แชร์

Bab. 4 Mendadak Gugup

ผู้เขียน: Langit_Senja05
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-15 16:03:30

"Hujannya makin deras ya, Lang?"

"Iya, Bu. Tapi tenang saja, kita sudah sampai di halaman villa."

Elang mematikan mesin mobil. Di luar, hujan mengguyur deras villa keluarga Adhitama yang berlokasi di kawasan Puncak. Suasananya cukup sepi dan hanya diterangi lampu yang remang-remang.

Tanpa membuang waktu, Elang membuka pintu kemudi, mengembangkan payung lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Rania.

"Awas licin, Bu," kata Elang pelan sambil mengulurkan sebelah tangannya.

"Terima kasih ya, Elang," ucap Rania seraya menyambut uluran tangan itu. Ia menatap kemeja supir pribadinya yang mulai basah terkena tempias. "Harusnya kamu pakai jaket, Lang. Baju kamu jadi basah lagi."

"Sudah biasa, Bu. Yang penting Ibu tidak kehujanan," jawab Elang santai, meski rahangnya sedikit mengeras menahan hawa dingin malam.

Saat mereka melangkah masuk ke teras, Mang Ujang, penjaga villa yang sudah bekerja belasan tahun di sana, langsung menyambut dengan senyum ramah.

"Eh, Bu Rania! Mari masuk, Bu. Di dalam sudah Mang Ujang menyalakan perapian biar hangat. Koper disuruh pak Bima ditaruh di kamar utama lantai dua ya?"

"Iya, Mang. Terima kasih banyak ya," jawab Rania.

Baru saja Rania meletakkan tasnya dan mendudukkan diri di sofa ruang tamu, ponselnya mendadak bergetar.

Hampir di detik yang bersamaan, nada dering default juga terdengar dari saku celana Elang.

Mata mereka berdua refleks saling bertatapan seketika. Suasana hangat di dekat perapian itu langsung berubah kaku dan tegang.

Mereka tentu tahu siapa yang menelepon.

"Halo, Mas Bima?" Rania mengangkat teleponnya dengan tangan yang mulai berkeringat dingin.

"Sudah sampai?" tanya Bima dari seberang sana tanpa khawatir sedikit pun.

"Baru aja Mas."

"Mang Ujang suruh buru-buru pulang ke paviliun sekarang. Bilang kamu mau istirahat sendiri. Dengar ya, Rania, aku mau malam ini harus berhasil. Jangan banyak alasan capek atau dingin. Tinggal tidur dan turuti saja permainan ini. Paham?"

"Mas, beri waktu sebentar. Jalanan macet parah, aku kedinginan dan capek juga. Nggak bisakah—"

"Nurut, Rania! Ini demi masa depan kita!" bentak Bima tajam, lalu memutus sambungan telepon secara sepihak.

Rania memejamkan mata, menahan sesak di dadanya.

Sementara itu, di dekat anak tangga, Elang baru saja menempelkan ponselnya ke telinga. Tentu saja, itu telepon dari Bima.

"Elang, kamu masih di sana kan?"

"Iya, Pak."

"Bagus! Setelah penjaga villa pergi, kunci pintu utama. Jam satu malam tepat, kamu masuk ke kamar Rania. Pakai parfum ku yang ada di meja rias. Selesaikan tugasmu dengan cepat, lalu keluar. Jangan macam-macam, ingat rahasiamu ada di tanganku!"

"Paham, Pak," jawab Elang datar sebelum Bima kembali mematikan teleponnya.

Tiga puluh menit berlalu. Setelah Mang Ujang pamit undur diri ke paviliun belakang, kini tinggallah Rania dan Elang yang tersisa di dalam villa bergaya kolonial yang luas dan sunyi itu.

Mereka berdua merasa canggung setengah mati.

"Elang," Rania akhirnya bersuara, memecah keheningan sambil duduk kaku memeluk bantal sofa. "Apa kita benar-benar harus melakukan ini sekarang?"

Elang, yang sejak tadi berdiri mematung di dekat tangga layaknya bodyguard di film action, mendadak gelisah.

Pria tegap berdada bidang yang biasanya berwajah datar dan dingin itu tiba-tiba menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Telinganya perlahan berubah menjadi merah padam.

"Sesuai perintah Pak Bima, Bu. Jam satu malam saya akan masuk ke kamar anda," jawab Elang mendadak gagap.

Matanya bergerak liar menatap karpet, lampu gantung, vas bunga dan apa saja asalkan bukan menatap wajah majikannya.

Rania mengernyitkan dahi. "Kamu kok jadi gagap begitu, Lang?"

"Nggak, Bu! Eh, maksud saya, saya cuma bingung harus mulai darimana."

Elang terbatuk kecil, pura-pura sibuk merapikan kerah kemejanya yang sebenarnya sudah rapi jali untuk menutupi salah tingkahnya yang luar biasa parah.

Bagaimana tidak salah tingkah? Ini adalah kali pertama dalam hidup Elang ia harus berada di situasi sekonyol dan segila ini.

Berduaan di villa sepi dengan majikannya sendiri, yang berstatus istri orang, dengan instruksi khusus untuk bercinta.

Rania yang tadinya tegang, merasa terhina dan bersiap ingin menangis, malah batal meneteskan air mata. Perhatiannya tersita oleh tingkah supirnya yang mendadak linglung seperti anak SMA yang ketahuan menyontek.

"Lang, jangan bilang..." Rania menggantung kalimatnya, matanya sedikit membulat karena menyadari sesuatu. Ia ikut-ikutan merasa malu.

"Jangan bilang apa, Bu?"

"Memangnya kamu belum pernah?"

Elang tersentak. "Maksudnya?"

"Ya melakukan itu sama wanita?" Rania buru-buru menyembunyikan separuh wajahnya di balik bantal sofa karena kelewatan malu menanyakan hal seintim itu pada supirnya.

Seketika, wajah Elang memerah hingga ke leher. Ia panik, tangannya mengibas di udara dengan gerakan kaku.

"Ya ampun, Bu. Saya kan selama ini fokus kerja nyari uang buat biaya rumah sakit adik saya. Kerjaan saya cuma buka pintu sama muter stir, Bu. Bukan pegang... ah, maksud saya, saya bukan ahli di bidang begituan."

Mendengar pengakuan jujur dan polos itu, tawa Rania pecah.

"Pria sedingin es dan segarang Elang ternyata masih polos?!" batinnya.

Rasa takut dan jijik yang sejak tadi menghimpit dada Rania mendadak menguap entah kemana, berganti menjadi suasana lucu dan sangat menggelikan.

Bayangan menakutkan tentang pemaksaan malam ini sirna saat melihat gigolo kiriman suaminya malah lebih ketakutan daripada dirinya sendiri.

"Ya Tuhan, Elang." Rania tertawa kecil, menyeka ujung matanya yang sedikit berair karena geli, lalu menurunkan bantalnya. "Sudahlah. Nggak usah dipikirkan dulu. Bantu aku bawa koper ke atas saja sekarang. Badanku lengket semua mau mandi."

Elang langsung menghela nafas lega, seolah baru saja lolos dari eksekusi mati.

"Siap, Bu. Laksanakan!"

Dengan semangat empat lima, pria berotot itu bergegas mengambil koper besar milik Rania di dekat pintu.

Karena otaknya masih error dan terlalu gugup menutupi rasa malunya, Elang tidak melihat ujung karpet persia tebal yang sedikit terlipat di depannya.

"Elang! Hati-hati!" pekik Rania kaget.

Kaki panjang Elang tersandung. Tubuh besarnya oleng ke depan dan nyaris nyungsep mencium lantai.

Dengan refleks yang luar biasa aneh, Elang berhasil memutar tubuhnya di udara dan mendarat dengan lututnya, sementara tangannya malah refleks memeluk vas bunga antik kesayangan mertua Rania seolah itu adalah bayi.

"Aman, Bu!" sahut Elang cepat dari posisinya yang berlutut memeluk vas lalu ia nyengir kaku. "Masih berdiri. Eh, maksudnya terkontrol! Vasnya selamat!"

Rania langsung memegangi perutnya, tertawa lepas hingga bahunya bergetar.

Hujan di luar boleh saja menderas dan suaminya mungkin sedang menyusun rencana gila, tapi malam ini, melihat wajah garang Elang yang berubah lucu sembari memeluk vas bunga keramik bermotif naga membuat beban di pundak Rania sedikit terangkat.

"Bawa kopernya saja, Lang. Vasnya nggak usah ikut dibawa," goda Rania sambil berjalan menaiki tangga dengan sisa tawa.

Elang meletakkan vas itu perlahan dengan wajah sangat malu, lalu menarik koper Rania.

Di dalam hatinya, ia merutuki kebodohannya sendiri.

"Bisa-bisanya harga diriku hancur lebur di depan Bu Rania dalam waktu kurang dari lima menit!" gumamnya pasrah.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 38 Di Mobil

    Lampu kabin yang remang membingkai keheningan di antara mereka berdua setelah Rania sempat menyandarkan kepalanya di bahu tegap Elang.Elang menarik napas panjang, mencoba menetralkan degupan dadanya. Pandangannya lurus menatap jalanan yang sepi sebelum akhirnya ia memberanikan diri melirik Rania dari samping."Bu Rania," panggil Elang pelan, suaranya serak dan dalam.Rania mendongak, menatap mata Elang dengan pendar hangat yang belum padam. "Iya, Elang?""Saya mau tanya sesuatu." Elang ragu sejenak, membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan padaku.""Apakah sudah ada tanda-tanda?"Rania mengernyitkan dahinya bingung. Tatapannya dipenuhi rasa heran. "Tanda-tanda? Tanda-tanda apa maksudmu, Elang?""Maksud saya..." Elang menatap langsung ke dalam manik mata Rania, suaranya makin merendah hingga menyerupai bisikan. "Tanda-tanda kalau Bu Rania hamil."Deg!Pertanyaan itu menghantam dada Rania seperti sengatan listrik. Rania seketika bungkam, li

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 37 Bodyguard Pribadi

    Kakek Bram mengibaskan tangannya pelan, memberi isyarat agar seluruh anggota keluarga keluar dari ruang perawatan VIP, kecuali Elang dan Rania.Bima yang berdiri di sudut ruangan mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Kakek, Bima mau tunggu di dalam saja menemani Kakek—""Keluar, Bima," potong Kakek Bram dingin tanpa sudi menoleh. "Setiap kali melihat mukamu, dadaku malah makin sesak."Dengan wajah merah padam menahan malu, Bima terpaksa melangkah keluar diiringi tatapan prihatin dari kerabat Adhitama lainnya. Pintu kamar VIP tertutup rapat.Kakek Bram menatap Elang yang berdiri tegap di ujung ranjang. "Anak muda, tadi siapa namamu?""Elang, Tuan Besar," sahut Elang sopan namun dengan intonasi mantap."Mulai hari ini, tugasmu bukan cuma menyetir untuk Rania," ujar Kakek Bram, suaranya terdengar berwibawa meski lemah. "Kamu jadi bodyguard pribadi cucu menatuku ini. Dampingi Rania ke mana pun dia pergi. Kalau Bima bertindak ceroboh atau kasar, kamu punya wewenang penuh dari saya untuk m

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 36 Pingsan

    Suara teriakan dan buku-buku berjatuhan ke lantai mendadak bergema dari arah ruang perpustakaan pribadi di lantai dua kediaman Adhitama."Kakek! Kakek kenapa, Kakek?! Tolong! Jangan begini, Kakek!"Bima berlari keluar dari pintu perpustakaan dengan wajah pias tanpa darah, napasnya memburu panik. Tangannya gemetar hebat, tak tahu harus berbuat apa melihat Kakek Bram terkulai lemas di atas kursi kulit dengan tangan mencengkeram dadanya rapat-rapat.Rania yang sedang berada di lorong langsung berlari mendekat. "Ada apa, Mas?! Kakek kenapa?!""Kakek... tiba-tiba memegangi dadanya terus pingsan!" gagap Bima panik setengah mati. "A-aku... aku bingung harus panggil siapa! Ambulans! Iya, ambulans!"Di tengah kepanikan Bima yang berputar-putar tak tentu arah seperti ayam kehilangan induk, sebuah langkah kaki tegap bergerak cepat menyibak kerumunan pelayan. Elang muncul dengan raut wajah sangat tenang. Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk banyak bicara, Elang langsung menerobos masuk ke

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 35 Curi Pandang

    Elang mematung di depan pintu. Jemari tangannya terangkat pelan, menyentuh permukaan bibirnya yang masih menyisakan rasa hangat dan manis dari kecupan mendadak Rania.Jantung di dalam dadanya berdegup liar bak ditabuh ribuan drum."Dia benar-benar mencium ku?!" batin Elang tak percaya."Tolong! Elang! Rania! Kecoa nya terbang ke arah muka ku aaghh!"Jeritan histeris dari balik pintu kayu tebal itu seketika memecahkan lamunan Elang. Pria itu menghela napas panjang, menetralkan raut wajahnya secepat mungkin sebelum berdehem pelan.Dengan santai seolah tak ada kejadian berdesir beberapa detik lalu, Elang menendang engsel pintu yang macet itu dengan sekali dorongan terukur.Dari dalam kegelapan, Bima melangkah keluar seperti orang kesetanan. Baju kemeja mewahnya sudah robek di bagian bahu, rambut klimis nya penuh jelaga dan jaring laba-laba, sementara wajahnya pias tak berdarah."Kamu dari mana saja, Elang?!" maki Bima dengan napas memburu, merapikan bajunya yang berantakan. "Hampir saj

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 34 Kecupan Singkat

    "Beneran cuma nyari anting, kan?" tanya Bima sekali lagi, matanya menyipit menatap Rania yang sibuk merapikan gaun tidurnya di depan cermin."Aduh, Mas Bima! Berapa kali sih harus aku jawab?!" semprot Rania melotot, membalikkan badan dengan hembusan napas kasar. "Kalau nggak percaya, cari aja sendiri di bawah jok mobil sampai subuh! Lagian ngapain sih nanya-nanya terus? Kurang kerjaan banget!"Bima mengeraskan rahangnya, lalu mengusap kepapanya yang terasa pening. Curiga dan jengkel bercampur jadi satu di dadanya, namun melihat Rania yang galak seperti macan betina, ia memilih mengalah daripada kepalanya makin berdenyut."Ya sudah, ya sudah! Aku kan cuma nanya," ucap Bima ketus. Pria itu menyilangkan tangan di dada, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Besok malam kakek mengundang kita makan malam di rumah utama. Kamu harus siap-siap, jangan sampai terlambat."Rania hanya mengangguk singkat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mematikan lampu meja dan langsung merebahkan tubuhnya di

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 33 Hampir Ketahuan

    "Mau turun sekarang, Bu?" tanya Elang pelan.Rania tak langsung menjawab. Matanya menatap keluar jendela, mengamati rumah megah Adhitama yang sebagian besar lampunya sudah dipadamkan. Ada rasa enggan yang luar biasa besar untuk melangkahkan kaki keluar dari mobil ini. Di luar sana, ada kehidupan rumah tangga palsu dan dingin yang menunggunya. Namun di dalam mobil ini, bersama pria di sampingnya, Rania merasa begitu aman dan dihargai."Sebentar lagi, Lang," ucap Rania dengan suara nyaris berbisik.Elang melepaskan sabuk pengamannya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Baik, Bu. Saya tunggu sampai Bu Rania siap."Keheningan kembali merayap di antara mereka. Kali ini atmosfer di dalam mobil berubah total. Kehangatan yang tercipta dari adegan elusan lembut di bahu Elang tadi masih menyisakan pendar getaran yang belum usai. Rasa canggung yang teramat pekat mendadak menyelubungi mereka.Rania meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, jantungnya berdegup kencang bak ditab

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status