Accueil / Urban / Tanteku Yang Pengertian / Bab 5 Tante cemburu?

Partager

Bab 5 Tante cemburu?

Auteur: Allina
last update Date de publication: 2026-10-09 16:12:05

Deg!

Rehan baru sadar, ternyata tangannya masih nempel di bagian belakang Tante. Buru-buru ia melepas, sehingga membuat Tante tertawa kecil.

[Tidak sengaja kontak fisik dengan Tante. 1 poin.]

Kemudian, Tante mengambil kebaya itu, lalu mencobanya di balik pintu lemari yang dibuka lebar.

Rehan duduk di pinggir kasur, menatap lantai, mendengar bunyi resleting daster turun, kain berdesir, lalu kancing-kancing kecil dipasang satu per satu.

Pintu lemari tertutup.

Tante kemudian berputar pelan di depan cermin, sekali, dua kali. Lalu matanya menatap Rehan lewat pantulan cermin. "Jujur, Han. Aku bagus nggak pakai ini? Soalnya, udah lama nggak tak pakai semenjak Om-mu ini sering dinas."

Rehan menjawab tanpa berpikir lama. "Tante nggak jelek. Om aja yang matanya rusak. Kalau saya punya istri kayak Tante, saya nggak bakal pisah kamar. Alah, pisah enam jam aja saya enggan, soalnya Tante cantik banget."

Tante diam. Senyumnya hilang, tangannya berhenti di kancing paling atas.

Lalu dia berbalik, berjalan ke pinggir kasur, dan menarik tangan kanan Rehan. Telapak Rehan dia taruh sendiri di pinggangnya, yang terbungkus kain kebaya tipis dan hangat.

"Pinggang Tante masih ramping, kan? Kata Om, pinggang Tante udah kayak wanita yang nggak bisa jaga badannya sendiri. Nggelambir, jelek, banyak lemak."

Rehan cuma bisa mengangguk. Telapaknya panas. Di bawah kain itu, telapaknya menangkap lekuk yang turun lalu naik lagi ke pinggul, bergerak sedikit tiap Tante menarik napas.

Tante melepaskan tangan Rehan pelan-pelan. Dia kembali ke depan cermin, menatap wajahnya sendiri lama, lalu menyentuh pipinya pakai ujung jari, tepat di lesungnya.

[Misi selesai. 1,5 poin masuk. Saldo 6,5, XP 6,5.]

Sorenya, HP Rehan berdering waktu dia sedang menyapu teras belakang.

Pak Rudi Gudang.

Dari seberang terdengar bunyi forklift mundur, bip bip bip, dan teriakan orang menghitung karung. Bunyi yang menemani Rehan tiap malam selama dua tahun.

"Paket HP yang ilang udah saya laporin ke polisi atas nama kamu. Mending kamu ganti rugi aja, sepuluh juta. Batasnya nanti saya kabarin."

Klik.

Sambungan diputus sebelum Rehan sempat menjawab satu kata pun.

Setengah lima sore, pintu kamar tamu diketuk lagi. "Han, bangun. Temenin Tante ke pasar, yuk."

Rehan membuka pintu sambil menguap. Tante sudah siap di lorong, jaket parasut abu-abu menutupi daster lengan panjangnya, tas belanja anyaman tersampir di bahu, rambutnya diikat ekor kuda rendah.

"Sayur di tukang keliling mahal-mahal, Han. Jatah Tante lima puluh ribu, sekarang harus cukup buat bertiga, jaga-jaga kalau Om-mu pulang tiba-tiba kayak kemaren. Ke pasar aja ya, biar bisa nawar," jelas Tante sambil merapatkan resleting jaket.

Tiba-tiba, layar biru muncul.

[Misi: Membuat Tante senang dan menemani belanja di pasar. Reward: 1,5 poin.]

"Saya yang nawar, Tante. Saya dua tahun di gudang, tiap hari debat sama sopir soal berat paket sama tawar-menawar harga," ujar Rehan sambil menyambar jaketnya dari gantungan.

Tante tertawa kecil. "Iya, iya. Tapi Tante ndak bisa nyetir motor, jadi kamu yang bonceng, ya."

Rehan mengangguk.

Lima menit kemudian, motor bebek tua Om di garasi butuh lima kali selah sebelum mau menyala. Asapnya putih, bunyinya batuk-batuk.

Di gerbang komplek, gerobak sayur baru saja masuk. Perempuan yang mendorongnya memakai caping bambu, kebaya kutubaru cokelat yang ketat di dada dan pinggang, lalu kain jarik yang dililit sampai betis.

Begitu melihat Tante dibonceng cowok sebesar Rehan, perempuan itu ngakak sampai capingnya miring.

"Bu Ratih, tumben ke pasar. Terongnya gede-gede hari ini, loh. Buat dimasak bisa, buat yang lain juga bisa. Ehm, saya tahu Bu Ratih butuh buat nganu…"

Tante mencubit pinggang Rehan kuat-kuat dari belakang. "Mbak Ningsih ih, udah mau Magrib ga boleh gitu. Pamali. Udah ah, mesti ngawur omongannya. Udah, Han, jalan, nggak usah dengerin omongan dia!"

"Aduh, iya, Tante, iya!" Rehan menarik gas, sementara tawa Mbak Ningsih masih terdengar sampai tikungan pertama.

Sepanjang perjalanan, Rehan hanya berpikir ucapan Bu Ningsih. Terong untuk yang lain? Untuk nganu? Apa maksudnya nganu?

Semakin dia berpikir, semakin sulit pula menemukan jawabannya.

Tante duduk menyamping di boncengan, satu tangan memegang besi belakang jok, satu lagi memegang tas belanja. Jarak antara punggung Rehan dan dada Tante masih ada, sejengkal, dijaga sopan.

Di tikungan dekat masjid, seekor kucing belang melesat dari bawah gerobak bakso, tepat ke depan ban.

Seketika, Rehan meremas rem.

CIIITTT!

Ban belakang ngepot ke kiri. Motor oleng dan hampir jatuh.

Tante tidak sempat berpegangan apa-apa, jadi badannya terlempar ke depan dan menabrak punggung Rehan penuh-penuh. Kedua lengannya langsung melingkar di perut Rehan, mencengkeram kaus sampai kukunya terasa.

Tuing!

Ada yang aneh. Rasanya terlalu lembek, ah bukan, apa yaa… harusnya ditabrak itu sakit, tapi kenapa terasa seperti memantul gitu? Terus, kenapa kayak ada satu titik yang menekan, seperti ketika pijat totok jari?

Apa jangan-jangan, Tante Ratih nggak pakai…

Argh!

Kucing itu sudah hilang ke gang sebelah. Motor kembali lurus, tapi entah kenapa, pelukan Tante tidak lepas.

"Takut ada kucing lagi," gumam Tante di dekat telinganya, napasnya hangat di tengkuk Rehan, yang hanya dia balas dengan helaan nafas beart.

"Kucingnya lebih galak dari Om, ya. Om aja nggak pernah bikin Tante pegangan sekenceng ini."

Rehan hanya menggeleng dan memperlambat motor sampai jalannya pelan sekali, padahal tidak ada kucing lagi sampai pasar.

[Insiden diterima. 1 poin.]

Sesampainya di pasar, bau ikan, terasi, dan daun pisang bercampur di lorong-lorong becek.

Di lapak ayam, Rehan mengangkat kantong plastik berisi sekilo potongan dada, mengayunkannya sekali, lalu menggeleng.

"Ini nggak sampe sekilo, Pak. Paling sembilan ons kurang dikit. Saya dua tahun ngangkat paket, Pak, tangan saya udah hafal beratnya, timbangan aja kalah!"

Pedagang ayam itu menaruh kantongnya ke timbangan, dan jarumnya berhenti di sembilan ons. Ibu-ibu di sebelah lapak langsung tertawa. Sementara si pedagang, garuk-garuk kepala, lalu menambahkan dua potong ceker sebagai permintaan maaf.

Gara-gara itu, perhatian ibu-ibu di lapak sebelah pindah ke Rehan. Ada yang memandangi dari kepala sampai kaki. Ada yang terang-terangan mencubit lengannya.

"Iki sopo, Bu Ratih? Kok ganteng men, masih perjaka kinyis, ya? Oh iya, Mas-nya kuliah apa kuli tanpa ah?"

"Ponakan saya, Bu. Kuliah di sini. Nanti tiga bulan aja kok di rumah, sampai dapet kerjaan baru," jawab Tante cepat, senyumnya ramah, tangannya menepuk lengan Rehan dua kali.

Ibu-ibu yang tadi mencubit mengulang cubitannya, kali ini lebih lama. "Wihh, gagah banget. Dikasih makan apa to, Bu, ponakannya?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 24 Mmph, jangan berhenti...

    Rehan memegang kedua pinggul Tante dan masuk dari belakang. Tante mendesah panjang, kepalanya terkulai di antara lengannya. "Aah, dalem banget, Han. Lebih dalem lagi. Tante kuat."Plak. Plak. Plak.Bunyi daging bertemu daging memenuhi dapur, dan gelas di atas meja ikut bergetar.Rehan menghentak makin cepat. Pinggul Tante bergoyang mengikuti irama, dan kedua payudaranya ikut terayun di bawah dadanya. Rehan mengulurkan tangan, menangkup salah satunya dari belakang, lalu meremasnya pelan."Mmh, Han, iya, remes. Hhh, Tante, Tante mau keluar!""Saya nggak berhenti, Tante.""Jangan berhenti! Dikit lagi, aah, dikit lagi!""Sayuuur! Bu Ratih! Terongnya baru dateng, Bu!"Celaka tiga belas! Teriakan itu menembus jendela dapur. Gerobak Mbak Ningsih berhenti tepat di depan pagar, rodanya berderit, dan suara perempuan itu terdengar jelas di seberang tembok.Rehan membeku di tengah gerakan. Tante menutup mulutnya dengan telapak tangan, menoleh dengan mata melotot, lalu menggeleng keras ke arah Reh

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 23 Masukin lagi...

    Di ambang dapur, Rehan berhenti. Tante berdiri di depan kompor memakai kemeja kotak-kotak milik Rehan yang kemarin dia pakai, dan hanya dua kancing bagian bawah yang terpasang. Ujung kemeja itu jatuh sampai pertengahan paha. Tiap kali Tante mengangkat tangan untuk mengambil garam, bagian belakangnya yang bulat ikut mengintip keluar.Mochi duduk di kursi makan dan mengawasi wajan dengan mata malas."Duduk, Han. Telurnya sebentar lagi mateng," kata Tante tanpa menoleh.Rehan menurut, tapi dia memilih kursi yang menghadap jendela, bukan kompor. Dari kaca jendela dapur, dia bisa melihat pantulan Tante yang sedang menggoyangkan wajan, dan pantulan itu terlalu jelas untuk ukuran pagi hari.Tante berjalan ke kulkas dengan langkah melebar dan kaku, seperti orang yang baru turun dari motor setelah perjalanan jauh."Tante, kakinya kenapa?" tanya Rehan, polos sekali.Tante berbalik sambil menodongkan spatula. "Gara-gara siapa coba?""Saya nggak tahu, Tante.""Kamu tahu. Jangan pura-pura bodoh."

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 22 Mmh, buka dikit...

    "Tante nyaman. Dari tadi Tante mikirin ini terus." Tante mengangkat wajahnya, dan matanya yang masih basah memantulkan lampu jalan.Layar biru menyala redup di samping kursi Rehan.[Misi: Balas ciuman Tante. Syarat, Tante yang mulai. Reward: 4 poin.]Dalam gelap, dada Tante naik turun di balik kebaya hijau yang tegang, dan tiap tarikan napasnya menekan lengan Rehan. Wangi melati dari sanggulnya bercampur bau keringat dan air mata yang mengering. Lalu Tante menempelkan bibirnya ke bibir Rehan.Hanya menempel, diam, hangat, dan sedikit asin karena air mata. Rehan kaku dengan mulut tertutup rapat dan kedua tangan mencengkeram lututnya sendiri.Tante tertawa kecil di bibir Rehan. "Buka dikit, Han. Kamu kayak lagi dicium tukang parkir.""Maaf, Tante, saya belum pernah," bisik Rehan jujur."Tante tau. Makanya Tante yang ajarin."Ujung lidah Tante menyentuh bibir bawah Rehan. "Mmh, buka dikit, iya, gitu."Rehan membuka mulutnya. Lidah Tante masuk, hangat dan basah, menyentuh lidahnya sekali,

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 21 Misi Kecil

    Om muncul dari belakang membawa segelas sirup merah, lalu sengaja memperkeras suaranya supaya terdengar sampai meja sebelah."Sopir saya izin, Bu, jadi anak ini saya pinjam buat nyetir. Soal gemuk, kebayanya sampai kayak lemper, Bu. Udah saya bilangin dari rumah supaya ganti, tapi Ratih ngeyel," kata Om, dan tawanya pecah paling keras di antara semua orang.Saudara-saudara di meja itu ikut tertawa."Lemper isi daging, Mas Burhan, makanya Ratih nggak muat!" seru seorang bibi bersanggul, dan tawa di meja itu pecah lagi, lebih keras.Senyum Tante membeku di wajahnya seperti pajangan toko. Tangan kirinya yang bercincin mencengkeram ujung jarik sampai kain itu kusut, dan Rehan tahu betul perempuan itu sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.Rehan menggenggam tas selempang itu sampai buku jarinya memutih. Mati kutu. Kalau dia maju dan membentak Om di depan saudara-saudara, Om punya alasan sempurna untuk mengusirnya malam ini juga.Kalau Rehan diusir, UKT tidak terbayar. Kala

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 20 Cepat, Han...

    Tiiin! Tiiin!Klakson mobil Om membelah subuh dari carport, padahal jam dinding kamar tamu baru menunjuk pukul empat lewat lima.Rehan terlonjak dari kasur kempes, lalu mengancingkan kemeja putih lungsuran seragam SMA-nya dengan jari yang masih setengah tidur.Dari kamar Tante terdengar suara yang melengking tapi ditahan supaya tidak sampai ke carport. "Han! Resleting kebaya Tante macet di tengah punggung, dan Mas Burhan udah klakson dua kali! Cepat ke sini, Tante nggak bisa narik sendiri!"Rehan menyelinap masuk, lalu langsung menyesal punya mata. Tante berdiri membelakangi pintu di depan cermin lemari, memakai jarik wiru dan kebaya hijau zamrud yang resletingnya tersangkut di antara dua tulang belikat. Dari celah selebar telapak tangan itu mengintip kulit kuning langsat dan tali BH renda hitam yang baru kemarin mereka beli.Sayang beribu sayang, kebaya itu jelas dijahit saat badan Tante masih sembilan tahun lebih kurus. Kain hijau itu membungkus pinggul Tante sampai jarik di bawahny

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 19 Kotak Kejutan

    Belalang hijau itu melompat keluar dari kerah Rehan, mendarat di tutup kardus, lalu menggosok sungutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Waduh! Si pelaku utama malah santai, sementara korbannya hampir pingsan.Tante tertawa. Bahkan dia tertawa sampai menunduk di punggung Rehan, kardus di pangkuannya miring, dan air mata mengalir di pipinya."Itu tadi belalangnya yang keras, atau punya kamu, Han?" tanya Tante di sela napasnya yang tersengal."Belalangnya, Tante. Punya saya sekarang lagi pingsan," jawab Rehan dengan muka merah sampai ke telinga.Tante tertawa lagi. Telapak tangannya masih menempel di sana sedetik lebih lama dari yang diperlukan, lalu dia menariknya dan pura-pura sibuk membetulkan kardus.‘Jo, kamu masih hidup? Bilang apa kek, jangan diam begitu,’ batin Rehan.[Insiden: belalang di celana. Tante menerima kejadiannya. 3 poin. Saldo 38, XP 52.][XP 52. Rehan naik ke Level 3.][Fitur baru terbuka. Kartu FL dan Gelar.][Paket Naik Level. 3 Poin Atribut dan satu Kotak Kejutan gr

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status