Share

Bab. 5 Rezeki Nomplok

Penulis: Langit_Senja05
last update Tanggal publikasi: 2026-09-15 16:10:13

"Sial! Kenapa aku mendadak gugup begini ya?" keluh Elang menahan frustasi yang memuncak.

Elang mondar-mandir bak setrikaan rusak di dalam kamar sempit di lantai bawah villa. Sesekali ia menengadah menatap langit-langit, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan ekspresi horor.

Sementara itu, di kamar utama lantai atas, Rania mungkin sedang menunggunya dalam ketakutan. Tepat jam satu malam nanti, Elang harus naik ke atas sana demi menjalankan misi gila dari Bima, suami majikannya.

Cuaca malam ini pun seakan mendukung. Hujan di luar bukannya mereda, malah semakin mengguyur deras. Membuat dada Elang berdebar tak karuan.

"Pertama-tama apa yang harus kulakukan kalau sudah masuk ke dalam sana? Langsung buka baju? Langsung tarik selimut? Atau ketuk pintu lalu bilang permisi bu, sesuai jadwal begitu?" gumam Elang, berbicara pada bayangannya sendiri di cermin.

Pria tegap berdada bidang yang biasanya berwajah sangar bak preman pensiun itu kini mengusap wajahnya kasar.

"Astaga, aku kan belum pernah begituan sama wanita! Teori saja aku nol besar, apalagi praktik!"

Ia menyempatkan diri meniup telapak tangannya untuk mengecek bau napas, lalu merapikan kerah bajunya dengan kaku.

"Tidak lucu kan kalau nanti aku terlihat seperti orang bodoh di depan bu Rania? Bisa-bisa dia mengira aku ini supir yang sedang kesurupan jin penunggu villa. Turun sudah harga diriku sebagai laki-laki tulen. Masa pegang setir di jalan licin aku jago, giliran urusan ranjang aku malah nge-blank tidak tahu harus oper gigi ke mana?!" omel nya lagi, kali ini sampai meninju udara kosong beberapa kali bak petinju hanya untuk membuang rasa gugupnya yang sudah di luar nalar.

Di tengah kepanikannya yang konyol, ponsel di saku celananya mendadak bergetar hebat. Elang buru-buru merogoh benda pipih itu. Begitu layarnya menyala, ia terkejut melihat deretan pesan bertubi-tubi dari Bima.

[Bagaimana, Lang? Sudah siap? Jangan bilang kamu gemetaran di kamar bawah]

[Aku tebak, kamu pasti bingung harus mulai darimana, kan? Supir miskin sepertimu mana punya pengalaman dengan wanita. Pasti masih polos]

Membaca pesan bernada merendahkan itu, rahang Elang mengeras. Sisi maskulinnya tersentil keras.

"Cih, kalau dia tahu aku belum pernah ninu-ninu, kenapa bukan dia sendiri saja yang menyentuh istrinya? Kenapa malah menyuruh orang lain? Dasar pria pengecut!" batin Elang sengit.

Baru kali ini Elang benar-benar ingin menghajar wajah arogan seseorang sampai rata dengan aspal.

Sayangnya, ia hanyalah pria miskin yang tidak punya kekuasaan apa-apa di hadapan keluarga Adhitama.

Ya, di dunia kotor ini, seseorang bisa bertingkah layaknya penguasa takdir hanya karena segepok uang.

Ponsel di tangannya bergetar lagi. Satu pesan terakhir dari Bima baru saja masuk. Elang membuka pesan itu dengan malas, apalagi membaca ejekan lain sang majikan.

Namun, kalimat yang tertera di layar sukses menghentikan pasokan oksigen ke paru-parunya seketika.

[Sebenarnya aku juga belum pernah melakukannya dengan istriku, Lang. Aku hanya menyentuhnya, tidak lebih dari itu]

Deg!

Mata tajam Elang membelalak lebar. Jantungnya serasa melompat keluar dari rongga dadanya.

"Apa-apaan ini?!" bisik Elang tak percaya. Tangannya gemetar menatap layar ponsel, seolah benda itu baru saja berubah menjadi hantu.

"Tiga tahun menikah dan pak Bima belum pernah menyetubuhi bu Rania sama sekali? Yang benar saja?!"

Sebelum otak Elang sempat mencerna rasa syoknya, ponselnya kembali menyala, menyuarakan panggilan masuk. Nama Bima tertera jelas.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Elang menempelkan benda itu ke telinga.

"Halo, Pak Bima?" sapa Elang parau.

"Kamu sudah baca pesanku, kan?" Suara Bima terdengar sangat santai dari seberang sana, diiringi denting es batu yang beradu dengan gelas kaca. "Jangan kaget begitu. Rania itu masih utuh. Dia masih perawan."

Elang meneguk ludahnya yang mendadak terasa sekeras kerikil.

"Bapak... sedang bercanda, kan? Tiga tahun lho, Pak?"

"Aku tidak pernah menyentuhnya sejauh itu karena aku memang tidak sudi, Elang. Hati dan tubuhku cuma untuk seseorang," jawab Bima tanpa beban apalagi rasa bersalah. "Jadi, kamu harus lebih pelan-pelan malam ini. Jangan sampai membuat Rania trauma atau curiga. Semprotkan parfum ku yang banyak, matikan semua lampu utama kamar, dan lakukan tugasmu dengan baik."

"Pak Bima, ini... ini gila..." Elang mendadak merasa beban di pundaknya makin berat berlipat ganda.

Tadi Elang pusing memikirkan dirinya yang tidak punya pengalaman, sekarang ia harus menghadapi fakta bahwa wanita di atas sana juga sama polosnya!

"Ibu Rania itu istri sah Bapak... Dia manusia, bukan barang!"

"Dan dia akan melahirkan ahli warisku malam ini lewat kamu!" potong Bima dingin, nadanya berubah mengancam. "Jam satu kurang sepuluh menit sekarang. Naik ke atas, Elang. Jangan bikin aku kecewa!"

Panggilan diputus sepihak. Elang berdiri membeku di tengah kamar. Kenyataan bahwa Rania masih suci membuat rasa gugup lucunya tadi menguap, berubah menjadi pusaran emosi yang sangat rumit.

Ada rasa kasihan yang begitu mendalam pada Rania, kebencian setengah mati pada Bima, dan debaran aneh di dadanya yang tak sanggup ia jelaskan.

Elang menoleh, menatap jam dinding. Dengan helaan nafas panjang untuk mengumpulkan sisa kewarasannya, pria itu merapikan kemejanya.

Membawa langkah berat dan hati yang bergemuruh hebat, Elang melangkah keluar dari kamar bawah, menaiki satu per satu anak tangga kayu itu menuju lantai atas, menuju kamar Rania.

"Bu Rania, ini saya. Buka pintunya," ucap Elang pelan dari balik pintu kayu kamar utama.

Tidak ada jawaban. Elang memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci, lalu melangkah masuk dengan ragu-ragu.

Kamar itu cukup remang. Bau aroma terapi lavender berpadu dengan wangi parfum Bima yang tadi sempat disemprotkan Elang ke tubuhnya.

Elang mengedarkan pandangan, tapi Rania tidak ada di tempat tidur. Yang tersisa hanya cangkir di atas meja rias, teh chamomile yang tadi disiapkan pak Ujang suruhan Bima sudah kandas tak bersisa.

"Loh? Bu Rania kemana?" gumam Elang panik, mendadak linglung melihat kamar kosong.

"Waduh, jangan-jangan beliau kabur lewat jendela?!"

"Lang... panas..." desah sebuah suara lirih dari arah samping.

Elang mendadak menoleh. Rania baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya merona merah, matanya sedikit sayu dan ia terus meremas leher gaun tidur sutra tipis berwarna krem yang membalut tubuhnya.

"Kenapa bisa panas, Bu? Kan di luar hujan deras?" tanya Elang dengan polos, tenggorokannya mendadak kering kerontang melihat penampilan wanita itu.

"Nggak tahu, Lang. Aneh banget rasanya," bisik Rania sembari melangkah agak sempoyongan mendekat, mencari hawa dingin.

Mata Elang melotot sempurna. Gaun tidur sutra yang tembus pandang itu benar-benar mencetak jelas lekuk tubuh Rania sampai membuat Elang menelan ludah dengan susah payah.

"Apa ini yang dinamakan rezeki nomplok berbalut dosa?" batin Elang, refleks mundur sampai tumitnya menabrak pinggiran kasur.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 52 Malah Nyaman

    Bima berjalan gontai di koridor lantai empat dengan dua kantong plastik penuh berisi kue sus, buah-buahan, dan minuman kaleng. Dasi mewahnya sudah melar entah ke mana, rambutnya agak berantakan, dan wajah mewahnya tampak benar-benar lelah usai dimaki-maki Kakek Bram serta pusing memikirkan tingkah Rania. Cklek! Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Bima mendorong pintu kamar 402. "Bocah! Ini aku bawa makanan enak!" Amira yang sedang asyik melukis di atas ranjang perawatannya sampai tersentak kaget. Ia menoleh, lalu memutar matanya malas begitu melihat sosok pria berjas yang melangkah masuk tanpa sopan santun. "Eh, Om Bima Pemarah!" seru Amira menepuk jidatnya. "Masuk itu ketuk pintu dulu kenapa sih? Kebiasaan banget main selonong kayak Satpol PP mau razia!" "Sembarangan kamu!" Bima mengomel seraya meletakkan dua kantong plastik itu kasar ke atas meja samping ranjang. Pria itu menyandarkan bokongnya di kursi empuk, menghembuskan napas panjang yang amat berat. "Ini aku bawa ku

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 51 Bocah Aneh

    "Dasar supir sialan! Istri kurang ajar! Awas kalian berdua, lihat saja nanti apa yang bakal gue lakukan!"Bima mengumpat tiada henti, menyusuri koridor yang mulai sepi dengan hentakan kaki kasar. Baju jas mewahnya agak basah tersiram air hujan, namun panas di dadanya jauh lebih membakar ketimbang dinginnya angin malam. Bayangan wajah Rania yang tersenyum manis saat disuapi Elang, serta kalimat ketagihan yang meluncur dari bibir istrinya, terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang menyiksa batin."Wah, Om Pemarah lagi!"Langkah Bima seketika terhenti mendadak. Ia menoleh ke arah sudut koridor dekat taman dalam, mendapati seorang gadis remaja bertubuh kurus dengan piyama rumah sakit sedang duduk di atas kursi roda, memegangi tiang infus dengan wajah ceria tanpa dosa.Bima mengernyitkan dahi tebalnya, menatap anak itu dari atas ke bawah dengan pandangan penuh kekesalan. "Ngapain kamu di sini jam segini?! Terus kamu panggil saya apa tadi?! Om?!"Amira terkekeh renyah, mendoro

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 50 Ketagihan

    "Suka-suka aku dong, Mas! Memangnya ada undang-undangnya istri tidak boleh disuapi sama pengawalnya sendiri?!" semprot Rania langsung tanpa ragu, menatap Bima dengan pandangan menantang.Bima melotot lebar, mukanya yang tadinya pucat karena capek langsung memerah padam. "Rania! Jaga ucapan kamu ya! Kamu itu makin hari makin tidak sopan sama suami sendiri! Kamu lupa posisi kamu?!"Elang berdehem pelan dengan nada berat dan tenang, menggeser posisinya sedikit untuk menghalangi pandangan Bima ke arah Rania. "Maaf, Pak Bima. Bu Rania tadi mendadak lemas dan tangannya gemetaran karena belum makan malam. Sesuai perintah Kakek Adhitama untuk memastikan kesehatan Bu Rania terjaga dua puluh empat jam, saya ambil tindakan cepat untuk membantu beliau makan.""Alasan! Kamu itu cuma supir, Elang! Jangan sok perhatian sama istri orang! Lupa perjanjian awal kita?" bentak Bima frustrasi, memukul pinggiran pintu mobil dengan telapak tangannya.Bima lalu menatap Rania tajam. "Rania, turun sekarang! K

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 49 Kamu Istriku!

    "Huek! Uhuk-uhuk!"Rania berlari kecil menuju wastafel kamar mandi rumah sakit, memegangi perutnya yang mual luar biasa. Kakek Bram yang baru saja tertidur pulas akibat efek obat tidak terbangun, namun Elang yang berjaga di luar pintu kamar langsung sigap mendorong pintu pelan."Rania? Kamu kenapa?" bisik Elang penuh kepanikan, menghampiri Rania yang sedang membasuh wajahnya dengan air dingin.Rania menyandarkan tubuh lemasnya pada dada bidang Elang. Napasnya terengah-engah, matanya berkaca-kaca menatap Elang lewat cermin."Mual banget, Lang. Perutku enek," cicit Rania manja, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elang yang hangat.Elang membalas pelukan itu, mengelus punggung Rania dengan penuh kelembutan. "Pasti morning sickness bawaan anak kita. Mau aku ambilkan minyak kayu putih atau teh hangat?"Rania menggelengkan kepalanya cepat. Bibir cantiknya mendadak mengerucut maju. "Nggak mau teh. Aku mau makan.""Mau makan apa, Sayang? Biar aku belikan sesuatu di kantin?" tawar Elang

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 48 Niat Buruk

    "Sebenarnya cucu Kakek itu aku atau Elang sih?!" protes Bima tak terima. Amarah yang dipendamnya sejak tadi akhirnya meledak. Bima menunjuk-nunjuk Elang, mukanya merah padam ditatap semua orang."Kakek selalu saja membela Elang! Dari kemarin Elang terus yang dipuji-puji, seolah-olah dia itu cucu kandung Kakek dan Bima cuma orang asing!" lanjut Bima histeris.Kakek Bram menghentikan gerakanya, mengunyah sup dengan santai lalu mengelap bibirnya memakai tisu. Matanya menatap Bima dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun."Kamu mau tahu jawabannya?" sahut Kakek Bram santai namun menohok. "Pikir saja sendiri! Kalau Rania dulu nikahnya sama Elang, pasti Rania sudah hamil sekarang! Nggak seperti kamu, tiga tahun cuma bisa kasih alasan!"Uhuk! Rania yang sedang berdiri di samping ranjang seketika tersedak air liurnya sendiri. Napasnya tersengal, wajah cantiknya langsung memerah seperti buah tomat akibat kalimat spontan dari Kakek Bram yang begitu tepat sasaran.Bima mengernyitkan dahinya penu

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 47 Serba Salah

    Dion melangkah masuk lebih dulu, disusul Rania dan Elang . Begitu pintu berderit, Bima yang sedang duduk cemberut di sofa sudut ruangan langsung melonjak berdiri. Matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah Elang yang berjalan sangat dekat di samping Rania."Dari mana saja kamu, Rania?!" bentak Bima tanpa tedeng aling-aling, mukanya merah padam. "Ditelepon berulang kali tidak diangkat! Malah jalan berduaan sama supir ini!"Tanpa membuang waktu, Bima merangsek maju dan melayangkan tangannya, hendak menarik kasar pergelangan tangan Rania. "Sini kamu!"Sebelum jemari Bima sempat menyentuh kulit Rania, sebuah tangan kekar bergerak secepat kilat. Elang mencengkeram pergelangan tangan Bima di udara dengan kekuatan kokoh yang tak tertahankan."A-aduh! Lepas!" ringis Bima serta-merta, matanya mendelik kesakitan mendapati pergelangan tangannya terkunci rapat bagaikan dijepit tang besi.Elang menatap Bima dengan pandangan dingin dan menusuk, suaranya terdengar begitu berwibawa di dalam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status