LOGINLorong-lorong barak yang dingin itu sepi. Namun, tidak sepenuhnya kosong. Dua prajurit penjaga yang berdiri di gerbang belakang tersentak kaget saat melihat Alpha mereka berjalan keluar dengan langkah tegap kendatipun wajahnya masih sedikit pucat. Padahal pangeran bungsu itu seharusnya masih dalam pemulihan setelah pekan lalu mengalami penyerangan.
“Yang Mulia! Anda seharusnya tidak—” Salah satu prajurit berusaha mengingatkan. Sekilas, matanya melirik penuh tanya pada Runala yang tertunduk di samping Solvatar.
“Buka gerbangnya,” potong Solvatar. Suaranya sarat akan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat.
Para prajurit itu saling pandang. Mereka bertanya-tanya dalam diam. Namun, kilatan kemarahan di mata keemasan Solvatar membuat mereka segera menarik rantai gerbang tanpa suara.
Solvatar tidak memberi penjelasan. Baginya, martabat tidak perlu dibela di depan bawahan, kendati dia tahu besok pagi desas-desus tentang malam ini akan menyebar seperti wabah.
Solvatar mendampingi Runala menembus kabut hutan yang merayap di sela pepohonan berbatang raksasa. Dia tetap menjaga jarak beberapa langkah di belakang Runala. Tangannya selalu berada di dekat gagang pedang, matanya terus memperhatikan kegelapan kalau-kalau ada patroli suruhan Ragnavar yang masih berkeliaran.
Tiba-tiba, Runala jatuh berlutut di tengah semak belukar yang berduri. Tanpa suara, dia mencakar tanah, mencabut sejenis rumput liar berakar hitam, dan dengan santai memasukkan kelopak bunga Mawar-Kelabu yang pahit ke dalam mulutnya.
Dalam sekejap mata, ujung pedang perak Solvatar langsung menempel di bawah dagu Runala, membuat gadis itu mendongak secara paksa. Solvatar menatapnya dengan pandangan tajam, matanya berkilat keemasan di bawah bayang-bayang dedaunan.
“Apa yang kau lakukan, Rabbit?” desis Solvatar dengan suara berisi ancaman nyata. “Kau ingin meracuni dirimu sendiri di depanku? Atau kau sedang merapal kutukan untukku?”
Runala menatap ujung pedang yang dingin itu tanpa berkedip. Mulutnya yang bernoda sari bunga ungu tampak sedikit terbuka. alih-alih terlihat takut, gadis itu justru tampak tenang. Seolah-olah pedang itu hanyalah ranting kering. Dengan santai, dia memetik satu kelopak lagi dan menawarkannya pada Solvatar dengan jarinya yang ramping.
“Ini rasanya manis dan sejuk. Tidak pahit seperti yang dikatakan orang-orang,” tutur Runala datar. “Mungkin Anda butuh ini agar kepala tidak terlalu panas dan jadi mudah marah.”
Solvatar memilih untuk tidak menanggapi sindiran halus itu. Dia hanya bergeming dan membiarkan Runala melahap kelopak bunga itu dan kembali melanjutkan langkah. Sementara Solvatar hanya bisa mengikuti. Dia makin heran tatkala melihat gadis itu memetik tanaman yang biasanya dihindari binatang hutan dan menjinjit untuk meraih pucuk daun yang tinggi seolah-olah sedang mengumpulkan bahan untuk ramuan sihir.
Sesampainya di tepi danau, pemandangan bagi Solvatar menjadi makin tidak masuk akal.
Dia mengira Runala akan membasuh diri di air danau yang jernih, tetapi gadis itu justru melompat ke bagian paling becek dan berlumpur. Lelaki itu hanya berdiri diam sebagai pengawas yang menghakimi, memperhatikan dengan glabela berkerut tatkala Runala mengaduk lumpur hitam kental dengan campuran tanaman yang tadi dipetik dalam perjalanan.
Runala mulai membalurkan lumpur itu ke kulitnya dengan gerakan lembut. Ke leher, lengan, hingga belakang telinganya. Sementara Solvatar terpaku dalam diam. Tatapannya tidak kuasa berpaling tatkala jemari lincah Runala membelai kulitnya sendiri dengan lumpur hitam, mengubah kotoran rawa itu menjadi lapisan yang tampak sehalus sutra di bawah jemarinya.
Sebuah pemandangan yang seharusnya menjijikkan, tetapi entah mengapa justru terlihat seperti ritual pemujaan keindahan di mata sang Alpha.
***
Hutan ini begitu gulita. Terutama di malam bulan mati. Kendatipun tidak memiliki sepasang netra yang bisa melihat dalam gelap seperti para manusia serigala, Runala menghafal hutan ini seperti telapak tangannya sendiri. Dia menghitung setiap langkah, menghafalkan arah, serta memanfaatkan indra penciuman dan sentuhannya. Kemampuan yang dimiliki semua manusia.
Runala tidak peduli pada dinginnya angin malam atau bau rawa yang menyengat. Dia justru merasa beruntung bisa mandi tepat waktu sebelum keberadaannya tercium oleh makhluk asli penghuni dataran ini. Cara ini diajarkan oleh ibunya sejak dia masih kecil. Bahkan mungkin sudah dilakukan sejak Runala masih bayi.
Dengan gerakan terampil, Runala meraup pasta hitam kental itu, membalurkannya ke lengan dan leher dengan keanggunan seseeorang yang sangat mengenal tubuhnya sendiri. Setiap usapan adalah lapisan perlindungan. Setiap sentuhan adalah cara untuk bersembunyi.
Akan tetapi, tatkala Runala hendak meraih bagian di antara belikat, tangannya tertahan. Biasanya, dia akan menggunakan sendok khusus yang terbuat dari akar pohon Yue. Jenis kayu yang kokoh dengan bagian gagang panjang. Dia tidak memiliki itu sekarang di tangannya.
Runala baru saja akan memaksakan jangkauannya, tatkala tiba-tiba dia merasakan kehadiran yang besar dan panas di belakangnya.
Tanpa suara, Solvatar mendekat. Runala membeku saat merasakan jemari sang Alpha menyentuh kulit punggungnya yang terbuka. Tidak ada kekerasan di sana, hanya gerakan yang mengambil segumpal lumpur dari telapak tangan Runala, lalu meratakannya di sepanjang lekukan tulang belakang gadis itu.
Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik. Runala terdiam, merasakan usapan lumpur dari tangan Solvatar di punggungnya.
“Ibuku dulu selalu bilang,” bisik Runala memecah keheningan yang canggung. Suaranya hampir hilang ditelan desir angin. “Tanah adalah satu-satunya tempat yang tidak akan pernah mengkhianatimu. Jika kau berada di dalamnya, kau akan aman dari apa pun yang memburumu di atas sana.”
“Tentu saja,” gumam Solvatar. Suaranya terdengar seperti gesekan batu di bawah tanah. “Serigala seperti kita memang penguasa tanah. Kita lahir dari rahimnya dan akan kembali membusuk di dalamnya, tetapi ingat, Rabbit, tanah juga bisa menjadi kuburan yang paling sunyi jika tidak tahu cara bersembunyi dengan benar.”
Ujung jemari Solvatar masih menyentuh punggung Runala tatkala lelaki itu tiba-tiba menegang. Kepalanya tersentak ke arah kegelapan hutan di belakang mereka. Gerakan lembutnya berubah menjadi cengkeraman protektif yang kasar. Solvatar menarik Runala ke dalam dekapan dadanya, menyeret gadis itu ke arah pohon raksasa yang bagian dalamnya sudah mengering.
Runala ingin bertanya, tetapi urung setelah melihat mata keemasan Solvatar berkilat dengan intensitas predator. Di tengah keheningan malam yang gulita, sebuah suara yang jauh lebih menakutkan terdengar. Derap langkah empat kaki yang berat dan endusan rakus yang mendekat dengan cepat.
Tepat di balik kabut, sepasang netra merah menyala menatap ke arah tempat mereka bersembunyi.
halune, Lubnatic. terima kasih sudah membaca kisah Runala dan Solvatar~ salune, Lubna Karkata
Untuk beberapa detik, keheningan mengalir dalam nuansa yang kurang menyenangkan. Raut wajah Solvatar tampak pahit dan Runala merasa bersalah untuk itu. Dia menggigit bibir bawah seraya merutuki diri sendiri. Impulsif, Runala maju dengan cepat demi menyambar daging di ujung garpu yang dipegang Solvatar dengan mulutnya. Lelaki itu tampak terkesiap karena gerakan tiba-tiba. Sebelum akhirnya, senyum simpul terurai di bibirnya. “Rupanya kau sudah sangat lapar, Rabbit,” ujar Solvatar lantas menarik mangkuk berisi sup. Dia menyendok sepotong umbi-umbian berwarna kuning dan jingga dan menyuapkannya ke arah Runala. Alih-alih membuka mulut, Runala malah menghidu uap hangat sup. Aroma tajam, segar, bercampur petrikor memenuhi indra penciumannya. “Ini sup apa?” tanyanya seraya menunjuk sendok yang dipegang Solvatar. “Apa ini juga dihidangkan pada raja dan ratu?”Glabela Solvatar berkerut mendengar dua pertanyaan beruntun. “Aku bisa memanggil koki istana supaya kau bisa bertanya, tapi sebaiknya
Lima orang pelayan istana memandu jalan ke sisi timur istana. Sepanjang jalan, genggaman tangan Solvatar tidak pernah mengendur. Jemarinya menangkup tangan Runala begitu erat, seolah-olah jika dia lepaskan sedetik saja, gadis itu akan menguap seperti embun terkena matahari. Runala hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya ditarik dalam diam seraya tatapannya bergerak mengagumi kemegahan luar biasa yang terpampang di depan.Bangunan ini sungguh menakjubkan sekaligus terasa begitu ironis. Lantainya terbuat dari marmer putih bersih yang memantulkan cahaya obor dinding laksana cermin. Pilar-pilar penyangga dilapisi ukiran emas membentuk sulur-sulur pohon kuno, dan panji-panji beludru bersulam benang perak bergambar serigala yang memamerkan taring tergantung anggun di setiap jarak sepuluh langkah. Udara di sini hangat dihiasi wewangian mahal menguar dari setiap sudut.Pikiran Runala mendadak melayang kembali ke Demura. Tempat itu berada di bawah langit yang sama, berdiri di atas tanah Wolfaer
Pintu tertutup dengan debum halus di belakang Runala, seketika memutus kehangatan yang tersisa dari kamar tidur raja dan ratu Wolfaern. Koridor istana menyambutnya dengan hawa dingin yang mencengkeram.Sebelum melangkah lebih jauh, Kanavar yang tadi mengantar, menghentikan langkahnya. Lelaki bertubuh tegap itu berbalik menghadap Runala, lalu melirik Ragnavar yang berdiri tidak jauh dari mereka.Kanavar membungkuk hormat kepada kakak tertuanya, menunjukkan kepatuhan istana. Ragnavar hanya mengangguk samar dengan senyum sumir yang elegan.Kanavar kemudian beralih menatap Runala. Ada binar ramah sekaligus sungkan di matanya. “Runala, maaf kita belum sempat berkenalan dengan layak karena situasi mendesak tadi. Sekarang aku perlu meminta pelayan istana untuk menyiapkan kamar untukmu dan Solvatar beristirahat nanti.”Runala buru-buru membungkuk hormat, menyunggingkan senyum santun. “Terima kasih banyak atas perhatian Anda, Pangeran Kanavar.”Kanavar mengangguk sekilas, lalu menepuk ringan b
“Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.” Suara Solvatar terdengar dingin dan datar, berusaha menekan segala emosi yang bergolak di dalam dada setelah mendengar kabar yang disampaikan kakak yang menyambutnya. Kanavar, pangeran ke-2 mengernyitkan glabela sembari menyesuaikan langkah bot beratnya di atas lantai marmer. “Aku kira kau pulang secepat ini karena mendengar kabar itu. Mereka jatuh sakit secara mendadak tidak lama setelah kau pergi, Solvatar. Beberapa hari terakhir ini mereka benar-benar melemah hingga tidak bisa meninggalkan ranjang.”Solvatar tidak menyahut lagi. Namun, rahangnya makin mengeras. Jelas, ada maksud khusus bagi Ragnavar untuk menyembunyikan berita besar ini darinya. Padahal kakak sulungnya itu saling berkirim surat dengannya. Mereka bertiga berjalan membelah koridor panjang kastel yang megah tetapi terasa sunyi. Di sisi mereka, pilar-pilar batu tinggi menjulang, menumpu langit-langit yang dihiasi panji-panji berlukis wajah serigala yang memperlihatkan taring.
Dua hari berikutnya berlalu seperti embusan angin yang memburu waktu. Berkat peta rahasia dan petunjuk jalur yang diberikan oleh kawanan Yegor, perjalanan yang seharusnya memakan waktu lima hari terpangkas secara ekstrem menjadi hanya tiga hari.Di batas hutan terakhir yang berbatasan langsung dengan jalan makadam menuju ibu kota, Yegor dan anak buahnya menarik diri. Mereka pamit untuk bergerak ke jalur berbeda, meninggalkan Solvatar, Runala, dan para pengawal setianya untuk melanjutkan sisa perjalanan dengan kereta kuda mereka.Perpisahan itu berlangsung singkat. Yegor bukan tipe yang menyukai basa-basi panjang. Kendati demikian, sebelum berbalik pergi, lelaki itu sempat mengangkat satu tangan sebagai salam perpisahan. Solvatar membalas dengan anggukan kecil penuh penghargaan. Tidak ada ucapan terima kasih berlebihan, tetapi keduanya memahami bahwa bantuan yang diberikan kawanan Yegor telah memperbesar peluang mereka untuk tiba di Volkara dengan selamat.Kini, kereta itu melaju manta
Hening seketika mencekik kabin kereta yang terus bergerak membelah rimba. Kalimat yang baru saja diucap Runala menyisakan gema yang membekukan atmosfer di antara mereka. Solvatar tidak melepaskan dekapan, lamun tubuhnya menegang kaku. Sepasang netra emasnya menatap Runala dengan kilat tidak percaya. Ada luka yang coba dia sembunyikan di balik topeng ketegasan seorang Alpha.“Apa maksudmu?" Glabela Solvatar berkerut. Suaranya rendah dan bergetar oleh riak panik yang tertahan. “Setelah semua yang kita lalui, kau mendadak ingin mundur?”Runala menghela napas, berusaha menenangkan debar jantungnya yang bertalu-talu. Dia menegakkan punggung, menciptakan jarak tipis di antara mereka agar bisa menatap Solvatar dengan sungguh-sungguh. Matanya berkaca-kaca, memantulkan cahaya redup lampu minyak di dalam kereta.“Aku memikirkan kembali keputusanku, Solvatar. Aku merasa ... aku telah gegabah,” bisik Runala parau. Dia menunduk pada jemarinya yang masih gemetar di atas pangkuan. “Aku sempat menola







