Share

37. Kecurigaan Rama

last update publish date: 2026-09-23 12:25:42

Klek-klek.

Gagang pintu bergerak turun dua kali, tertahan oleh anak kunci yang terkunci rapat dari dalam.

"Dikunci?" gerutu Rama dari balik pintu, suaranya terdengar heran dan sarat akan kejengkelan.

Suara logam itu bagai lonceng kematian yang menyentak saraf mereka berdua. Aya mematung pucat di atas kasur, napasnya nyaris berhenti total.

Namun Joni bereaksi cepat. Adrenalin liar memompa jantung Joni bertalu-talu. Jauh di lubuk hatinya, pemuda itu juga panik setengah mati. Taruhannya terla
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   37. Kecurigaan Rama

    Klek-klek. Gagang pintu bergerak turun dua kali, tertahan oleh anak kunci yang terkunci rapat dari dalam. "Dikunci?" gerutu Rama dari balik pintu, suaranya terdengar heran dan sarat akan kejengkelan. Suara logam itu bagai lonceng kematian yang menyentak saraf mereka berdua. Aya mematung pucat di atas kasur, napasnya nyaris berhenti total. Namun Joni bereaksi cepat. Adrenalin liar memompa jantung Joni bertalu-talu. Jauh di lubuk hatinya, pemuda itu juga panik setengah mati. Taruhannya terlalu besar jika pintu itu didobrak saat ini juga. Dengan gerakan kilat tanpa suara, Joni mengangkat tubuh lemas Aya dari atasnya, menyambar piyama di lantai, dan mendorong wanita itu ke balik lemari pakaian yang gelap. “Jangan bersuara,” bisik Joni pada Aya, yang langsung mengangguk-angguk dengan cepat. Joni menyambar celana pendek abu-abunya, memakainya terburu-buru, lalu mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengatur degup jantungnya yang bergemuruh di dada, la

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   36. Kepalang Tanggung

    Pengakuan dari bibir Aya bukannya memadamkan suasana, melainkan menyulut kembali bara gairah yang belum sempat padam di tubuh Joni.Melihat sang nyonya rumah yang terbiasa hidup mewah kini bersandar pasrah di dadanya, hasrat Joni kembali mendidih. Belum genap lima belas menit badai pertama reda, kejantanan pemuda itu kembali mengeras sempurna.Joni tidak memberi waktu bagi Aya untuk terhanyut dalam rasa aman semu.Dengan gerakan mantap, tangan kekar Joni mencengkeram pinggang ramping Aya, lalu membalikkan posisinya dalam satu sentakan halus. Ia mendudukkan tubuh matang wanita itu tepat di atas pangkal pahanya.“Ahh!”Aya tersentak kaget. Matanya membelalak menatap Joni yang kini menatapnya dari bawah dengan seringai menantang."Joni... kamu masih mau lagi?" bisik Aya dengan napas tertahan."Tante yang datang duluan ke sini," sahut Joni seraya menuntun pinggul Aya. "Sekarang gerak sendiri di atas Joni. Tunjukin seberapa penginnya Tante sama Joni."Permintaan itu membuat darah Aya berd

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   35. Ketagihan

    "Berani banget Tante turun ke sini," ujar Joni dengan nada rendah. "Nggak takut Om Rama tiba-tiba bangun, terus nyariin istrinya yang hilang dari kasur?"Pertanyaan itu membuat napas Aya tercekat. Ketakutan itu nyata, tetapi dorongan di dalam dirinya jauh lebih beringas. Seharian ini ia merasa sesak berada di dekat suaminya sendiri. Setiap kali Rama mendekat, tubuhnya meremang, mual, sangat kontras dengan kerinduan liar yang terus mendidih menuntut sentuhan pemuda di hadapannya ini.Tanpa membalas sindiran itu, Aya melangkah mendekat. Ia menanggalkan rasa gengsinya, merangkak naik ke atas kasur Joni, lalu menumpukan kedua tangannya di dada bidang pemuda itu."Tante nggak bisa, Joni..." bisik Aya dengan nada bergetar dan putus asa. Tatapannya menatap lapar ke arah bibir Joni. "Di atas rasanya kayak di penjara. Tante cuma mau kamu... tolong..."Joni tidak langsung menyambut rengkuhan itu. Tangan kekarnya terangkat, mencengkeram rahang tirus Aya, memaksa wanita itu menatap tepat ke man

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   34. Bermain Api

    Joni melangkah masuk tanpa suara ke dalam kamar utama.Pintu yang setengah terbuka tidak ia tutup rapat, sengaja membiarkan celah kecil agar tidak mengundang curiga dari bawah.Begitu Joni berdiri tepat di hadapannya, pertahanan Aya runtuh total. Ia menatap Joni dengan mata basah yang sarat akan rasa putus asa.Tanpa sepatah kata pun, Joni menarik tubuh ramping Aya ke dalam dekapannya.Tangan kekar Joni melingkar erat di punggung wanita itu, menempelkan dada bidangnya yang hangat ke tubuh Aya yang dingin dan kaku.Aya tersentak panik, kedua tangannya sempat mendorong dada Joni pelan seraya melirik ke arah pintu yang terbuka.

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   33. Hampir Ketahuan

    “Apa kamu bilang?!” Napas Rama memburu kasar di ruang tamu.Penolakan terang-terangan dari mulut Aya barusan terasa bagai tamparan keras bagi harga diri dan egonya sebagai kepala keluarga. Pria itu menatap istrinya dengan rahang mengeras, lalu melangkah maju dan mencengkeram pergelangan tangan Aya dengan kasar."Ikut aku ke atas," desis Rama dingin tanpa memberi ruang bantahan."Mas! Lepas, sakit!" rintih Aya berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman Rama terlalu kuat.Rama menyeret Aya menaiki anak tangga menuju kamar utama. Pintu kamar dibanting menutup dengan bunyi berdebum keras. Rama mulai melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya dengan gerakan tergesa-gesa. Matanya menatap Aya dengan lapar bercampur amarah, sebuah tuntutan primitif seorang pria yang ingin menegaskan kepemilikan mutlak atas istrinya setelah lelah berhari-hari di luar kota."Mas mau ngapain?!" tanya Aya panik, mundur beberapa langkah hingga kakinya menabrak tepi ranjang."Ngapain?" Rama mendengus si

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   32. Akibat Cemburu Buta

    Pagi harinya, Joni membuka matanya lebih dulu. Fisiknya terasa segar bugar, berbeda dengan Aya yang masih tidur mendengkur halus di sampingnya dengan tubuh terbungkus selimut sebatas dada.Joni menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Pandangannya langsung terpaku pada leher jenjang Aya yang tersingkap bebas. Di dekat tulang selangka wanita itu, bercak merah keunguan tercetak jelas, tanda kepemilikan yang ia tinggalkan semalam.Joni tersenyum tipis. Tangannya terulur, mengusap tanda merah itu dengan ibu jarinya yang kasar.“Mm..?” Sentuhan itu membuat Aya melenguh pelan. Kelopak matanya terbuka pelan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Joni yang tengah menatapnya lekat-lekat dari jarak begitu dekat."Pagi, Tante," sapa Joni rendah. Suaranya serak khas bangun tidur.Sebelum Aya sempat mengumpulkan kesadarannya, Joni mencondongkan tubuh, mendaratkan ciuman lembut di bibir merekah wanita itu, lalu beralih turun mengecup tanda merah di lehernya.Tubuh Aya meremang seketik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status