilai kekayaan hariannya. “Jika uang harian biasa dua ratus koin perak, lima kali lipat berarti seribu koin perak … atau seratus koin emas!” teriaknya sambil tertawa lepas. Kini, Chyara tak perlu khawatir soal kebutuhan sehari-hari atau akan kekurangan uang. Perasaan lega dan senang menyelimuti dirinya, membuatnya merasa seakan dunia sudah berada di bawah kendalinya. Meski Azelia mungkin akan mencoba masuk ke kediaman ini untuk memulai jalan ceritanya, Chyara tak peduli. Fokusnya tetap pada kebebasan dan kenyamanan hidupnya, mengumpulkan uang, berkelana, dan menghindari ancaman kematian yang selalu menghantuinya. Chyara menekankan dalam hatinya bahwa mulai hari ini ia hanya ingin hidup damai, menikmati kekayaan Everardo. Tiba-tiba, suara ketukan pintu memecah keheningan kamar. Chyara yang masih terbaring di ranjang membuka matanya perlahan, penasaran siapa yang datang. Seorang pelayan muncul membawa beberapa gaun mewah dan indah. Gaun-gaun itu tampak berat, terbuat dari kain sutra halus dengan bordir dan payet yang berkilau di bawah cahaya lampu lilin. Langkahnya terhenti ketika pandangannya jatuh pada koin-koin yang berserakan di lantai dan ranjang. Matanya melebar, bibirnya setengah terbuka, jelas tak percaya dengan jumlah koin yang belum pernah ia lihat sebanyak itu seumur hidupnya. Chyara menoleh dan seketika matanya berbinar melihat gaun-gaun tersebut. Meski pergelangan kakinya masih terasa nyeri, ia bangkit dari ranjang dan melangkah mendekat, senyum lebarnya tak tersembunyikan saat jemarinya mulai memilah satu per satu gaun yang indah itu. Pelayan itu akhirnya bersuara, nada suaranya bercampur antara kagum dan kebingungan. “Nona ... mengapa uang Nona sampai berserakan di mana-mana?” tanyanya hati-hati, matanya masih sesekali melirik koin-koin berkilau itu. Chyara menatap pelayan muda itu lebih lama, seakan berusaha memastikan sesuatu. Rambut sebahu yang tersisir rapi, mata cokelatnya besar dan jernih, dengan ekspresi penuh kehati-hatian khas seseorang yang terbiasa melayani. Seketika, potongan cerita dari novel itu terlintas jelas di benaknya. Gadis ini adalah Anna, pelayan pribadi Chyara Everardo. Ingatannya kembali pada halaman-halaman yang pernah ia baca. Anna sangat setia pada Chyara asli. Saat Chyara ditangkap sebagai pembunuh, Anna tak meninggalkannya sehingga ia mendapat tuduhan sebagai kaki tangan, lalu nasib kejam menantinya hingga akhir hidup yang menyedihkan. Tanpa sadar, Chyara melangkah maju dan memeluk Anna. Pelukan itu singkat, namun penuh tekad. Jika ia bertekad merubah nasibnya di dalam cerita ini, maka setidaknya nasib Anna juga harus dirinya rubah. Anna tampak terkejut, tubuhnya menegang sebelum akhirnya diam kebingungan. Ia melirik ke arah gaun-gaun yang masih tersusun rapi, mengingat tugasnya yang belum selesai. Setelah menarik napas pelan, ia berkata dengan hati-hati, “Nona, kita perlu memilih gaun untuk besok. Itu perintah langsung dari Tuan Marquess.” Chyara perlahan melepaskan pelukannya, memberi Anna ruang untuk kembali berdiri dengan sikap seimbang. Pandangannya segera beralih pada deretan gaun mewah yang tertata rapi. Ia mencondongkan tubuh sedikit dan menyentuh salah satu gaun dengan ujung jarinya. 'Aku harus terlihat menawan untuk menyambut adik yang akan membantu menentukan takdirku,' batinnya. Senyum tipis terlukis di sudut bibirnya, penuh perhitungan namun tetap terlihat anggun. ______ Chyara duduk di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan saksama. Mata biru lautnya bersinar terang, memantulkan cahaya dengan indah, sementara rambut biru mudanya jatuh lembut dan berkilau. Ia tak bisa menahan kagum, menyadari betapa cantik dan imutnya dirinya. Bukan hanya anak laki-laki Everardo yang tampan, ternyata Chyara asli pun memiliki pesona yang sama. Ia teringat Azelia dan merasa sedikit aneh, mengapa dalam novel semua perhatian selalu tertuju padanya, sementara Chyara yang tak kalah cantik ini seolah terabaikan? Rasa penasaran itu membuatnya tersenyum tipis. Anna menata rambut Chyara dengan hati-hati, membuat setengahnya tergerai indah sementara setengah diikat rapi ke belakang. Poni dan beberapa helai rambut dibiarkan jatuh di depan, menambah kesan imut dan natural. Chyara mengangguk puas melihat hasilnya di cermin. Semalam, pilihan gaunnya jatuh pada gaun berwarna biru tua, lambang kehormatan keluarga Everardo. Gaun itu jatuh dengan pas di tubuhnya. Chyara berdiri, menyambut kesempatan mengubah takdir yang tengah menantinya. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri, dan menatap pintu kamar. “Baiklah ... saatnya memulai jalan ceritaku,” gumamnya pelan. Kali ini, ia siap menghadapi semuanya dengan penuh tekad. Chyara melangkah menuju pintu utama kastil. Seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul di halaman, berdiri rapi dengan pakaian resmi, termasuk tunangannya, Darian. Cassio berdiri paling depan, diapit Celvin dan Celvan, sementara Callister menempati posisi sedikit di belakang, sejajar dengan Darian. Chyara berjalan perlahan, menjaga sikapnya tetap anggun, lalu menempatkan dirinya di sisi Darian. Pandangannya tertuju ke depan, mengamati setiap detail halaman utama yang tertata sempurna, menunggu kedatangan tamu yang akan mengubah alur hari itu. Pagar besi berukir lambang keluarga Everardo terbuka perlahan. Kereta hitam memasuki gerbang dan berhenti di halaman utama. Suasana halaman seketika hening, seluruh anggota keluarga memandangi kedatangan tamu istimewa itu. Pintu kereta dibuka oleh seorang pelayan, dan sosok wanita anggun turun terlebih dahulu. Clara melangkah dengan tenang, gaun ungu tuanya membalut tubuhnya sempurna, wajahnya dibingkai topi lebar berhias bulu hitam. Senyum tipisnya seakan penuh kendali, menegaskan dialah nyonya rumah sesungguhnya. Di belakangnya, seorang gadis kecil muncul perlahan. Gaun biru pastel membalut tubuh mungil Azelia, rambut biru mudanya memantulkan cahaya pagi, membuatnya terlihat seperti malaikat. Senyum polosnya merekah, memancarkan aura kepolosan dan kemurnian yang menarik perhatian semua yang melihatnya. Chyara menatap Azelia lama, hatinya berdebar sedikit. Gadis itu begitu cantik, polos, dan memesona. Tanpa berusaha, ia sudah mencuri perhatian seluruh keluarga. Dalam benaknya, Chyara menyadari, inilah Azelia, adik yang kelak menjadi pusat cerita dalam novel yang kini ia jalani. Cassio melangkah maju dan menyambut Clara dengan hangat, bahkan mencium punggung tangannya. “Selamat datang di kediaman Everardo,” ucapnya lembut, menegaskan kedudukannya sebagai kepala rumah tangga. Clara membalas dengan senyum manis yang penuh kendali. “Terima kasih, Cassio. Rasanya … seperti pulang,” jawabnya, suaranya terdengar lembut dan menggoda. Azelia yang sejak tadi bersembunyi di belakang kaki ibunya kini muncul tanpa ragu. Ia menunduk sopan, suaranya lembut dan manis. “Terima kasih telah menerima kami, Ayah ....” Cassio tersenyum hangat, membelai rambut Azelia dengan lembut. “Selamat datang, putri kecilku,” ucapnya, matanya bersinar penuh kasih sayang. Senyum Azelia mekar begitu matanya menatap barisan keluarga Everardo. Namun, ketika pandangannya jatuh pada Darian, ia membeku sesaat, lalu kembali tersenyum manis. Gadis kecil itu melangkah maju dengan percaya diri, tangannya menggenggam udara seolah ingin menyentuh sosok pria di depannya. “Apakah Anda Pangeran Darian?” tanyanya polos, matanya berbinar penuh kekaguman. “Pangeran Darian tampan sekali, seperti pangeran dalam dunia dongeng,” tambahnya sambil menatap dengan kagum. Darian menundukkan wajah sebentar, wajahnya tetap dingin tanpa senyum. “Selamat datang, Putri Azelia,” sambutnya singkat, suaranya datar namun memancarkan wibawa. Meski terdengar dingin, ketegasannya membuat Azelia tetap terpaku ditempat. Ia tidak tampak tersinggung, malah tertawa kecil. Ia berdiri lebih dekat, menatap Darian dengan rasa ingin tahu yang jelas. “Sikap Kak Darian benar-benar dingin,” ucap Azelia sambil tersenyum kecil. “Seperti ksatria dalam buku cerita.” Chyara menatapnya sejenak. Di ingatannya, pada bagian inilah Chyara asli meledak oleh cemburu dan memarahi Azelia tanpa ampun. Kali ini, ia memilih jalan lain. Ia melangkah setengah langkah mendekat, senyumnya tetap terpasang, hangat dan seperti bersahabat. “Pangeran Darian memang tampan, bukan?” katanya ringan. “Halo, Azelia. Aku kakakmu, Chyara. Dan Pangeran Darian ....” Pandangannya melirik singkat ke arah Darian, “adalah tunanganku.” Ucapan itu membuat Azelia tersentak. Senyum di wajah gadis itu runtuh perlahan, matanya melebar sebelum berkaca-kaca. “Astaga ... maafkan Lia, Kak Chyara," katanya tergesa, menunduk dalam-dalam. “Lia tak tahu ... Lia sungguh tak bermaksud bersikap lancang pada Kak Darian—eh, maksud Lia, Pangeran Darian,” lirihnya sambil menunduk, suaranya lembut dan bergetar. Chyara terkejut dengan respons Azelia. "T—tunggu, bukan begitu maksud—" “Chyara!" pekik Cassio tiba-tiba dengan nada tegas dan marah. "“Apakah kau harus menyudutkan adikmu yang baru saja datang?” hardiknya. “Bahkan Darian tidak mempermasalahkannya. Mengapa justru kau yang bersikap kejam?!” Keheningan jatuh seketika. Semua pandangan beralih pada Chyara, bukan sebagai kakak yang ramah, melainkan sebagai putri yang dianggap iri dan kejam, persis seperti yang pernah tertulis dalam novel.Air mata Azelia akhirnya jatuh. Gadis kecil itu terisak pelan, lalu dengan langkah tergesa ia menarik ujung mantel Cassio. Tangannya yang mungil mencengkeram kain sutra itu seolah itulah satu-satunya pegangan yang ia miliki.“Ayah ... ini salah Lia,” ucapnya dengan suara bergetar, air mata mengalir di pipinya. “Lia yang terlalu lancang. Tolong ... jangan marahi Kak Chyara. Lia tidak ingin Kakak dimarahi karena Lia.”Tubuh Azelia gemetar ketika ia menunduk dalam-dalam, bahunya naik turun menahan isakan. Pemandangan itu seketika menusuk empati siapa pun yang melihatnya. Anak kecil yang merasa bersalah, memohon perlindungan pada ayahnya demi kakaknya yang baru saja ditegur.Tangisannya terdengar tulus, membuat suasana seketika berubah. Cassio menatap Azelia, amarah di wajahnya mereda, berganti dengan rasa iba.Chyara menyaksikan pemandangan itu dalam diam. Lalu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, pelan, nyaris tak terdengar.Bukan karena ia merasa senang. Melainkan karena akhirnya ia
Chyara tertawa riang sambil menghambur-hamburkan koinnya di atas ranjang. Selimut, bantal, bahkan lantai di sekitarnya kini penuh dengan koin perak dan emas yang berkilau di bawah cahaya lampu. Ia menidurkan tubuhnya di atas tumpukan koin itu, menatap langit-langit kamar dengan senyum puas dan perasaan yang lega. Cassio telah mengabulkan permintaannya, menaikkan uang hariannya lima kali lipat dari biasanya. Chyara mengangkat tangan, mulai menghitung koin satu per satu dengan hati-hati. Dalam pemahamannya, satu koin emas setara dengan sepuluh koin perak, dan seratus koin tembaga, sehingga perhitungannya menjadi lebih mudah untuk menilai kekayaan hariannya. “Jika uang harian biasa dua ratus koin perak, lima kali lipat berarti seribu koin perak … atau seratus koin emas!” teriaknya sambil tertawa lepas. Kini, Chyara tak perlu khawatir soal kebutuhan sehari-hari atau akan kekurangan uang. Perasaan lega dan senang menyelimuti dirinya, membuatnya merasa seakan dunia sudah berada di bawah
Setelah mengetuk pintu dengan sopan, Callister mendorongnya terbuka dan bersama Chyara melangkah masuk ke ruang kerja Marquess Everardo. Di balik meja mahoni besar yang mendominasi ruangan, duduk pria yang memegang kendali penuh atas keluarga Everardo—Cassio Everardo. Tatapannya tajam, menusuk, dan dingin, tanpa secercah kehangatan. Kehadirannya seakan membuat siapa pun yang berdiri di hadapannya merasa seperti bidak di papan catur. “Duduklah,” tukasnya datar. Baru saja Chyara dan Callister menempati sofa kulit hitam, pintu ruang kerja kembali terbuka perlahan. Dua pria muda melangkah masuk dengan langkah mantap, memancarkan aura wibawa khas bangsawan. Pandangan Chyara tertuju pada mereka, sejenak meneliti wajah keduanya sebelum ingatannya menyusun kepingan yang tepat. Mereka adalah Celvin dan Celvan Everardo, kakak kembar Chyara. Rambut biru muda yang serasi membingkai wajah mereka, sementara manik mata kuning keemasan—warna yang diwarisi dari sang ibu berkilau tajam di bawah cah
Kata-kata itu jatuh dengan tajam, sarat kecurigaan dan kesombongan. Chyara terdiam di dalam gendongannya, menyadari satu hal dengan jelas. Takdir lama masih berusaha menyeretnya kembali ke jalan cerita yang sama. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kediaman tanpa mengatakan apa pun. Langkahnya tegas saat ia menuju kamar Chyara. Sorot matanya lurus ke depan tak memedulikan beberapa pelayan yang menunduk hormat pada mereka. Chyara tetap terdiam, hanya menatap wajah Darian yang kini terasa terlalu dekat. Entah mengapa jantungnya berdetak semakin kencang, ritmenya tak beraturan. Padahal ia tahu dengan sangat jelas, ia sama sekali tidak tertarik pada pria itu. Tubuh ini sepertinya tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Seakan Chyara yang asli masih bersemayam di dalam sana, masih menyisakan perasaan lama. Sehingga jantungnya tetap berdegup setiap kali Darian berada begitu dekat dengannya. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kamar tanpa sepatah kata pun. Tangannya dilepaskan seger
Chyara tertawa pelan, nyaris tak percaya. Ia tak pernah membayangkan akan terjebak di dalam sebuah novel. Dan yang lebih buruk, ia tidak sekadar akting untuk memerankan karakter Azelia, melainkan kini ia harus benar-benar menjalani hidup sebagai gadis itu. Saat membaca naskah 'Kamu Kebahagiaanku', Chyara sama sekali tidak menyukai karakter Azelia yang terlalu polos, lemah, dan hanya tahu menangis. Gadis yang selalu diselamatkan, dicintai, dan dilindungi tanpa perlu berjuang keras. Chyara tak mengerti mengapa dunia dalam novel itu begitu memuja gadis tersebut. Tawa kecilnya terdengar aneh di telinga laki-laki di hadapannya. Ia menatap Chyara dengan ekspresi bingung, lalu mengangkat tangannya dan menyentuh kepala gadis itu dengan ragu. Ia memiringkan kepala Chyara ke kiri dan ke kanan, wajahnya penuh kekhawatiran. “Ara… kepalamu terbentur? Kenapa kau tertawa menakutkan seperti ini?” tanyanya cemas. Chyara langsung terdiam. Ara? Panggilan itu menggema di benaknya. Itu bukan panggi
“Itu dia! Perempuan iblis!” “Dasar pembunuh!” “Kau pantas mati!” “Matilah, pengkhianat!” “Habisi dia!” “Pengkhianat terkutuk!” Teriakan kebencian rakyat menggema tanpa henti. Chyara diarak menuju panggung eksekusi dan dijatuhkan untuk berlutut di atasnya. Rambut birunya yang dahulu berkilau kini kusut dan layu, menutupi sebagian wajahnya yang lebam dan nyaris tak lagi menyerupai putri Marquess Everardo. Batu kecil dan sayuran busuk dilemparkan ke arahnya, menghantam tubuhnya berkali-kali. Namun, Chyara tetap diam, seolah rasa sakit telah lama mati bersamanya. Di hadapannya berdiri Putra Mahkota Darian Ramiro. Ia mengenakan baju seremonial algojo berwarna hitam. Pedang besar terhunus di tangannya, dingin dan tak berperasaan seperti pemiliknya. Darian menekan sarung pedang di bawah dagu Chyara, memaksa wajah lemah itu menengadah. “Chyara,” katanya datar tanpa emosi. “Dulu kau gadis yang lembut, bagaimana bisa kau berubah menjadi iblis seperti ini?” Tatapan Darian menusuk, mat







