LOGINHari berikutnya, Talang Mayan menghadap kepada Senopati Mandra. Ruang pertemuan itu dihadiri oleh banyak orang, prajurit dan para pendekar Parasura. Mata mereka tertuju kepada Talang Mayan dengan perasaan kagum.Putri Intan Selake di temani oleh Wayang Sari hanya tersenyum kecil, sementara Satrio Pamungkas mengangkat ibu jarinya ke arah Talang Mayan.Kemudian satu persatu para prajurit mulai bertepuk tangan, mengiringi langkah kaki Talang Mayan di sepanjang barisan rapi di dalam ruang pertemuan itu.“Saudara Talang Mayan ..,” Senopati Mandra berkata dengan nada tenang dan penuh kekaguman, “Tindakanmu yang penuh resiko dan keberanian tidak tertandingi, telah melindungi sekaligus memukul mundur para mahluk buas itu. Sebagai panglima tertinggi dan penanggung jawab benteng utara, aku mewakili semua pasukan untuk memberikan penghormatan yang sebesar-besarnya kepadamu.”“Hahahaha ..,” Talang Mayan tertawa kecil, “apa yang kau katakan, Senopati Mandra, kenapa begitu resmi?”“Kau adalah pahl
Matilah! Talang Mayan mengatupkan dua telapak tangannya, di saat yang sama, cakram sudra mulai mengincar semua siluman yang ada di tempat itu, baik di dalam tanah maupun yang ada di permukaan tanah.Cakram sudra itu sendiri kini berukuran sangat besar, akibat dari semua logam yang berputar mengelilinginya.“Hoi, Hoi, senjata macam apa yang dia gunakan saat ini?!” Satrio Pamungkas merasa panik ketika cakram sudra menyerang ke arah mereka, -bukan ke arah para prajurit tapi ke arah siluman-siluman banteng.“Cepat tiarap, atau kita akan tersapu oleh serangannya!” teriak Wayang Sari.Di ikuti suara teriakan panik, semua prajurit maupun pendekar langsung berpose tiarap ketika cakram sudra terbang di ketinggian satu meter dari permukaan tanah.“Mayan!” Putri Intan Selake berseru keras, “Jangan sampai senjatamu malah menghancurkan benteng kita!”“Aku tahu,” jawab Talang Mayan, tapi suaranya terdengar gemetar. Saat ini, mengendalikan cakram sudra seperti mengendalikan batu bulat yang menggelin
Belum pula selesai menghabisi siluman serigala, ada juga siluman semut dan kini ditambah siluman banteng. Situasi kini menjadi lebih tegang, lebih lagi para prajurit tidak pernah menghadapi tiga jenis siluman secara bersaaman.Kini, mereka mulai kehabisan anak panah. Satu persatu prajurit terpaksa melepaskan busur di tangannya, mengganti dengan senjata jarak dekat seperti tombak, pedang atau pula kapak.Sementara itu, Wayang Sari, Satrio Pamungkas yang berada di luar benteng pertahanan tampaknya hanya bisa pasrah saat gelombang siluman banteng bergerak semakin dekat.Menyadari teman-temannya dalam bahaya, Talang Mayan meminta Putri Intan Selake untuk membantu yang lain, sementara dia akan menghadapi siluman semut seorang diri.“Mereka lebih membutuhkanmu,” kata Talang Mayan.Meskipun berat hati meninggalkan Talang Mayan sendirian, pada akhirnya Putri Intan Selake kembali mundur ke barisan belakang, dan bergabung bersama dengan yang lain.Sampai akhirnya, terdengar suara teriakan dari
Dua pendekar Parasura kini berada di luar Benteng Pertahanan, Talang Mayan dan Putri Intan Selake. Sungguh hal nekad yang membuat semua prajurit merasa ngeri melihat keduanya dengan gagah berani menantang maut.Namun, Wayang Sari juga memutuskan untuk terjun langsung ke medan perang. Dengan tombaknya, dia menghadapi gerombolan siluman semut yang menyerang mereka seperti tiada habisnya.“Tunggu aku!” Satrio Pamungkas sudah membulatkan tekadnya, dan akhirnya memutuskan untuk terjun langsung ke medan perang. Tindakan pemuda itu akhirnya diikuti oleh seluruh pendekar Parasura yang lain.Bom. Saat Satrio Pamungkas mendarat di belakang Wayang Sari, untuk sejenak nafasnya terhenti, dan jantungnya berdetak tidak karuan. Dia merasakan bahaya mengintainya dari segala arah, menciutkan nyalinya untuk sesaat.Namun, nasi sudah menjadi bubur. Setelah terjun ke medan perang, satu-satunya yang bisa dilakukan olehnya hanyalah betarung habis-habisan.“Kalian semua, pertahankan pondasi benteng!” perinta
Di hari berikutnya, para pekerja mulai menggabungkan setiap komponen alat. Namun masalah tiba-tiba muncul, ratusan siluman berusia lebih dari 500 tahun mendadak mendatangi Benteng Utara. Seolah, mereka berniat menggagalkan rencana yang sudah dibangun Talang Mayan dan teman-temannya.“Semua pasukan berada di posisi!” teriak Senopati Mandra, sembari bergegas memakai zirah perang, mengambil busur panahnya dan berdiri di atas menara.Di hadapan mereka, gerombolan siluman serigala bermata tiga dengan taring panjang sejengkal, berlari bak melihat makanan ketika perut sedang kosong.Bukan hanya para prajurit, para Pendekar Parasura kini berada di posisi mereka masing-masing. Putri Intan Selake berdiri di sebelah Talang Mayan, dengan ekspresi wajah serius menatap mahluk-mahluk mengerikan itu.“Bersiap membidik!” Senopati Mandra kembali berteriak di atas menara pengintai.Semua prajurit panah menarik busur panah mereka, mengarahkannya ke langit, dan mulai menghitung jarak antara benteng dengan
Daripada tidak melakukan apapun, Talang Mayan memutuskan pergi menemui kepala pekerja yang sedang sibuk mengatur beberapa bawahannya. Di tangannya, Talang Mayan membawa gulungan kerta, kemudian menyerahkan nya kepada Kepala pekerja itu.“Tuan, apa kau bisa membangun benda semacam ini?” tanya Talang Mayan.Pria gendut dengan pakaian yang sempit, sehingga perutnya nyaris tidak tertutup oleh bajunya, mulai melihat gulungan kertas yang diserahkan Talang Mayan. Sejenak dia terdiam, perutnya yang buncit berguncang kala dia bernafas panjang, kemudian pria yang dikenal bernama Riwon mengernyitkan keningnya sembari menatap Talang Mayan.“Apa kau berasal dari Sekte Empu?” tanya Riwon dengan mimik wajah yang serius.Talang Mayan mengangguk.“Kau yang membuat rancangan senjata ini?” Riwon tersenyum lebar, dan mulai memanggil beberapa temannya untuk membahas rancangan senjata yang diserahkan Talang Mayan barusan.Sekitar lima orang mengamati bentuk gambar di dalam kertas itu. Semuanya sama-sama me
Demang Raya Keling memaki Talang Mayan karena hampir saja membunuh dirinya, sementara dua gadis yang entah apakah pengawal atau pendekar yang dia sewa,-Talang Mayan tidak tahu, kini mulai bersiap melawan pemuda tersebut.Talang Mayan hanya tersenyum dingin, menatap satu persatu lawan-lawannya. Bela
Demang itu benar-benar membocorkan rahasia kelamnya kepada Talang Mayan, yang bersembunyi di sisi lain ruangan itu. Dia tidak pernah berfikir, seorang pendekar pilih tanding yang direncanakan mati malam ini, ternyata sudah ada di dalam rumahnya, dan menguping semua pembicaraan dia dan dua gadis can
Waktu berlanjut, tapi Talang Mayan masih di luar desa memperhatikan setiap sisi tempat itu tanpa disadari oleh dua rekannya atau pula Demang Raya Keling -yang mencurigakan.Sementara itu.“Tuan Demang, dua pendekar masih berada di penginapan, hanya satu pendekar yang bertugas.” Seorang pria mendata
Talang Mayan membaca misi rank B miliknya. Dia dan dua rekannya ditugaskan untuk mengintai sebuah desa yang berada cukup jauh di wilayah barat Indraprasta. Menurut laporan pejabat daerah, akhir-akhir ini mereka melihat beberapa orang yang mencurigakan datang ke tempat itu.Tugasnya cukup mudah, men







