LOGIN"Sial! Kenapa aku mendadak gugup begini ya?" keluh Elang menahan frustasi yang memuncak.
Elang mondar-mandir bak setrikaan rusak di dalam kamar sempit di lantai bawah villa. Sesekali ia menengadah menatap langit-langit, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan ekspresi horor. Sementara itu, di kamar utama lantai atas, Rania mungkin sedang menunggunya dalam ketakutan. Tepat jam satu malam nanti, Elang harus naik ke atas sana demi menjalankan misi gila dari Bima, suami majikannya. Cuaca malam ini pun seakan mendukung. Hujan di luar bukannya mereda, malah semakin mengguyur deras. Membuat dada Elang berdebar tak karuan. "Pertama-tama apa yang harus kulakukan kalau sudah masuk ke dalam sana? Langsung buka baju? Langsung tarik selimut? Atau ketuk pintu lalu bilang permisi bu, sesuai jadwal begitu?" gumam Elang, berbicara pada bayangannya sendiri di cermin. Pria tegap berdada bidang yang biasanya berwajah sangar bak preman pensiun itu kini mengusap wajahnya kasar. "Astaga, aku kan belum pernah begituan sama wanita! Teori saja aku nol besar, apalagi praktik!" Ia menyempatkan diri meniup telapak tangannya untuk mengecek bau napas, lalu merapikan kerah bajunya dengan kaku. "Tidak lucu kan kalau nanti aku terlihat seperti orang bodoh di depan bu Rania? Bisa-bisa dia mengira aku ini supir yang sedang kesurupan jin penunggu villa. Turun sudah harga diriku sebagai laki-laki tulen. Masa pegang setir di jalan licin aku jago, giliran urusan ranjang aku malah nge-blank tidak tahu harus oper gigi ke mana?!" omel nya lagi, kali ini sampai meninju udara kosong beberapa kali bak petinju hanya untuk membuang rasa gugupnya yang sudah di luar nalar. Di tengah kepanikannya yang konyol, ponsel di saku celananya mendadak bergetar hebat. Elang buru-buru merogoh benda pipih itu. Begitu layarnya menyala, ia terkejut melihat deretan pesan bertubi-tubi dari Bima. [Bagaimana, Lang? Sudah siap? Jangan bilang kamu gemetaran di kamar bawah] [Aku tebak, kamu pasti bingung harus mulai darimana, kan? Supir miskin sepertimu mana punya pengalaman dengan wanita. Pasti masih polos] Membaca pesan bernada merendahkan itu, rahang Elang mengeras. Sisi maskulinnya tersentil keras. "Cih, kalau dia tahu aku belum pernah ninu-ninu, kenapa bukan dia sendiri saja yang menyentuh istrinya? Kenapa malah menyuruh orang lain? Dasar pria pengecut!" batin Elang sengit. Baru kali ini Elang benar-benar ingin menghajar wajah arogan seseorang sampai rata dengan aspal. Sayangnya, ia hanyalah pria miskin yang tidak punya kekuasaan apa-apa di hadapan keluarga Adhitama. Ya, di dunia kotor ini, seseorang bisa bertingkah layaknya penguasa takdir hanya karena segepok uang. Ponsel di tangannya bergetar lagi. Satu pesan terakhir dari Bima baru saja masuk. Elang membuka pesan itu dengan malas, apalagi membaca ejekan lain sang majikan. Namun, kalimat yang tertera di layar sukses menghentikan pasokan oksigen ke paru-parunya seketika. [Sebenarnya aku juga belum pernah melakukannya dengan istriku, Lang. Aku hanya menyentuhnya, tidak lebih dari itu] Deg! Mata tajam Elang membelalak lebar. Jantungnya serasa melompat keluar dari rongga dadanya. "Apa-apaan ini?!" bisik Elang tak percaya. Tangannya gemetar menatap layar ponsel, seolah benda itu baru saja berubah menjadi hantu. "Tiga tahun menikah dan pak Bima belum pernah menyetubuhi bu Rania sama sekali? Yang benar saja?!" Sebelum otak Elang sempat mencerna rasa syoknya, ponselnya kembali menyala, menyuarakan panggilan masuk. Nama Bima tertera jelas. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Elang menempelkan benda itu ke telinga. "Halo, Pak Bima?" sapa Elang parau. "Kamu sudah baca pesanku, kan?" Suara Bima terdengar sangat santai dari seberang sana, diiringi denting es batu yang beradu dengan gelas kaca. "Jangan kaget begitu. Rania itu masih utuh. Dia masih perawan." Elang meneguk ludahnya yang mendadak terasa sekeras kerikil. "Bapak... sedang bercanda, kan? Tiga tahun lho, Pak?" "Aku tidak pernah menyentuhnya sejauh itu karena aku memang tidak sudi, Elang. Hati dan tubuhku cuma untuk seseorang," jawab Bima tanpa beban apalagi rasa bersalah. "Jadi, kamu harus lebih pelan-pelan malam ini. Jangan sampai membuat Rania trauma atau curiga. Semprotkan parfum ku yang banyak, matikan semua lampu utama kamar, dan lakukan tugasmu dengan baik." "Pak Bima, ini... ini gila..." Elang mendadak merasa beban di pundaknya makin berat berlipat ganda. Tadi Elang pusing memikirkan dirinya yang tidak punya pengalaman, sekarang ia harus menghadapi fakta bahwa wanita di atas sana juga sama polosnya! "Ibu Rania itu istri sah Bapak... Dia manusia, bukan barang!" "Dan dia akan melahirkan ahli warisku malam ini lewat kamu!" potong Bima dingin, nadanya berubah mengancam. "Jam satu kurang sepuluh menit sekarang. Naik ke atas, Elang. Jangan bikin aku kecewa!" Panggilan diputus sepihak. Elang berdiri membeku di tengah kamar. Kenyataan bahwa Rania masih suci membuat rasa gugup lucunya tadi menguap, berubah menjadi pusaran emosi yang sangat rumit. Ada rasa kasihan yang begitu mendalam pada Rania, kebencian setengah mati pada Bima, dan debaran aneh di dadanya yang tak sanggup ia jelaskan. Elang menoleh, menatap jam dinding. Dengan helaan nafas panjang untuk mengumpulkan sisa kewarasannya, pria itu merapikan kemejanya. Membawa langkah berat dan hati yang bergemuruh hebat, Elang melangkah keluar dari kamar bawah, menaiki satu per satu anak tangga kayu itu menuju lantai atas, menuju kamar Rania. "Bu Rania, ini saya. Buka pintunya," ucap Elang pelan dari balik pintu kayu kamar utama. Tidak ada jawaban. Elang memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci, lalu melangkah masuk dengan ragu-ragu. Kamar itu cukup remang. Bau aroma terapi lavender berpadu dengan wangi parfum Bima yang tadi sempat disemprotkan Elang ke tubuhnya. Elang mengedarkan pandangan, tapi Rania tidak ada di tempat tidur. Yang tersisa hanya cangkir di atas meja rias, teh chamomile yang tadi disiapkan pak Ujang suruhan Bima sudah kandas tak bersisa. "Loh? Bu Rania kemana?" gumam Elang panik, mendadak linglung melihat kamar kosong. "Waduh, jangan-jangan beliau kabur lewat jendela?!" "Lang... panas..." desah sebuah suara lirih dari arah samping. Elang mendadak menoleh. Rania baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya merona merah, matanya sedikit sayu dan ia terus meremas leher gaun tidur sutra tipis berwarna krem yang membalut tubuhnya. "Kenapa bisa panas, Bu? Kan di luar hujan deras?" tanya Elang dengan polos, tenggorokannya mendadak kering kerontang melihat penampilan wanita itu. "Nggak tahu, Lang. Aneh banget rasanya," bisik Rania sembari melangkah agak sempoyongan mendekat, mencari hawa dingin. Mata Elang melotot sempurna. Gaun tidur sutra yang tembus pandang itu benar-benar mencetak jelas lekuk tubuh Rania sampai membuat Elang menelan ludah dengan susah payah. "Apa ini yang dinamakan rezeki nomplok berbalut dosa?" batin Elang, refleks mundur sampai tumitnya menabrak pinggiran kasur.Suara deru mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah. Hujan deras di luar membuat suasana semakin dingin dan mencekam. Pintu utama terbuka, Bima yang melangkah masuk dengan setelan jas kusut, dasi yang sudah tidak beraturan dan rambut sedikit basah terkena tempias air hujan. "Loh, kok pulang ke sini, Bim?" tegur Ningsih dengan dahi berkerut. Ia menghentikan langkahnya dari dapur sambil membawa nampan teh. "Bukannya kamu bilang mau menyusul istrimu ke Puncak? Kasihan Rania sendirian di sana malam-malam begini, apalagi cuacanya sedang buruk sekali." Bima menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah dengan kasar, lalu melonggarkan dasinya dengan wajah masam tak peduli. Bima tak menyangka jika kepulangannya ke rumah orangtuanya, membuat merrka malah bertanya-tanya. "Ada Elang kok, Ma," jawab Bima sekenanya, lalu merogoh ponsel dari sakunya tanpa menatap ibunya. "Besok pagi saja Bima nyusulnya. Badan Bima rasanya capek semua habis meeting maraton dari siang di kantor. Ditambah
"Bu Rania, sebentar. Saya mau—" "Mau apa, Lang? Bantu aku, rasanya panas sekali. Di bawah sana kok gatal gimana gitu ya?" potong Rania dengan suara parau. Wanita itu menggeliat gelisah di atas ranjang. Tangannya tanpa sadar mengusap daerah intinya sendiri dari balik gaun tidur yang tipis. Wajah Rania merah padam, efek dari obat perangsang berdosis sedang yang diam-diam dicampurkan ke dalam teh chamomile yang Rania minum tadi sebelum tidur. Elang mematung di sisi ranjang. Matanya membelalak lebar, otaknya mendadak konslet mendengar ucapan blak-blakan majikannya. "Ya mana saya tahu, Bu. Masa iya mau saya garuk?!" seru Elang panik. Bukannya sadar, Rania malah menatap Elang dengan mata sayu. Bibirnya pun ikut mengerucut manja. "Nah, boleh, Lang. Bantu aku, please. Nggak tahan banget rasanya, sumpah..." Elang mengusap wajahny. Ia berusaha bersikap gentleman dengan mengalihkan pandangannya ke arah jendela asalkan bukan ke tubuh Rania yang mengundang selera. Sialnya, niat suci Ela
"Sial! Kenapa aku mendadak gugup begini ya?" keluh Elang menahan frustasi yang memuncak.Elang mondar-mandir bak setrikaan rusak di dalam kamar sempit di lantai bawah villa. Sesekali ia menengadah menatap langit-langit, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan ekspresi horor. Sementara itu, di kamar utama lantai atas, Rania mungkin sedang menunggunya dalam ketakutan. Tepat jam satu malam nanti, Elang harus naik ke atas sana demi menjalankan misi gila dari Bima, suami majikannya.Cuaca malam ini pun seakan mendukung. Hujan di luar bukannya mereda, malah semakin mengguyur deras. Membuat dada Elang berdebar tak karuan."Pertama-tama apa yang harus kulakukan kalau sudah masuk ke dalam sana? Langsung buka baju? Langsung tarik selimut? Atau ketuk pintu lalu bilang permisi bu, sesuai jadwal begitu?" gumam Elang, berbicara pada bayangannya sendiri di cermin. Pria tegap berdada bidang yang biasanya berwajah sangar bak preman pensiun itu kini mengusap wajahnya kasar."Astaga, aku kan bel
"Hujannya makin deras ya, Lang?""Iya, Bu. Tapi tenang saja, kita sudah sampai di halaman villa."Elang mematikan mesin mobil. Di luar, hujan mengguyur deras villa keluarga Adhitama yang berlokasi di kawasan Puncak. Suasananya cukup sepi dan hanya diterangi lampu yang remang-remang. Tanpa membuang waktu, Elang membuka pintu kemudi, mengembangkan payung lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Rania."Awas licin, Bu," kata Elang pelan sambil mengulurkan sebelah tangannya."Terima kasih ya, Elang," ucap Rania seraya menyambut uluran tangan itu. Ia menatap kemeja supir pribadinya yang mulai basah terkena tempias. "Harusnya kamu pakai jaket, Lang. Baju kamu jadi basah lagi.""Sudah biasa, Bu. Yang penting Ibu tidak kehujanan," jawab Elang santai, meski rahangnya sedikit mengeras menahan hawa dingin malam.Saat mereka melangkah masuk ke teras, Mang Ujang, penjaga villa yang sudah bekerja belasan tahun di sana, langsung menyambut dengan senyum ramah."Eh, Bu Rania! Mari masuk, Bu. D
"Mas, aku jalan sekarang ya," ucap Rania seraya mengancingkan blazer tipis berwarna krem yang membungkus tubuhnya.Di samping tempat tidur kamar utama, sebuah koper berukuran sedang sudah terikat rapi. Wajah Rania pucat, dihiasi lingkaran hitam di bawah mata yang ia tutupi dengan polesan riasan tipis.Bima yang sedang berdiri di depan cermin membetulkan letak dasi mewahnya, membalikkan badan. Sebuah senyuman hangat yang kini terasa sangat beracun di mata Rania, mengembang di bibir pria itu.Bima melangkah mendekat, lalu merengkuh kedua bahu Rania dengan lembut."Jangan tegang begitu, Sayang," bisik Bima manis, mengusap pipi istrinya dengan ibu jari. "Anggap saja ini liburan singkat kamu di villa puncak. Lagipula, mama dan papa sudah aku kabari. Aku bilang kita berdua mau quality time dan melepas stress selama akhir pekan ini. Jadi, mereka tidak akan mengganggu atau curiga sama sekali."Rania mendongak, menatap mata suaminya dengan tatapan terluka yang amat dalam."Mama sama papa kamu
"Mas! Apa yang kamu bicarakan?! Kamu menyuruh aku berselingkuh dan menyerahkan tubuhku pada laki-laki lain?! Aku ini istrimu Mas!" pekik Rania, tak terima. "Ini bukan berselingkuh, Rania. Ini demi kita. Demi masa depan dan kelangsungan nama baikku," pungkas Bima cepat, seakan menyuruh istrinya berbelanja ke pasar, bukan menumbalkan harga dirinya."Tidak, Mas! Ini menjijikkan!" Rania mundur beberapa langkah, menggelengkan kepalanya histeris. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang memucat."Aku tidak mau! Aku lebih baik dicerai dan kembali ke rumah orang tuaku dengan kepala tegak, daripada harus membuka lebar kedua kakiku untuk pria lain!"Mendengar kata cerai, rahang Bima mengeras. Wajah hangat yang selalu memanjakan Rania mendadak lenyap tanpa sisa, berganti menjadi raut dingin yang menakutkan bak predator. Bima melangkah maju dengan cepat, menerjang pecahan cangkir dan mencengkram kedua lengan Rania hingga wanita itu meringis kesakitan."Dengar, Rania! Bukankah kamu







