ログイン"Nasi kucing, katanya," jawab Tante sambil melirik Rehan, ujung bibirnya naik menahan senyum. Entah kenapa, Tante Ratih seperti tidak suka apabila ada yang menggoda Rehan, mana yang menggoda sesama emak-emak berdaster!
Setiap selesai membayar, Tante meminta pedagang menuliskan nota di sobekan kertas.
Pertama, pedagang ayam menulis di sobekan kardus.
Kedua, pedagang bawang menulis di bungkus rokok.
Lalu pedagang cabai cuma bengong. "Nota? Iki pasar, Bu. Cabe seribu pakai nota? Ish, ada-ada aja!"
"Ditulis aja, Pak, tolong. Seribu juga nggak apa-apa, yang penting ada tanda-tangan Bapak di sana," pinta Tante pelan, tidak berani menatap wajah pedagang itu.
Rehan melihat Tante menyimpan sobekan-sobekan itu rapi di dompet kecilnya, ditumpuk, dilipat, diurutkan. Kardus, bungkus rokok, kertas koran, sesuai yang diberikan masing-masing pedagang.
Di lapak ikan, Tante menunjuk ikan nila di ember. Waktu tangannya terangkat, cincin kawin di jari manisnya meluncur lepas dan memantul di pinggir ember.
Tante menangkapnya tepat sebelum cincin itu tenggelam ke air keruh. Dia memasukkannya lagi ke jari, mendorongnya sampai mentok. "Cincinnya longgar sekarang. Dulu masuk loh, pas, tapi sekarang, kayaknya jemari Tante yang tambah kecil."
"Tante kurusan kali."
Tante melirik Rehan lama, lebih lama dari yang perlu, lalu kembali menawar nila tanpa berkata apa-apa.
[Misi selesai. 1,5 poin masuk.]
Setelah misi itu selesai, mereka kembali pulang. Tante masuk lebih awal, sedangkan Rehan harus memarkir motor dengan jagang tengah. Dan tepat sebelum Rehan masuk, sebuah notifikasi muncul.
[Misi: Masakin sarapan buat Tante. Reward: 0,5 poin.]
Komentar, [Tante bilang enak dan muji masakan, tambahan 1 poin. Total: 1,5 poin]
Rehan memasak nasi goreng teri resep Ibu. Teri digoreng garing dulu, bawang merahnya diiris tipis, cabainya diulek kasar, lalu kecapnya sedikit saja biar warnanya cokelat muda.
Tante menonton dari meja makan dengan dagu ditopang tangan.
Daster batiknya yang longgar terbuka di bagian kerah, dan tiap kali dia mencondongkan badan untuk mengintip wajan, belahan dadanya kelihatan jelas sampai ke bayangan gelap di bawahnya.
"Kamu masak kok kayak kasar banget gitu. Wajannya kasihan loh, kamu kemplank-kemplank gitu di atas api," goda Tante, lalu condong lebih jauh ke depan, kerah dasternya ikut melorot sejari.
"Biar terinya garing, Tante." Rehan memalingkan muka ke wajan karena terinya hampir gosong.
Asap tipis naik, bau gosong menyebar ke ruang makan.
Tante tertawa sampai menepuk-nepuk meja, sementara Rehan buru-buru mengangkat wajan dari kompor sambil mengipas pakai tutup panci.
Saat makanan jadi, Rehan meletakkannya di depan Tante.
"Enak rasanya, kayak masakan mendiang Mama kamu. Dulu tiap Tante main ke rumah, Mama kamu masakin ini. Tante nambah terus sampai Mama kamu ngomel," bisik Tante sambil menutup mulut pakai punggung tangan.
Rehan cuma mengangguk. Dia sendiri belum bisa menyuap piringnya sendiri.
[Misi selesai. 0,5 poin masuk. Tante bilang enak, tambah 1 poin. Saldo 10,5, XP 10,5.]
***
Keesokan siangnya, presentasi Pengantar Bisnis kelompok Bimo dimulai di ruang 3.04.
Rehan menjelaskan bagian analisis pasarnya dengan lancar, pakai contoh harga ongkir dari gudang yang dia hafal di luar kepala. Nilai kelompok mereka keluar B plus.
Teman-teman memujinya, tapi Rehan memilih cepat pulang daripada makan bersama teman-temannya.
Yang ada di pikirannya hanyalah, apa Tante Ratih kesepian? Apa Tante sudah makan? Apa Tante baik-baik aja pasca kepulangan Om Burhan kemarin?
Buru-buru, Rehan pulang ke rumah. Dan benar saja, galon di rumah habis, lalu got depan rumah meluap.
Karena tidak mau nanti malam banyak nyamuk dan Tante tidak bisa tidur, Rehan inisiatif untuk membeli dua galon di minimarket sekaligus mengeruk got depan rumah sampai lumpurnya menempel di betis. Suruhan Om masih berlaku walau orangnya di Semarang.
Tante keluar membawa segelas es teh, lalu berdiri di pinggir got memperhatikan Rehan mengangkat sekop penuh lumpur. Kaus Rehan sudah basah keringat, menempel di punggung dan lengan.
"Om aja nggak pernah ngeruk got sendiri. Biasanya nyuruh tukang, terus tukangnya diomelin," ujar Tante sambil menyodorkan gelas, matanya tidak pindah dari lengan Rehan yang belepotan.
"Saya kan tukangnya, Tante. Bedanya, tukang panggilan dibayar, Rehan nggak."
Tante tertawa kecil, tapi tidak masuk-masuk ke rumah sampai gelas es teh itu kosong.
Sesudah magrib, Tante masuk kamar lebih cepat dari biasanya. Katanya capek, tapi Rehan bingung capek kenapa, mengingat seharian ini Tante Ratih hanya berdiam diri di rumah.
Rehan pun merevisi tugas dari dosen.
Pukul delapan, dia ingin ke dapur mengambil minum. Tapi saat lewat depan kamar tante, Rehan tidak sengaja mendengar suara napas berat dari balik pintu.
“Hah…”
“Mas Burhan… Mas, aku pingin, Mas…”
Deg!
Itu, kan, suara Tante?
Lalu, kenapa suara itu diiringi selingan napas yang terputus-putus? Belum lagi, bunyi per kasur berderit sekali, dua kali, seperti sedikit bergoyang?
Karena tidak mau mengganggu, pemuda itu berjalan jinjit kembali ke kamarnya sendiri, dan menutup pintu tanpa suara.
Meski sudah 1 jam berlalu, bayangan tadi masih menghantui Rehan. Argh, suara Tante yang cantik, sangat menggoda. Tapi ia sadar, ia tidak boleh suka pada tantenya sendiri. Karena itu, ia membuka ponsel untuk melihat portal website kampus.
Tagihan UKT semester dua, Rp3.400.000. Batas pembayaran 28 hari lagi. Tulisannya merah, tebal, ditambah tanda seru di ujungnya.
Rehan kemudian menghitung poin yang dia dapat. Sepuluh poin cuma dapat seratus ribu. Berarti, dia butuh 340 poin untuk membayar UKT.
‘Napas buatan tiga poin. Berarti aku harus kesetrum sehari tiga kali, terus dikasih napas buatan seratus kali lebih. Asem lah, kesetrum juga sakit, bisa-bisa aku mati jadi manusia listrik!’ gerutu Rehan dalam hati.
Komentar, [Reward napas buatan harus dilakukan jika dua belah pihak sama-sama mau. Sistem tidak memberi poin untuk ketidaksengajaan.]
Sial!
Akhirnya, Rehan memutuskan tidur. Tapi, sampai tengah malam, pikirannya masih penuh, terutama seputar kondisi Tante Ratih yang tadi napasnya tersenggal-senggal.
Tak lama, pintu kamarnya diketuk pelan. "Han... kamu udah tidur belum?"
Rehan membuka pintu.
Tante Ratih berdiri di lorong memakai daster batik biru tua. Rambutnya awut-awutan, sebagian lepas dari ikatan dan menempel di pelipis yang basah keringat. Wajahnya pucat. Tangan kanannya mencengkeram ujung daster di depan paha, kuat sekali sampai kainnya kusut, sementara matanya terpaku ke lantai.
"Tante kenapa? Sakit?" Rehan bertanya sambil menunduk ke bawah.
Mendengar itu, Tante menggeleng cepat, lalu memutar telunjuknya di dasternya sendiri. Entah kenapa, ia nampak gugup. "Ndak, ndak sakit. Mm, itu, anu Han, kamu punya pinset nggak?"
"Pinset buat apa, Tante, malem-malem begini?"
Tante tidak menjawab. Dia malah menunjuk tangan Rehan pakai dagu. "Jari kamu... panjang nggak, sih?"
Rehan memegang kedua pinggul Tante dan masuk dari belakang. Tante mendesah panjang, kepalanya terkulai di antara lengannya. "Aah, dalem banget, Han. Lebih dalem lagi. Tante kuat."Plak. Plak. Plak.Bunyi daging bertemu daging memenuhi dapur, dan gelas di atas meja ikut bergetar.Rehan menghentak makin cepat. Pinggul Tante bergoyang mengikuti irama, dan kedua payudaranya ikut terayun di bawah dadanya. Rehan mengulurkan tangan, menangkup salah satunya dari belakang, lalu meremasnya pelan."Mmh, Han, iya, remes. Hhh, Tante, Tante mau keluar!""Saya nggak berhenti, Tante.""Jangan berhenti! Dikit lagi, aah, dikit lagi!""Sayuuur! Bu Ratih! Terongnya baru dateng, Bu!"Celaka tiga belas! Teriakan itu menembus jendela dapur. Gerobak Mbak Ningsih berhenti tepat di depan pagar, rodanya berderit, dan suara perempuan itu terdengar jelas di seberang tembok.Rehan membeku di tengah gerakan. Tante menutup mulutnya dengan telapak tangan, menoleh dengan mata melotot, lalu menggeleng keras ke arah Reh
Di ambang dapur, Rehan berhenti. Tante berdiri di depan kompor memakai kemeja kotak-kotak milik Rehan yang kemarin dia pakai, dan hanya dua kancing bagian bawah yang terpasang. Ujung kemeja itu jatuh sampai pertengahan paha. Tiap kali Tante mengangkat tangan untuk mengambil garam, bagian belakangnya yang bulat ikut mengintip keluar.Mochi duduk di kursi makan dan mengawasi wajan dengan mata malas."Duduk, Han. Telurnya sebentar lagi mateng," kata Tante tanpa menoleh.Rehan menurut, tapi dia memilih kursi yang menghadap jendela, bukan kompor. Dari kaca jendela dapur, dia bisa melihat pantulan Tante yang sedang menggoyangkan wajan, dan pantulan itu terlalu jelas untuk ukuran pagi hari.Tante berjalan ke kulkas dengan langkah melebar dan kaku, seperti orang yang baru turun dari motor setelah perjalanan jauh."Tante, kakinya kenapa?" tanya Rehan, polos sekali.Tante berbalik sambil menodongkan spatula. "Gara-gara siapa coba?""Saya nggak tahu, Tante.""Kamu tahu. Jangan pura-pura bodoh."
"Tante nyaman. Dari tadi Tante mikirin ini terus." Tante mengangkat wajahnya, dan matanya yang masih basah memantulkan lampu jalan.Layar biru menyala redup di samping kursi Rehan.[Misi: Balas ciuman Tante. Syarat, Tante yang mulai. Reward: 4 poin.]Dalam gelap, dada Tante naik turun di balik kebaya hijau yang tegang, dan tiap tarikan napasnya menekan lengan Rehan. Wangi melati dari sanggulnya bercampur bau keringat dan air mata yang mengering. Lalu Tante menempelkan bibirnya ke bibir Rehan.Hanya menempel, diam, hangat, dan sedikit asin karena air mata. Rehan kaku dengan mulut tertutup rapat dan kedua tangan mencengkeram lututnya sendiri.Tante tertawa kecil di bibir Rehan. "Buka dikit, Han. Kamu kayak lagi dicium tukang parkir.""Maaf, Tante, saya belum pernah," bisik Rehan jujur."Tante tau. Makanya Tante yang ajarin."Ujung lidah Tante menyentuh bibir bawah Rehan. "Mmh, buka dikit, iya, gitu."Rehan membuka mulutnya. Lidah Tante masuk, hangat dan basah, menyentuh lidahnya sekali,
Om muncul dari belakang membawa segelas sirup merah, lalu sengaja memperkeras suaranya supaya terdengar sampai meja sebelah."Sopir saya izin, Bu, jadi anak ini saya pinjam buat nyetir. Soal gemuk, kebayanya sampai kayak lemper, Bu. Udah saya bilangin dari rumah supaya ganti, tapi Ratih ngeyel," kata Om, dan tawanya pecah paling keras di antara semua orang.Saudara-saudara di meja itu ikut tertawa."Lemper isi daging, Mas Burhan, makanya Ratih nggak muat!" seru seorang bibi bersanggul, dan tawa di meja itu pecah lagi, lebih keras.Senyum Tante membeku di wajahnya seperti pajangan toko. Tangan kirinya yang bercincin mencengkeram ujung jarik sampai kain itu kusut, dan Rehan tahu betul perempuan itu sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.Rehan menggenggam tas selempang itu sampai buku jarinya memutih. Mati kutu. Kalau dia maju dan membentak Om di depan saudara-saudara, Om punya alasan sempurna untuk mengusirnya malam ini juga.Kalau Rehan diusir, UKT tidak terbayar. Kala
Tiiin! Tiiin!Klakson mobil Om membelah subuh dari carport, padahal jam dinding kamar tamu baru menunjuk pukul empat lewat lima.Rehan terlonjak dari kasur kempes, lalu mengancingkan kemeja putih lungsuran seragam SMA-nya dengan jari yang masih setengah tidur.Dari kamar Tante terdengar suara yang melengking tapi ditahan supaya tidak sampai ke carport. "Han! Resleting kebaya Tante macet di tengah punggung, dan Mas Burhan udah klakson dua kali! Cepat ke sini, Tante nggak bisa narik sendiri!"Rehan menyelinap masuk, lalu langsung menyesal punya mata. Tante berdiri membelakangi pintu di depan cermin lemari, memakai jarik wiru dan kebaya hijau zamrud yang resletingnya tersangkut di antara dua tulang belikat. Dari celah selebar telapak tangan itu mengintip kulit kuning langsat dan tali BH renda hitam yang baru kemarin mereka beli.Sayang beribu sayang, kebaya itu jelas dijahit saat badan Tante masih sembilan tahun lebih kurus. Kain hijau itu membungkus pinggul Tante sampai jarik di bawahny
Belalang hijau itu melompat keluar dari kerah Rehan, mendarat di tutup kardus, lalu menggosok sungutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Waduh! Si pelaku utama malah santai, sementara korbannya hampir pingsan.Tante tertawa. Bahkan dia tertawa sampai menunduk di punggung Rehan, kardus di pangkuannya miring, dan air mata mengalir di pipinya."Itu tadi belalangnya yang keras, atau punya kamu, Han?" tanya Tante di sela napasnya yang tersengal."Belalangnya, Tante. Punya saya sekarang lagi pingsan," jawab Rehan dengan muka merah sampai ke telinga.Tante tertawa lagi. Telapak tangannya masih menempel di sana sedetik lebih lama dari yang diperlukan, lalu dia menariknya dan pura-pura sibuk membetulkan kardus.‘Jo, kamu masih hidup? Bilang apa kek, jangan diam begitu,’ batin Rehan.[Insiden: belalang di celana. Tante menerima kejadiannya. 3 poin. Saldo 38, XP 52.][XP 52. Rehan naik ke Level 3.][Fitur baru terbuka. Kartu FL dan Gelar.][Paket Naik Level. 3 Poin Atribut dan satu Kotak Kejutan gr







