LOGINLeonardo Moretti me deixou sangrando, grávida, na porta de um hospital — e foi buscar sua cliente. Por causa disso, perdi o bebê. Eu estava fraca, e mesmo assim, ele fez questão de colocar gelo no meu ventre, como se quisesse me punir. Naquela mesma noite, ele e Valentina Rocha transaram no quarto ao lado. Ela deixou a calcinha, como provocação. Os pais de Leonardo vieram visitar o neto — sem saber que eu já havia sofrido um aborto. Ele fingiu arrependimento, mas no nosso último jantar, mais uma vez, correu para atender Valentina. Depois que fui embora, ele finalmente descobriu a verdade. Se desesperou. Me procurou, pediu perdão. Eu não aceitei. Nós nos divorciamos. Anos depois, quando todos descobriram que eu era a herdeira da empresa, veio o choque... e o arrependimento. Leonardo terminou em estado vegetativo, deixando para Valentina uma dívida que ela não podia pagar. E eu? Encontrei alguém novo. Alguém que realmente me escolheu.
View More"Kenapa kamu tidak mau membantuku?"
"Kamu lihat sendiri. Aku sibuk.""Sibuk apanya? Kamu cuma baca koran sejak pagi!"Tidak ada jawaban.Kerutan di kening Leina makin banyak, membuktikan betapa kesal dia melihat Arsen, pria tiga puluh tahunan yang duduk santai membaca koran di balik meja kerjanya.Leina sudah setengah jam berdiri di hadapan pria itu, mengomel tanpa henti. Akan tetapi, dia masih tak dipedulikan."Arsen! Kamu beneran tidak mau membantu sekalipun aku yang minta tolong!" teriaknya."Tidak.""Keterlaluan!" Leina mengamuk sampai menggebrak meja. Gebrakan tersembut sampai membuat tumpukan buku di pinggir meja berjatuhan.Arsen menghela napas panjang, lalu melipat korannya dan ditaruh di meja. Dia mengangkat wajah sehingga bisa melihat raut wajah marah sang asisten itu.Seperti biasa, dia selalu memperlihatkan sorot mata acuh dan datar. Tidak ada seorang pun yang paham apa yang dia pikirkan."Kamu benar-benar tidak punya hati, aku kecewa padamu!" lanjut Leina dipenuhi perasaan murka. Dia menuding pria itu, lalu menuduh, "aku tahu kenapa kamu tidak mau membantuku ... Kamu diam-diam menerima permintaan kasus dari Serena, iya 'kan?""Memang iya.""Kenapa kamu mau menerima permintaannya?""Kamu sendiri yang bilang kita tidak boleh pilih kasih klien, Serena menyewa jasaku, jadi apa salahnya?""Dia 'kan juga detektif, kenapa selalu saja minta tolong kamu yang menyelesaikan kasusnya? Kalian itu bukan rekan kerja!""Kali ini dia bukan ingin menyelesaikan kasus orang lain, tapi dia yang dalam masalah. Karena itulah dia menyewaku jadi bodyguard.""Dalam bahaya apanya! Kamu cuma mau berdekatan dengannya saja!""Sudahlah, jangan mengomel terus. Lebih baik kamu buatkan aku kopi, oke?"Leina seperti ingin menangis. Dia marah, cemburu, semuanya jadi satu. Kepalanya menggeleng tidak percaya— ternyata Arsen lebih memilih membantu saingan bisnis mereka ketimbang dirinya sekarang.Arsen bertanya, "kenapa kamu melihatku seperti itu?""Padahal aku yang meminta tolong, aku asistenmu 'kan? Tapi kamu selalu mementingkan detektif wanita itu.""Apa ini sikapmu kalau meminta tolong? Barusan menggebrak meja, lalu mengomeliku?"Tak ada sahutan dari mulut Leina. Rasa cemburu terhadap Serena terlalu memenuhi hati dan pikirannya.Arsen berdiri dari tempatnya duduk. Setelahnya, dia memutari meja, mendekati sang asisten itu.Dia menyentuh dagu Leina, dipaksa agar menatap wajahnya. Dengan suara pelan, dia berkata, "oke. kamu bilang kamu mau minta tolong? Kalau begitu coba minta tolong dengan lebih lembut."Napas Leina tertahan. Berdekatan dengan Arsen sangat mendebarkan jantung. Jarang sekali pria ini memperlakukannya begini. Di posisi begitu, wajah mereka begitu berdekatan.Wajah tampan mempesona, sorot mata yang begitu menawan. Itulah yang dipikirkan oleh Leina saat menatap Arsen. Sudah tiga tahun dia bekerja untuk pria itu, dan selama itu pula— dia mencintainya.Arsen tersenyum. Dia berkata lagi, "Kenapa diam saja? Apa lidahmu mendadak kaku? Sesekali kalau mau minta tolong itu jangan berteriak-teriak ini, coba dekati aku, lalu rayu aku ... aku akan membantumu."Untuk sesaat, Leina merasa terbang mendengar kata manis itu. Terlebih senyuman Arsen begitu membiusnya.Apa Arsen menggodanya? Apa pria ini menyukainya?, Itulah yang terlintas di pikirannyaTetapi, kemudian dia sadar— Arsen memang perayu handal. Dia tidak merayu orang lain karena menyukainya, melainkan untuk mendapatkan informasi atau menenangkan orang yang sedang marah.Iya, seperti dirinya yang tengah emosi sekarang, tentu saja Arsen akan merayu.Leina mendorong dada Arsen, enggan melihat wajahnya. "Jangan menggodaku!""Sudah kuduga, kamu tidak bisa berkata manis.""Bagaimana bisa aku berkata manis? Kamu saja tidak mau membantuku. Tapi, kalau urusan Serena selalu nomer satu.""Kerjasama dengan Serena itu penting, dia punya akses informasi di kepolisian.""Jangan bohong, bilang saja kalau kamu memang suka padanya! Akui sekarang!""Kenapa pembicaraan kita jadi melebar begini?""Pasti sebentar lagi kamu akan ke rumahnya. Iya 'kan?""Apapun yang kulakukan, itu adalah urusan pekerjaan."Leina menahan emosi. Perasaan cemburunya semakin besar dan besar saja. Dia memang tidak punya hak melarang Arsen kemanapun, tapi tetap saja— dia tidak terima.Dia menatap mata pria itu dengan serius. "Sekarang jawab saja, apa kamu mau membantuku atau tetap memilih menangani kasus Serena?""Serena sedang dalam bahaya, dia diincar oleh pembunuh bayaran. Aku harus melindunginya sementara.""Intinya kalau dia yang dalam bahaya, kamu lebih mementingkannya? Bagaimana kalau aku yang dalam bahaya?""Bahaya apa? Kamu cuma mau buang-buang waktu saja 'kan?""Aku mau menyelamatkan anak mendiang temanku yang diculik. Bagaimana kalau dia dibunuh? Sampai hati kamu bilang aku buang-buang waktu?""Penculikan itu kasusnya polisi, laporkan saja sana. Kita tidak mengurus kasus beginian.""Jadi, kamu tidak mau membantu?""Tidak mau."Dada Leina sangat sakit mendengar penolakan itu. Dia merasa sangat kecewa sekaligus marah."Sudah cukup! Aku tidak akan meminta bantuanmu lagi!" Dia segera pergi dari ruangan itu, lalu membanting pintu dengan keras.Setelah beberapa saat wanita itu pergi, pintu toilet di ruangan itu terbuka. Terlihatlah, seorang pria seumuran dengannya berjaket hitam keluar.Dia berkata, "wah, Leina kalau mengomel seram sekali. Aku sampai tidak berani keluar toilet dari tadi."Arsen melihat ke pintu yang barusan dibanting Leina. Sorot matanya berubah sedih."Tapi, Arsen, tega sekali kamu. Kenapa tidak membantunya saja?""Apanya yang dibantu? Leina itu bohong, cuma mengarang saja untuk cari perhatian. Dia selalu begitu kalau aku membantu Serena.""Sudah jelas 'kan alasannya? Dia cemburu, loh. Jangan jahat-jahat begini. Kenapa kamu tidak mau perhatian sedikit padanya? Apa nunggu dia pergi dulu baru kamu sadar?""Hans, jangan dibahas." Arsen menoleh. Dia enggan membahas Leina, jadi bertanya, "jadi, bagaimana penyelidikanmu? Siapa yang mengincar Serena?""Aku sudah kirim berkasnya ke alamat e-mail-mu. Coba lihat."Arsen mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Dia melihat kiriman e-mail dari Hans. Ada foto seorang pria misterius di dalam berkas itu."Mereka sampai berani menyewa pembunuh bayaran seperti ini, Serena serius dalam masalah," katanya.***Depois daquele escândalo, a relação entre Leonardo e Valentina desmoronou de vez.A maneira como ele a tratava foi ficando cada vez mais fria, distante.Certa vez, Valentina o traiu. A transa foi tão violenta que ela acabou sofrendo um aborto.Quando Leonardo soube, perdeu completamente o controle. No meio da madrugada, espancou Valentina até mandar ela para o hospital.Ela ria como uma louca.— Pode me matar, que eu continuo sendo a dona do Plenitax. Você tem medo do que os outros vão pensar? Eu não tenho mais nada a perder!Os olhos de Leonardo estavam vermelhos de fúria.— Sua vagabunda. Casada e se esfregando com outro homem. Nem vergonha na cara você tem. Não tem medo de pegar alguma doença?Valentina deu uma gargalhada debochada.— E não foi exatamente assim que eu te conquistei?Ao ouvir aquilo, Leonardo perdeu todas as forças. Afundou-se na poltrona, cobriu o rosto com as mãos e deixou as lágrimas escorrerem entre os dedos.Ele decidiu se divorciar. Mas Valentina não aceitava d
Ele me abraçou com força. De repente, senti um arrepio frio na nuca.Leonardo chorava.A voz dele tremia.— Clara, me dá mais uma chance. Não me abandona. Eu não quero me separar de você, de verdade. Clara, por favor, não vai embora.Amar é simples. Deixar de amar também.Difícil é quando os dois se amam ao mesmo tempo.Afastei as mãos dele com firmeza e encarei seus olhos marejados.— Se você realmente quer o meu bem, então assina.Leonardo ficou parado, olhando na direção por onde eu saí. Sentia o peito apertar tanto que mal conseguia respirar.Clara. A Clara dele.Ele acabou assinando. Eu o conhecia bem demais. Um advogado como ele jamais aceitaria passar por uma humilhação pública dessas.Com o tempo, fui dominando cada vez melhor os assuntos da empresa. Tudo foi ficando mais fácil de administrar.Um dia, uma xícara de leite quente apareceu sobre a minha mesa. Era Gabriel.— Srta. Clara, você precisa cuidar da saúde. Tire um tempo pra descansar.Naquele momento, eu já trabalhava se
— Assina logo o divórcio. Vai ser melhor pra mim, pra você e até pra Valentina. — Falei com firmeza.Na saída, Gabriel ainda fez questão de cutucar:— Valentina, qualquer hora a gente troca umas ideias sobre como é ser amante, tá?Leonardo se desesperou. Vendo a gente indo embora, correu atrás.— Clara, espera. Vamos conversar.Encarei-o com calma.— Conversar o quê, Leonardo? O que ainda tem pra dizer?Ele se pôs à minha frente, insistente. Ficou em silêncio por um segundo, depois murmurou:— Eu... fui insensível. Não pensei direito. Fiz você sofrer. Sobre o bebê, eu...Pausou.— Eu sinto muito. Por você, pelo nosso filho. Mas ainda podemos ter outro. Podemos voltar a ser como antes. Não vamos nos divorciar.Nos últimos dois anos, os conflitos entre nós só aumentaram. E Leonardo nunca tentou resolver nada. Sempre preferia fugir.Não lembrava mais da última vez que ele foi sincero desse jeito. Fazia tanto tempo que até a memória estava embaçada.Assim como o amor.— Já é tarde.Empurre
Assim que o elevador se abriu, vi Leonardo ao lado de Valentina Rocha.No instante em que os olhos dele cruzaram os meus, houve um brilho rápido, e que se apagou assim que ele notou Gabriel atrás de mim. Seu olhar escureceu.— Clara, quem é ele?Olhei para Valentina, que estava ao lado dele, e respondi com um sorriso irônico:— Adivinha.No segundo em que nossos olhares se encontraram, Valentina encolheu os ombros — lembranças ruins claramente invadiram sua mente.Leonardo franziu a testa. Parecia ter entendido a provocação nas minhas palavras.— Eu admito que errei com relação ao bebê. Sei que foi minha culpa. Mas a Valentina não teve nada a ver com isso. Se estiver com raiva, descarrega em mim.Fitei-o com frieza.— Não esquece o que eu disse. Amanhã é o último dia.Sem esperar resposta, Gabriel e eu seguimos em direção ao salão reservado.Leonardo pareceu sentir o peso da minha decisão. Um lampejo de desespero passou pelos olhos dele. Deu alguns passos rápidos, tentando me alcançar


















Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.