LOGINChyara tertawa pelan, nyaris tak percaya. Ia tak pernah membayangkan akan terjebak di dalam sebuah novel. Dan yang lebih buruk, ia tidak sekadar akting untuk memerankan karakter Azelia, melainkan kini ia harus benar-benar menjalani hidup sebagai gadis itu.
Saat membaca naskah 'Kamu Kebahagiaanku', Chyara sama sekali tidak menyukai karakter Azelia yang terlalu polos, lemah, dan hanya tahu menangis. Gadis yang selalu diselamatkan, dicintai, dan dilindungi tanpa perlu berjuang keras. Chyara tak mengerti mengapa dunia dalam novel itu begitu memuja gadis tersebut. Tawa kecilnya terdengar aneh di telinga laki-laki di hadapannya. Ia menatap Chyara dengan ekspresi bingung, lalu mengangkat tangannya dan menyentuh kepala gadis itu dengan ragu. Ia memiringkan kepala Chyara ke kiri dan ke kanan, wajahnya penuh kekhawatiran. “Ara… kepalamu terbentur? Kenapa kau tertawa menakutkan seperti ini?” tanyanya cemas. Chyara langsung terdiam. Ara? Panggilan itu menggema di benaknya. Itu bukan panggilan untuk Azelia. Itu adalah nama yang ia kenal dengan sangat jelas—panggilan untuk Chyara Everardo. Tokoh antagonis dalam novel. Gadis yang terobsesi pada satu pria hingga berani merencanakan pembunuhan. Dan pada akhirnya, mati di atas panggung eksekusi. Perlahan, Chyara menoleh menatap lelaki itu. Ada harapan kecil di dadanya, berharap semua ini hanya kesalahpahaman. “Siapa … siapa namaku?” tanyanya ragu. Wajah lelaki itu seketika berubah panik. “Ara, kau benar-benar tidak ingat?” Ia mencengkeram bahu Chyara dengan lembut, namun suaranya meninggi oleh kecemasan. “Apa kau kehilangan ingatan karena terjatuh dari pohon?” Pada detik itu juga, jantung Chyara terasa tenggelam. Jika panggilan itu benar, maka ia tidak masuk ke dalam novel sebagai Azelia, melainkan sebagai Chyara Everardo. Gadis yang kelak dibenci seluruh kerajaan. Dan yang ditakdirkan mati di hadapan publik, di atas panggung eksekusi. Chyara kembali memperhatikan lelaki di hadapannya dengan saksama. Dari wajahnya yang tampak lebih dewasa darinya, ia langsung mengenalinya sebagai Callister Everardo, putra sulung Marquess Everardo. Sosok dalam cerita yang ia baca, ditakdirkan mati muda sebagai korban pertama demi melindungi Azelia. Untuk menenangkan kegelisahan di wajah Callister, Chyara menarik napas pelan lalu tersenyum tipis. “Ara tidak apa-apa, Kak,” ucapnya lembut, berusaha terdengar meyakinkan. “Hanya pergelangan kaki Ara saja yang terluka.” Untungnya, saat membaca naskah novel itu, Chyara tak hanya terfokus pada satu karakternya, Azelia, melainkan ia membaca dan memahami keseluruhan alurnya. Dalam cerita, gadis itu memang kerap memanggil dirinya dengan sebutan “Ara”, terutama ketika ia berusaha menarik perhatian Darian, sang putra mahkota sekaligus tokoh pria kedua dalam novel. Callister menatapnya ragu, jelas belum sepenuhnya percaya. Alisnya berkerut saat pandangannya turun ke kaki Chyara, lalu kembali menatap wajahnya. “Kau yakin, Ara? Kau tadi sempat pingsan,” katanya dengan nada cemas. Meski dadanya masih bergemuruh oleh keterkejutan dan ketidakpercayaan, Chyara menjaga ekspresinya tetap tenang. Ia menahan semua kegelisahan itu jauh di dalam dirinya. Berakting adalah hal yang paling ia kuasai, dan untuk saat ini, ia tidak boleh terlihat berbeda dari Chyara asli. Melihat Chyara yang masih mampu tersenyum manis meski jelas kesakitan, Callister akhirnya menghela napas lega. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi salep dari saku rompinya dan berlutut di hadapannya. Dengan gerakan hati-hati, ia mengoleskan salep itu pada pergelangan kaki Chyara. Belum sempat Callister menutup kotak salep itu, seorang pelayan berlari menghampiri mereka dengan langkah tergesa. Wajah pelayan itu tampak tegang saat ia menunduk memberi hormat. Suaranya terdengar jelas di antara keheningan taman. “Tuan Callister, Nona Chyara, Pangeran Darian telah tiba,” kata pelayan itu. Callister mendengus pelan dan segera berbalik membelakangi Chyara. Ia berjongkok di hadapan adiknya sambil menepuk punggungnya. Sorot matanya menyiratkan kejengkelan yang tertahan. “Naiklah, Ara,” katanya tegas. “Aku akan menemui Darian dan memastikan dia bertanggung jawab. Gara-gara kabar kedatangannya, kau sampai melompat kegirangan dan jatuh dari pohon.” Chyara memilih mengikuti alur yang ada demi memahami situasinya dengan lebih baik. Ia naik ke punggung Callister tanpa banyak bicara, membiarkan dirinya dibawa pergi dari taman. Mereka berjalan menuju halaman utama kediaman Everardo yang tampak luas dan megah. Saat mereka tiba, seorang lelaki terlihat baru saja melangkah masuk ke halaman utama dengan langkah tegas dan dingin. Callister menurunkan Chyara dengan hati-hati, lalu mendudukkannya di sebuah kursi halaman sebelum berbalik menatap adiknya. Callister menyuruhnya menunggu di sana dan Chyara hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Perhatian Chyara kemudian tertuju pada lelaki yang kini berjalan semakin dekat. Rambutnya berwarna perak dengan sorot mata merah darah yang dingin dan tajam. Tanpa perlu pengenalan, Chyara tahu, dialah Darian Ramiro. Chyara menatap Darian sejenak, memperhatikan aura dingin dan karisma yang terpancar alami darinya. Garis wajah tegas dan sikap tenangnya membuat sosok pria itu tampak sulit didekati, namun justru menarik perhatian. Tak heran jika siapa pun akan mudah terjerat olehnya. “Pantas saja Chyara asli sampai terobsesi padanya,” gumamnya lirih. “Dia memang tampan dan berkharisma. Kalau di dunia nyata, dia tipe lelaki badboy yang membuat orang jatuh tanpa sadar.” Callister merangkul bahu Darian dan menariknya mendekat ke arah Chyara. Tepat di saat itulah, tanpa aba-aba, tatapan Chyara dan Darian saling bertemu. Chyara sempat tertegun. Tak tahu harus bersikap bagaimana, ia memilih mengulas senyum manis sekadar basa-basi. Namun, alih-alih membalas, Darian justru mengernyit tipis lalu membuang pandangannya, seolah senyum itu mengganggunya. Mereka berhenti tepat di hadapan Chyara. Darian mengulurkan tangannya dengan gerakan kaku, ekspresinya dingin dan sama sekali tak ramah. Sorot matanya menyiratkan ketidaknyamanan yang nyaris tak coba ia sembunyikan. “Aku akan mengantarmu ke kamar,” ucapnya singkat, nadanya datar dan dingin. Chyara tertawa kecil, tak percaya dengan sikap dingin itu. Ia bisa menebak apa yang ada di pikiran Darian, pria itu pasti mengira dirinya akan menyambut tawaran tersebut dengan wajah berbinar dan segera menggenggam tangannya erat. Sayangnya, ia bukan Chyara yang terbutakan oleh cinta seperti dalam cerita. Dan momen ini akan menjadi langkah pertamanya untuk menyimpang dari alur takdir dan hidup sesuai keinginannya sendiri. Chyara bangkit dari duduknya dengan tenang. Ia memberi salam sopan lebih dulu, sedikit membungkuk sambil mengangkat ujung gaunnya dengan anggun—gerakan yang pernah ia pelajari saat persiapan syuting. Sikapnya terkendali, nyaris tanpa celah. “Salam hormat untuk Pangeran Darian. Terima kasih atas perhatiannya,” ucapnya pelan namun jelas. Chyara lalu tersenyum tipis. “Saya tidak perlu diantar ke kamar. Saya bisa pergi sendiri.” Nada suara Chyara terdengar halus, tetapi ada tekanan tegas di setiap katanya. Darian terbelalak sesaat, sementara Callister menatap Chyara dengan ekspresi tak kalah terkejut. Setelah mengatakan itu, Chyara berbalik dan mulai melangkah menjauh. Namun, pergelangan kakinya yang terluka membuat langkahnya tidak stabil, sehingga ia berjalan dengan pincang. Setiap pijakannya terasa perih, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk terus maju. Darian menatap punggung gadis itu dengan sorot mata tak percaya. Selama ini, Chyara selalu mengejarnya tanpa rasa malu, terus-menerus mengganggu dan mencari perhatiannya. Penolakan barusan terasa janggal, bahkan hampir menyinggung harga dirinya. Tanpa berpikir panjang, Darian melangkah cepat menyusulnya. Dalam satu gerakan sigap, ia mengangkat tubuh Chyara dan menggendongnya. Chyara tersentak, napasnya tercekat karena sama sekali tak menduga tindakan itu. Darian menunduk menatapnya dengan ekspresi dingin. “Setelah mengejarku tidak berhasil,” cibirnya tajam, “sekarang kau mencoba jual mahal untuk menarik perhatianku?”Air mata Azelia akhirnya jatuh. Gadis kecil itu terisak pelan, lalu dengan langkah tergesa ia menarik ujung mantel Cassio. Tangannya yang mungil mencengkeram kain sutra itu seolah itulah satu-satunya pegangan yang ia miliki.“Ayah ... ini salah Lia,” ucapnya dengan suara bergetar, air mata mengalir di pipinya. “Lia yang terlalu lancang. Tolong ... jangan marahi Kak Chyara. Lia tidak ingin Kakak dimarahi karena Lia.”Tubuh Azelia gemetar ketika ia menunduk dalam-dalam, bahunya naik turun menahan isakan. Pemandangan itu seketika menusuk empati siapa pun yang melihatnya. Anak kecil yang merasa bersalah, memohon perlindungan pada ayahnya demi kakaknya yang baru saja ditegur.Tangisannya terdengar tulus, membuat suasana seketika berubah. Cassio menatap Azelia, amarah di wajahnya mereda, berganti dengan rasa iba.Chyara menyaksikan pemandangan itu dalam diam. Lalu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, pelan, nyaris tak terdengar.Bukan karena ia merasa senang. Melainkan karena akhirnya ia
Chyara tertawa riang sambil menghambur-hamburkan koinnya di atas ranjang. Selimut, bantal, bahkan lantai di sekitarnya kini penuh dengan koin perak dan emas yang berkilau di bawah cahaya lampu. Ia menidurkan tubuhnya di atas tumpukan koin itu, menatap langit-langit kamar dengan senyum puas dan perasaan yang lega. Cassio telah mengabulkan permintaannya, menaikkan uang hariannya lima kali lipat dari biasanya. Chyara mengangkat tangan, mulai menghitung koin satu per satu dengan hati-hati. Dalam pemahamannya, satu koin emas setara dengan sepuluh koin perak, dan seratus koin tembaga, sehingga perhitungannya menjadi lebih mudah untuk menilai kekayaan hariannya. “Jika uang harian biasa dua ratus koin perak, lima kali lipat berarti seribu koin perak … atau seratus koin emas!” teriaknya sambil tertawa lepas. Kini, Chyara tak perlu khawatir soal kebutuhan sehari-hari atau akan kekurangan uang. Perasaan lega dan senang menyelimuti dirinya, membuatnya merasa seakan dunia sudah berada di bawah
Setelah mengetuk pintu dengan sopan, Callister mendorongnya terbuka dan bersama Chyara melangkah masuk ke ruang kerja Marquess Everardo. Di balik meja mahoni besar yang mendominasi ruangan, duduk pria yang memegang kendali penuh atas keluarga Everardo—Cassio Everardo. Tatapannya tajam, menusuk, dan dingin, tanpa secercah kehangatan. Kehadirannya seakan membuat siapa pun yang berdiri di hadapannya merasa seperti bidak di papan catur. “Duduklah,” tukasnya datar. Baru saja Chyara dan Callister menempati sofa kulit hitam, pintu ruang kerja kembali terbuka perlahan. Dua pria muda melangkah masuk dengan langkah mantap, memancarkan aura wibawa khas bangsawan. Pandangan Chyara tertuju pada mereka, sejenak meneliti wajah keduanya sebelum ingatannya menyusun kepingan yang tepat. Mereka adalah Celvin dan Celvan Everardo, kakak kembar Chyara. Rambut biru muda yang serasi membingkai wajah mereka, sementara manik mata kuning keemasan—warna yang diwarisi dari sang ibu berkilau tajam di bawah cah
Kata-kata itu jatuh dengan tajam, sarat kecurigaan dan kesombongan. Chyara terdiam di dalam gendongannya, menyadari satu hal dengan jelas. Takdir lama masih berusaha menyeretnya kembali ke jalan cerita yang sama. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kediaman tanpa mengatakan apa pun. Langkahnya tegas saat ia menuju kamar Chyara. Sorot matanya lurus ke depan tak memedulikan beberapa pelayan yang menunduk hormat pada mereka. Chyara tetap terdiam, hanya menatap wajah Darian yang kini terasa terlalu dekat. Entah mengapa jantungnya berdetak semakin kencang, ritmenya tak beraturan. Padahal ia tahu dengan sangat jelas, ia sama sekali tidak tertarik pada pria itu. Tubuh ini sepertinya tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Seakan Chyara yang asli masih bersemayam di dalam sana, masih menyisakan perasaan lama. Sehingga jantungnya tetap berdegup setiap kali Darian berada begitu dekat dengannya. Darian membawa Chyara masuk ke dalam kamar tanpa sepatah kata pun. Tangannya dilepaskan seger
Chyara tertawa pelan, nyaris tak percaya. Ia tak pernah membayangkan akan terjebak di dalam sebuah novel. Dan yang lebih buruk, ia tidak sekadar akting untuk memerankan karakter Azelia, melainkan kini ia harus benar-benar menjalani hidup sebagai gadis itu. Saat membaca naskah 'Kamu Kebahagiaanku', Chyara sama sekali tidak menyukai karakter Azelia yang terlalu polos, lemah, dan hanya tahu menangis. Gadis yang selalu diselamatkan, dicintai, dan dilindungi tanpa perlu berjuang keras. Chyara tak mengerti mengapa dunia dalam novel itu begitu memuja gadis tersebut. Tawa kecilnya terdengar aneh di telinga laki-laki di hadapannya. Ia menatap Chyara dengan ekspresi bingung, lalu mengangkat tangannya dan menyentuh kepala gadis itu dengan ragu. Ia memiringkan kepala Chyara ke kiri dan ke kanan, wajahnya penuh kekhawatiran. “Ara… kepalamu terbentur? Kenapa kau tertawa menakutkan seperti ini?” tanyanya cemas. Chyara langsung terdiam. Ara? Panggilan itu menggema di benaknya. Itu bukan panggi
“Itu dia! Perempuan iblis!” “Dasar pembunuh!” “Kau pantas mati!” “Matilah, pengkhianat!” “Habisi dia!” “Pengkhianat terkutuk!” Teriakan kebencian rakyat menggema tanpa henti. Chyara diarak menuju panggung eksekusi dan dijatuhkan untuk berlutut di atasnya. Rambut birunya yang dahulu berkilau kini kusut dan layu, menutupi sebagian wajahnya yang lebam dan nyaris tak lagi menyerupai putri Marquess Everardo. Batu kecil dan sayuran busuk dilemparkan ke arahnya, menghantam tubuhnya berkali-kali. Namun, Chyara tetap diam, seolah rasa sakit telah lama mati bersamanya. Di hadapannya berdiri Putra Mahkota Darian Ramiro. Ia mengenakan baju seremonial algojo berwarna hitam. Pedang besar terhunus di tangannya, dingin dan tak berperasaan seperti pemiliknya. Darian menekan sarung pedang di bawah dagu Chyara, memaksa wajah lemah itu menengadah. “Chyara,” katanya datar tanpa emosi. “Dulu kau gadis yang lembut, bagaimana bisa kau berubah menjadi iblis seperti ini?” Tatapan Darian menusuk, mat







