LOGINChyara menghela napas panjang. Dadanya terasa semakin sesak berada di ruangan itu. Makanan yang tadi sempat terasa enak di lidahnya kini berubah hambar. Ia meletakkan sendoknya, lalu bangkit dari tempat duduk.
“Aku sudah kenyang,” ucapnya singkat, kemudian melangkah pergi. “Apa maksudmu pergi begitu saja?” suara Cassio meninggi. “Chyara, kembali!” Namun, Chyara tetap melangkah menjauh. Ia tak menoleh, seolah teriakan ayahnya tak pernah sampai ke telinganya. “Chyara!” Cassio kembali berteriak, kali ini lebih keras. Langkah Chyara membawanya menjauh keluar dari rumah, menyusuri taman hingga berhenti di tepi danau. Entah sejak kapan kakinya mengarah ke sana. Ia duduk bersandar pada batang pohon, memeluk lututnya, lalu menatap permukaan air yang tampak tenang dan bersahabat. “Tenang sekali ...,” gumamnya pelan. Namun Chyara tahu, ketenangan itu menipu. Air yang terlihat diam itu bisa menenggelamkan siapa saja yang terjatuh ke dalam sana. Pandangannya tak beralih dari danau, seolah sedang menatap bayangan dirinya sendiri di dalamnya. Tiba-tiba, semak-semak yang berada tak jauh darinya bergoyang. Chyara spontan menoleh, dari balik rimbunnya daun, seekor rubah merah mengintip, menampakkan wajah kecil dengan manik mata kuning keemasan yang tajam. Chyara terpaku, itu pertama kalinya ia melihat rubah secara nyata. Tiba-tiba ingatannya langsung berkelebat. Ia pernah membaca bagian ini dalam novel. Setelah memenangkan perang, Callister membawa pulang seekor rubah merah dan menghadiahkannya kepada ibunya, Marchioness Solaria, yang saat itu tengah mengandung Chyara. Hewan itu begitu mirip dengan Solaria, rambut merah dan mata kuning keemasan. Namun, setelah sang ibu meninggal, rubah itu menghilang dari kediaman, seolah lenyap bersama kepergiannya. Ketika Azelia datang, rubah merah tersebut muncul kembali dan selalu berada di sisi Azelia. Karena itulah Callister bersumpah akan melindungi gadis itu seolah rubah tersebut menjadi pertandanya. Chyara menopang dagunya, menatap rubah itu dengan sorot mata datar. “Bahkan kau pun,” gumamnya lirih, “pasti akan menggigitku dan memilih memeluk Azelia.” Rubah merah itu terdiam, lalu perlahan keluar dari semak-semak. Ia melangkah mendekat, membuat Chyara tanpa sadar menegakkan punggungnya. “Kau mau mendekatiku?” tanya Chyara pelan, nada suaranya nyaris berharap. Senyum tipis terukir di bibirnya. “Kau imut sekali.” Langkah rubah itu seketika terhenti. Ia menoleh sekilas, lalu tiba-tiba berbalik dan berlari kembali ke dalam semak-semak. “T–tunggu, kenapa kamu per—” “Kak Chyara!” Suara itu memotong ucapannya. Azelia berlari menghampirinya, membuat Chyara menoleh dan melihat kehadiran adiknya itu. Chyara menghela napas panjang, baru saja dadanya terasa sedikit lega terpisah dari Azelia, kini gadis itu kembali berdiri di hadapannya. Azelia menunduk, jemarinya saling menggenggam di depan tubuhnya. “Kak Chyara ... maaf,” ucapnya pelan. “Karena Lia, Kakak jadi dimarahi di depan banyak orang.” Chyara memaksakan senyum. Senyum yang terasa kaku di wajahnya. “Tidak apa-apa, Azelia,” jawabnya singkat. “Kau tidak perlu mengkhawatirkannya.” Namun, Azelia menggeleng cepat. Ia duduk di hadapan Chyara, matanya kembali berkaca-kaca. “Lia berjanji, selama Lia di sini, Lia tidak akan menyulitkan Kak Chyara lagi.” Sebelum Chyara sempat menanggapi, langkah kaki terdengar dari arah rumah. Callister, Celvin, Celvan, dan Darian berjalan keluar, jelas berniat menghampiri mereka. Dahi Chyara berkerut. 'Ah ... adegan ini.' Chyara memijat pelipisnya dengan frustrasi. Baru saja ia lolos dari kekacauan di ruang makan, kini takdir menyeretnya ke babak berikutnya. Kali ini, Azelia akan jatuh ke danau. Tanpa ragu, mereka berempat akan melompat untuk menyelamatkan gadis manis itu. Dan seperti biasa, kejadian itu akan berakhir dengan satu kesimpulan, kesalahan akan kembali jatuh padanya. Chyara tak ingin adegan itu terjadi. Ia menatap Azelia, kemudian menarik napas pendek. “Baiklah, aku menerima janji dan permintaan maafmu,” ucapnya tenang. “Sekarang kembalilah ke dalam, Azelia. Di luar cukup dingin.” Azelia tampak lega. Ia mengangguk patuh, lalu berusaha bangkit dari duduknya. Namun, langkahnya goyah. Kakinya terpeleset di tanah lembap di tepi danau, tubuhnya oleng ke belakang. “Azelia—!” Tanpa pikir panjang, Chyara meraih tangan gadis itu. Tarikannya berhasil menghentikan Azelia, tetapi pijakan Chyara sendiri tak ada persiapan. Tanah di bawah kakinya runtuh, tubuhnya terhempas ke samping, menghantam batu di tepi danau. Rasa perih menjalar di lengannya saat kulitnya tergores. Belum sempat ia menahan diri, keseimbangannya menghilang dan tubuhnya meluncur jatuh ke dalam danau. Plung. Air dingin langsung menelan tubuh Chyara. Dingin yang menusuk membuat seluruh tubuhnya menegang, tetapi di balik rasa itu, ada kelegaan tipis yang sempat ia rasakan. Yang terjatuh ke danau adalah dirinya, bukan Azelia. Setidaknya, satu kejadian dalam cerita berhasil ia ubah, satu takdir berhasil ia belokkan. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sesaat. Chyara baru menyadari satu hal yang terlewatkan olehnya, ia tidak bisa berenang. Rasa panik mulai merayap. Ia memaksa dirinya tetap tenang, menggerakkan lengan dan kakinya dengan gerakan kaku, berharap tubuhnya akan otomatis mengapung dan bergerak menuju permukaan. Akan tetapi, harapan itu segera runtuh. Pergelangan kakinya yang sempat terluka kemarin berdenyut hebat, rasa sakitnya menjalar hingga ke betis. Gerakannya menjadi kacau. Gaun yang dikenakannya menyerap air dengan cepat, kainnya mengembang dan terasa berat, menarik tubuhnya semakin ke bawah. Napasnya mulai tak beraturan. Saat ia berusaha menarik udara, air justru masuk ke mulut dan hidungnya. Tenggorokannya terasa perih, paru-parunya seolah terbakar. Pandangannya perlahan mengabur seiring cahaya di atas semakin menjauh. 'Siapa pun ... tolong aku ...,' batinnya memohon. Namun, tak ada satu pun bayangan yang melompat menyusulnya. Tak ada suara percikan lain, tak ada tangan yang meraihnya, hanya tubuhnya sendiri yang terus tenggelam. Kesadaran Chyara kian menipis. Gerakan lengannya melemah, lalu berhenti sama sekali. Ia tak lagi melawan, membiarkan tubuhnya melayang turun perlahan, pasrah pada air yang menelannya. Cahaya di permukaan semakin jauh, berubah menjadi kilau samar yang nyaris tak terlihat. Tiba-tiba, air danau bergejolak. Sebuah bayangan kecil menembus permukaan air dengan cepat, menciptakan gelombang yang mengguncang tubuh Chyara. Dalam penglihatannya yang buram, ia melihat bayangan itu berenang cepat ke arahnya. Awalnya hanya siluet, lalu sepasang mata keemasan menyala di dalam air. Seekor rubah merah. Makhluk itu berenang tanpa suara, bulunya tergerai mengikuti arus. Ia berhenti tepat di hadapan Chyara. Ia terdiam memandangi manik mata biru milik Chyara yang terlihat bersinar di kedalaman danau. Cahaya keemasan mendadak meledak di antara mereka. Kilatan keemasan yang menyilaukan itu memaksa Chyara menutup mata. Ketika cahaya itu mereda, tekanan air di sekelilingnya berubah. Sentuhan yang menahannya kini bukan lagi cakar atau bulu. Ia perlahan membuka matanya. Rubah itu telah menghilang. Sebagai gantinya, seorang pria berdiri di hadapannya. Tubuhnya seolah tidak terpengaruh oleh air, berdiri tenang seakan danau tunduk padanya. Rambut merahnya tergerai berantakan, menyembunyikan sepasang telinga rubah di balik helaian rambut itu. Kulitnya pucat, kontras dengan manik mata emas yang dingin dan tajam. Tatapannya terlalu asing, terlalu buas, untuk disebut tatapan manusia. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu menarik Chyara mendekat. Lengannya melingkar di pinggangnya, kuat namun terkendali, menahan tubuh Chyara agar tidak tenggelam lebih dalam. Tangan lainnya meraih lengan Chyara yang terluka. Ia mengamati darah yang bercampur air danau, tatapannya fokus, nyaris penuh ketertarikan. Perlahan, ia mendekatkan luka itu ke bibirnya. Bibir hangatnya menyentuh kulit Chyara. Sentuhannya membuat Chyara bergidik, Bukan karena dingin, melainkan karena sensasi asing yang menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Detik berikutnya, lidah pria itu menyapu darah yang keluar dari goresan itu, lambat dan jelas. Chyara menahan napas. Manik mata emas itu menatapnya, sorotnya tiba-tiba berubah tajam. “Menarik,” gumamnya rendah. Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis. “Darahmu terasa ... manis.”Chyara melangkah hingga ke tengah aula, lalu menunduk dalam-dalam. “Salam hormat untuk Grand Chancellor Lucien,” ucapnya tenang.Ia memberi hormat dengan sempurna, tidak terburu-buru, tidak pula berlebihan. Setelah itu, ia kembali berdiri tegak. Punggungnya lurus, dagunya terangkat sedikit, sorot matanya jernih.Callister tampak paling terkejut. “Ara, apa maksudmu?” suaranya meninggi tanpa sadar. “Wilayah itu berbahaya. Satu kesalahan saja, kau bisa ikut terjangkit wabah!”Namun, Chyara tidak menoleh padanya. Tatapannya tetap tertuju pada Lucien, seolah hanya pria agung itu yang berhak menerima jawabannya.Cassio akhirnya tak mampu menahan amarahnya. “Berani-beraninya kau memotong pembacaan titah dan menawarkan diri seperti itu!” bentaknya. “Apakah kau menganggap titah Kekaisaran sebagai bahan permainan?”Suasana aula kembali menegang. Perlahan, Chyara mengalihkan pandangannya pada ayahnya. Tatapannya tajam, tetapi tidak membangkang.“Lalu,” katanya datar, “apakah Tuan Marquess benar-
Suara derak roda kereta kuda berhenti tepat di tangga utama kediaman keluarga Everardo. Para pelayan yang berjaga langsung menunduk ketika lambang Kekaisaran terlihat jelas pada badan kereta.Pintu utama terbuka lebar. Cassio dan Callister hampir berlari menuruni tangga untuk menyambut tamu agung itu. Mantel mereka bahkan belum sepenuhnya terpasang rapi ketika mereka tiba di pelataran.Begitu sosok pria berjubah hitam keemasan turun dari kereta, keduanya langsung memberi hormat penuh.Di hadapan mereka berdiri Grand Chancellor Lucien, wajahnya tegas, tatapannya dingin dan sulit ditebak. Wibawanya begitu menekan hingga udara di sekitar terasa lebih berat.“Grand Chancellor Lucien,” sapa Cassio dengan nada hormat. “Kedatangan Anda begitu mendadak. Kami tidak menerima pemberitahuan sebelumnya.”Tatapan Lucien berpindah perlahan padanya. Tidak ada senyum, hanya ketenangan yang kaku. “Aku datang membawa titah Kekaisaran.”Suasana seketika menegang.Tanpa berani bertanya lebih jauh, Cassio
Sudah empat hari berlalu sejak Chyara mengirim balasan surat kepada Mirelle.Pagi itu, kamar yang selama ini menjadi ruang hukumannya terasa berbeda. Tidak lagi sunyi menekan, melainkan terasa tenang seperti jeda sebelum sesuatu dimulai.Chyara duduk di tepi ranjang, ia meregangkan kedua tangannya ke atas kepala, lalu memutar bahunya perlahan. Otot-ototnya terasa kaku setelah berhari-hari dirinya hanya berbaring. Ia menghela napas pelan.“Kurasa sudah cukup beristirahat,” gumamnya lirih. Sorot matanya yang semula tampak santai kini berubah lebih fokus. “Saatnya melanjutkan rencana.”Chyara menoleh ke arah pintu.“Anna.”Tak lama kemudian, terdengar langkah cepat mendekat. Pintu terbuka, dan Anna masuk dengan sikap hormat. Ia membungkuk dalam. “Nona memanggil saya?”“Bantu aku bersiap.”Anna terdiam. Kepalanya terangkat perlahan, wajahnya menunjukkan kebingungan yang tak disembunyikan. “Bersiap…? Maksud Nona, bersiap untuk apa?” Ia tampak ragu. “Apakah Nona ... ingin keluar kamar?” Su
Setelah pengakuan itu, hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang.Anna mulai diam-diam masuk ke kamar Chyara setiap pagi dan malam, membawa makanan hangat yang disembunyikan di balik keranjang kain. Langkahnya selalu hati-hati, memastikan tak ada pelayan lain yang melihatnya.Kebetulan, Reynard juga semakin jarang muncul. Sudah beberapa hari cahaya keemasan itu tidak lagi menyelinap masuk lewat jendela. Tidak ada sosok tinggi berambut merah yang duduk dengan wajah dingin di sofa kamarnya. Tidak ada suara dengusan kesal atau tatapan emas yang mengintimidasi.Chyara tidak terlalu memikirkannya. Setidaknya, ia berusaha tidak memikirkannya. Mungkin pria itu sedang bimbang. Atau mungkin sedang berusaha menahan diri dari ketergantungan yang mulai ia sadari sendiri.Apa pun alasannya, ketidakhadirannya memberi Chyara satu keuntungan besar, tangannya bisa beristirahat dari terluka.Meski setiap luka yang dibuat Reynard selalu sembuh dalam sekejap oleh cahaya keemasannya, rasa sakitnya tetap
Chyara bersandar santai di kepala ranjang, satu kaki terlipat malas di atas kasur. Sebuah buku terbuka di tangannya, sementara di sampingnya tergeletak piring kecil berisi potongan buah yang tinggal setengah. Sesekali ia menyuapinya dengan tenang.Sudah satu minggu ia menjalani hukuman dikurung di kamar. Anehnya, ia sama sekali tidak merasa tertekan. Tidak ada jamuan keluarga yang melelahkan, tidak ada tatapan merendahkan dari para pelayan, dan untuk sementara waktu, ia tidak perlu memikirkan Azelia.Namun ketenangan itu hanya berlaku untuk tubuhnya, bukan pikirannya.Perlahan Chyara menutup buku di tangannya, lalu menatap langit-langit kamar. Pikirannya kembali pada kejadian seminggu lalu.Dalam alur novel yang ia ketahui, Chyara-lah yang seharusnya meracuni Azelia dengan menuangkan racun ke dalam minuman. Ia sudah mencegahnya dan tidak melakukan itu, tetapi Azelia tetap teracuni. Dan racun itu bukan berasal dari minuman, melainkan dari kue.Alur cerita telah berubah. Dan perubahan
Chyara tahu ia tidak bisa selamanya memberi darahnya sedikit demi sedikit dan terus melukai dirinya sendiri. Jika hubungan mereka terus bertumpu pada rasa haus Reynard semata, maka suatu hari obsesi itu akan berubah menjadi bahaya.Ia harus mengubah dasar ketertarikan itu. Bukan lagi karena darahnya, melainkan karena dirinya.Reynard adalah makhluk yang hidup dari obsesi dan rasa superioritas. Ia terbiasa ditakuti, dihindari, dan dipatuhi. Pria itu pasti selalu melihat manusia gemetar ketakutan di hadapannya.Maka cara terbaik untuk menarik perhatiannya bukan dengan memohon, melainkan dengan menentang dan membuatnya terusik. Dirinya tidak boleh menunjukkan rasa takut sedikitpun.Dan selama beberapa hari terakhir, taktik itu berhasil.Hari ini, Chyara membuat perhitungan yang lebih berani. Ia tahu risikonya besar. Jika ia salah langkah, Reynard bisa saja benar-benar membunuhnya. Tetapi jika ia berhasil, posisi mereka akan berubah.Dan sepertinya ... cara itu berhasil. M?Reynard menata







