Share

Bab 58

Author: Allina
last update publish date: 2026-11-01 22:53:15

Rehan berdiri di ruang tengah dengan handuk di leher. Tante tidak bertanya soal kolam, tidak bertanya soal Wulan, dan tidak marah. Justru karena itu, sayur asem besok subuh terasa seperti hukuman yang dibungkus perhatian.

Di kamar tamu, Rehan telentang dengan rambut yang masih lembap. Matanya terbuka menatap langit-langit, karena kepalanya tidak mau berhenti menghitung.

Sepuluh juta dalam empat belas hari. Gaji kafe empat minggu belum tentu sampai satu juta, dan Menu Sistem berikutnya belum ten
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 62

    Laras menjerit. Detik berikutnya, dia sudah memeluk Rehan dari samping, kedua lengannya melingkari lengan kanan Rehan erat-erat.Dada Laras menempel penuh di lengan Rehan. Kaus putih tipis itu tidak menghalangi apa-apa, sehingga Rehan bisa merasakan dua gumpalan hangat yang lembut dan penuh, lengkap dengan dua titik kecil yang mengeras di tengahnya.[Insiden diterima. Laras memeluk dalam gelap. 1 poin.]Laras berbisik dengan suara gemetar. "Mas, itu bukan gara-gara aku, kan? Aku cuma nyabut catokan.""Bukan, Mbak. Petirnya nyambar gardu listrik, makanya satu blok mati."Laras tidak melepas pelukannya. Rehan juga tidak berani bergerak, karena setiap kali dia menarik napas, lengannya makin tenggelam di dada itu.Sialnya, ponsel di tangan Laras tiba-tiba berbunyi nyaring.Layar ponsel itu menerangi wajah Laras dari bawah. Panggilan video. Di layarnya tertulis Suamiku, lengkap dengan emotikon hati merah.Wajah Laras langsung pucat. "Mas! Suamiku! Dia nggak tahu ada cowok di sini!""Ya uda

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 61

    Om tiba-tiba mengangkat wajah dari ponselnya dan menatap Rehan. "Kamu. Kapan bayar uang numpang? Lima ratus ribu sebulan, udah lewat tanggal."Telapak kaki Tante menekan sekali lagi, lebih kuat.Suara Rehan keluar serak dan patah-patah, seperti orang yang baru keselek. "Hhh, i-iya, Om. A-akhir bulan, Om. Saya, saya usahain akhir bulan. Gajinya kafe baru masuk Sabtu."Om menyipitkan mata. "Kenapa suaramu begitu? Sakit?""Ke-keselek sambel, Om."Tante menyendok sayur asem lagi ke mangkuk Om, masih tanpa mengubah raut wajahnya. Bau terasi dari kaus Rehan tercium sampai ke seberang meja, dan Rehan tahu Tante mencium bau itu juga.Kaki Tante tidak turun sampai Om selesai makan.Om berangkat ke kantor jam tujuh. Rehan menghembuskan napas panjang begitu sedan itu keluar dari carport, sementara Tante membereskan piring tanpa menoleh ke arahnya.Sepuluh menit kemudian, ponsel Tante yang tergeletak di meja makan menyala.Tante membaca layarnya. Wajahnya berubah. Lalu dia menyodorkan ponsel itu

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 60

    Rehan duduk bersila di depannya. Jantungnya mulai berdebar."Aku jualan sayur di komplek ini udah enam tahun, Mas. Aku hafal siapa beli apa, tiap hari."Mbak Ningsih mengangkat satu jari. "Satu. Belanjaan Bu Ratih berubah sejak Mas datang. Dulu dia beli buat satu orang, hemat banget, kayak takut duitnya ketahuan. Sekarang buat dua orang, dan yang satunya makannya banyak."Jari kedua terangkat. "Dua. Aku lihat sendiri Bu Ratih keluar pagar pakai kemeja cowok yang kebesaran, pagi-pagi, dengan leher merah. Kemeja itu bukan punya Pak Burhan. Pak Burhan nggak mungkin muat."Rehan menelan ludah. Mbak Ningsih tidak berhenti.Jari ketiga dan keempat menyusul. "Tiga. Di tempat cuci piring Bu Ratih ada dua cangkir kopi tiap pagi, padahal Pak Burhan lagi di luar kota. Empat, ada lingerie hitam dijemur di belakang, renda-renda, yang sebelumnya nggak pernah ada di jemuran rumah itu selama enam tahun."Jari kelimanya terangkat pelan. "Lima. Terong.""Mbak, saya bisa jelasin."Mbak Ningsih meletakka

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 59

    Setelah itu, Mbak Ningsih membetulkan lilitan jariknya dengan cekatan sambil bersenandung lagu campursari. Lalu dia membuka terpal gerobak. "Mau belanja apa, Mas?""Bahan sayur asem, Mbak. Pesanan Tante."Tangan Mbak Ningsih bergerak cepat mengambil kacang panjang, labu siam, jagung muda, dan asam jawa. "Sayur asem, ya. Pantes subuh-subuh. Biasanya Bu Ratih nggak pernah beli sebanyak ini. Sekarang tiap hari belanjanya kayak buat dua orang lapar."Rehan tidak menjawab. Dia pura-pura sibuk memeriksa kantong belanja.Mbak Ningsih tidak menunggu jawaban. Dia memasukkan labu siam ke kantong sambil mengecilkan suaranya. "Kemarin sore Bu Siska belanja di gerobakku, Mas. Lama banget milih tomat, padahal yang dia mau cuma cerita.""Cerita apa, Mbak?"Mbak Ningsih mendengus. "Katanya Bu Ratih piara brondong. Brondongnya suka basah-basahan di rumah janda sama istri pelaut."Dia menyodok tumpukan tomat dengan kesal. "Aku bilang aja, brondong yang mana, Bu? Yang tiap hari dorong gerobakku di tanja

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 58

    Rehan berdiri di ruang tengah dengan handuk di leher. Tante tidak bertanya soal kolam, tidak bertanya soal Wulan, dan tidak marah. Justru karena itu, sayur asem besok subuh terasa seperti hukuman yang dibungkus perhatian.Di kamar tamu, Rehan telentang dengan rambut yang masih lembap. Matanya terbuka menatap langit-langit, karena kepalanya tidak mau berhenti menghitung.Sepuluh juta dalam empat belas hari. Gaji kafe empat minggu belum tentu sampai satu juta, dan Menu Sistem berikutnya belum tentu menawarkan uang sebanyak itu. Membayar Rudi juga sama saja dengan mengaku mencuri.Jadi pilihannya tinggal satu, yaitu membuktikan bahwa dia tidak mencuri. Gudang Kilat Cargo punya kamera di pintu belakang, dan satpam malamnya dulu sering mengobrol dengan Rehan sambil merokok di pos. Kalau rekaman malam itu masih ada, Rudi yang akan kalah.Masalahnya, Rehan bahkan tidak ingat nama satpam itu. Dia hanya ingat bapak itu selalu membeli baterai senter di toko elektronik dekat komplek.Dengan piki

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 57

    "Kok Mbak tahu soal kasir minimarket?"Wulan tertawa lagi, lalu berenang mendekat sampai air di dada mereka beriak. "Satu komplek tahu, Rehan. Ibu-ibu di minimarket kemarin itu ikut arisanku. Tapi nggak papa. Hitam cocok buat kamu."Mereka berdiri berhadapan di bagian dangkal, air setinggi dada Rehan dan setinggi bahu Wulan. Wulan menyandarkan punggungnya ke dinding kolam, dan rambut basahnya menempel di leher.Wajah Wulan berubah. Senyumnya masih ada, tetapi matanya tidak lagi bercanda.Wulan berbisik. "Selasa kemarin kamu berhenti di pangkal pahaku. Gara-gara Ratih manggil dari pagar.""Iya, Mbak."Di bawah air, tangan Wulan meraih pergelangan tangan Rehan. "Malam ini Ratih nggak ada. Aku yang minta. Kamu boleh nolak."Rehan tidak menolak.Wulan menuntun tangan Rehan turun ke bawah air, melewati perutnya yang rata, lalu berhenti di antara pahanya. Kulit di sana terasa lebih hangat daripada air kolam, lembut dan licin.Wulan berbisik. "Di situ. Pakai jarimu. Pelan dulu."Rehan mengge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status