LOGINSore harinya, mereka telah kembali sampai di kediaman mereka. Saat melangkah masuk, hanya Marie yang tampak berdiri menyambut di lobi utama."Tuan kecilku pasti lapar," kata Marie dengan nada manja yang dibuat-buat begitu melihat Kenzo.Kenzo mengangguk-angguk penuh semangat. Marie kini dengan cekatan langsung melayani tuan kecilnya itu. Padahal Benjamin sudah memberinya pangkat yang cukup tinggi di dalam organisasi Oleander, namun wanita itu berulang kali menegaskan bahwa dia jauh lebih tertarik menjadi pengasuh pribadi Kenzo kecil."Di mana Daniel dan Anna?!" tanya Benjamin saat tidak mendapati keberadaan dua orang itu."Ah! Mereka menitipkan pesan sebelum pergi," jawab Marie, mencoba mengingat-ingat. "Anna baru saja pergi untuk menjelajahi kota lain, sedangkan Daniel kembali ke klub miliknya." Marie melanjutkan, "Seperti Daniel yang kita kenal, uang adalah segalanya. Dia sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan barunya... menjadi penyanyi di klubnya sendiri."Benjamin hanya mendengu
Tiga tahun berlalu sejak badai besar yang hampir merenggut kebahagiaan mereka. Waktu perlahan menyembuhkan banyak luka, mengubah banyak hal. "Hei kenapa kau berlari..." Anna mengejar Kenzo, "Larinya lincah sekali.""Bibi hanya ingin memeluk." renggeknya. Kenzo kecil, usianya tiga tahun. Larinya masih tertatih namun cukup gesit. Anna sampai kesulitan menangkapnya. "Dia tak mau bersamamu." Tukas Daniel, dia bangkit dari duduknya. Bersiap menangkap Kenzo yang akan melewatinya. Tapi Kenzo melintas begitu saja. Tanpa menoleh.Kenzo kecil berlari menghampiri Rhea yang duduk tepat disebelah Daniel. "Bu... Ib-u. Bibib mena-nggu." Kenzo belum lancar berbicara. Kata-katanya masih sulit dipahami. Dia langsung memeluk kaki Rhea, bersandar manja. Segera Rhea menariknya ke dalam pelukan. "Bibi menganggumu, paman Daniel juga?!"Kenzo mengangguk cepat. Sembari menatap tajam ke arah mereka. Daniel dan Anna saling memandang, lalu berkata bersamaan. "Dia benar-benar jiplakan Ben."Tak lama Ben
Benjamin tak bisa sepenuhnya menikmati rasa bahagianya. Banyak hal menantinya. Esok hari, dia sudah ada dimakam itu—berdiri seorang diri. Tanahnya masih basah, nisan itu baru dipasang. Semua dia urus sendiri.Tak ada pelayat. Tak ada doa. Hanya diam menekan dada. "Setidaknya, aku harap kau tenang di sana!" ucapnya. Tak ada air mata yang menetes, wajahnya hanya datar. "Aku ingat tak mengundangmu!" kata Benjamin kemudian. Tepat disampingnya Sicilia berdiri dengan pakaian serba hitamnya. Benjamin tampak menurunkan kewaspadaanya."Dia Tuanku." jawabnya singkat. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?!" tanya Benjamin tanpa menoleh. "... aku datang hanya untuk melihat liang terakhir pria yang penuh derita," Sicilia menepuk pelan pundak Benjamin. "Hanya itu?" kini Benjamin menoleh, memberikan tatapan tak percaya. Sicilia tersenyum kecil, lantas menaburkan bunga di atas makam basah itu. "Aku adalah saksi hidup kisah orang tuamu..."Dia melanjutkan, "Aku teman dekat Ibumu, juga orang kep
Kini di ruangan itu Benjamin seorang diri. Pikirannya melayang, segala hal buruk terjadi bersamaan. Kekhawatirannya tentang Rhea kian menjadi, bersamaan dengan perasaanya yang terasa hampa. Tak lama pintu berderit, nenek Rhea masuk dengan bingung. "Mengapa kau ada disini?" tanyanya. "Bising apa yang terjadi? aku tidak menemukan putraku juga Vareli?!" Benjamin menoleh, wajah yang penuh derita itu berubah menghangat. Dia berpura-pura tak terjadi apapun. Dia menghampiri sang nenek, menyentuh tangan wanita tua itu dengan lembut. "Nenek, aku datang untuk memberi kabar Rhea telah melahirkan seorang putra." Nenek tampak terkejut, kemudian lega. Agak lama nenek tak mengatakan apapun, dia hanya menyentuh wajah Benjamin dengan lembut. "Kau tidak baik-baik saja? pakaianmu begitu lusuh, kotor, dan terdapat noda darah! Jangan menipuku...?!" Saat itu lah Benjamin tak mampu menahan air matanya lagi. Beban yang terlalu lama menumpuk meluap begitu saja. Tak sekalipun kehangata
Dengan perasaan puas Vareli membuka ruangan suaminya, dimana segala cap dan hak kekuasaan ada disana. Senyum yang sempat merekah indah mendadak lenyap, tat kala melihat Benjamin duduk santai di kursi dengan kaki menyilang di atas meja. "Aap-" belum sempat Vareli berteriak, seseorang telah membekap mulutnya dari samping. Pintu tertutup rapat. Dengan kasar, tubuhnya dipaksa merosot hingga berlutut di lantai. Benjamin menopang wajahnya sembari menatap ke arah Vareli tajam. "Aku sudah memperingati, jangan menganggu!" ucapnya dingin.Dengan wajah kebingungan, dan takut Vareli mencoba memberontak dari dekapan bawahan Benjamin, yang jelas mustahil."Orang bodoh!" kata Benjamin, "Sejak tau Lili bergabung dengan Charles kediaman Dominic ada dalam pengawasan ku." dia menyeringai. "Benar kan Ayah mertua," Pintu berderit, Vareli segera menoleh kebelakang, dan Hendra berjalan masuk dengan tegap, dan hidup. Lalu Charles dan Lili sudah tertangkap oleh bawahan Benjamin lainnya. Kini Benjami
Di dalam sebuah gudang tua yang lembab. Charles dan Lili bersembunyi didalamya. Jauh dari lokasi perseteruan dengan rombongan Benjamin sebelumnya. Lili menatap Charles penuh keputusasaan—pria yang terengah-engah akibat luka tembakan serta pukulan yang sempat menghantamnya. "Kenapa begini!" Lili mengacak kasar rambutnya. Dia dengan kasar menarik kerah jaket Charles, "Aku tidak ingin MATI. Kau berjanji padaku bahwa posisi Benjamin akan kau gantikan!""Aku bergabung dengan mu sebab, ingin melihat kehancuran Rhea, bukan sebaliknya?!" teriaknya lantang.Tapi Charles bahkan tak bergeming hanya napas berat yang susah payah ia tenangkan. Dengan kesal Lili memukul dada Charles. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar saat menggenggam jaketnya sendiri. Ia berkali-kali menoleh ke pintu, ke jendela, ke sudut-sudut gelap ruangan. Menduga-duga bawahan Benjamin pasti akan segera menemukan mereka."Kita harus pergi lagi," ucap Lili terbata. "Benjamin tidak akan berhenti. Sekarang dia memimpin dua
Rhea terperanjat bangun dari posisi tidurnya. Dia sadar dia berada dikasur yang jelas bukan miliknya. "Dimana aku?”Matanya mengamati sekitar, tempat yang tak di kenali. Tampak Interior kamar yang elegan didominasi dengan warna hitam abu-abu.“Ah! Aku ingat. Semalam tanpa sadar aku tertidur dalam pe
"Benjamin, siapa dia Ayah?" tanya Lili yang terheran dengan reaksi Ayahnya. "Dia.. dia Pemimpin Mafia Oleander." jawab Hendra masih tak percaya. Pemimpin Oleander tak pernah sekalipun menunjukan wajahnya pada orang lain dan mereka sangat rapi dalam menangani masalah __ "Masuklah." pria itu memb
Rhea membuka matanya kala menyadari seseorang menatap ke arahnya tajam. Belum tersadar penuh, tanpa aba-aba Ayahnya langsung menarik lengannya kasar, menyeretnya bangun dari kasurnya. "Kau sangat hina!" cerca Ayahnya. Rhea tidak mengerti dengan kondisi tiba-tiba ini. Saat menuruni anak tangga se
Di sisi lain seorang pria berdiri didekat jendela dengan mantel mandi yang masih melekat di tubuhnya. Air terus-menerus menetes dari ujung-ujung rambutnya. Dia menatap gelas yang ada di genggamannya, menggoyangkannya beberapa kali. Kemudian perhatian pria itu teralih keluar jendela. Gedung-gedung







