Share

Bab 03. Cerita Mulai Berjalan

Author: Penadiary
last update Last Updated: 2026-01-07 18:41:03

Kata-kata itu jatuh dengan tajam, sarat kecurigaan dan kesombongan. Chyara terdiam di dalam gendongannya, menyadari satu hal dengan jelas. Takdir lama masih berusaha menyeretnya kembali ke jalan cerita yang sama.

Darian membawa Chyara masuk ke dalam kediaman tanpa mengatakan apa pun. Langkahnya tegas saat ia menuju kamar Chyara. Sorot matanya lurus ke depan tak memedulikan beberapa pelayan yang menunduk hormat pada mereka.

Chyara tetap terdiam, hanya menatap wajah Darian yang kini terasa terlalu dekat. Entah mengapa jantungnya berdetak semakin kencang, ritmenya tak beraturan. Padahal ia tahu dengan sangat jelas, ia sama sekali tidak tertarik pada pria itu.

Tubuh ini sepertinya tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Seakan Chyara yang asli masih bersemayam di dalam sana, masih menyisakan perasaan lama. Sehingga jantungnya tetap berdegup setiap kali Darian berada begitu dekat dengannya.

Darian membawa Chyara masuk ke dalam kamar tanpa sepatah kata pun. Tangannya dilepaskan segera setelah ia mendudukkan gadis itu di tepi ranjang, seolah sentuhan barusan adalah sesuatu yang tak ingin ia ingat. Tatapannya dingin, kosong, nyaris tak menyisakan emosi. Udara di antara mereka terasa kaku dan menekan.

“Kau benar-benar hebat,” tutur Darian tajam.

Kalimat itu bukanlah pujian, melainkan sindiran dingin yang disengaja ditujukan untuk melukai perasaan Chyara.

“Kau meminta pada ayahku agar kita bertunangan,” lanjutnya, matanya tak bergeser sedikit pun, “dan sekarang kau merengek pada ayahmu agar aku menghadiri ulang tahunmu.”

Pria itu mengucapkannya dengan ketenangan yang kejam, seolah semua yang dilakukan Chyara tak lebih dari sandiwara murahan yang memuakkannya.

Tanpa menunggu jawaban, Darian berbalik dan melangkah pergi. Langkahnya tegas, punggungnya menjauh tanpa ragu, meninggalkan kesan bahwa keberadaan Chyara di ruangan itu hanyalah gangguan kecil yang telah selesai ia singkirkan.

Pintu kamar tertutup, meninggalkan keheningan yang berat dan menyesakkan. Chyara menatap ke arah pintu itu lama, rahangnya mengeras menahan rasa kesal yang bergejolak di dadanya. Ia sudah menolak dengan jelas, tetapi di mata Darian, semua itu tak lebih dari akting murahan.

Anehnya, kemarahan itu tidak mencegah air matanya menggenang. Kelopak matanya terasa panas, lalu basah. Chyara mengangkat tangan dan mengusap sudut matanya dengan kasar, seolah ingin menghapus sesuatu yang bahkan tidak ia pahami.

Tangisan itu bukan sepenuhnya miliknya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bereaksi lebih dulu, sebuah rasa sakit yang tulus dan terlalu dalam. Seakan Chyara yang asli masih bisa mendengar kata-kata Darian tadi, masih merasakannya, meski tubuh ini telah berubah menjadi miliknya.

Dadanya terasa sesak. Apakah Chyara yang asli masih hidup di dalam dirinya ataukah air mata ini hanyalah sisa perasaan yang belum sempat menghilang?

Chyara tak ingin terus memikirkannya. Ia mengalihkan pandangan, menelusuri sekeliling kamar. Ruangan itu indah dan mewah, persis seperti deskripsi yang pernah ia baca dalam novel. Setiap detailnya terasa asing, namun pada saat yang sama terlalu nyata untuk diabaikan.

Ia merebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang, berusaha menyusun kepingan informasi yang baru saja ia pahami. Nyeri di pergelangan kakinya masih terasa jelas, cukup untuk memastikan bahwa semua ini bukan mimpi. Ia benar-benar telah masuk ke dalam dunia novel itu.

Kemungkinan besar, di kehidupannya yang dulu, ia mati seketika saat tubuhnya terhempas ke dasar jurang. Kini, jiwanya terperangkap di dalam sebuah cerita yang sebelumnya hanya ia kenal sebagai rangkaian kata di atas kertas, sebuah dunia fiksi yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi kenyataan yang harus ia jalani.

Chyara menghela napas pelan, pandangannya tertuju pada langit-langit kamar dengan perasaan hampa. Ia teringat bagaimana ia telah berjuang bertahun-tahun di dunia akting. Merasakan jatuh bangun, diremehkan, hingga akhirnya mulai dikenal dan dipercaya memegang peran utama untuk pertama kalinya.

Namun, semua itu direnggut begitu saja, tepat saat ia baru sempat menyentuh hasil dari jerih payahnya sendiri.

Takdir terasa begitu kejam. Ia memberinya cahaya ketenaran, hanya untuk memadamkannya dalam sekejap, seolah semua perjuangan itu tak pernah berarti apa-apa.

Baru saja Chyara hendak terlelap ketika ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Suara itu memaksanya membuka mata kembali dan menoleh ke arah sumber bunyi. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Callister di sana.

Pria itu berdiri tegak dengan senyum lembut terukir di wajahnya. Sorot matanya tenang, seakan kedatangannya tidak membawa kabar buruk apa pun.

Tatapannya jatuh pada Chyara dengan kehangatan yang mengingatkannya pada sikap seorang kakak.

“Ayah ingin bertemu denganmu, Ara,” ucapnya ringan.

Chyara mengangkat sebelah alis, kebingungan segera menguasai wajahnya. Mengapa Marquess Everardo ingin menemuinya?

Seingatnya, dalam naskah novel, Chyara tak pernah benar-benar menerima perhatian, apalagi kasih sayang dari pria itu. Bahkan, pertemuan semacam ini sama sekali tidak pernah tertulis dalam cerita yang ia baca.

Callister melangkah mendekat. Ia membungkuk di hadapan Chyara, lalu tanpa menunggu persetujuan, menawarkan punggungnya seperti yang biasa ia lakukan.

“Kakak datang menjemputmu, Ara.”

Tanpa banyak pertimbangan, Chyara menaiki punggung Callister. Ia memilih kembali mengikuti alur, sadar bahwa terlalu banyak bertanya justru akan memancing kecurigaan. Tubuhnya bersandar ringan, sementara pikirannya tetap waspada dan penuh perhitungan.

Dalam perjalanan menuju ruang kerja Marquess, langkah Callister terasa lebih ringan dari biasanya. Nada suaranya terdengar ceria, hampir tak bisa menyembunyikan antusiasme. Ada kebanggaan samar yang mengalir di setiap katanya.

“Ayah pasti sedang menyiapkan hadiah ulang tahun untukmu,” ujarnya dengan senyum lebar. “Itulah sebabnya ayah menyuruh kita semua berkumpul di ruang kerjanya.”

“Hadiah ulang tahun?” ulang Chyara lirih.

Alih-alih merasa gembira, ia justru terkekeh pelan. Tawanya terdengar asing, nyaris getir, karena ia tahu persis hadiah seperti apa yang dimaksud Marquess Everardo untuk putri satu-satunya.

“Sepertinya ... ceritanya benar-benar mulai berjalan sekarang,” gumamnya pelan, dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 06. Tetap Berjalan Sesuai Alur

    Air mata Azelia akhirnya jatuh. Gadis kecil itu terisak pelan, lalu dengan langkah tergesa ia menarik ujung mantel Cassio. Tangannya yang mungil mencengkeram kain sutra itu seolah itulah satu-satunya pegangan yang ia miliki.“Ayah ... ini salah Lia,” ucapnya dengan suara bergetar, air mata mengalir di pipinya. “Lia yang terlalu lancang. Tolong ... jangan marahi Kak Chyara. Lia tidak ingin Kakak dimarahi karena Lia.”Tubuh Azelia gemetar ketika ia menunduk dalam-dalam, bahunya naik turun menahan isakan. Pemandangan itu seketika menusuk empati siapa pun yang melihatnya. Anak kecil yang merasa bersalah, memohon perlindungan pada ayahnya demi kakaknya yang baru saja ditegur.Tangisannya terdengar tulus, membuat suasana seketika berubah. Cassio menatap Azelia, amarah di wajahnya mereda, berganti dengan rasa iba.Chyara menyaksikan pemandangan itu dalam diam. Lalu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, pelan, nyaris tak terdengar.Bukan karena ia merasa senang. Melainkan karena akhirnya ia

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 05. Menyambut Tokoh Utama

    Chyara tertawa riang sambil menghambur-hamburkan koinnya di atas ranjang. Selimut, bantal, bahkan lantai di sekitarnya kini penuh dengan koin perak dan emas yang berkilau di bawah cahaya lampu. Ia menidurkan tubuhnya di atas tumpukan koin itu, menatap langit-langit kamar dengan senyum puas dan perasaan yang lega. Cassio telah mengabulkan permintaannya, menaikkan uang hariannya lima kali lipat dari biasanya. Chyara mengangkat tangan, mulai menghitung koin satu per satu dengan hati-hati. Dalam pemahamannya, satu koin emas setara dengan sepuluh koin perak, dan seratus koin tembaga, sehingga perhitungannya menjadi lebih mudah untuk menilai kekayaan hariannya. “Jika uang harian biasa dua ratus koin perak, lima kali lipat berarti seribu koin perak … atau seratus koin emas!” teriaknya sambil tertawa lepas. Kini, Chyara tak perlu khawatir soal kebutuhan sehari-hari atau akan kekurangan uang. Perasaan lega dan senang menyelimuti dirinya, membuatnya merasa seakan dunia sudah berada di bawah

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 04. Hadiah Ulang Tahun

    Setelah mengetuk pintu dengan sopan, Callister mendorongnya terbuka dan bersama Chyara melangkah masuk ke ruang kerja Marquess Everardo. Di balik meja mahoni besar yang mendominasi ruangan, duduk pria yang memegang kendali penuh atas keluarga Everardo—Cassio Everardo. Tatapannya tajam, menusuk, dan dingin, tanpa secercah kehangatan. Kehadirannya seakan membuat siapa pun yang berdiri di hadapannya merasa seperti bidak di papan catur. “Duduklah,” tukasnya datar. Baru saja Chyara dan Callister menempati sofa kulit hitam, pintu ruang kerja kembali terbuka perlahan. Dua pria muda melangkah masuk dengan langkah mantap, memancarkan aura wibawa khas bangsawan. Pandangan Chyara tertuju pada mereka, sejenak meneliti wajah keduanya sebelum ingatannya menyusun kepingan yang tepat. Mereka adalah Celvin dan Celvan Everardo, kakak kembar Chyara. Rambut biru muda yang serasi membingkai wajah mereka, sementara manik mata kuning keemasan—warna yang diwarisi dari sang ibu berkilau tajam di bawah cah

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 03. Cerita Mulai Berjalan

    Kata-kata itu jatuh dengan tajam, sarat kecurigaan dan kesombongan. Chyara terdiam di dalam gendongannya, menyadari satu hal dengan jelas. Takdir lama masih berusaha menyeretnya kembali ke jalan cerita yang sama. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kediaman tanpa mengatakan apa pun. Langkahnya tegas saat ia menuju kamar Chyara. Sorot matanya lurus ke depan tak memedulikan beberapa pelayan yang menunduk hormat pada mereka. Chyara tetap terdiam, hanya menatap wajah Darian yang kini terasa terlalu dekat. Entah mengapa jantungnya berdetak semakin kencang, ritmenya tak beraturan. Padahal ia tahu dengan sangat jelas, ia sama sekali tidak tertarik pada pria itu. Tubuh ini sepertinya tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Seakan Chyara yang asli masih bersemayam di dalam sana, masih menyisakan perasaan lama. Sehingga jantungnya tetap berdegup setiap kali Darian berada begitu dekat dengannya. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kamar tanpa sepatah kata pun. Tangannya dilepaskan seger

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 02. Mencoba Menyimpang dari Alur

    Chyara tertawa pelan, nyaris tak percaya. Ia tak pernah membayangkan akan terjebak di dalam sebuah novel. Dan yang lebih buruk, ia tidak sekadar akting untuk memerankan karakter Azelia, melainkan kini ia harus benar-benar menjalani hidup sebagai gadis itu. Saat membaca naskah 'Kamu Kebahagiaanku', Chyara sama sekali tidak menyukai karakter Azelia yang terlalu polos, lemah, dan hanya tahu menangis. Gadis yang selalu diselamatkan, dicintai, dan dilindungi tanpa perlu berjuang keras. Chyara tak mengerti mengapa dunia dalam novel itu begitu memuja gadis tersebut. Tawa kecilnya terdengar aneh di telinga laki-laki di hadapannya. Ia menatap Chyara dengan ekspresi bingung, lalu mengangkat tangannya dan menyentuh kepala gadis itu dengan ragu. Ia memiringkan kepala Chyara ke kiri dan ke kanan, wajahnya penuh kekhawatiran. “Ara… kepalamu terbentur? Kenapa kau tertawa menakutkan seperti ini?” tanyanya cemas. Chyara langsung terdiam. Ara? Panggilan itu menggema di benaknya. Itu bukan panggi

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 01. Ending Cerita

    “Itu dia! Perempuan iblis!” “Dasar pembunuh!” “Kau pantas mati!” “Matilah, pengkhianat!” “Habisi dia!” “Pengkhianat terkutuk!” Teriakan kebencian rakyat menggema tanpa henti. Chyara diarak menuju panggung eksekusi dan dijatuhkan untuk berlutut di atasnya. Rambut birunya yang dahulu berkilau kini kusut dan layu, menutupi sebagian wajahnya yang lebam dan nyaris tak lagi menyerupai putri Marquess Everardo. Batu kecil dan sayuran busuk dilemparkan ke arahnya, menghantam tubuhnya berkali-kali. Namun, Chyara tetap diam, seolah rasa sakit telah lama mati bersamanya. Di hadapannya berdiri Putra Mahkota Darian Ramiro. Ia mengenakan baju seremonial algojo berwarna hitam. Pedang besar terhunus di tangannya, dingin dan tak berperasaan seperti pemiliknya. Darian menekan sarung pedang di bawah dagu Chyara, memaksa wajah lemah itu menengadah. “Chyara,” katanya datar tanpa emosi. “Dulu kau gadis yang lembut, bagaimana bisa kau berubah menjadi iblis seperti ini?” Tatapan Darian menusuk, mat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status