Home / Male Adult / Tambah Lagi Dong Pak Sopir! / Bab. 6 Besar Sekali Lang?

Share

Bab. 6 Besar Sekali Lang?

last update publish date: 2026-09-16 18:17:05

"Bu Rania, sebentar. Saya mau—"

"Mau apa, Lang? Bantu aku, rasanya panas sekali. Di bawah sana kok gatal gimana gitu ya?" potong Rania dengan suara parau.

Wanita itu menggeliat gelisah di atas ranjang. Tangannya tanpa sadar mengusap daerah intinya sendiri dari balik gaun tidur yang tipis.

Wajah Rania merah padam, efek dari obat perangsang berdosis sedang yang diam-diam dicampurkan ke dalam teh chamomile yang Rania minum tadi sebelum tidur.

Elang mematung di sisi ranjang. Matanya membelalak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 7 Khawatir

    Suara deru mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah. Hujan deras di luar membuat suasana semakin dingin dan mencekam. Pintu utama terbuka, Bima yang melangkah masuk dengan setelan jas kusut, dasi yang sudah tidak beraturan dan rambut sedikit basah terkena tempias air hujan. "Loh, kok pulang ke sini, Bim?" tegur Ningsih dengan dahi berkerut. Ia menghentikan langkahnya dari dapur sambil membawa nampan teh. "Bukannya kamu bilang mau menyusul istrimu ke Puncak? Kasihan Rania sendirian di sana malam-malam begini, apalagi cuacanya sedang buruk sekali." Bima menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah dengan kasar, lalu melonggarkan dasinya dengan wajah masam tak peduli. Bima tak menyangka jika kepulangannya ke rumah orangtuanya, membuat merrka malah bertanya-tanya. "Ada Elang kok, Ma," jawab Bima sekenanya, lalu merogoh ponsel dari sakunya tanpa menatap ibunya. "Besok pagi saja Bima nyusulnya. Badan Bima rasanya capek semua habis meeting maraton dari siang di kantor. Ditambah

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 6 Besar Sekali Lang?

    "Bu Rania, sebentar. Saya mau—" "Mau apa, Lang? Bantu aku, rasanya panas sekali. Di bawah sana kok gatal gimana gitu ya?" potong Rania dengan suara parau. Wanita itu menggeliat gelisah di atas ranjang. Tangannya tanpa sadar mengusap daerah intinya sendiri dari balik gaun tidur yang tipis. Wajah Rania merah padam, efek dari obat perangsang berdosis sedang yang diam-diam dicampurkan ke dalam teh chamomile yang Rania minum tadi sebelum tidur. Elang mematung di sisi ranjang. Matanya membelalak lebar, otaknya mendadak konslet mendengar ucapan blak-blakan majikannya. "Ya mana saya tahu, Bu. Masa iya mau saya garuk?!" seru Elang panik. Bukannya sadar, Rania malah menatap Elang dengan mata sayu. Bibirnya pun ikut mengerucut manja. "Nah, boleh, Lang. Bantu aku, please. Nggak tahan banget rasanya, sumpah..." Elang mengusap wajahny. Ia berusaha bersikap gentleman dengan mengalihkan pandangannya ke arah jendela asalkan bukan ke tubuh Rania yang mengundang selera. Sialnya, niat suci Ela

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 5 Rezeki Nomplok

    "Sial! Kenapa aku mendadak gugup begini ya?" keluh Elang menahan frustasi yang memuncak.Elang mondar-mandir bak setrikaan rusak di dalam kamar sempit di lantai bawah villa. Sesekali ia menengadah menatap langit-langit, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan ekspresi horor. Sementara itu, di kamar utama lantai atas, Rania mungkin sedang menunggunya dalam ketakutan. Tepat jam satu malam nanti, Elang harus naik ke atas sana demi menjalankan misi gila dari Bima, suami majikannya.Cuaca malam ini pun seakan mendukung. Hujan di luar bukannya mereda, malah semakin mengguyur deras. Membuat dada Elang berdebar tak karuan."Pertama-tama apa yang harus kulakukan kalau sudah masuk ke dalam sana? Langsung buka baju? Langsung tarik selimut? Atau ketuk pintu lalu bilang permisi bu, sesuai jadwal begitu?" gumam Elang, berbicara pada bayangannya sendiri di cermin. Pria tegap berdada bidang yang biasanya berwajah sangar bak preman pensiun itu kini mengusap wajahnya kasar."Astaga, aku kan bel

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 4 Mendadak Gugup

    "Hujannya makin deras ya, Lang?""Iya, Bu. Tapi tenang saja, kita sudah sampai di halaman villa."Elang mematikan mesin mobil. Di luar, hujan mengguyur deras villa keluarga Adhitama yang berlokasi di kawasan Puncak. Suasananya cukup sepi dan hanya diterangi lampu yang remang-remang. Tanpa membuang waktu, Elang membuka pintu kemudi, mengembangkan payung lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Rania."Awas licin, Bu," kata Elang pelan sambil mengulurkan sebelah tangannya."Terima kasih ya, Elang," ucap Rania seraya menyambut uluran tangan itu. Ia menatap kemeja supir pribadinya yang mulai basah terkena tempias. "Harusnya kamu pakai jaket, Lang. Baju kamu jadi basah lagi.""Sudah biasa, Bu. Yang penting Ibu tidak kehujanan," jawab Elang santai, meski rahangnya sedikit mengeras menahan hawa dingin malam.Saat mereka melangkah masuk ke teras, Mang Ujang, penjaga villa yang sudah bekerja belasan tahun di sana, langsung menyambut dengan senyum ramah."Eh, Bu Rania! Mari masuk, Bu. D

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 3 Menuju Ke Villa

    "Mas, aku jalan sekarang ya," ucap Rania seraya mengancingkan blazer tipis berwarna krem yang membungkus tubuhnya.Di samping tempat tidur kamar utama, sebuah koper berukuran sedang sudah terikat rapi. Wajah Rania pucat, dihiasi lingkaran hitam di bawah mata yang ia tutupi dengan polesan riasan tipis.Bima yang sedang berdiri di depan cermin membetulkan letak dasi mewahnya, membalikkan badan. Sebuah senyuman hangat yang kini terasa sangat beracun di mata Rania, mengembang di bibir pria itu.Bima melangkah mendekat, lalu merengkuh kedua bahu Rania dengan lembut."Jangan tegang begitu, Sayang," bisik Bima manis, mengusap pipi istrinya dengan ibu jari. "Anggap saja ini liburan singkat kamu di villa puncak. Lagipula, mama dan papa sudah aku kabari. Aku bilang kita berdua mau quality time dan melepas stress selama akhir pekan ini. Jadi, mereka tidak akan mengganggu atau curiga sama sekali."Rania mendongak, menatap mata suaminya dengan tatapan terluka yang amat dalam."Mama sama papa kamu

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 2 Siapa Pria Itu Mas?

    "Mas! Apa yang kamu bicarakan?! Kamu menyuruh aku berselingkuh dan menyerahkan tubuhku pada laki-laki lain?! Aku ini istrimu Mas!" pekik Rania, tak terima. "Ini bukan berselingkuh, Rania. Ini demi kita. Demi masa depan dan kelangsungan nama baikku," pungkas Bima cepat, seakan menyuruh istrinya berbelanja ke pasar, bukan menumbalkan harga dirinya."Tidak, Mas! Ini menjijikkan!" Rania mundur beberapa langkah, menggelengkan kepalanya histeris. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang memucat."Aku tidak mau! Aku lebih baik dicerai dan kembali ke rumah orang tuaku dengan kepala tegak, daripada harus membuka lebar kedua kakiku untuk pria lain!"Mendengar kata cerai, rahang Bima mengeras. Wajah hangat yang selalu memanjakan Rania mendadak lenyap tanpa sisa, berganti menjadi raut dingin yang menakutkan bak predator. Bima melangkah maju dengan cepat, menerjang pecahan cangkir dan mencengkram kedua lengan Rania hingga wanita itu meringis kesakitan."Dengar, Rania! Bukankah kamu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status