แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: doni revelton
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-03 08:42:24

Andre buru-buru menggelengkan kepalanya. “Maaf tante, aku nggak bermaksud.”

Mila kembali terkekeh, lalu mundur satu langkah. “Udah, pakai bajumu yang bener terus makan ya. Nanti kamu masuk angin loh.”

“I–iya, makasih tante,” kata Andre sambil masih menganggukkan kepala.

“Sama-sama,” jawab Mila singkat sambil tersenyum. Dia masih berdiri di sana, di depan Andre.

Andre menjadi semakin bingung. Dia ingin memakai baju, tapi Mila justru berdiri di sana menatapnya terus.

“Tante gak keluar?” tanya Andre lirih setengah malu.

“Nggak, tante mau pastiin kamu beneran pakai baju dan makan supnya. Nanti malah ketiduran lagi kayak tadi,” jawab Mila sambil terkekeh.

“T–tapi, tante, aku mau pakai baju loh beneran ini,” kata Andre lagi, matanya berkedip cepat, bingung.

“Ya terus kenapa? Cepet pakai,” desak Mila seolah tak peduli dengan rasa malu yang Andre rasakan. “Apa mau tante pakaikan?”

Andre buru-buru menggelengkan kepalanya, lalu bangkit dari kasurnya. Tangannya menggenggam erat selimut yang menutupi bagian bawahnya. Dengan setengah berlari, Andre menuju ke lemari pakaian dan mengambil satu celana pendek dan kaos rumahan. Sejenak, Andre menatap Mila yang masih terus memperhatikannya, lalu pandangannya beralih pada selimut yang melilit tubuhnya.

‘Gimana pake celananya kalau begini?’ gumam Andre dalam hati.

Akhirnya, Andre sedikit menutup pintu lemari pakaian itu untuk menyembunyikan dirinya dari Mila. Di ruang yang sempit itu, dia buru-buru memakai celananya. Namun sialnya, karena selimutnya terlalu panjang, kakinya justru terlilit selimut hingga membuatnya jatuh dengan keadaan memalukan.

Bruk!

“Aduh!” rintih Andre kesakitan.

Tubuh Andre terbaring telentang di depan lemari. Satu lubang celana sudah masuk ke kaki kirinya, tapi jelas belum sepenuhnya menutupi bagian bawahnya.

Mila tertawa melihat tingkah Andre. Dia langsung berjongkok di depan Andre, lalu sedikit mencondongkan wajahnya. “Kamu ngapain sih? Padahal tinggal pakai baju aja, malah atraksi segala.”

Dari posisi seperti itu, Andre jelas bisa melihat bagaimana dada besar milik Mila itu tergantung tepat di depan matanya. Hawa hangat dan wangi tubuh itu langsung menyelimuti kepala Andre.

Andre langsung memalingkan wajahnya untuk menghindari pemandangan itu. Tapi sialnya, saat kepalanya refleks menoleh ke kanan, matanya justru langsung menangkap kain renda berwarna merah menyala yang menutupi bagian dalam milik Mila.

Andre membelalakkan matanya, jakunnya turun lambat, seperti kesulitan menelan ludahnya sendiri.

“Eh, ada yang bangun,” ujar Mila tiba-tiba, membuat Andre langsung terperanjat.

Andre melihat bagian bawah tubuhnya kembali bereaksi. Di balik celana dalam itu, bagiannya telah sepenuhnya menegang. Dia buru-buru menutupnya dengan kedua tangan dan duduk. Saat Mila mengulurkan tangannya untuk menyentuh bagian itu, Andre buru-buru mencegahnya. Dia berdiri dan memakai celananya dengan cepat.

“Aku … aku makan dulu supnya, Tante,” kata Andre cepat, mengalihkan perhatian.

Jantung Andre berdetak tidak karuan. Wajahnya panas campuran menahan malu dan hasrat yang muncul. Bagian bawahnya berdenyut seperti ingin mengeluarkan apa yang dia tahan. Tapi, jelas tidak bisa sekarang!

Tidak bisa dipungkiri bahwa tubuh Mila memang sangat menggoda. Untuk usia 30 tahunan, semua terasa masih seperti remaja awal 20 tahun. Tapi, yang membuat Andre tidak paham: kenapa Mila bisa begitu santai di depannya?

Andre buru-buru memakan sup yang sudah Mila buatkan. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Mila yang sudah berdiri di depannya, lebih tepatnya ke arah dada padat itu.

“Pelan-pelan aja makannya, nanti keselek,” ujar Mila perhatian.

“I–iya, tante,” jawab Andre, lalu kembali membuang pandangannya.

“Habis itu kamu istirahat ya, ini udah mulai malam. Kalau bisa sih kamu mandi dulu biar bau alkohol di badanmu hilang,” Mila mengingatkan dengan lembut.

Andre mengangguk lemah, merasa canggung sendiri karena Mila tidak juga keluar dari kamarnya.

Akhirnya, sup itu habis. Andre menyodorkan mangkuknya kepada Mila. “Sudah habis, tante. Aku mau mandi dulu.”

Tanpa menunggu jawaban Mila, Andre bergegas masuk ke kamar mandi yang ada di sebelah kamarnya.

Di dalam kamar mandi, Andre melihat bagian bawahnya masih berdiri tegak. Dia menghela napas.

“Bodynya emang gila sih,” gumam Andre pelan, pikirannya masih dipenuhi dengan celana dalam renda merah, dan bulatan padat dada Mila.

Di titik ini, Andre seperti mulai setuju dengan ucapan Robert biasanya: “Perawan memang manis, tapi janda lebih menarik.”

Akhirnya, Andre menyalakan shower dan membiarkan tubuhnya basah. Namun, tangannya tanpa sadar bergerak menggenggam bagian yang berdiri di bawah sana. Mengurutnya perlahan dengan bayangan kemolekan tubuh Mila.

Semua ini tidak bisa ditahan. Hasrat lelaki Andre seperti tertantang karena perlakuan Mila.

“Shhh … gilaa,” lirih Andre di tengah aktivitasnya.

Gerakan tangan Andre semakin cepat. Napasnya tersengal pendek. Dia benar-benar hampir sampai. Sampai akhirnya—

Tok! Tok! Tok!

“Andre, kamu mandi kok lama banget?”

Suara Mila langsung membuat Andre menoleh cepat ke arah pintu.

“Kamu perlu bantuan tante kah?”

Saat pertanyaan terakhir itu muncul, Andre langsung membelalakkan matanya.

 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 34

    Dia berjalan masuk ke rumah dengan langkah pelan, sepatu sneakers-nya meninggalkan jejak kecil di lantai keramik depan pintu. Begitu pintu dibuka, aroma yang langsung menyambutnya adalah campuran harum yang begitu akrab sekaligus mengejutkan: aroma ayam goreng tepung renyah, bawang goreng yang baru ditumis, saus sambal manis pedas, dan sedikit wangi vanila dari lilin aromaterapi yang menyala di ruang tamu. Musik lembut mengalir dari speaker Bluetooth kecil di meja ruang tamu—lagu-lagu ballad Indonesia lama seperti “Cinta Dalam Hati” dari Ungu dan “Bukan Cinta Biasa” dari Siti Nurhaliza, volume rendah tapi cukup untuk mengisi keheningan rumah dengan suasana romantis yang hangat.Mila muncul dari arah dapur, mengenakan apron merah muda di atas dress sederhana berwarna krem lengan pendek yang pas di badan, rambutnya terurai lepas dengan gelombang lembut, dan senyum lebar yang penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya. Pipinya sedikit merona karena panas kompor, tapi matanya berbinar sepert

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 33

    Robert diam sejenak, ekspresinya berubah dari usil menjadi kaget yang nyata. “Gila… gue cuma bercanda soal tante lo selama ini. Gue pikir cuma gosip. Tapi ini… ini beneran?”Andre mengangguk pelan. “Iya. Udah lama. Gue nggak tahu gimana jelasinnya. Tapi… gue sayang sama dia. Bukan cuma hasrat. Gue sayang beneran.”Robert menatap Andre lama. “Lo gila, bro. Ini… ini nggak biasa. Lo tahu risikonya kan? Kalau ibu lo tahu? Kalau keluarga tahu? Kalau orang kampus tahu?”Andre menunduk. “Gue tahu. Makanya gue takut. Gue nggak mau kehilangan dia.”Robert menghela napas panjang. “Gue nggak bakal bilang ke siapa-siapa. Gue janji. Tapi lo harus hati-hati. Foto ini gue hapus sekarang kalau lo mau.”Andre menggeleng. “Simpan dulu. Gue… gue butuh bukti kalau suatu saat gue harus cerita ke orang lain.”Robert mengangguk pelan. “Oke. Tapi lo harus janji sama gue—kalau ada masalah, lo cerita ke gue. Gue sahabat lo.”Andre mengangguk. “Janji.”Mereka makan nasi goreng dalam diam yang berat. Aroma samba

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 32

    Perjalanan ke kampus dimulai. Jalan gang kecil rumah mereka masih sepi—hanya beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman atau membawa anak ke sekolah. Andre melaju pelan, menghindari genangan air kecil dari sisa hujan malam tadi yang membuat aspal terlihat mengkilap. Angin pagi menerpa wajahnya melalui celah visor helm, sejuk dan menyegarkan, membawa aroma bunga kamboja dari pagar rumah-rumah di pinggir gang. Matahari pagi menyinari punggungnya, membuat bayangan motor dan pengendara memanjang di aspal basah. Keluar dari gang, jalan arteri sudah mulai ramai. Mobil-mobil pribadi dan angkot berjejer di lampu merah, motor-motor lain melaju zig-zag di sela-sela kendaraan. Andre memperlambat laju, bergabung dengan arus lalu lintas yang mulai padat. Di kanan kirinya, pedagang kaki lima sudah mulai buka: penjual bubur ayam dengan gerobak kayu yang mengepul uap panas, warung nasi uduk dengan aroma ketupat dan sambal yang menggoda, dan tukang kopi keliling dengan termos besar yang berisi ko

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 31

    berusaha tidak membuat suara. Dia menggeser tubuh sangat perlahan agar tidak membangunkan Mila. Selimut krem bergeser sedikit, memperlihatkan punggung Mila yang mulus dengan beberapa garis merah tipis dari kuku Andre yang menggaruk tanpa sadar. Andre menarik selimut kembali menutupi tubuh Mila sampai bahu, lalu bangun dari kasur dengan gerakan hati-hati. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin, membuatnya menggigil sebentar. Tubuhnya telanjang sepenuhnya—pakaian malam tadi masih tersebar di lantai seperti bukti kejadian yang nyata dan tidak bisa dihapus. Dia mengambil celana pendek dan kaos longgar dari lantai, mengenakannya dengan gerakan pelan. Setiap gerakan terasa pegal—otot pinggul dan paha terasa seperti setelah latihan squat berat, punggung bawahnya nyeri manis karena posisi malam tadi. Dia berjalan pelan keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak berderit terlalu keras. Tangga kayu berderit kecil setiap langkah, tapi rumah masih hening—hanya suara AC yang b

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 30

    Andre ambruk lemas ke kasur dengan napas tersengal panjang seperti orang yang baru saja menyelesai maraton panjang di malam gelap, tubuhnya basah keringat yang menetes seperti embun malam di kulitnya yang panas. Dada naik-turun cepat, otot-ototnya bergetar kecil karena kelelahan yang menyenangkan, dan matanya setengah tertutup karena lelah tapi juga kepuasan yang masih terasa di setiap inci tubuhnya. Juniornya yang tadi meledak dengan klimaks ketiga masih berdenyut pelan, basah dan hangat karena sisa hasrat mereka. Kamar Mila terasa lebih lembab sekarang—uap dari napas mereka bercampur dengan aroma lavender dari diffuser yang sudah mulai memudar, keringat segar yang asin dan manis sekaligus, dan wangi tubuh Mila yang seperti vanila basah setelah mandi. Cahaya bulan purnama masih menyelinap melalui celah gorden, membuat bayangan mereka di dinding seperti lukisan abstrak yang penuh emosi—tubuh telanjang saling menempel, selimut krem kusut seperti ombak yang sudah tenang setelah badai

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 29

    Andre mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Suka… sangat suka…” Mila kembali menunduk, kali ini lebih dalam—mulutnya menelan hampir seluruh panjangnya, tangannya memegang bagian bawah dan menggerakkan naik-turun sambil mulutnya mengisap dan lidahnya berputar. Andre mengerang panjang, pinggulnya terangkat secara refleks, tangannya menarik rambut Mila lebih erat tapi tidak kasar. Suara desah Andre bercampur dengan suara basah dari mulut Mila yang bergerak—suara yang vulgar tapi sangat intim, membuat kamar terasa semakin panas dan lembab. Setelah beberapa menit, Mila naik lagi. Dia naik ke atas tubuh Andre, dada yang padat dan kenyal menempel di dada Andre. Tangan Mila memandu junior Andre ke bagian bawahnya lagi—masuk pelan, tapi kali ini Mila tidak langsung naik-turun. Dia hanya menggoyang pinggulnya pelan, membuat gesekan di dalam tanpa gerakan besar—hanya lingkaran kecil yang membuat Andre mengerang karena sensasi yang sangat sensitif setelah dua ronde sebelumnya. Mila menurun

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status