Se connecterLangit masih abu-abu waktu Rehan menyemprot sedan hitam Om di carport. Udara pagi sehabis hujan dingin menusuk sampai ke tulang kering.
Om duduk di kursi teras memakai singlet putih yang tidak sanggup menutup perutnya. Secangkir kopi hitam di tangan kiri, sendok kecil di tangan kanan. Sendok itu dipakai untuk memberi kode perintah pada Rehan.
"Spion. Masih ada bekas air, itu, yang kiri," tunjuk Om tanpa bangun dari kursi. "Velgnya juga. Kamu nyuci mobil apa ngelap meja? Yang becus kalau mau numpang!"
Rehan mengelap spion kiri, velg depan, sela-sela pintu belakang, tapi ternyata rentetan itu belum cukup. Ia lalu mengelap spion kiri lagi, karena sendok Om menunjuk ke sana lagi.
Tak lama, pintu depan terbuka.
Tante keluar membawa cangkir kopi kedua di atas tatakan.
Pagi itu gerah, udara lembap sisa hujan, tapi Tante memakai daster batik berlengan panjang yang ujungnya menutupi pergelangan. Rambutnya sudah disisir rapi, digelung tinggi. Bibirnya diberi lipstik tipis warna jambu.
Om menerima cangkir itu tanpa menoleh ke wajah Tante. Matanya justru melirik ke lengan Tante, yang tertutup kain sampai pergelangan, lalu dia menyeruput kopinya pelan.
"Sabtu depan kondangan Mas Darto di Solo. Pakai kebaya yang lengan panjang. Cincinnya dipakai, jangan dilepas terus kayak kamu bukan istriku. Ibu pasti nanya, jadi jangan ngomong aneh-aneh," ucap Om santai, seperti sedang membacakan jadwal arisan.
"Iya, Mas."
Rehan berhenti mengelap. Tangannya yang memegang lap menegang di atas kap mesin.
Om tahu!
Om tahu persis ada memar di lengan itu, tapi yang justru diperhatikan malah kekhawatiran bahwa Tante Ratih akan membuka bejatnya dia di hadapan ibunya sendiri.
Jam tujuh, Om berangkat membawa koper kecil beroda. Dinas ke Semarang sampai Jumat, katanya ke Tante di depan pintu. Tante melambai sampai sedan hitam itu keluar gerbang.
Jangankan untuk memberi kecupan atau pelukan, Om saja tidak membuka kaca jendela untuk sekedar melambaikan tangan..
Tante masih berdiri di teras beberapa saat sesudah gerbang tertutup.
"Mobil Om udah kinclong, kamu yang kucel. Mandi sana, terus sarapan. Tante bikinin the," ujar Tante sambil melempar handuk kecil ke bahu Rehan, senyumnya dibuat-buat.
"Iya, Tante."
Rehan menurut, tapi sebelum masuk dia sempat melihat Tante mengusap lengan atasnya sendiri dari luar daster, pelan, berkali-kali.
***
Siangnya, HP retak Rehan bergetar tanpa henti di atas kasur.
Grup kelompok tugas Pengantar Bisnis sedang ramai. Bimo Prakoso, teman sekelas yang badannya lebar ke samping dan utangnya ke Rehan masih tiga puluh ribu, men-tag namanya berkali-kali.
[Han, bagian lo mana?? Besok presentasi jam satu, jangan bikin kita dimarahi dosen, ya] Tulis Bimo, disusul stiker kucing menangis.
Rehan mengetik slide di aplikasi presentasi pakai jempol. [Bentar, Bim. Layar gue retak, habis ini kekirim.]
[Alesan lo kayak mantan gue. Pokoknya jam sebelas malem udah masuk grup ya, kalau nggak, nama lo gue hapus dari daftar kelompok.]
Rehan menghela nafas dan keluar kamar untuk makan siang.
Sesudah makan siang, Tante menyodorkan dua lembar lima puluh ribuan dari dompet kecilnya yang sudah lusuh di pinggir.
"Beli kabelnya pakai ini, ya. Jangan lupa minta nota, dari pada Om marah lagi," pesan Tante sambil melipat uang itu ke telapak Rehan.
Toko Elektronik Sinar Jaya ada di seberang gerbang komplek, lima menit jalan kaki.
Di balik etalase kaca berisi setrika dan bohlam, kasirnya duduk tegak memeriksa nota dengan pulpen di tangan.
Perempuan itu kira-kira dua puluh tujuh tahun, berkulit putih pucat, rambut lurus sebahu diikat setengah. Kemeja kerja putihnya dikancing sampai kancing paling atas, rapat sekali di leher, tapi justru karena rapat itulah bagian dadanya menarik kain di antara kancing kedua dan ketiga. Rok pensil abu-abu, kacamata minus tipis. Di papan namanya tertulis Meiling.
Rehan menyebut ukuran kabel, steker, dan isolasi. Sambil menunggu Meiling menulis nota, dia memberanikan diri bertanya. "Ci, di sini ada lowongan nggak? Saya bisa servis elektronik kecil-kecilan. Kipas, rice cooker, setrika."
Meiling mengangkat muka. Matanya menatap Rehan dari balik kacamata, lalu turun, agak lama, ke lengan Rehan yang berurat kena sabun cuci mobil tadi pagi.
"Ada. Kuli angkut dus. Gajinya ucapan terima kasih. Mau?"
Rehan nyengir. "Kalau ada barang retur yang perlu dibenerin, Ci, telepon saya aja. Bayar seikhlasnya aja gapapa, yang penting saya dapat bayaran di situ."
Meiling kemudian meminta Rehan menulis nomornya, lalu melipat kertas itu dua kali tanpa berkomentar.
Saat kembali ke rumah, Rehan langsung membenarkan lampu kamar mandi Tante. Sekarang, lampu itu menyala lagi, water heater-nya hangat, dan kabel terkelupas itu sudah masuk tempat sampah.
Setelahnya, Tante memanggil Rehan ke kamarnya. "Han, sini sebentar. Tante mau ngambil kebaya di lemari atas, tolong pegangin kursinya, ya."
Tante sudah berdiri di atas kursi plastik merah di depan lemari jati. Kursi itu kelihatan tua, kakinya sedikit melengkung ke luar. Rehan berjongkok, memegang dua kaki kursi itu kuat-kuat.
Begitu dia mendongak, mukanya tepat sejajar dengan pantat Tante.
Daster batik tipis itu tertarik ke atas karena Tante berjinjit. Betisnya menegang tiap kali Tante menjangkau rak paling dalam, kuning langsat, mulus sampai ke lipatan belakang lutut.
Tante menarik setumpuk kain dari rak atas, lalu memisahkan satu kebaya hijau daun dengan kancing kecil berwarna emas. Dia memandangi kebaya itu lama, tidak turun-turun.
"Ini kebaya lamaran Tante dulu. Kata Om, sekarang Tante pakai kebaya kayak lemper dibungkus daun."
[Misi: Puji Tante Ratih. Cantik katakan cantik, tidak katakan tidak. Batas hari ini.]
[Reward: 1,5 poin.]
Belum sempat Rehan membuka mulut, kaki kursi di tangan kanannya berbunyi.
KRAK.
Kaki itu patah ke samping. Tante menjerit, badannya melayang ke belakang, tepat ke arah ujung meja rias yang tajam di sebelah lemari.
Rehan menangkap tanpa pikir. Kedua lengannya meraup paha Tante dari bawah, lalu berat badan Tante menghantamnya sampai dia terjengkang mundur. Mereka berdua ambruk ke kasur.
Gelap.
Bau kapur barus.
Kebaya hijau itu jatuh menutupi kepala mereka berdua.
Muka Rehan terbenam di sesuatu yang empuk, hangat, dan bulat, sementara kedua tangannya masih memeluk paha Tante erat-erat. Hidungnya tenggelam tepat di antara dua belahan pantat yang tadi cuma bisa dia pandangi dari bawah.
Sial beribu sial!
Rehan tidak berani bernapas, karena napas apa pun akan masuk ke tempat yang salah.
Dari balik kebaya, Tante tertawa. Tawanya keras dan panjang sampai badannya terguncang, dan setiap guncangan itu membuat bagian belakangnya bergoyang di muka Rehan.
"Kursinya aja nggak kuat nahan Tante, Han." Tante masih tertawa, tidak buru-buru bangun dari atas Rehan.
"Ta-Tante nggak apa-apa? Kepalanya nggak kebentur?"
"Nggak. Kan ada bantal empuk di bawah," goda Tante sambil menepuk dada Rehan dua kali. "Tapi tanganmu dilepas dulu, Han, masa kamu nyaman di situ terus, sih…"
Rehan memegang kedua pinggul Tante dan masuk dari belakang. Tante mendesah panjang, kepalanya terkulai di antara lengannya. "Aah, dalem banget, Han. Lebih dalem lagi. Tante kuat."Plak. Plak. Plak.Bunyi daging bertemu daging memenuhi dapur, dan gelas di atas meja ikut bergetar.Rehan menghentak makin cepat. Pinggul Tante bergoyang mengikuti irama, dan kedua payudaranya ikut terayun di bawah dadanya. Rehan mengulurkan tangan, menangkup salah satunya dari belakang, lalu meremasnya pelan."Mmh, Han, iya, remes. Hhh, Tante, Tante mau keluar!""Saya nggak berhenti, Tante.""Jangan berhenti! Dikit lagi, aah, dikit lagi!""Sayuuur! Bu Ratih! Terongnya baru dateng, Bu!"Celaka tiga belas! Teriakan itu menembus jendela dapur. Gerobak Mbak Ningsih berhenti tepat di depan pagar, rodanya berderit, dan suara perempuan itu terdengar jelas di seberang tembok.Rehan membeku di tengah gerakan. Tante menutup mulutnya dengan telapak tangan, menoleh dengan mata melotot, lalu menggeleng keras ke arah Reh
Di ambang dapur, Rehan berhenti. Tante berdiri di depan kompor memakai kemeja kotak-kotak milik Rehan yang kemarin dia pakai, dan hanya dua kancing bagian bawah yang terpasang. Ujung kemeja itu jatuh sampai pertengahan paha. Tiap kali Tante mengangkat tangan untuk mengambil garam, bagian belakangnya yang bulat ikut mengintip keluar.Mochi duduk di kursi makan dan mengawasi wajan dengan mata malas."Duduk, Han. Telurnya sebentar lagi mateng," kata Tante tanpa menoleh.Rehan menurut, tapi dia memilih kursi yang menghadap jendela, bukan kompor. Dari kaca jendela dapur, dia bisa melihat pantulan Tante yang sedang menggoyangkan wajan, dan pantulan itu terlalu jelas untuk ukuran pagi hari.Tante berjalan ke kulkas dengan langkah melebar dan kaku, seperti orang yang baru turun dari motor setelah perjalanan jauh."Tante, kakinya kenapa?" tanya Rehan, polos sekali.Tante berbalik sambil menodongkan spatula. "Gara-gara siapa coba?""Saya nggak tahu, Tante.""Kamu tahu. Jangan pura-pura bodoh."
"Tante nyaman. Dari tadi Tante mikirin ini terus." Tante mengangkat wajahnya, dan matanya yang masih basah memantulkan lampu jalan.Layar biru menyala redup di samping kursi Rehan.[Misi: Balas ciuman Tante. Syarat, Tante yang mulai. Reward: 4 poin.]Dalam gelap, dada Tante naik turun di balik kebaya hijau yang tegang, dan tiap tarikan napasnya menekan lengan Rehan. Wangi melati dari sanggulnya bercampur bau keringat dan air mata yang mengering. Lalu Tante menempelkan bibirnya ke bibir Rehan.Hanya menempel, diam, hangat, dan sedikit asin karena air mata. Rehan kaku dengan mulut tertutup rapat dan kedua tangan mencengkeram lututnya sendiri.Tante tertawa kecil di bibir Rehan. "Buka dikit, Han. Kamu kayak lagi dicium tukang parkir.""Maaf, Tante, saya belum pernah," bisik Rehan jujur."Tante tau. Makanya Tante yang ajarin."Ujung lidah Tante menyentuh bibir bawah Rehan. "Mmh, buka dikit, iya, gitu."Rehan membuka mulutnya. Lidah Tante masuk, hangat dan basah, menyentuh lidahnya sekali,
Om muncul dari belakang membawa segelas sirup merah, lalu sengaja memperkeras suaranya supaya terdengar sampai meja sebelah."Sopir saya izin, Bu, jadi anak ini saya pinjam buat nyetir. Soal gemuk, kebayanya sampai kayak lemper, Bu. Udah saya bilangin dari rumah supaya ganti, tapi Ratih ngeyel," kata Om, dan tawanya pecah paling keras di antara semua orang.Saudara-saudara di meja itu ikut tertawa."Lemper isi daging, Mas Burhan, makanya Ratih nggak muat!" seru seorang bibi bersanggul, dan tawa di meja itu pecah lagi, lebih keras.Senyum Tante membeku di wajahnya seperti pajangan toko. Tangan kirinya yang bercincin mencengkeram ujung jarik sampai kain itu kusut, dan Rehan tahu betul perempuan itu sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.Rehan menggenggam tas selempang itu sampai buku jarinya memutih. Mati kutu. Kalau dia maju dan membentak Om di depan saudara-saudara, Om punya alasan sempurna untuk mengusirnya malam ini juga.Kalau Rehan diusir, UKT tidak terbayar. Kala
Tiiin! Tiiin!Klakson mobil Om membelah subuh dari carport, padahal jam dinding kamar tamu baru menunjuk pukul empat lewat lima.Rehan terlonjak dari kasur kempes, lalu mengancingkan kemeja putih lungsuran seragam SMA-nya dengan jari yang masih setengah tidur.Dari kamar Tante terdengar suara yang melengking tapi ditahan supaya tidak sampai ke carport. "Han! Resleting kebaya Tante macet di tengah punggung, dan Mas Burhan udah klakson dua kali! Cepat ke sini, Tante nggak bisa narik sendiri!"Rehan menyelinap masuk, lalu langsung menyesal punya mata. Tante berdiri membelakangi pintu di depan cermin lemari, memakai jarik wiru dan kebaya hijau zamrud yang resletingnya tersangkut di antara dua tulang belikat. Dari celah selebar telapak tangan itu mengintip kulit kuning langsat dan tali BH renda hitam yang baru kemarin mereka beli.Sayang beribu sayang, kebaya itu jelas dijahit saat badan Tante masih sembilan tahun lebih kurus. Kain hijau itu membungkus pinggul Tante sampai jarik di bawahny
Belalang hijau itu melompat keluar dari kerah Rehan, mendarat di tutup kardus, lalu menggosok sungutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Waduh! Si pelaku utama malah santai, sementara korbannya hampir pingsan.Tante tertawa. Bahkan dia tertawa sampai menunduk di punggung Rehan, kardus di pangkuannya miring, dan air mata mengalir di pipinya."Itu tadi belalangnya yang keras, atau punya kamu, Han?" tanya Tante di sela napasnya yang tersengal."Belalangnya, Tante. Punya saya sekarang lagi pingsan," jawab Rehan dengan muka merah sampai ke telinga.Tante tertawa lagi. Telapak tangannya masih menempel di sana sedetik lebih lama dari yang diperlukan, lalu dia menariknya dan pura-pura sibuk membetulkan kardus.‘Jo, kamu masih hidup? Bilang apa kek, jangan diam begitu,’ batin Rehan.[Insiden: belalang di celana. Tante menerima kejadiannya. 3 poin. Saldo 38, XP 52.][XP 52. Rehan naik ke Level 3.][Fitur baru terbuka. Kartu FL dan Gelar.][Paket Naik Level. 3 Poin Atribut dan satu Kotak Kejutan gr







