LOGINAir mata Azelia akhirnya jatuh. Gadis kecil itu terisak pelan, lalu dengan langkah tergesa ia menarik ujung mantel Cassio. Tangannya yang mungil mencengkeram kain sutra itu seolah itulah satu-satunya pegangan yang ia miliki.
“Ayah ... ini salah Lia,” ucapnya dengan suara bergetar, air mata mengalir di pipinya. “Lia yang terlalu lancang. Tolong ... jangan marahi Kak Chyara. Lia tidak ingin Kakak dimarahi karena Lia.” Tubuh Azelia gemetar ketika ia menunduk dalam-dalam, bahunya naik turun menahan isakan. Pemandangan itu seketika menusuk empati siapa pun yang melihatnya. Anak kecil yang merasa bersalah, memohon perlindungan pada ayahnya demi kakaknya yang baru saja ditegur. Tangisannya terdengar tulus, membuat suasana seketika berubah. Cassio menatap Azelia, amarah di wajahnya mereda, berganti dengan rasa iba. Chyara menyaksikan pemandangan itu dalam diam. Lalu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, pelan, nyaris tak terdengar. Bukan karena ia merasa senang. Melainkan karena akhirnya ia mengerti. Meski sikapnya berbeda dari yang tertulis dalam novel, meski ia berusaha bersikap ramah dan menahan diri, alur ceritanya tetap berjalan ke arah yang sama. Ia tetap dimarahi, Azelia tetap menangis. Dan hari ini, tetap menjadi hari pertama dirinya dibenci. 'Jadi beginilah takdir bekerja,' batinnya getir. 'Tak peduli bagaimana aku berusaha mengubah alur, aku akan selalu kembali ke titik yang sama.' Tanpa menghiraukan amarah Cassio yang mulai meninggi, Chyara berbalik dan melangkah masuk ke dalam lebih dulu. Sikapnya tenang, nyaris dingin, dan justru itu yang membuat amarah Cassio memuncak. “Chyara!” bentaknya keras. “Berani-beraninya kau masuk begitu saja! Minta maaf pada adikmu!” Sebelum situasi semakin memanas, Azelia mengusap sisa air matanya. “Tenanglah, Ayah,” katanya lembut, suaranya masih sedikit bergetar. “Lia sudah tidak apa-apa. Lebih baik kita masuk saja, Ayah.” Tangannya menarik perlahan lengan Cassio, senyumnya kembali terpasang, lembut dan menenangkan. Cassio mendengus kasar, rahangnya mengeras, tetapi genggaman Azelia berhasil menahannya. Tanpa menambahkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi menuju ruang makan, langkahnya berat, jelas masih menahan amarah. Sementara itu, di balik pintu yang mulai tertutup, Chyara melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Di dalam hatinya, satu hal terasa semakin jelas, jika takdir tak bisa ia hindari dengan mudah, maka satu-satunya pilihan adalah menghadapinya dengan caranya sendiri. ___ Ruang makan keluarga Everardo sangat luas. Meja panjang berwarna coklat keemasan mengilap membentang di tengah ruangan, dihiasi vas bunga segar dan peralatan makan perak yang tertata rapi. Cahaya pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi, menyinari seluruh ruangan dengan kilauan lembut. Begitu tiba di ambang pintu, Azelia langsung melepaskan diri dari barisan dan melewati Chyara yang berjalan di depannya. Ia berlari kecil ke dalam ruangan, gaun biru pastelnya berayun lembut mengikuti langkahnya. Mata kuningnya berbinar, penuh rasa takjub, seolah ruang itu adalah dunia baru yang menunggu untuk ia jelajahi. “Wah, ruang makannya besar sekali!” serunya polos. Beberapa pelayan saling berpandangan, tersenyum kecil melihat tingkah gadis lucu itu, kemudian mereka segera bergerak. Kursi-kursi ditarik keluar dengan sigap, penutup hidangan hangat mulai dibuka satu per satu, aroma makanan perlahan langsung memenuhi ruangan. Callister duduk lebih dulu di tempatnya, di sisi kanan kepala meja, posisi pewaris kepala keluarga. Begitu melihatnya, Azelia tertawa kecil dan langsung berlari ke arahnya. “Wah, kursi ini empuk sekali!” katanya riang, lalu menepuk kursi di sebelah Callister tanpa ragu. “Lia ingin duduk di sini!” Dengan polos, Azelia langsung menduduki kursi di samping Callister. Ia kemudian menoleh ke arah Darian yang duduk di sisi kanannya, senyum manis terukir di wajahnya. “Lia duduk di sini saja, ya?” katanya lembut dan manja. “Agar bisa lebih dekat dengan Kak Callister dan Pangeran Darian.” Sekejap, perhatian semua orang tertuju pada Chyara yang masih berdiri di ambang pintu. Para pelayan yang semula tersenyum melihat tingkah Azelia langsung menegang, kemudian menundukkan kepala dengan wajah cemas. Sejak dulu, mereka tahu betul kebiasaan Chyara. Ia selalu ingin duduk di antara Callister dan Darian. Jika posisi itu tidak menjadi miliknya, amarahnya akan meledak. Teriakan, kemarahan, bahkan barang-barang sering melayang dilemparnya hingga pecah berkeping-keping. Namun, kali ini berbeda. Chyara hanya melirik sekilas ke arah Azelia yang telah duduk di kursinya. Tak ada perubahan raut wajah, tak ada emosi berlebihan. Dengan sikap acuh, ia melangkah menuju sisi kiri meja, lalu duduk di kursi paling ujung, tepat di samping Celvin—kursi yang seharusnya, menurut urutan darah keluarga, diperuntukkan bagi Azelia. Semua orang tertegun. Beberapa pelayan saling bertukar pandang, jelas tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Chyara hanya duduk tenang, sikapnya terlihat anggun dan terkendali. Chyara sudah tahu adegan ini akan terjadi, dan ia memilih untuk tidak mengatakan apa pun. Sikap diamnya itu justru menarik perhatian. Callister dan Darian melirik ke arahnya hampir bersamaan, sorot mata mereka menyimpan kebingungan yang tak disembunyikan. Sejak kecil, Chyara selalu duduk di antara mereka. Ia tak pernah mau bergeser, tak pernah rela memberi tempat. Namun kini, ia hanya duduk diam, seolah kursi di samping mereka tak lagi berarti apa-apa baginya. Celvin yang duduk di samping Chyara menangkap perubahan itu lebih dulu. Ia melirik wajah Chyara yang tenang namun pucat, lalu mengambilkan lauk dari hidangan di depannya dan meletakkannya di piring Chyara. “Makanlah, Ara,” ucapnya singkat, nadanya rendah namun hangat. Chyara menoleh sekilas. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum tipis, kemudian menerima makanan itu tanpa sepatah kata pun. Gerakannya tenang, nyaris patuh, sesuatu yang jarang terlihat darinya. Dari seberang meja, Azelia memperhatikan suasana dengan saksama. Pandangannya beralih dari satu wajah ke wajah lain, hingga ia menyadari hampir semua mata tertuju pada Chyara. Senyum manis di wajahnya perlahan memudar. Azelia menunduk, jemarinya mencengkeram gaunnya. Ia bangkit perlahan dari kursinya, lalu menoleh ke arah Chyara dengan mata berkaca-kaca. Suaranya lembut, bergetar, seolah menahan tangis. “Kak Chyara ... maaf,” ucapnya lirih. “Lia tidak tahu kalau ini kursi Kakak. Lia tidak bermaksud mengambil tempat Kakak.” Chyara menopang dagunya dengan satu tangan, sendok di tangan lainnya mengaduk-aduk makanannya tanpa minat. “Mulai lagi,” gumamnya pelan. Cassio langsung menoleh dengan wajah mengeras. Amarahnya bangkit seketika. “Kenapa kau harus mempermasalahkan hal sekecil itu?!” bentaknya. “Kenapa kau tidak bisa memaklumi adikmu? Ini hari pertamanya di sini!” Chyara menghela napas panjang, jelas menahan kesal. Ia meletakkan sendoknya di piring dengan bunyi pelan, lalu menoleh ke arah ayahnya. “Aku bahkan tidak mengatakan apa pun,” ucapnya tenang, meski suaranya terdengar ditekan. “Lalu kenapa tetap aku yang salah?” “Sekarang kau berani melawan perkataanku?” teriak Cassio, suaranya menggema di ruang makan. Chyara mengepalkan jari di bawah meja. Rasanya ia ingin mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi. Ia sudah memilih diam, sudah menahan diri, namun alurnya tetap bergerak persis seperti di dalam novel. Ia mengangkat pandangan dan menatap Azelia. Tatapan itu tajam, dingin, dan terlihat kelelahan. Chyara tak bisa membayangkan jika di dunia nyata ia benar-benar akan memerankan karakter Azelia. Ia bisa membayangkan reaksi para penonton, bukan simpati yang akan mereka berikan padanya, melainkan kebencian, karena ia hanya tahu menangis dan bersikap lemah. “Apa sekarang kau sedang menatap tajam pada adikmu?!” Cassio kembali berteriak.Air mata Azelia akhirnya jatuh. Gadis kecil itu terisak pelan, lalu dengan langkah tergesa ia menarik ujung mantel Cassio. Tangannya yang mungil mencengkeram kain sutra itu seolah itulah satu-satunya pegangan yang ia miliki.“Ayah ... ini salah Lia,” ucapnya dengan suara bergetar, air mata mengalir di pipinya. “Lia yang terlalu lancang. Tolong ... jangan marahi Kak Chyara. Lia tidak ingin Kakak dimarahi karena Lia.”Tubuh Azelia gemetar ketika ia menunduk dalam-dalam, bahunya naik turun menahan isakan. Pemandangan itu seketika menusuk empati siapa pun yang melihatnya. Anak kecil yang merasa bersalah, memohon perlindungan pada ayahnya demi kakaknya yang baru saja ditegur.Tangisannya terdengar tulus, membuat suasana seketika berubah. Cassio menatap Azelia, amarah di wajahnya mereda, berganti dengan rasa iba.Chyara menyaksikan pemandangan itu dalam diam. Lalu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, pelan, nyaris tak terdengar.Bukan karena ia merasa senang. Melainkan karena akhirnya ia
Chyara tertawa riang sambil menghambur-hamburkan koinnya di atas ranjang. Selimut, bantal, bahkan lantai di sekitarnya kini penuh dengan koin perak dan emas yang berkilau di bawah cahaya lampu. Ia menidurkan tubuhnya di atas tumpukan koin itu, menatap langit-langit kamar dengan senyum puas dan perasaan yang lega. Cassio telah mengabulkan permintaannya, menaikkan uang hariannya lima kali lipat dari biasanya. Chyara mengangkat tangan, mulai menghitung koin satu per satu dengan hati-hati. Dalam pemahamannya, satu koin emas setara dengan sepuluh koin perak, dan seratus koin tembaga, sehingga perhitungannya menjadi lebih mudah untuk menilai kekayaan hariannya. “Jika uang harian biasa dua ratus koin perak, lima kali lipat berarti seribu koin perak … atau seratus koin emas!” teriaknya sambil tertawa lepas. Kini, Chyara tak perlu khawatir soal kebutuhan sehari-hari atau akan kekurangan uang. Perasaan lega dan senang menyelimuti dirinya, membuatnya merasa seakan dunia sudah berada di bawah
Setelah mengetuk pintu dengan sopan, Callister mendorongnya terbuka dan bersama Chyara melangkah masuk ke ruang kerja Marquess Everardo. Di balik meja mahoni besar yang mendominasi ruangan, duduk pria yang memegang kendali penuh atas keluarga Everardo—Cassio Everardo. Tatapannya tajam, menusuk, dan dingin, tanpa secercah kehangatan. Kehadirannya seakan membuat siapa pun yang berdiri di hadapannya merasa seperti bidak di papan catur. “Duduklah,” tukasnya datar. Baru saja Chyara dan Callister menempati sofa kulit hitam, pintu ruang kerja kembali terbuka perlahan. Dua pria muda melangkah masuk dengan langkah mantap, memancarkan aura wibawa khas bangsawan. Pandangan Chyara tertuju pada mereka, sejenak meneliti wajah keduanya sebelum ingatannya menyusun kepingan yang tepat. Mereka adalah Celvin dan Celvan Everardo, kakak kembar Chyara. Rambut biru muda yang serasi membingkai wajah mereka, sementara manik mata kuning keemasan—warna yang diwarisi dari sang ibu berkilau tajam di bawah cah
Kata-kata itu jatuh dengan tajam, sarat kecurigaan dan kesombongan. Chyara terdiam di dalam gendongannya, menyadari satu hal dengan jelas. Takdir lama masih berusaha menyeretnya kembali ke jalan cerita yang sama. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kediaman tanpa mengatakan apa pun. Langkahnya tegas saat ia menuju kamar Chyara. Sorot matanya lurus ke depan tak memedulikan beberapa pelayan yang menunduk hormat pada mereka. Chyara tetap terdiam, hanya menatap wajah Darian yang kini terasa terlalu dekat. Entah mengapa jantungnya berdetak semakin kencang, ritmenya tak beraturan. Padahal ia tahu dengan sangat jelas, ia sama sekali tidak tertarik pada pria itu. Tubuh ini sepertinya tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Seakan Chyara yang asli masih bersemayam di dalam sana, masih menyisakan perasaan lama. Sehingga jantungnya tetap berdegup setiap kali Darian berada begitu dekat dengannya. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kamar tanpa sepatah kata pun. Tangannya dilepaskan seger
Chyara tertawa pelan, nyaris tak percaya. Ia tak pernah membayangkan akan terjebak di dalam sebuah novel. Dan yang lebih buruk, ia tidak sekadar akting untuk memerankan karakter Azelia, melainkan kini ia harus benar-benar menjalani hidup sebagai gadis itu. Saat membaca naskah 'Kamu Kebahagiaanku', Chyara sama sekali tidak menyukai karakter Azelia yang terlalu polos, lemah, dan hanya tahu menangis. Gadis yang selalu diselamatkan, dicintai, dan dilindungi tanpa perlu berjuang keras. Chyara tak mengerti mengapa dunia dalam novel itu begitu memuja gadis tersebut. Tawa kecilnya terdengar aneh di telinga laki-laki di hadapannya. Ia menatap Chyara dengan ekspresi bingung, lalu mengangkat tangannya dan menyentuh kepala gadis itu dengan ragu. Ia memiringkan kepala Chyara ke kiri dan ke kanan, wajahnya penuh kekhawatiran. “Ara… kepalamu terbentur? Kenapa kau tertawa menakutkan seperti ini?” tanyanya cemas. Chyara langsung terdiam. Ara? Panggilan itu menggema di benaknya. Itu bukan panggi
“Itu dia! Perempuan iblis!” “Dasar pembunuh!” “Kau pantas mati!” “Matilah, pengkhianat!” “Habisi dia!” “Pengkhianat terkutuk!” Teriakan kebencian rakyat menggema tanpa henti. Chyara diarak menuju panggung eksekusi dan dijatuhkan untuk berlutut di atasnya. Rambut birunya yang dahulu berkilau kini kusut dan layu, menutupi sebagian wajahnya yang lebam dan nyaris tak lagi menyerupai putri Marquess Everardo. Batu kecil dan sayuran busuk dilemparkan ke arahnya, menghantam tubuhnya berkali-kali. Namun, Chyara tetap diam, seolah rasa sakit telah lama mati bersamanya. Di hadapannya berdiri Putra Mahkota Darian Ramiro. Ia mengenakan baju seremonial algojo berwarna hitam. Pedang besar terhunus di tangannya, dingin dan tak berperasaan seperti pemiliknya. Darian menekan sarung pedang di bawah dagu Chyara, memaksa wajah lemah itu menengadah. “Chyara,” katanya datar tanpa emosi. “Dulu kau gadis yang lembut, bagaimana bisa kau berubah menjadi iblis seperti ini?” Tatapan Darian menusuk, mat







