Home / Male Adult / Tambah Lagi Dong Pak Sopir! / Bab. 3 Menuju Ke Villa

Share

Bab. 3 Menuju Ke Villa

last update publish date: 2026-09-15 15:58:24

"Mas, aku jalan sekarang ya," ucap Rania seraya mengancingkan blazer tipis berwarna krem yang membungkus tubuhnya.

Di samping tempat tidur kamar utama, sebuah koper berukuran sedang sudah terikat rapi. Wajah Rania pucat, dihiasi lingkaran hitam di bawah mata yang ia tutupi dengan polesan riasan tipis.

Bima yang sedang berdiri di depan cermin membetulkan letak dasi mewahnya, membalikkan badan. Sebuah senyuman hangat yang kini terasa sangat beracun di mata Rania, mengembang di bibir pria itu.

Bima melangkah mendekat, lalu merengkuh kedua bahu Rania dengan lembut.

"Jangan tegang begitu, Sayang," bisik Bima manis, mengusap pipi istrinya dengan ibu jari. "Anggap saja ini liburan singkat kamu di villa puncak. Lagipula, mama dan papa sudah aku kabari. Aku bilang kita berdua mau quality time dan melepas stress selama akhir pekan ini. Jadi, mereka tidak akan mengganggu atau curiga sama sekali."

Rania mendongak, menatap mata suaminya dengan tatapan terluka yang amat dalam.

"Mama sama papa kamu percaya?"

"Tentu saja percaya," Bima terkekeh pelan, seolah tidak sedang menenun kejahatan besar. "Aku bilang aku akan nyusul Jumat malam ini setelah urusan kantor selesai. Padahal, kamu tahu sendiri, aku akan tetap di Jakarta mengurus dokumen akuisisi. Semuanya sudah rapi, Rania. Tidak ada celah sama sekali."

"Mas," panggil Rania meremas lengan kemeja Bima dengan mata berkaca-kaca.

"Ya, sayang?"

"Apakah benar-benar tidak ada cara lain? Aku takut, Mas. Aku sungguh takut."

Wajah Bima berubah dingin seketika, mengikis habis kehangatan palsunya dalam sekejap.

Ia mencengkeram jemari Rania yang berada di lengannya, menekannya cukup kuat hingga Rania meringis pelan.

"Kita sudah membahas ini berulang kali, Rania. Jangan mulai lagi," tegas Bima dengan nada berbisik yang mengintimidasi.

"Ingat, ini demi posisi aku, demi kehormatan keluarga kita dan demi pernikahan kita. Kamu mau lihat aku hancur dan dibuang kakek?"

Rania menggeleng lemah, menyembunyikan wajahnya di dada Bima sembari menahan tangis yang hendak pecah.

"Tidak, Mas... aku tidak mau..."

"Bagus. Kalau begitu jalankan peranmu dengan baik." Bima mengusap punggung Rania, sebelum akhirnya melepas pelukannya. "Elang sudah menunggu di bawah dengan mobil. Ingat, nurut sama apa yang diatur. Ini demi kita berdua."

Rania hanya bisa mengangguk pasrah. Ia mengambil tas tangannya, lalu berjalan keluar dari kamar dengan langkah kaki yang terasa berat.

Di pelataran depan rumah, mobil hitam sudah terparkir.

Bima berjalan di belakang Rania, mengawal istrinya hingga ke depan mobil. Saat Rania melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk, Bima menahan pintu agar tetap terbuka, lalu menoleh tajam ke arah Elang yang berdiri mematung di sampingnya.

Bima memiringkan tubuhnya, berbisik sangat pelan tepat di telinga Elang hingga tidak terdengar oleh Rania yang sedang menunduk di dalam mobil.

"Jalanan ke Puncak mungkin macet, tapi aku mau kamu sampai di villa sebelum malam gelap. Minuman beraroma chamomile dan sedikit racikan penenang sudah disiapkan orang suruhanku di atas meja kamar utama," ucap Bima.

Elang menatap Bima dengan mata elangnya yang tajam dan tak berkedip.

"Saya paham, Pak."

"Ingat pesan awalku, pastikan tugasmu selesai dengan baik. Buat Rania hamil dalam kesempatan pertama ini. Jika gagal ulangi sampai berhasil! Dan satu hal lagi, kamu cuma alat pelampiasan biologis untuk benih yang aku butuhkan. Jangan sekali-kali kamu berani menikmati prosesnya atau merasa memiliki Rania. Paham?" Bima menepuk-nepuk pundak Elang dan memperingatkan.

Otot rahang Elang mengeras. Tangannya yang tersembunyi di balik tubuhnya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.

"Semua instruksi Bapak akan saya jalankan sesuai batasan," balas Elang.

"Bagus. Orang pintar tahu dimana tempatnya berdiri," Bima tersenyum miring, menatap Elang penuh kemenangannya.

Bima kemudian membungkuk sedikit ke arah kabin mobil, menatap Rania.

"Hati-hati di jalan ya, Sayang. Nanti malam aku akan menghubungi kamu," kata Bima dengan nada penuh makna ganda yang terselubung.

Rania hanya mengangguk pelan tanpa berani menatap mata suaminya.

Sementara itu, Elang segera menutup pintu mobil dengan hati-hati, memutari bagian depan kendaraan, lalu masuk ke kursi pengemudi.

Menginjak pedal gas, Elang melajukan mobil hitam itu keluar dari halaman rumah.

Perjalanan menuju puncak diiringi oleh hujan gerimis yang mulai membasahi kaca depan mobil.

Di kursi belakang, Rania meringkuk, memeluk kedua lututnya sendiri sembari menatap tetesan air hujan yang mengalir turun di jendela.

"Bu Rania," panggil Elang pelan dari balik kemudi, matanya melirik dari cermin spion tengah. "AC-nya terlalu dingin? Mau saya naikkan suhunya?"

Rania terbangun dari lamunannya, lalu menggeleng.

"Tidak perlu, Elang. Sudah cukup kok."

"Anda dari tadi belum makan siang, kan?" tanya Elang lagi. "Pak Bima tadi tidak menyiapkan makanan untuk anda. Mau saya mampir sebentar di rest area sebelum kita masuk jalur puncak?"

Rania menatap bayangan mata Elang di cermin spion. Ada kehangatan dan kepedulian tulus di mata itu, sesuatu yang sama sekali tidak ia temukan dari suaminya sendiri sebelum berangkat tadi.

Suaminya hanya sibuk memastikan skenario gilanya berjalan sempurna, tanpa pernah menanyakan apakah Rania sudah makan atau bagaimana perasaan hatinya.

"Aku tidak berselera makan, Elang," sahut Rania lirih.

"Sedikit saja. Bu Rania butuh tenaga. Perjalanan ke atas pasti macet parah karena ini Jumat sore. Kalau perut Bu Rania kosong, nanti bisa masuk angin."

Rania menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah. "Baiklah. Terserah kamu saja, Elang."

Beberapa menit kemudian, Elang memarkirkan mobil di area istirahat.

Pria itu keluar membawa payung hitam besar, membukakan pintu belakang dan menaungi Rania dengan sangat sigap agar tak terkena cipratan air hujan sedikit pun.

Elang memesankan segelas teh jahe hangat dan semangkuk sup ayam panas untuk Rania. Elang sendiri hanya berdiri di dekat pintu keluar, menjaga jarak dan mengawasi Rania dari kejauhan bagai seorang pengawal setia.

"Elang, kenapa berdiri di sana? Duduk di sini," panggil Rania, menunjuk kursi kosong di depannya.

"Tidak apa-apa, Bu Rania. Saya supir, tidak pantas duduk satu meja dengan anda," jawab Elang sopan dari kejauhan.

"Elang, tolong, hari ini aku sedang tidak ingin merasa seperti majikan. Aku cuma wanita yang kesepian dan takut. Duduklah di sini, temani aku," ucap Rania dengan mata memohon.

Elang terpaku mendengar kalimat lirih itu, pertahanan seketika runtuh.

Ia akhirnya mendekat dan menarik kursi di hadapan Rania, lalu duduk dengan canggung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 7 Khawatir

    Suara deru mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah. Hujan deras di luar membuat suasana semakin dingin dan mencekam. Pintu utama terbuka, Bima yang melangkah masuk dengan setelan jas kusut, dasi yang sudah tidak beraturan dan rambut sedikit basah terkena tempias air hujan. "Loh, kok pulang ke sini, Bim?" tegur Ningsih dengan dahi berkerut. Ia menghentikan langkahnya dari dapur sambil membawa nampan teh. "Bukannya kamu bilang mau menyusul istrimu ke Puncak? Kasihan Rania sendirian di sana malam-malam begini, apalagi cuacanya sedang buruk sekali." Bima menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah dengan kasar, lalu melonggarkan dasinya dengan wajah masam tak peduli. Bima tak menyangka jika kepulangannya ke rumah orangtuanya, membuat merrka malah bertanya-tanya. "Ada Elang kok, Ma," jawab Bima sekenanya, lalu merogoh ponsel dari sakunya tanpa menatap ibunya. "Besok pagi saja Bima nyusulnya. Badan Bima rasanya capek semua habis meeting maraton dari siang di kantor. Ditambah

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 6 Besar Sekali Lang?

    "Bu Rania, sebentar. Saya mau—" "Mau apa, Lang? Bantu aku, rasanya panas sekali. Di bawah sana kok gatal gimana gitu ya?" potong Rania dengan suara parau. Wanita itu menggeliat gelisah di atas ranjang. Tangannya tanpa sadar mengusap daerah intinya sendiri dari balik gaun tidur yang tipis. Wajah Rania merah padam, efek dari obat perangsang berdosis sedang yang diam-diam dicampurkan ke dalam teh chamomile yang Rania minum tadi sebelum tidur. Elang mematung di sisi ranjang. Matanya membelalak lebar, otaknya mendadak konslet mendengar ucapan blak-blakan majikannya. "Ya mana saya tahu, Bu. Masa iya mau saya garuk?!" seru Elang panik. Bukannya sadar, Rania malah menatap Elang dengan mata sayu. Bibirnya pun ikut mengerucut manja. "Nah, boleh, Lang. Bantu aku, please. Nggak tahan banget rasanya, sumpah..." Elang mengusap wajahny. Ia berusaha bersikap gentleman dengan mengalihkan pandangannya ke arah jendela asalkan bukan ke tubuh Rania yang mengundang selera. Sialnya, niat suci Ela

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 5 Rezeki Nomplok

    "Sial! Kenapa aku mendadak gugup begini ya?" keluh Elang menahan frustasi yang memuncak.Elang mondar-mandir bak setrikaan rusak di dalam kamar sempit di lantai bawah villa. Sesekali ia menengadah menatap langit-langit, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan ekspresi horor. Sementara itu, di kamar utama lantai atas, Rania mungkin sedang menunggunya dalam ketakutan. Tepat jam satu malam nanti, Elang harus naik ke atas sana demi menjalankan misi gila dari Bima, suami majikannya.Cuaca malam ini pun seakan mendukung. Hujan di luar bukannya mereda, malah semakin mengguyur deras. Membuat dada Elang berdebar tak karuan."Pertama-tama apa yang harus kulakukan kalau sudah masuk ke dalam sana? Langsung buka baju? Langsung tarik selimut? Atau ketuk pintu lalu bilang permisi bu, sesuai jadwal begitu?" gumam Elang, berbicara pada bayangannya sendiri di cermin. Pria tegap berdada bidang yang biasanya berwajah sangar bak preman pensiun itu kini mengusap wajahnya kasar."Astaga, aku kan bel

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 4 Mendadak Gugup

    "Hujannya makin deras ya, Lang?""Iya, Bu. Tapi tenang saja, kita sudah sampai di halaman villa."Elang mematikan mesin mobil. Di luar, hujan mengguyur deras villa keluarga Adhitama yang berlokasi di kawasan Puncak. Suasananya cukup sepi dan hanya diterangi lampu yang remang-remang. Tanpa membuang waktu, Elang membuka pintu kemudi, mengembangkan payung lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Rania."Awas licin, Bu," kata Elang pelan sambil mengulurkan sebelah tangannya."Terima kasih ya, Elang," ucap Rania seraya menyambut uluran tangan itu. Ia menatap kemeja supir pribadinya yang mulai basah terkena tempias. "Harusnya kamu pakai jaket, Lang. Baju kamu jadi basah lagi.""Sudah biasa, Bu. Yang penting Ibu tidak kehujanan," jawab Elang santai, meski rahangnya sedikit mengeras menahan hawa dingin malam.Saat mereka melangkah masuk ke teras, Mang Ujang, penjaga villa yang sudah bekerja belasan tahun di sana, langsung menyambut dengan senyum ramah."Eh, Bu Rania! Mari masuk, Bu. D

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 3 Menuju Ke Villa

    "Mas, aku jalan sekarang ya," ucap Rania seraya mengancingkan blazer tipis berwarna krem yang membungkus tubuhnya.Di samping tempat tidur kamar utama, sebuah koper berukuran sedang sudah terikat rapi. Wajah Rania pucat, dihiasi lingkaran hitam di bawah mata yang ia tutupi dengan polesan riasan tipis.Bima yang sedang berdiri di depan cermin membetulkan letak dasi mewahnya, membalikkan badan. Sebuah senyuman hangat yang kini terasa sangat beracun di mata Rania, mengembang di bibir pria itu.Bima melangkah mendekat, lalu merengkuh kedua bahu Rania dengan lembut."Jangan tegang begitu, Sayang," bisik Bima manis, mengusap pipi istrinya dengan ibu jari. "Anggap saja ini liburan singkat kamu di villa puncak. Lagipula, mama dan papa sudah aku kabari. Aku bilang kita berdua mau quality time dan melepas stress selama akhir pekan ini. Jadi, mereka tidak akan mengganggu atau curiga sama sekali."Rania mendongak, menatap mata suaminya dengan tatapan terluka yang amat dalam."Mama sama papa kamu

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 2 Siapa Pria Itu Mas?

    "Mas! Apa yang kamu bicarakan?! Kamu menyuruh aku berselingkuh dan menyerahkan tubuhku pada laki-laki lain?! Aku ini istrimu Mas!" pekik Rania, tak terima. "Ini bukan berselingkuh, Rania. Ini demi kita. Demi masa depan dan kelangsungan nama baikku," pungkas Bima cepat, seakan menyuruh istrinya berbelanja ke pasar, bukan menumbalkan harga dirinya."Tidak, Mas! Ini menjijikkan!" Rania mundur beberapa langkah, menggelengkan kepalanya histeris. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang memucat."Aku tidak mau! Aku lebih baik dicerai dan kembali ke rumah orang tuaku dengan kepala tegak, daripada harus membuka lebar kedua kakiku untuk pria lain!"Mendengar kata cerai, rahang Bima mengeras. Wajah hangat yang selalu memanjakan Rania mendadak lenyap tanpa sisa, berganti menjadi raut dingin yang menakutkan bak predator. Bima melangkah maju dengan cepat, menerjang pecahan cangkir dan mencengkram kedua lengan Rania hingga wanita itu meringis kesakitan."Dengar, Rania! Bukankah kamu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status