Share

Bab 04. Hadiah Ulang Tahun

Author: Penadiary
last update Last Updated: 2026-01-07 18:41:27

Setelah mengetuk pintu dengan sopan, Callister mendorongnya terbuka dan bersama Chyara melangkah masuk ke ruang kerja Marquess Everardo.

Di balik meja mahoni besar yang mendominasi ruangan, duduk pria yang memegang kendali penuh atas keluarga Everardo—Cassio Everardo. Tatapannya tajam, menusuk, dan dingin, tanpa secercah kehangatan. Kehadirannya seakan membuat siapa pun yang berdiri di hadapannya merasa seperti bidak di papan catur.

“Duduklah,” tukasnya datar.

Baru saja Chyara dan Callister menempati sofa kulit hitam, pintu ruang kerja kembali terbuka perlahan. Dua pria muda melangkah masuk dengan langkah mantap, memancarkan aura wibawa khas bangsawan.

Pandangan Chyara tertuju pada mereka, sejenak meneliti wajah keduanya sebelum ingatannya menyusun kepingan yang tepat. Mereka adalah Celvin dan Celvan Everardo, kakak kembar Chyara. Rambut biru muda yang serasi membingkai wajah mereka, sementara manik mata kuning keemasan—warna yang diwarisi dari sang ibu berkilau tajam di bawah cahaya ruangan.

Keduanya mengenakan pakaian resmi keluarga dengan potongan sempurna. Jas biru tua berhiaskan lambang Everardo tersemat di dada kiri, dipadukan dengan celana hitam dan sepatu kulit yang mengilap, menegaskan status serta wibawa mereka sebagai pewaris keluarga bangsawan.

Namun, wibawa itu runtuh seketika saat pandangan mereka bertemu dengan Chyara. Mata Celvin dan Celvan langsung dipenuhi kekhawatiran, hasil kabar yang mereka dengar tentang gadis itu yang terjatuh dari pohon.

“Ara!” Celvan segera melangkah cepat mendekat. “Kakak dengar kau jatuh dari pohon. Kau tidak apa-apa?”

Celvin berlutut di sisi Chyara dengan hati-hati. Tangannya menggenggam tangan Chyara seakan ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Sorot matanya memancarkan kekhawatiran yang tulus, seperti seorang kakak yang penyayang.

“Katakan padaku, apa kau terluka? Sakit di bagian mana?” tanya Celvin dengan nada lembut namun tegas.

Chyara terpaku sejenak, matanya menatap kakak-kakaknya dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Senyum itu lahir dari keterpesonaan yang murni, mengekspresikan kekagumannya sendiri.

‘Keluarga Everardo benar-benar dianugerahi anak-anak yang tampan,’ batinnya, tak bisa menahan kekaguman yang muncul.

Namun, bagi Celvin dan Celvan, senyum Chyara terasa janggal. Mereka saling berpandangan, kebingungan tersirat di mata mereka. Ekspresi gadis itu tidak seperti biasanya, membuat mereka sulit menebak maksud senyum aneh itu.

Celvan tiba-tiba menangkup kedua pipi Chyara, menekannya sedikit kasar. Tekanan itu cukup untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Matanya terbuka lebar, menatap kakaknya dengan sedikit terkejut.

“Ara, kau baik-baik saja?” tanyanya, nada suaranya terdengar cemas dan tergesa.

Chyara langsung mengangguk cepat, hampir tak percaya dengan perhatian itu. “Ara baik-baik saja, Kak Celvan,” jawabnya spontan.

Chyara tersadar bahwa dirinya sempat larut terlalu jauh dalam pikirannya sendiri. Pandangannya kembali jernih, menyadari situasi di sekelilingnya. Meski begitu, senyum kecil masih tersisa di bibirnya, tertahan oleh rasa heran dan kagum.

Chyara benar-benar tak menyangka akan dikelilingi begitu banyak pria tampan. Mungkin, satu-satunya keuntungan dari terjebak di dalam novel ini hanyalah hal semacam ini. Perasaan itu membuatnya sedikit lega di tengah kekacauan yang akan segera ia hadapi.

Cassio bangkit dari kursinya, langkahnya mantap menuju sofa besar. Ia berdiri di hadapan anak-anaknya dengan postur tegak. Tatapannya menusuk, seakan kehadirannya saja cukup mengintimidasi siapa pun di ruangan itu.

“Chyara,” suaranya tenang, berlapis dingin, “lusa ulang tahunmu, bukan?”

Chyara mengangguk pelan, pikirannya mulai bekerja cepat. Kepingan cerita dalam novel saling bertaut, membentuk gambaran yang ia kenal. Dalam naskah itu, bab pembuka tak pernah diceritakan dari sudut pandangnya, melainkan dari sudut pandang Azelia, gadis haram Marquess Everardo yang hidup menderita.

Pada hari ulang tahun itu, Azelia dibawa ibunya ke kediaman Everardo. Ia diperkenalkan sebagai anak Cassio, seorang tamu yang tiba-tiba menjadi bagian keluarga. Kebetulan, ulang tahun Azelia jatuh pada hari yang sama dengan milik Chyara.

“Apa kau menginginkan seorang adik?” tanya Cassio, tatapannya terlihat serius.

Seperti yang Chyara duga, pertanyaan itu menjadi penanda awal. Awal dari masuknya Azelia ke dalam kediaman Everardo. Awal dari cerita yang akan mengubah jalannya kehidupannya selamanya.

“Mengapa Ayah bertanya demikian?” tanya Chyara, memasang ekspresi polos meski ia sudah mengetahui jawabannya.

Alih-alih menjawab, Cassio meraih sebuah map kulit di mejanya. Tanpa sepatah kata pun, ia mengeluarkan selembar foto dari dalam map itu. Lalu ia menyerahkannya kepada Chyara dengan gerakan tenang dan tegas.

Di dalam foto itu, berdiri seorang wanita dewasa dengan senyum lembut. Di sisinya, seorang gadis seusia Chyara menatap kamera dengan ekspresi canggung namun manis.

Rambut biru muda gadis itu jatuh tergerai indah, warna khas darah murni Everardo. Manik matanya berwarna kuning, jernih dan bening, persis seperti milik Celvin dan Celvan. Jika dia masuk ke dalam kediaman Everardo, tidak ada yang akan menyadari bahwa gadis itu lahir dari wanita lain.

"Jadi … inilah Azelia," batinnya.

Chyara menatap foto itu lama, memandangi sosok yang akan menjadi pusat perhatian semua orang. Tak mengherankan jika semua orang akan mencintainya. Bahkan hanya lewat selembar foto, Chyara bisa merasakan betapa cantik, lembut, dan polosnya gadis itu.

Sosok itu secara naluriah membangkitkan keinginan seseorang untuk melindungi. Chyara tersenyum tipis, campuran kagum dan iri dalam hatinya. Ia tahu, perjalanan hidupnya di novel ini baru saja dimulai.

“Ini adikmu, Azelia Everardo,” kata Cassio dengan suara datar. “Ia lahir di hari yang sama denganmu. Lusa, kalian akan merayakan ulang tahun bersama.”

“Pada debutante nanti, kalian akan diperkenalkan sebagai dua putri keluarga Everardo,” lanjutnya, nadanya tetap tenang tanpa perubahan.

Cassio berhenti sejenak, menatap anak-anaknya sekilas. “Besok pagi, mereka akan tiba di kediaman ini. Clara akan tinggal bersama kita. Mulai saat itu, ia akan mengambil perannya sebagai ibu di kastel ini.”

Chyara hanya mengangguk pelan, menandakan bahwa ia mengerti. Ia tak berniat mencegah kedatangan gadis itu. Bagaimanapun, cerita tetap akan berjalan sesuai alurnya.

Satu-satunya hal yang terlintas di benaknya hanyalah bagaimana caranya mencegah kematian dirinya. Ia tahu, setiap langkah kecil harus diperhitungkan. Ini bukan sekadar hidup atau mati, melainkan pertaruhan atas masa depan tubuh dan jiwanya.

Celvin mengepalkan tangan, menatap foto Azelia sejenak sebelum pandangannya beralih ke Chyara.

Suaranya terdengar pelan, nyaris sendu saat berbicara. “Ara, kau tak perlu menerimanya. Bagi kami, kau satu-satunya adik perempuan kami. Dan keluarga ini ... hanya memiliki satu putri.”

Chyara tersenyum simpul, menahan rasa heran. Sebelumnya, ia tak pernah menyangka bahwa sebelum kedatangan Azelia, kakak-kakaknya begitu menyayangi Chyara asli.

Dalam naskah yang ia baca, begitu Azelia muncul, seluruh perhatian keluarga beralih kepada gadis itu, meninggalkan Chyara asli sendirian dan merasa terasingkan di kediaman Everardo.

Satu-satunya harapannya dulu hanyalah tunangannya, Darian. Namun, pria itu pun berpaling dan mencintai Azelia sepenuhnya. Jika dipikirkan kembali, wajar saja jika Chyara asli membenci Azelia dan bahkan ingin menghabisinya.

Namun kini, ia bukan lagi Chyara yang asli. Ia adalah Chyara yang baru, dengan kesempatan dan pilihan yang berbeda. Jalan yang akan ia tempuh pun tak lagi sama, dan ia bertekad untuk tidak mengulang kesalahan yang pernah menghancurkan hidup gadis itu.

Di dunia nyata, Chyara telah terbiasa hidup seorang diri, tanpa sandaran maupun perhatian penuh dari siapa pun. Karena itu, jika kelak seluruh kasih sayang keluarga Everardo beralih kepada Azelia, ia tak akan keberatan. Karena kesendirian bukanlah sesuatu yang asing baginya.

Chyara menepuk bahu Celvin ringan, berusaha menenangkan kakaknya. Ia kemudian melirik ke arah ayahnya dengan ekspresi penasaran. Wajahnya polos, namun matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang tajam.

“Apakah ... kedatangan Azelia ini hadiah ulang tahun Ara, Ayah?” tanyanya, suaranya ringan namun penuh arti.

Cassio terdiam sejenak, menimbang kata-katanya. Akhirnya, ia berkata dengan nada datar namun tegas. “Jika kau tidak menyukai hadiahnya, kau bisa meminta yang lain. Tetapi kedatangan Azelia ke dalam kediaman ini mutlak.”

Mendengar itu, senyum lebar merekah di wajah Chyara. Sepanjang perjalanan ke ruang kerja, ia sudah memikirkan dengan cermat apa yang akan ia pinta.

“Kalau begitu, Ara akan menerima kedatangan Azelia dengan sepenuh hati ... asalkan—” Chyara berhenti sejenak, menatap Cassio dengan senyum penuh arti. “Uang harian Ara ditambahkan lima kali lipat!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 06. Tetap Berjalan Sesuai Alur

    Air mata Azelia akhirnya jatuh. Gadis kecil itu terisak pelan, lalu dengan langkah tergesa ia menarik ujung mantel Cassio. Tangannya yang mungil mencengkeram kain sutra itu seolah itulah satu-satunya pegangan yang ia miliki.“Ayah ... ini salah Lia,” ucapnya dengan suara bergetar, air mata mengalir di pipinya. “Lia yang terlalu lancang. Tolong ... jangan marahi Kak Chyara. Lia tidak ingin Kakak dimarahi karena Lia.”Tubuh Azelia gemetar ketika ia menunduk dalam-dalam, bahunya naik turun menahan isakan. Pemandangan itu seketika menusuk empati siapa pun yang melihatnya. Anak kecil yang merasa bersalah, memohon perlindungan pada ayahnya demi kakaknya yang baru saja ditegur.Tangisannya terdengar tulus, membuat suasana seketika berubah. Cassio menatap Azelia, amarah di wajahnya mereda, berganti dengan rasa iba.Chyara menyaksikan pemandangan itu dalam diam. Lalu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, pelan, nyaris tak terdengar.Bukan karena ia merasa senang. Melainkan karena akhirnya ia

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 05. Menyambut Tokoh Utama

    Chyara tertawa riang sambil menghambur-hamburkan koinnya di atas ranjang. Selimut, bantal, bahkan lantai di sekitarnya kini penuh dengan koin perak dan emas yang berkilau di bawah cahaya lampu. Ia menidurkan tubuhnya di atas tumpukan koin itu, menatap langit-langit kamar dengan senyum puas dan perasaan yang lega. Cassio telah mengabulkan permintaannya, menaikkan uang hariannya lima kali lipat dari biasanya. Chyara mengangkat tangan, mulai menghitung koin satu per satu dengan hati-hati. Dalam pemahamannya, satu koin emas setara dengan sepuluh koin perak, dan seratus koin tembaga, sehingga perhitungannya menjadi lebih mudah untuk menilai kekayaan hariannya. “Jika uang harian biasa dua ratus koin perak, lima kali lipat berarti seribu koin perak … atau seratus koin emas!” teriaknya sambil tertawa lepas. Kini, Chyara tak perlu khawatir soal kebutuhan sehari-hari atau akan kekurangan uang. Perasaan lega dan senang menyelimuti dirinya, membuatnya merasa seakan dunia sudah berada di bawah

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 04. Hadiah Ulang Tahun

    Setelah mengetuk pintu dengan sopan, Callister mendorongnya terbuka dan bersama Chyara melangkah masuk ke ruang kerja Marquess Everardo. Di balik meja mahoni besar yang mendominasi ruangan, duduk pria yang memegang kendali penuh atas keluarga Everardo—Cassio Everardo. Tatapannya tajam, menusuk, dan dingin, tanpa secercah kehangatan. Kehadirannya seakan membuat siapa pun yang berdiri di hadapannya merasa seperti bidak di papan catur. “Duduklah,” tukasnya datar. Baru saja Chyara dan Callister menempati sofa kulit hitam, pintu ruang kerja kembali terbuka perlahan. Dua pria muda melangkah masuk dengan langkah mantap, memancarkan aura wibawa khas bangsawan. Pandangan Chyara tertuju pada mereka, sejenak meneliti wajah keduanya sebelum ingatannya menyusun kepingan yang tepat. Mereka adalah Celvin dan Celvan Everardo, kakak kembar Chyara. Rambut biru muda yang serasi membingkai wajah mereka, sementara manik mata kuning keemasan—warna yang diwarisi dari sang ibu berkilau tajam di bawah cah

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 03. Cerita Mulai Berjalan

    Kata-kata itu jatuh dengan tajam, sarat kecurigaan dan kesombongan. Chyara terdiam di dalam gendongannya, menyadari satu hal dengan jelas. Takdir lama masih berusaha menyeretnya kembali ke jalan cerita yang sama. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kediaman tanpa mengatakan apa pun. Langkahnya tegas saat ia menuju kamar Chyara. Sorot matanya lurus ke depan tak memedulikan beberapa pelayan yang menunduk hormat pada mereka. Chyara tetap terdiam, hanya menatap wajah Darian yang kini terasa terlalu dekat. Entah mengapa jantungnya berdetak semakin kencang, ritmenya tak beraturan. Padahal ia tahu dengan sangat jelas, ia sama sekali tidak tertarik pada pria itu. Tubuh ini sepertinya tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Seakan Chyara yang asli masih bersemayam di dalam sana, masih menyisakan perasaan lama. Sehingga jantungnya tetap berdegup setiap kali Darian berada begitu dekat dengannya. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kamar tanpa sepatah kata pun. Tangannya dilepaskan seger

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 02. Mencoba Menyimpang dari Alur

    Chyara tertawa pelan, nyaris tak percaya. Ia tak pernah membayangkan akan terjebak di dalam sebuah novel. Dan yang lebih buruk, ia tidak sekadar akting untuk memerankan karakter Azelia, melainkan kini ia harus benar-benar menjalani hidup sebagai gadis itu. Saat membaca naskah 'Kamu Kebahagiaanku', Chyara sama sekali tidak menyukai karakter Azelia yang terlalu polos, lemah, dan hanya tahu menangis. Gadis yang selalu diselamatkan, dicintai, dan dilindungi tanpa perlu berjuang keras. Chyara tak mengerti mengapa dunia dalam novel itu begitu memuja gadis tersebut. Tawa kecilnya terdengar aneh di telinga laki-laki di hadapannya. Ia menatap Chyara dengan ekspresi bingung, lalu mengangkat tangannya dan menyentuh kepala gadis itu dengan ragu. Ia memiringkan kepala Chyara ke kiri dan ke kanan, wajahnya penuh kekhawatiran. “Ara… kepalamu terbentur? Kenapa kau tertawa menakutkan seperti ini?” tanyanya cemas. Chyara langsung terdiam. Ara? Panggilan itu menggema di benaknya. Itu bukan panggi

  • Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku   Bab 01. Ending Cerita

    “Itu dia! Perempuan iblis!” “Dasar pembunuh!” “Kau pantas mati!” “Matilah, pengkhianat!” “Habisi dia!” “Pengkhianat terkutuk!” Teriakan kebencian rakyat menggema tanpa henti. Chyara diarak menuju panggung eksekusi dan dijatuhkan untuk berlutut di atasnya. Rambut birunya yang dahulu berkilau kini kusut dan layu, menutupi sebagian wajahnya yang lebam dan nyaris tak lagi menyerupai putri Marquess Everardo. Batu kecil dan sayuran busuk dilemparkan ke arahnya, menghantam tubuhnya berkali-kali. Namun, Chyara tetap diam, seolah rasa sakit telah lama mati bersamanya. Di hadapannya berdiri Putra Mahkota Darian Ramiro. Ia mengenakan baju seremonial algojo berwarna hitam. Pedang besar terhunus di tangannya, dingin dan tak berperasaan seperti pemiliknya. Darian menekan sarung pedang di bawah dagu Chyara, memaksa wajah lemah itu menengadah. “Chyara,” katanya datar tanpa emosi. “Dulu kau gadis yang lembut, bagaimana bisa kau berubah menjadi iblis seperti ini?” Tatapan Darian menusuk, mat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status